Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU APA KALIAN?!
[Mas… kalau kamu memang tidak mau bertanggung jawab padaku, tidak masalah… Mungkin lebih baik aku tidak ada di dunia ini. Tidak akan ada laki-laki lain yang mau menerima aku lagi… setelah malam itu kamu mengambil kesucianku.]
Farid yang tengah berjalan keluar dari kantor tiba-tiba merasa ponselnya bergetar. Awalnya ia tak berniat membuka pesan itu karena Vina sudah mengiriminya puluhan pesan dan semuanya ia abaikan.
Namun kali ini, pesannya langsung muncul di layar saat ia membuka kunci layar.
Seketika tubuhnya menegang. Matanya membulat dan nafasnya memburu. “Sial…!” Gumamnya lirih dengan kepalanya yang langsung penuh oleh kemungkinan buruk.
Ia yang tadinya ingin pulang ke rumah, langsung berubah haluan. Mobilnya ia lajukan menuju rumah Vina. Pikirannya kacau dan panik karena tak sempat berpikir logis. Begitu sampai, tanpa ragu ia menggedor pintu rumah Vina berkali-kali.
“Vina! Vina buka pintunya!” Teriak Farid.
Beberapa orang di sekitar mulai melirik. Bagaimanapun, wajah Farid bukanlah wajah yang asing di lingkungan itu. Ia anak Bu Neni dari tetangga mereka.
Sementara Farid kini berdiri dengan napas memburu di depan rumah seorang wanita lajang, tangannya berulang kali mengetuk pintu seperti orang kehilangan kendali.
Karena tak ada jawaban, Farid memilih untuk memutar gagang pintu yang rupanya tak terkunci.
“Vina!” Serunya lagi, melangkah cepat ke dalam rumah.
Langkahnya membawanya ke kamar. Dan di sana… ia mendapati Vina berdiri di atas kursi, seutas selendang sudah diikat di atas gantungan langit-langit dengan wajah Vina penuh air mata.
Tanpa pikir panjang, Farid berlari dan memeluk tubuh Vina, menariknya turun. “Apa yang mau kamu lakukan?!" Suaranya bergetar, campuran marah dan takut.
Vina menangis terisak, tubuhnya gemetar dalam dekapan Farid. “Lepasin aku Mas! Aku… aku lebih baik aku mati, daripada kamu terpaksa untuk bertanggung jawab sama aku."
Farid meremas rambutnya sendiri, jelas ia frustasi. Detik itu juga semua tekanan dan rasa bersalah berkumpul jadi satu. Tanpa berpikir panjang, ia mengucap sesuatu yang akan ia sesali di kemudian hari.
"Maafin Mas ya, Mas janji… dalam bulan ini Mas akan nikahin kamu.”
Di balik air matanya, senyum samar menyelinap di sudut bibir. Matanya menatap Farid dengan wajah polos, seolah ia adalah wanita yang rapuh padahal pikirannya sedang menari.
“Terima kasih, Mas…” Ucapnya lirih, lalu memeluk Farid erat.
Tak ada reaksi dari Farid. Ia hanya diam dan mengantar Vina ke ranjang, menyuruhnya berbaring serta menyelimuti tubuhnya. Namun tangan Vina tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.
“Temani aku disini Mas.…” Suaranya lirih, matanya berkaca-kaca berharap Farid mau mengikuti keinginannya.
Tatapan Farid mengarah pada Vina sejenak. Pada akhirnya ia mengangguk lemah dan duduk kembali di tepi tempat tidur. Namun Vina menariknya perlahan, tubuhnya bergeser memberi ruang.
“Di sini, Mas… Baring di sebelahku…” Ucapnya dengan suara pelan.
Dengan berat hati, Farid akhirnya berbaring. Pikirannya masih berkelut. Ia tidak menyadari bahwa Vina tengah membangun jebakannya dengan begitu halus.
Begitu Farid terbaring, Vina langsung mendekat, menyandarkan kepala di dada Farid dan melingkarkan lengannya di pinggang pria itu.
Keheningan langsung memenuhi kamar kecil itu.
Farid tetap diam mencoba menenangkan pikirannya, tapi desahan napas Vina yang begitu dekat membuatnya tak tenang.
Vina perlahan mengelus lengan Farid, dan tanpa peringatan ia mengecup pipi Farid dengan perlahan lalu terus naik ke bibirnya. Farid terdiam, dadanya sesak, dan sebelum ia sadar, ia membalas ciuman itu—tak lagi dengan rasa terpaksa.
Hari itu untuk kedua kalinya, Farid tenggelam dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun kali ini bukan karena rayuan atau momen sesaat, melainkan karena ia memilihnya sendiri.
Di luar, langit mulai gelap. Dan di gang kecil perumahan itu, para tetangga mulai memperhatikan.
Beberapa warga yang sejak tadi melihat Farid masuk ke rumah Vina namun belum juga keluar setelah lebih dari satu jam, mulai berbisik-bisik. Spekulasi mulai tumbuh pelan-pelan, menyebar seperti api kecil yang menyentuh ilalang kering.
“Itu anaknya Bu Neni, kan?”
“Iya, Farid. Masuk rumah Vina dari jam lima tadi. Sekarang udah hampir maghrib loh masak belum keluar juga, mana pintu rumahnya terbuka sedikit gitu.”
“Udah pasti ada apa-apa itu. Soalnya tuh perempuan kan tinggal sendiri di rumah kontrakan itu."
"Iih ngeri ya, bukannya si Farid itu udah ada istri ya..."
Obrolan berubah menjadi kasak-kusuk yang menggulung seperti bola salju. Dalam waktu tak sampai satu malam, berita “Farid yang masuk ke rumah Vina” akan sampai ke berbagai telinga dan tak ada yang bisa menahannya.
•
•
“Bapak ke mana, Bu?” Tanya Dini begitu masuk ke rumah Maira, tempat ibunya tinggal.
“Nggak tahu ibu. Katanya sih mau ke rumah temannya tadi.”
Mata Dini memindai sekeliling rumah yang tampak sepi. Tak ada suara dari dapur, tak ada langkah kaki dari arah kamar Maira.
“Udah pergi, Mbak Maira-nya, Bu?” Tanyanya lagi sambil melangkah ke arah ruang tengah.
“Udah. Biasanya dia baliknya sore." Jawab Bu Susi pelan, tapi nada suaranya mengandung isyarat lain.
Senyum kecil mengembang di bibir Dini “Berarti… saatnya kita jalanin rencana kita, Bu.”
Tanpa perlu banyak kata, keduanya bergerak cepat ke arah pintu kamar Maira. Hal ini memang sudah direncanakan oleh mereka sejak beberapa hari lalu, mengambil barang-barang pribadi milik Maira yang mereka anggap “layak dijual”.
Baju-baju mahal, tas bermerek, parfum branded, bahkan perhiasan—semua yang bisa diuangkan akan diklaim seolah-olah hilang karena rumah kemalingan.
Kalau nanti Maira bertanya? Bu Susi siap berakting.
Ia bahkan sudah menyusun skenario: pura-pura panik, pura-pura rugi, bahkan siap mengatakan bahwa perhiasannya sendiri ikut hilang, padahal sudah dijual oleh Dini beberapa waktu lalu.
Tapi baru saja Dini hendak memutar gagang pintu kamar Maira…
“Kok terkunci?” Dini mendesah kasar, wajahnya langsung masam. “Bu, ada linggis nggak?”
“Oh ada di dapur, sebentar.”
Segera Bu Susi berjalan ke arah dapur dan kembali dengan sepotong linggis kecil. Tatapan Dini berubah garang. Ia menggenggam linggis itu lalu menunduk ke sisi pintu, bersiap mencongkel.
“Rasain kamu, Mbak Maira! Aku bakal ambil semua yang kamu simpen di dalam kamar ini. Makanya jangan pelit kalau punya saudara!” Batinnya penuh kemarahan.
Namun baru saja ujung linggis menyentuh kusen pintu—
“MAU APA KALIAN?!”
Suara lantang dan tajam membuat keduanya membeku. Dini refleks melepas genggaman linggisnya dan benda itu terjatuh, tepat mengenai kakinya sendiri.
“Aduhhh!!” Pekiknya, terduduk sambil memegangi kaki yang memerah.
Ia meringis kesakitan, melompat kecil sambil memegangi betisnya. Sementara Bu Susi yang kaget bukan main hanya bisa berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi.
semangat kak 💪 iklan untukmu
semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
kak yuk saling dukung