Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Nafis dan rombongan sampai di pesantren Azizah sekitar pukul 11 siang, karena random acara baru akan di mulai ba'da sholat dzuhur. Mereka juga belum bisa bertemu Azizah karena saking banyaknya orang. Nafis mengajak orang tua dan kelaurganya untuk sowan atau bertamu kepada pak Kyai dan bu Nyai terlebih dahulu.
Mereka di arahkan kedalam ruangan terpisah. Yang laki-laki masuk ke ruang tamu utama dan bertemu langsung dengan abah Kyai, sementara yang perempuan dia arahkan ke ruang tamu samping dan bertemu dengan bu Nyai langsung. Hanya Nafis dan bu Ningsih yang ikut masuk. Sementara Wahyu dan yang lain menjaga anak-anak yang begitu kalap membali jajanan karena banyak yang jualan.
" Masya Allah tamu jauh ini " Ucap bu Nyai dengan senyum Ramahnya. Nafis menyalami bu Nyai khadijah dengan takzim.
" Dari Kaliurang jam berapa nduk,ini ?"
" Ini ibu saya bu Nyai "
" Alhamdulillah bisa bertemu njenengan bu "
" Njeh bu Nyai, pangapuntene nembe sanget sowan panjenengan."
( iya bu nyai. Mohon maaf baru bisa menghadap anda sekarang)
" Ya ndak apa to bu. Kan memang jauh ya nduk." Nafis tersenyum.
" Senang masih bertemu kamu nduk Nafis. Semoat khawatir nduk Zizah tidak kembali ke pesantren sini lagi "
" Allhamdulillah bu Nyai, Zizah masih sangat cinta dengan pesantren ini. Sejak bertemu saya Zizah sudah langsung mengutarakan keinginannya untuk kembali ke sini lagi"
" Syukurlah nduk, Hafalan Zizah sudah 20 juz soalnya. Jujur khawatir akan hilang kalau Zizah tidak istiqomah. Alhamdulillah anaknya benar-benar sangat gigih dan tekun. puasanya juga paling rajin "
" Alhamdulillah bu Nyai.Pokoknya selagi Zizah masih mau di sini saya hanya bisa mendukung dan mendoakan."
" Kamu beruntung nduk. Zizah seperti oase buat kamu."
" Njeh bu Nyai"
" Seperti apa yang saya katakan waktu itu nduk. Bahwa Allah tidak akan menimpakan sesuatu kecuali kamu sanggup menangungnya. Nduk percaya ya,tidak akan Allah ambil sesuatu darimu kecuali Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Jangan pernah putus asa dengan kasih sayang Allah. Percaya pasti ada jalan keluar dari setiap kesulitan yang kamu hadapi "
" Njeh bu Nyai."
" Kamu wanita hebat, kuat dan tidak suka mengeluh kan bu ?" Bu Ningsih menganguk.
" Bahkan 15 tahun dia berjuang sendiri untuk rumah tangganya pun tidak pernah mengeluh ke saya bu nyai " Bu Nyai tersenyum.
" Kuncinya sabar, tawakal dan tetap menjaga iman nduk"
" Njeh bu Nyai "
" Bu Aminah kemaren datang dengan Hanafi. Ijin mau menjemput Azizah nduk " Nafis terkejut.
" Tapi pihak pengurus untuk peka. Mereka meminta undangan dan kartu penjemputannya Nduk Zizah. Karena tidak bisa menunjukan mereka tidak bisa menemui Azizah.
" Karena memang peraturan sahnya hanya wali santri yang tertera di administrasi kami yang boleh menjemput anak-anak. Dan pas kemaren mengantar Azizah kembali ke pondok untung nduk Nafis sudah menyampaikan semuanya."
" Matur suwun sanget bu Nyai. Saya tidak menghalangi beliau jika mau bertemu putri saya. Namum untuk di bawa pulang ke Pati saya belum bisa memberi ijin karena anaknya juga belum mau bu Nyai."
" Iya nduk, sebisa mungkin kami juga ikut menjaga agar tidak terjadi konflik."
" Ummah tolong ajak mbak Nafis kemari " Terdengar suara Abak kyai Zumroni dari ruang tamu utama.
" Hayo nduk di panggil abah " Nafis mengangguk dan mengikuti langkah bu Nyai khodijah.
" Bagaimana kabarnya nduk, kapan tiba di Tuban ?"
" Alhamdulillah saya baik Abah. Kami sejak kemaren malam sudah berada di Tiban abah."
"Alhamdulillah kalau baik. Abah turut sedih dengan apa yang terjadi padamu ya nduk. Tidak menyangka harus begini jadinya. Abimu Rahmad sudah cerita ke abah" Nafis mencoba tetap tersenyum.
" Jadi pak, kebetulan saya ini kawan satu pesantren dengan Rahmad ayahnya Hanafi. Beliau junior saya dulu." Pak Jatmiko mengangguk.
" Yang sabar ya nduk "
" Njeh abah. Karena memang sudah seharusnya begini. Sebagai hamba saya hanya mempercayai, inilah yang terbaik menurut Allah untuk saya."
" Bagus itu nduk, semoga kamu segera mendapat ganti yang jauh lebih baik "
" Aamiin abah ?"
Nafis segera mencari putrinya usai sowan kepada kyai pengasuh pondok pesantren tempat putrinya menimba Ilmu. Kebetulan Azizah sedab bersama Wahyu dan juga Naufal.
" Sudah makan belum kamu mbak ?"
" Sudah bun, tadi pagi dapat makan sama gule kambing. Enak banget"
" Mbak sekarang mau daging kambing ?"
" sedikit bun soalnya yang tadi tidak bau kok "
" Oya pesanan kamu bunda bawain tapi, masih di mobil. Mau di ambil ?"
" Boleh bunda "
" Memang pesen apa kamu mbak ?"
" Hehehe bakpia budhe soalnya temen-temen sekamar suka "
" Oalah emang enak, budhe juga suka beli banyak kalau pas pulang ke kaliurang."
" Ya udah yuk di ambil tapi, sebentar bunda telfon kang Tejo dulu parkirnya di mana ?"
" Mereka parkir di lapangan katanya nduk " Ucap pak Jatmiko.
" Sudah sama mas mu juga katanya ?"
" Ya udah kita kesana. Bapak dan ibu tunggu sebentar disini. Kalau ikut takut capek "
" Mending ke mobil saja nduk, disana bisa istirahat."
" Kalau uti capek ada kok tempat buat istirahat di sana. cuma antara putra dan putri terpisah."
" Di mobil saja nduk, lagian ibu sebenarnya tidak terlalu capek kok"
" Ya sudah hayo kalau ibu maunya begitu"
Saat rombongan Nafis sampai di parkiran ternyata di samping mobil milik Nafis parkir adalah mobil Hanafi dan ummi Aminah. Nafis menghela Nafas ketika melihat Hanafi keluar dari mobil itu.
" Assalamu'alaikum anak abi " Zizah bukan menjawab salam abinya tapi, malah bersembunyi di belakan tubuh Angga. Naufal pun sama, bocah berusia enam tahun itu bahkan langsung masuk kedalam mobil.
" Mau apa lagi kamu Hanafi, jangan membuat keributan di sini." Ucap Angga.
" Aku cuma mau bertemu anakku mas ?"
" Mbak, salim sama abinya. Tidak boleh begitu " Nafis mecoba membujuk putrinya.
Zizah menurut tapi, hanya salaman saja. Gadis itu engan berinteraksi lebih abinya.
" Maaf saya dan ummi hanya ingin bertemu Azizah. Makanya kami kesini. Karena kalau ke Kaliurang takut tidak kamu kasih ijin dek ?" Nafis tersenyum sinis.
" Mbak Zizah masuk ke dalam mobil sama adik ya. Dan tolong tutup pintunya." Zizah menganguk.
" Mohon maaf apa saya pernah berucap kalau anda tidak boleh bertemu dengan anak-anak ?"
" Selama inj anda kemana saja ?"
" Empat bulan pertama saya pergi dari rumah, apakah anda pernah menanyakan kabar dia, tidak bukan"
" Lalu waktu Azizah demam bahkan sampai di larikan ke rumah sakit. Apa reaksi anda. Anda tidak segera pergi melihatnya bukan ?"
" Sekarang anda datang buat apa ?"
" Jangan paksa Zizah untuk menerima apa yang menjadi keputusanmu Hanafi, jangan minta anak sekecil itu memaklumi hura-hura kamu " Ucap pak Jatmiko.
" Kami tidak melarangmu menemui anak-anak. Tapi, jangan sekarang. Biarkan mereka merasa lapang dulu hatinya. Karena luka yang kamu toreh itu terlalu menyakitkan."
" Kamu dengan terang-terangan tidak mengakui mereka. Kamu harus tau itu menyakitkan buat mereka. Jika kamu mau memperbaiki ya pelan-pelan." imbuh pak Jatmiko.
" Pulanglah Hanafi, fokus sama keluarga barumu. Biarkan luka di hati anak-anakmu sembuh dulu."
" Tapi pak ?"
" Percuma kamu memaksakan diri juga. Anak-anak saja seperti trauma melihat kamu. Kalau kamu paksain kasian mereka. Ayolah jangan egois jadi orang tua " Ucap Angga.
" Hanafi kan hanya berusaha kembali dekat dengan anaknya, salah lagi kalau cuek " Ucap ummi Aminah.
" Kami tidak masalah dengan itu bu Aminah.Tapi anda melihat sendiri bukan. Mereka yang belum mau " Nafis yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.
" Tolong Hanafi dan bu Aminah, jangan membuat keributan di sini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya mohon jangan dulu ganggu anak-anak. Nanti akan ada waktunya buat kamu kembali masuk dalam kehidupan anak-anak"
" Jika kamu bisa saya beri tau. Mundur dulu, biarkan suasana tenang dulu. " Hanafi menganguk. Dia pun memilih pamit dan memasuki mobilnya meski umminya terus menggerutu.
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri