NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

​Udara panas Jakarta menyambut kepulangan Swari dengan aroma yang sangat familiar.

Enam tahun telah berlalu sejak ia pergi sebagai raga yang hancur, dan kini ia kembali sebagai sosok yang sama sekali berbeda.

​"Alex, Alexandria, tunggu Mama!" seru Swari.

​Kedua bocah kembar berusia lima tahun itu berlari kecil di area kedatangan terminal internasional.

Rambut mereka yang sedikit kecokelatan tertimpa cahaya matahari, sementara struktur wajah mereka, terutama rahang tegas Alex yang seringkali membuat Swari termenung.

Mereka memiliki garis wajah yang sangat kuat, sangat dominan, namun Swari selalu berusaha menepis pikiran tentang siapa pemilik genetik itu sebenarnya.

​"Mama, ayo kita cari makan dulu. Alex lapar!" ajak Alex sambil menarik ujung kemeja linen ibunya.

​Swari tersenyum, senyum yang kini memiliki kekuatan, bukan lagi kerapuhan.

"Iya, sayang. Kita cari roti dan es krim, ya?"

​Setelah membeli tiga es krim, Swari duduk di sebuah kafe bandara yang menghadap ke arah landasan.

Sambil memperhatikan Alex dan Alexandria yang sibuk dengan es krim vanila mereka, pikiran Swari melayang kembali ke masa-masa paling kelam dalam hidupnya di Kanada.

​Enam tahun lalu, begitu jet pribadi Baskara menyentuh aspal bandara di Kanada

Swari langsung berlari ketika pramugari membuka pintu pesawat.

Ia memanfaatkan kelengahan para pengawal Baskara.

​Ia menghilang di kerumunan, berpindah-pindah kota dan bertahan hidup dengan menjadi pelayan di sebuah kedai kopi kecil di sudut Toronto.

Uang saku yang sempat ia ambil dari tas Baskara ia gunakan sebagai modal awal untuk bertahan hidup dan mulai mengambil kelas malam di sebuah universitas.

​Namun, kejutan terbesar dalam hidupnya datang beberapa bulan kemudian.

Di tengah perjuangannya membangun hidup baru, ia mendapati dirinya hamil.

Hasil dari malam terkutuk di hari pemakaman Pradutha.

​"Mama akan melahirkan kalian, walaupun Mama tidak tahu siapa ayah kalian. Kalian adalah anugerah, bukan noda," gumam Swari kala itu sambil mengelus perutnya yang masih rata di sebuah kamar apartemen sempit yang dingin.

​Anak-anak itu menjadi alasannya untuk tidak menyerah.

Ia lulus kuliah dengan predikat memuaskan sembari menggendong bayi kembarnya, hingga akhirnya ia berhasil membangun karier sebagai konsultan desain interior yang sukses di Kanada.

​"Mama, es krimnya sudah habis. Sekarang kita ke mana?" ucap Alexandria membuyarkan lamunan Swari.

​"Sekarang kita ke toko buah dulu, ya. Setelah itu kita ke rumah Budhe Ratri." jawab Swari lembut.

Ia belum berani menghubungi Ratri atau Navy kalau ia telah kembali.

​Namun, saat Swari berdiri dan hendak menarik koper, langkahnya mendadak kaku.

​Di seberang jalan menuju area parkir VIP, beberapa pria berjas hitam tampak berbaris rapi.

Di tengah barisan itu, seorang pria dengan aura yang sangat ia kenali sedang berjalan sambil menelepon.

Langkah pria itu tegas, dagunya terangkat dengan otoritas yang tak tergoyahkan.

​Jantung Swari berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia segera menarik kedua anaknya ke balik pilar besar.

​"Mama? Ada apa?" tanya Alex bingung.

​"Sstt... Diam sebentar ya, Sayang," bisik Swari dengan napas memburu.

​Dari balik pilar, Swari melihat Baskara berhenti sejenak.

Pria itu tiba-tiba menoleh ke arah kafe tempat Swari berada.

Ia seolah-olah memiliki radar yang menangkap keberadaan seseorang.

Mata tajam itu menyisir ruangan, mencari sesuatu yang ia sendiri mungkin tidak yakin apa itu.

​Selama enam tahun, Baskara tidak pernah berhenti mencari "wanita jembatan" yang kabur darinya.

Bagi Baskara, Swari adalah satu-satunya kegagalan dan misteri yang belum ia pecahkan.

Swari menggandeng mereka berdua dan lekas masuk ke dalam taksi.

"Tolong antarkan saya ke Toko buah, Pak. Dan setelah itu antarkan saya ke jalan Almahera 6." ucap Swari.

Sopir taksi menganggukkan kepalanya dan segera melajukan ke toko buah.

Sementara itu Baskara masuk kedalam mobil sambil menggelengkan kepalanya.

"Swari, dimana kamu? Kenapa kamu berlari meninggalkan aku?" gumam Baskara yang mengira kalau Swari masih berada di Kanada.

Sopir Baskara melajukan mobilnya menuju ke perusahaan.

Disisi lain Swari telah membeli buah kesukaan kakaknya dan sekarang taksi sedang berjalan menuju ke rumah Ratri.

Di dalam mobil jantung Swari berdetak kencang dan takut kalau kakaknya akan mengusirnya.

"Mama kenapa?" tanya Alexandria.

Swari menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis ke arah si kembar.

Tak berselang lama supir taksi menghentikan mobilnya di depan rumah Ratri.

Langkah kaki Swari terasa berat saat ia berdiri di depan pintu kayu jati yang masih sama seperti enam tahun lalu.

Rumah itu tampak lebih teduh dengan pohon mangga yang kini semakin rimbun.

Di sampingnya, Alex dan Alexandria menatap penuh rasa ingin tahu pada bangunan di depan mereka.

​"Ini rumah siapa, Mama?" bisik Alexandria pelan.

​"Ini rumah Budhe Ratri, Sayang. Kakak kandung Mama," jawab Swari dengan suara yang sedikit bergetar.

​Tok... tok... tok...

​Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara kicauan burung dari sangkar di teras tetangga.

Tak lama, terdengar langkah kaki dari dalam, disusul suara kunci yang diputar.

​Pintu terbuka dan Ratri berdiri di sana mengenakan daster rumahan dengan rambut yang dicepol asal.

Wajahnya yang semula tampak lelah mendadak membeku.

Matanya membelalak lebar, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan suara.

​"Mbak Ratri..." suara Swari pecah.

​Ratri menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya.

Ia seolah sedang melihat hantu, namun aroma parfum dan sorot mata lembut itu adalah nyata.

​"Swari? Ini benar-benar kamu, Dik?" Ratri menghambur memeluk adiknya dengan sangat erat, tangisnya pecah seketika.

"Kamu ke mana saja? Enam tahun, Swari! Kami mengira kamu sudah..."

​"Maafkan Swari, Mbak. Maafkan Swari baru pulang sekarang," isak Swari di pundak kakaknya.

Kehebohan di depan pintu itu membuat Navy yang sedang membaca koran di ruang tengah segera berlari keluar.

Langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat adik iparnya.

Pria itu tampak lebih tua dengan beberapa helai uban, namun tubuhnya masih setegap dulu.

"Swari?" Navy bergumam tak percaya. Ia mendekat, memastikan bahwa ini bukan mimpi.

"Ya Tuhan, Swari. Kamu selamat?"

Swari menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh kakak iparnya.

Namun, perhatian Navy dan Ratri segera teralihkan pada dua sosok kecil yang bersembunyi di balik kaki Swari.

Alex dan Alexandria menatap kedua orang dewasa itu dengan wajah polos.

"Ini siapa, Swari?" tanya Ratri dengan nada ragu yang sangat jelas.

Swari menghapus air matanya, lalu menarik kedua anaknya maju.

"Ini Alex dan Alexandria, Mbak. Anak-anakku."

Ratri menatap wajah si kembar yang angat tampan dan cantik.

"Mereka?"

Swari menganggukkan kepalanya dan ia menggenggam tangan Alex dan Alexandria.

"Ayo, sapa Pakde dan Budhe dulu." ucap Swari.

Alex dan Alexandria melangkah maju dengan ragu. Alex, yang memiliki pembawaan lebih berani, mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk menyalami Navy dan Ratri, diikuti oleh Alexandria yang tampak malu-malu namun tetap memberikan senyum manisnya.

"Halo Pakde, halo Budhe. Nama saya Alex," ucap bocah laki-laki itu dengan aksen yang sedikit kaku namun terdengar sangat sopan.

"Dan saya Alexandria," sahut kembarannya kecil.

Navy menerima jabatan tangan Alex dengan perasaan yang campur aduk.

Matanya yang tajam mengamati setiap inci wajah Alex.

Rahang yang tegas, sorot mata yang dingin namun cerdas semua itu membangkitkan ingatan Navy pada seseorang,

"Kenapa wajahnya mirip dengan seseorang, ya? Tapi, siapa?" gumam Navy.

Sementara itu, Ratri langsung berlutut, memeluk kedua bocah itu dengan penuh kasih sayang.

"Ya Tuhan, mereka tampan dan cantik sekali, Swari," ucap Ratri dengan rona bahagia.

"Ayo masuk, ayo. Jangan bicara di pintu. Mas Navy, tolong bawakan koper mereka."

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!