Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Di Villa yang jauh dari perkotaan, sebuah mobil Ferrari melewati area perkebunan di desa itu.
"Nenek, mengapa akhir-akhir ini selalu ada mobil mewah yang melewati desa kita?" tanya seorang anak kecil, kepada sang nenek.
"Jangan katakan apa pun Meisy, biarkan saja mereka. Kita tidak boleh berurusan dengan mereka,"
"Apakah mereka orang jahat nenek?"
"Ya begitulah, untuk itu kau jangan sampai terlibat dengan mereka Meisy," gadis kecil itu pun mengangguk. Menuruti sang nenek dan mulai kembali berkebun.
"Danuel, kau yakin ini akan baik-baik saja jika kita kembali dengan kosong." Tanya teman Danuel yang bernama Martin.
"Diamlah Martin, Saga mungkin akan marah saat kita kembali nanti," ujar Danuel sebari menatap pistol di tangannya.
"Seharusnya aku arahkan pistol ini pada gadis kecil itu."
"Gadis kecil?" tanya Martin yang penasaran dengan ucapan Danuel.
"Sejak kapan kau suka perempuan?" tanya Agres, teman Danuel yang mempunyai rambut pirang.
"Kau pikir aku tidak suka perempuan ya Agres"
"Oh ayolah, aku hanya bercanda, jangan marah"
Mobil itu terus membawa mereka, hingga pada akhirnya sampai di Villa milik Saga. Mobil itu berhenti di pekarangan Villa itu. Para pelayan membukakan pintu, mereka pun pada akhirnya masuk dan berjalan menuju lantai dua.
Mereka berjalan di lorong Villa, hingga akhirnya sampai di pojok ruangan. Danuel menghentikan langkahnya, ia mengetuk pintu.
"Tok tok tok" Suara ketukan pintu terdengar, mereka pun kemudian masuk.
Seorang pria yang tengah duduk di kursi kekuasaannya, kini tengah menatap lautan yang berada di belakang Villa itu.
"Saga, kami kembali," ucap Danuel kepada pria itu.
Pria itu pun berbalik badan, ia menyangga kepalanya dengan tangan kanannya yang ia letakkan di kursi.
"Bagaimana Danuel? Kau berhasil membawa Ivana. Dari ekspresimu sepertinya kau gagal lagi hari ini." Tebakan Saga sangat tepat, Danuel memang gagal menjalankan tugas yang ia dapat dari Saga.
"Yah, sudah tertebak ya, sebenarnya bisa saja aku langsung membawa Ivana. Namun si Martin yang ceroboh ini malah mengacau dan tertangkap oleh para gerombolan pengawal itu." Danuel menatap tajam ke arah Martin, namun pria itu marah meringis tanpa ada rasa salah sama sekali.
"O ayolah, siapa yang akan mengira jika pengawalnya sebanyak itu, kau juga Saga. Mengapa tidak membawa seluruh anggota kita saja ke sana." Martin ini memang sukanya asal bicara, hal inilah yang membuat ketiganya menggelengkan kepala tak percaya dengan kebodohan dari temannya itu.
"Jadi kau ingin kita hancur, kau ingin kita mati lebih cepat begitukah Martin?" ucap Saga yang sudah muak dengan temannya itu.
"Drttttttttt drtttttttt" Sebuah suara ponsel seseorang berbunyi, namun tak ada satu pun dari mereka yang sadar akan hal itu.
"Jadi bagaimana langkah selanjutnya Saga. Kau tetap akan menjalankan plan b atau kita butuh plan c?" ucap Agres.
"Drtttttttt drttttttt" suara ponsel terus berbunyi.
"Tidakkah kau ingin mengangkat telepon mu lebih dulu Agres?" tanya Danuel yang sadar akan suara ponsel milik Agres.
"Ow, ya aku baru sadar akan itu, biarkan aku mengangkat teleponnya lebih dahulu," Agres pun pergi untuk mengangkat teleponnya.
"Bagaimana dengan saran dari Agres?" tanya Danul, namun di jawab dengan geleng kepala oleh Saga.
"Jangan pakai rencana apa pun lagi, keluarga Wingston sama kuatnya dengan Howard, kita tidak boleh bertindak sembarangan. Atau semua akan kacau."
Agres kembali ke ruangan, "Saga, nyonya Howard menelepon, dia bilang mencarimu. Kau di suruh kembali ke rumah sekarang juga!"
"Kau serius soal itu?" tanya Saga pada Agres, lalu Agres pun menyerahkan ponselnya.
"Kau membiarkan ponsel ini masih menyala?" ucap Danuel dengan nada yang lirih. Saga pun mengisyaratkan pada mereka untuk diam.
"Ada apa ma?" tanya Saga pada ibunya melalui ponsel.
"Pulanglah!, ada yang perlu mama bicarakan, dan ini penting!." Nyonya Howard seketika menutup teleponnya. Hal itu pun membuat Saga mengambil Jas miliknya yang berada di kursi dan melangkah pergi.
"Saga, ponsel ku."
Saga pun melemparkan ponsel milik Agres, dan dengan cekatan pria itu pun mengambil ponsel itu. "Untung tidak rusak." Ujar Agres sebari menghembuskan napasnya lega.
"Bukankah tinggal membeli yang baru," ucap Martin yang lagi-lagi membuat Danuel dan Agres menghembuskan napasnya panjang dan saling menatap.
"Jika semua data di ponselku hilang, apakah kau akan mengembalikannya Martin?."
"Hehe." lagi dan lagi pria itu hanya dapat meringis.
*****
Di kediaman Wingston kini Ivana tengah bersama dengan Jane, Kini mereka tengah berada di ruang ganti milik Ivana, tempat aman agar tak di dengar oleh para pengawal-pengawal itu. “Bagaimana jika malam ini?,” tanya Ivana kepada Jane.
Jane pun menggelengkan kepalanya, “Kau yakin tak ingin mengucapkan selamat tinggal pada ibumu?”
Pertanyaan itu sontak membuat Ivana terdiam, “Aku tak ingin menjadi beban baginya, lebih baik aku pergi. Lagi pula suatu saat aku pasti kembali, lagi pun. Aku tak ingin menyakitinya lebih jauh lagi, dan aku juga harus menanyakan sesuatu pada bibi Agnes. Kita harus keluar malam ini Jane, kau pasti membantu kan.”
“Aku tak yakin dengan semua ini, pada awalnya bibi menyuruhku karena dia tahu bahwa kau akan dapat terlepas dari siksaan nyonya Wingston setelah ikut dengan kami. Namun setelah aku pikirkan lebih jauh lagi, hal ini berbahaya untukmu. Di luar sana ada tengah ada seseorang yang mengincarmu nona, Aku tak tahu apa bagaimana pastinya dan siapa mereka. Namun perlu kau tahu pasti, orang yang sempat menculikmu itu bukan lah orang biasa.” Ujar Jane yang di balas dengan seribu tatapan penuh tanda tanya oleh Ivana.
“Bagaimana kau tahu?,” pertanyaan dari Ivana membuat Jane menunjukkan lengan tangannya.
“Sebuah tanda burung elang, tanda itu berasal dari sebuah organisasi tak biasa, dan aku tahu akan hal itu. Aku melihat tato itu di lengan pria itu. Kita tidak boleh salah langkah, jika kita salah langkah maka semuanya akan hancur. Aku bisa membawamu sekarang, namun ancaman itu bisa terjadi. Bagaimana jika mereka menculikmu saat aku lengah, oke kita membawa Rei, namun apakah dia bisa di andalkan selain membantu kita kabur. Pikirkanlah nona, pelarianmu bukan hanya sekedar kabur dari rumah. Ini akan lebih dari itu, mungkin kau tak tahu. Namun nyonya besar menambah pengawal hari ini, dia ingin kau aman.”
“Kau pasti bercanda Jane, itu tak mungkin. Mama bukanlah orang yang seperti itu, dia bahkan tak pernah menginginkanku. Untuk apa dia mencoba menjagaku sekarang?”
“Dia sayang padamu Ivana, dia hanya tak tahu bagaimana cara untuk menyampai semua itu, dia selalu peduli kepadamu hanya saja dia tak pernah bisa menunjukkannya,” Ivana yang mendengar itu pun tertegun.
“Ya kau benar, memang semua ini adalah karena aku. Andai saja tak lahir di dunia ini.”
“Ivana, kau tahu. Saat kita lahir, kita tak bisa memilih orang tua kita, atau kita akan lahir bagaimana, seperti apa rupa kita. Kita hanya di beri beberapa gambaran saat kita akan terlahir, jika dirimu benar-benar setuju. Itu artinya ada hal besar yang menunggumu, tak selama akan buruk untukmu Ivana, kau tahu. Aku selalu ingin terlahir menjadi kaya, tapi lihatlah aku. Berakhir di rumah mewah, namun siapa aku? Aku bukanlah pemiliknya, aku hanya pelayan di sini, pelayan dari keluarga Wingston yang terkenal.”
Jane menggenggam tangan Ivana, ia bermaksud untuk menenangkan gadis itu. “Ivana, tenanglah, percayakan semua padaku. Aku akan memastikanmu aman hingga bertemu dengan bibi Agnes.”
“Terima kasih Jane, aku benar-benar tak menyangka. Kau akan sebaik ini.”
Ivana memeluk Jane dengan erat, “Namun Ivana, tampaknya mereka semua peduli padamu, mereka semua naik ke sini saat itu. Tak ada satu pun dari mereka yang menemui nyonya wingston atau takut jika ia yang akan di culik, dan lagi. Melihat Rei yang seperti itu, aku tak merasa mereka sebenarnya jahat Ivana.” Ivana pun mengangguk.
“Apakah bibi tak cerita padamu? Mamaku itu, adalah seseorang yang penutup. Semenjak kematian ayah. Dirinya sangat berbeda sekali, dia sering marah padaku, mengurungku dan sebagainya. Terkadang pelayan yang kasihan, mereka memilih menemaniku, bahkan merawatku saat mama benar-benar tak peduli. Semakin lama, semuanya tampak terasa berbeda, para pelayan itu jauh lebih dekat padaku. Mama merasa terasingkan, kakak tak pernah benar-benar berbicara padanya setelah melihatku yang terus terkurung, mereka jarang berbicara, mama terus melontarkan semuanya kepadaku. Hingga akhirnya aku yang menyuruh kakak untuk memaafkan mama.”
“Lalu dia memaafkan ibumu?”
Ivana mengangguk, “Namun butuh waktu untuk semua itu, dia sering bercerita pada kak Oliv setelahnya dan dia benar-benar semakin benci padaku. Mungkin itu alasannya dia membawamu ke sini, dia ingin agar ada orang yang satu pihak dengannya.”
“Namun Ivana, bibi bilang tak ada satu pun dari pelayan yang datang menjengukmu selain bibi. Namun mengapa kau bilang mereka peduli padamu.”
Mendengar hal itu Ivana pun menggeleng, “tak ada satu pun orang di sini yang boleh peduli padaku, dan sekarang kau lihat. Mereka menjauhiku setelah mereka tahu bahwa akulah penyebab kematian kakak. Aku sebenarnya sudah tak lagi ingin hidup Jane, semuanya tampak berat. Aku terasa terus menerus melewati jalur yang sama, namun tanpa arah dan tujuan.”
“Ivana dengarkan aku,”
Ivana pun mendengarkan Jane, “kita pasti akan keluar dari rumah ini dengan aman, aku janji padamu.”
“Namun aku masih bisa bertemu dengan mama kan Jane.”
“Ya, aku hanya akan membuat jiwanya sedikit terguncang dengan kepergianmu, aku yakin. Dia pasti akan merasa sangat kehilangan putri satu-satunya. Akanku pastikan dia mencarimu Ivana, dia tak akan tahan untuk diam terlebih setelah dia kehilangan Olivia.”
“Ada apa dengan Olivia?” Emalia tiba-tiba masuk, hal itu pun membuat keduanya langsung panik melihat kedatangan wanita paruh baya itu yang tiba-tiba datang dengan berkacak pinggang.
“Mama”
“Nyonya”
Thor