NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi yang....

Pintu mobil terbuka dengan satu klik tajam yang memecah mantra dingin kata-katanya.

Darian keluar tanpa menoleh, gerakannya cepat dan tanpa emosi. Ia membuka pintu belakang di sisi lain, dengan hati-hati melepaskan Elios dari kursi bayinya, membungkus buntalan mungil itu dalam dekapannya yang kaku.

Queenora menelan ludah, rasa asam bercampur pahit ketakutan naik ke tenggorokannya. Ia mendorong pintu di sisinya, kakinya terasa seperti jeli dibawah terik matahari saat menyentuh jalan beraspal yang sempurna. Udara di sini terasa berbeda, lebih bersih, lebih tipis, dan jauh lebih dingin.

Wanita itu mengikuti Darian dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah, seperti seorang pelayan yang tahu tempatnya.

Pintu utama yang terbuat dari kayu berwarna gelap yang berat itu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan seragam abu-abu dengan rambut yang disanggul rapi. Wajahnya ramah, tetapi matanya waspada, menelisik tajam saat melirik Queenora.

“Selamat datang, Tuan,” sapanya lembut, mengambil alih tas perlengkapan bayi dari tangan Darian.

“Bi Asih, ini Queenora,” kata Darian, nadanya datar seolah sedang memperkenalkan perabot baru.

“Dia akan tinggal dan bekerja di sini. Tunjukkan kamarnya.”

Tanpa menunggu jawaban, Darian berjalan melewati mereka, menuju tangga megah yang melingkar di tengah lobi.

Interior rumah itu membuat Queenora menahan napas. Semuanya serba putih, abu-abu, dan hitam. Lantai marmer yang mengilap, dinding beton ekspos yang dingin, dan perabotan minimalis yang lebih mirip instalasi seni daripada tempat untuk hidup. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tawa yang menggema. Hanya ada aroma lemon dan kehampaan yang pekat dan menyesakkan.

“Mari, Nona,” suara Bi Asih membuyarkan lamunannya. Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya, senyum yang hanya sebuah formalitas semata.

Queenora mengikutinya menaiki tangga, langkah kakinya terasa lancang di atas keheningan yang memekakkan telinga.

Mereka melewati beberapa pintu tertutup sebelum berhenti di ujung koridor. Bi Asih membuka sebuah pintu, menampakkan sebuah kamar yang tidak begitu besar, tetapi bersih dan rapi. Ada ranjang tunggal dengan sprei putih yang membungkus kasur, lemari kecil, dan sebuah jendela yang menghadap ke taman belakang yang tertata rapi.

“Ini kamarmu Nona,” kata Bi Asih.

“Kamar Tuan muda Elios ada di sebelahnya.”

Asih menunjuk pintu lain yang hanya berjarak beberapa langkah.

“Semua kebutuhan Nona sudah disiapkan di dalam lemari. Jika butuh sesuatu, panggil saja saya,” tutur Asih dingin, seolah apa yang ia ucapkan tidak boleh terjadi.

Queenora hanya mengangguk tipis, dia cukup terkejut dengan ucapan Bi Asih yang mengatakan kebutuhannya ada di lemari. Kapan mereka menyiapkan semua itu? Ah tentu mereka bisa menyiapkan semua dengan satu jentikkan jari. Mereka punya kuasa dan uang.

Saat itulah Darian muncul di belakang mereka, Elios sudah tidak lagi dalam dekapannya. Wajahnya kembali menjadi topeng tanpa ekspresi.

“Bi Asih, kau boleh pergi,” perintahnya.

Bi Asih mengangguk patuh dan segera undur diri, meninggalkan Queenora berdua saja dengan majikan barunya di koridor yang terasa menyempit.

“Aturannya sederhana,” Darian memulai, suaranya rendah, setiap kata diucapkan dengan presisi yang menusuk.

“Kau lihat koridor ini? Duniamu hanya sampai di ujung sana. Kamarmu, dan kamarnya.”

Telunjuk Darian menegang, menunjuk kedua pintu itu.

“Kau tidak punya urusan di bagian lain rumah ini. Dapur, ruang keluarga, apalagi lantai atas, itu terlarang untukmu. Paham?” tegasnya tak terbantahkan.

Queenora mengangguk, tenggorokannya terlalu kering untuk bicara.

“Kau tidak menyentuh apa pun yang bukan milikmu. Kau tidak bicara pada siapa pun, termasuk Bi Asih, kecuali jika itu mutlak diperlukan dan berhubungan dengan Elios.”

Darian melangkah lebih dekat, memaksa Queenora untuk sedikit mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

“Dan yang paling penting, kau tidak bicara padaku. Kau hanya harus melaporkan satu, saat bayi itu lapar, saat dia butuh ganti popok, atau saat dia sakit. Di luar itu, aku tidak mau mendengar suaramu.”

Setiap aturan adalah jeruji baru yang dipasang di sekelilingnya.

Sumber makanan.

Fungsi.

Kata-kata Darian di rumah sakit kembali terngiang. Ironisnya, alih-alih merasa terhina, Queenora justru merasakan kelegaan yang aneh. Batasan ini adalah perisai. Dunia yang sempit berarti lebih sedikit tempat untuk terluka.

“Saya mengerti,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

“Bagus.” Darian menatapnya sekali lagi, tatapan analitisnya seolah memastikan ‘aset’ barunya ini mengerti instruksi.

“Sekarang masuk ke kamarmu. Aku akan memanggilmu jika dia bangun.”

Dengan itu, Darian berbalik dan berjalan pergi, langkah kakinya yang berat menggema sejenak sebelum ditelan oleh keheningan rumah. Queenora akhirnya bisa bernapas. Ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, menyandarkan punggungnya yang gemetar di sana.

Sangkar emas. Dingin, sunyi, dan aman. Untuk saat ini, itu sudah cukup.

***

Beberapa jam kemudian, tangisan melengking Elios memecah keheningan. Queenora, yang baru saja mencoba memejamkan mata, langsung tersentak bangun. Jantungnya berdebar, bukan karena kaget, tetapi karena sebuah panggilan yang terasa begitu dekat. Tanpa ragu, ia keluar dari kamarnya dan masuk ke pintu sebelah.

Kamar Elios adalah pusat dari seluruh rumah. Warnanya lembut, biru langit dan krem. Ada boks bayi kayu yang mahal, rak penuh mainan yang belum tersentuh, dan sebuah kursi goyang di sudut. Semuanya sempurna, tetapi terasa seperti etalase toko. Tidak ada kehangatan seorang ibu yang mendekorasinya dengan cinta.

Queenora mendekati boks bayi, di mana Elios meronta dengan wajah memerah. Ia mengangkat bayi mungil itu, menimangnya dengan lembut di lengannya. Seketika, tangisannya mereda menjadi rengekan pelan.

“Sshh, sayang… aku di sini,” bisik Queenora, suaranya serak.

Dengan perlahan ia duduk di kursi goyang, membuka kancing kausnya, dan membiarkan Elios menemukan sumber kehidupannya. Saat bayi itu menyusu dengan rakus, kehangatan menjalari dada Queenora, mengisi lubang menganga di hatinya.

Di ruangan ini, di kursi ini, dengan bayi ini dalam dekapannya, ia bukan Queenora si gadis rusak atau Queenora si sumber makanan. Ia adalah seorang ibu.

Malam merayap turun, mengubah jendela besar menjadi cermin hitam yang memantulkan kesendirian mereka.

Rumah itu semakin sunyi, seolah menahan napas. Setelah menyusu, Elios tidak langsung tertidur. Matanya yang jernih menatap Queenora, tangannya yang mungil mencengkeram jemarinya. Ia tampak gelisah, seolah merasakan energi dingin yang menyelimuti tempat itu.

Queenora mengayunkan kursi itu perlahan, mencoba menenangkannya. Namun, rengekan kecil itu tak kunjung hilang. Ia tahu apa yang dibutuhkan bayi ini. Bukan hanya susu. Ia butuh ketenangan. Elios butuh melodi yang bisa membawanya ke alam mimpi.

Ragu-ragu, Queenora mulai bersenandung. Sebuah melodi tanpa kata yang sering ia nyanyikan dalam hati untuk bayi yang tak pernah sempat ia timang. Melodi itu terasa canggung pada awalnya, sebuah suara lembut di tengah keheningan yang absolut.

Elios berhenti merengek. Matanya yang besar mulai sayu, napasnya menjadi lebih teratur.

Didorong oleh respons itu, Queenora memberanikan diri. Bibirnya yang gemetar mulai membentuk kata-kata, sebuah lagu pengantar tidur yang liriknya ia tulis di buku hariannya yang kini telah menjadi abu.

“Tidurlah, Bintangku, di langit sunyi… Ibu di sini, memeluk mimpi…”

Suaranya lirih, hanya sebuah bisikan yang diperuntukkan bagi mereka berdua.

“Janganlah takut pada gelap malam… Ada cinta ibu, jadi selimut yang dalam…”

Di ruang kerjanya yang terletak persis di bawah kamar bayi, Darian membeku. Tumpukan dokumen di hadapannya kabur. Ia mengangkat kepalanya, menyaring suara. Awalnya ia mengira itu hanya imajinasinya, gema dari masa lalu yang sering menghantuinya.

Tetapi suara itu nyata. Sebuah nyanyian lembut, meresap melalui langit-langit, menetes ke dalam ruang kerjanya yang steril seperti tetesan air hujan di jendela.

Ia bangkit dari kursinya, kakinya bergerak sendiri, membawanya keluar dari ruang kerja dan menaiki tangga tanpa suara. Ia berhenti di koridor yang gelap, beberapa meter dari pintu kamar Elios yang sedikit terbuka.

“… Esok mentari akan kembali… Bintangku terjaga, dalam dekapan ini…”

Melodi itu…

Jantung Darian berdebar kencang, sebuah sensasi yang asing. Bukan karena marah. Bukan karena duka. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang menusuknya dengan rasa familier yang menyakitkan. Sebuah melodi yang pernah ia dengar dalam mimpi demam atau dalam gema kehidupan yang lain, sebuah lagu yang seharusnya tidak pernah ada di rumah ini.

Darian melangkah lebih dekat, mengintip melalui celah pintu. Ia melihat siluet Queenora di kursi goyang, memeluk putranya dengan kelembutan yang membuat dadanya sesak. Dan suara itu terus mengalun, indah dan menghancurkan, membungkus kedua makhluk itu dalam dunia kecil mereka sendiri.

Darian menyandarkan kepalanya ke dinding yang dingin, memejamkan mata. Lagu itu tidak berhenti. Ia terus mengalir, setiap nadanya menarik keluar sebuah serpihan kenangan yang terkubur begitu dalam hingga ia lupa pernah memilikinya. Sebuah kenangan tentang tawa, tentang aroma vanila, dan tentang melodi yang sama persis yang pernah dinyanyikan oleh…

Napasnya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit yang tajam dan tiba-tiba menghantam ulu hatinya, begitu kuat hingga ia harus menekan tangannya ke dada. Suara wanita itu, nyanyiannya, seolah membuka paksa sebuah luka lama yang ia kira sudah mati rasa.

Dan untuk pertama kalinya sejak Luna tiada, Darian merasa ia benar-benar tercekik.

1
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
Indah MB
tajam tajam kata katamu.... seram seram perbuatanmu, tak tahan mata dan telinga .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!