NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga dari Kebenaran

Berita itu tidak meledak.

Ia merembes.

Potongan dokumen muncul di forum tertutup, lalu berpindah ke jaringan yang lebih luas. Nama-nama lama disebut dengan hati-hati, disamarkan setengah—cukup untuk mengguncang, tidak cukup untuk dituntut. Matteo membaca semuanya dalam diam, satu per satu, seperti seseorang yang menghitung detik sebelum badai menghantam pantai.

Carmela berdiri di jendela vila, menatap lembah yang mulai terang. “Mereka akan mencari kambing hitam.”

“Aku sudah menyiapkannya,” jawab Matteo.

“Siapa?”

Matteo menatapnya. “Aku.”

Carmela berbalik cepat. “Tidak.”

“Dengar,” kata Matteo tenang. “Narasi bekerja karena orang butuh wajah. Aku lebih tahan pukul daripada orang-orang yang terseret tanpa pilihan.”

“Dan aku?” suara Carmela mengeras. “Aku bukan lagi bayangan.”

Matteo terdiam. Lalu mengangguk. “Tidak. Kau akan bicara—tapi dengan caramu.”

Ricardo datang membawa kabar yang lebih buruk.

“Lorenzo bergerak lewat jalur yang tak kita sentuh,” katanya. “Dia memancing pengkhianatan.”

“Dari siapa?” tanya Carmela.

Ricardo ragu. “Dari orang yang kau percayai.”

Nama itu tidak perlu disebut. Matteo sudah tahu.

Sore itu, mereka bertemu Marco—orang lama Matteo, orang yang menyelamatkannya lebih dari sekali. Pertemuan berlangsung di kafe kecil, terbuka, seolah tidak ada perang yang sedang berjalan. Marco tersenyum, memesan kopi, dan berbicara tentang cuaca.

“Kau tahu,” kata Marco akhirnya, “orang-orang ketakutan.”

“Aku juga,” jawab Matteo.

Marco menghela napas. “Lorenzo menawarkan jalan keluar. Damai. Sunyi.”

“Dengan harga apa?” tanya Carmela.

Marco menatapnya lama. “Dengan kau menghilang.”

Kata-kata itu jatuh seperti benda tumpul.

“Tidak,” kata Matteo datar.

Marco menunduk. “Aku mencoba.”

Matteo berdiri. “Dan sekarang kau harus memilih.”

Marco mengangkat wajahnya, mata basah. “Aku sudah memilih. Aku datang ke sini.”

Tidak ada tembakan. Tidak ada teriakan. Tapi sesuatu patah—halus, tak bisa diperbaiki.

Malam itu, Lorenzo memukul balik di tempat paling rawan: ruang publik.

Artikel panjang terbit, menggiring opini, menata ulang cerita. Matteo digambarkan sebagai pengendali licik, Carmela sebagai pion yang “diselamatkan” untuk menutup kejahatan. Bahasa rapi. Kejam.

Carmela membaca sampai akhir, lalu mematikan layar. “Ini bukan tentang menang,” katanya. “Ini tentang siapa yang didengar.”

Matteo mengangguk. “Dan kau siap bicara?”

Carmela menarik napas. Lama. “Aku siap.”

Wawancara itu dilakukan tanpa kamera berlebihan. Satu jurnalis. Satu rekaman. Tidak ada dramatisasi. Carmela duduk tegak, tangan di pangkuan, suaranya jernih.

“Aku dijodohkan untuk menenangkan konflik yang tidak pernah kupilih,” katanya. “Aku tidak meminta perlindungan. Aku meminta hak menentukan hidupku.”

Pertanyaan datang. Tajam. Carmela menjawab tanpa menyerang, tanpa memohon. Ia menceritakan ketakutan, pelarian, pilihan. Ia tidak menyebut Lorenzo dengan kemarahan—ia menyebut pola.

Rekaman itu menyebar cepat.

Dan untuk pertama kalinya, narasi retak dari dalam.

Balasan Lorenzo datang cepat—dan personal.

Sebuah pesan suara dikirim ke ponsel Carmela. Suaranya lembut, hampir ramah.

“Kau berbicara dengan baik,” katanya. “Sekarang dengarkan aku.”

Alamat muncul. Nama seorang perempuan tua. Signora Lucia.

Darah Carmela dingin.

“Dia tidak bersalah,” kata Carmela.

“Tidak ada yang bersalah,” jawab Lorenzo dalam pesan lanjutan. “Hanya ada harga.”

Matteo tidak berdebat.

Ia mengirim tim. Ia bergerak sendiri. Carmela bersikeras ikut.

“Ini konsekuensiku,” katanya. “Dan aku tidak akan berdiri di belakangmu lagi.”

Matteo menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Pegang tanganku. Jangan lepaskan.”

Rumah Signora Lucia sunyi. Terlalu sunyi.

Mereka masuk perlahan. Jejak sepatu. Pintu belakang terbuka. Di dapur, kursi terguling.

Carmela menemukannya di ruang tamu—hidup, terikat, gemetar.

“Maaf,” bisik Signora Lucia.

“Tidak,” kata Carmela, memeluknya. “Tidak ada yang perlu kau minta maafkan.”

Langkah terdengar.

Lorenzo muncul dari bayangan. Senyum tipis. “Indah,” katanya. “Kebenaran selalu membawa penonton.”

Matteo berdiri di depannya. “Ini antara kau dan aku.”

“Selalu begitu,” jawab Lorenzo. “Dan selalu ada orang ketiga yang membayar.”

Ricardo dan tim masuk cepat. Kekacauan singkat. Lorenzo mundur, meninggalkan pesan terakhir di udara: “Kau sudah memilih panggung. Sekarang terima penonton.”

Mereka membawa Signora Lucia pergi. Aman. Untuk saat ini.

Di mobil, Carmela gemetar—bukan karena takut, tapi karena lelah. Matteo memeluknya, dahi menempel ke rambutnya.

“Aku tidak menyesal bicara,” kata Carmela pelan.

Matteo mengangguk. “Dan aku tidak menyesal berdiri di sisimu.”

Malam itu, dunia tidak berakhir.

Tapi berubah.

Telepon Matteo berdering tanpa henti. Sekutu lama menimbang ulang. Musuh menjadi lebih berhati-hati. Dan di tengah semua itu, Carmela menatap layar—komentar, pesan, dukungan, kebencian—semuanya bercampur.

“Ini berat,” katanya.

“Ya,” jawab Matteo. “Dan ini nyata.”

Mereka duduk berdampingan, kelelahan yang sama, keputusan yang sama. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya kehadiran.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!