cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cerdik
“Silahkan kamu pulang saja mas, uang ini sudah jadi milik kami sekarang karena kamu sudah menawarkan bantuan kan? Jadi tidak perlu lagi kamu tinggal di sini,” ucap Devi dengan nada yang mencoba tampak percaya diri, meskipun badan nya sudah mulai sedikit menggigil. Dia mulai menggerakkan tangannya sebagai tanda untuk pria itu pergi, namun pria itu tidak sedikit pun bergerak dari tempatnya. Sebaliknya, dia mendekati Devi dengan langkah yang lambat namun penuh dengan ancaman, wajahnya yang marah membuatnya terlihat sangat menakutkan.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri ya anak kecil! Kamu merampas uang ku dan sekarang bahkan berani mengusir aku? Kalau kamu tidak mengembalikan uang itu dalam hitungan detik, aku akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan padamu dan kedua temanmu,” ancam pria itu dengan suara yang rendah namun penuh dengan kekerasan. Dia menggerakkan tangannya seolah-olah akan menyerang Devi, membuat Devi mundur ke belakang hingga punggung nya menyentuh tembok kost.
Rohita dengan cepat berdiri di depan Devi, menghadapi pria itu dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. “Jangan kamu menyentuh dia! Jika kamu mau melakukan sesuatu, lakukan saja padaku !” teriak Rohita dengan suara yang cukup keras, menunjukkan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti teman-temannya. Dewi yang berada di belakang mereka hanya bisa berdiri dengan badan yang menggigil, tangan nya menggenggam erat ujung roknya dan mata nya penuh dengan air mata yang hampir keluar.
“Kalau begitu kamu juga akan mendapatkan konsekuensinya yang sama!” ucap pria itu dengan marah, mulai mendekati Rohita dengan langkah yang semakin cepat. Dia mengangkat tangannya seolah-olah akan memukul Rohita, namun sebelum dia bisa melakukan hal tersebut, Devi yang berada di belakang Rohita tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras dan menusuk telinga.
“TOLONG! AKU DI PERKOSA!” teriak Devi dengan suara yang sangat keras dan penuh dengan kesedihan, membuat suara tersebut terdengar jelas di seluruh lingkungan kost. Wajahnya yang biasanya ceria kini penuh dengan ekspresi kesusahan, dan dia bahkan mulai mengeluarkan air mata untuk membuatnya tampak lebih nyata.
Sebagai akibat dari teriakan yang keras tersebut, pintu-pintu kamar kost mulai terbuka satu per satu dan para tetangga mulai keluar dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran dan kemarahan. Beberapa dari mereka adalah pria yang tampak siap untuk membantu, sementara yang lain adalah wanita yang membawa alat-alat seperti besi atau kayu untuk membela diri jika diperlukan. Mereka berkumpul di depan tempat dimana Rohita, Dewi, Devi, dan pria itu berada, dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan menatap pria tersebut.
“Apa yang kamu lakukan dengan anak-anak itu?! Kamu berani melakukan hal yang tidak senonoh di depan mata kita semua?!” teriak salah satu tetangga yang berusia lebih tua, membawa sebuah tongkat kayu di tangannya. Pria itu terkejut dengan teriakan Devi dan dengan cepat menyadari bahwa dia sudah berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Wajahnya menjadi pucat karena ketakutan akan apa yang mungkin dilakukan oleh para tetangga terhadapnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, pria itu langsung berlari menuju motornya yang masih terparkir di depan kost. Dia dengan cepat menyalakan mesin dan menekan tuas gas dengan keras, membuat motornya melaju dengan cepat menjauh dari tempat kejadian. Para tetangga mencoba mengejarnya, namun pria itu sudah terlalu cepat dan segera hilang dari pandangan mereka. Setelah itu, para tetangga berbalik menghadapi ketiga gadis tersebut dengan wajah yang penuh dengan keprihatinan.
“Kalian baik-baik saja kan anak-anak? Tidak ada yang terluka kan?” tanya salah satu tetangga wanita dengan suara yang lembut dan penuh dengan perhatian. Devi yang masih menangis dengan suara terdengar mulai berhenti sedikit demi sedikit, sementara Dewi akhirnya tidak bisa menahan lagi dan mulai menangis dengan terisak-isak di pelukan Rohita. Rohita dengan lembut memeluk Dewi dan menepuk-nepuk punggungnya, sambil menatap para tetangga dengan wajah yang penuh dengan rasa terima kasih. “Kami baik-baik saja bu, terima kasih banyak sudah membantu kami,” ucap Rohita dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. Namun di dalam hatinya, dia merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, terutama setelah tindakan Devi yang cukup berisiko dan keberadaan uang yang mereka miliki sekarang.
Suara langkah kaki tetangga yang perlahan menghilang menjadikan suasana di depan kost kembali tenang. Debu yang terbawa angin sedikit menyapu permukaan jalan aspal, sementara sinar matahari mulai miring menyentuh ujung langit. Devi dengan wajah penuh keceriaan masuk ke dalam kost, pintu kayu yang berderit terbuka lebar dan kemudian ditutup dengan keras olehnya. Di dalam ruangan kecil yang rapi namun penuh dengan barang-barang tiga gadis itu, Dewi sudah berada di sana, duduk di sudut tempat tidur sambil menatap arah pintu dengan ekspresi khawatir yang tergambar jelas di wajahnya yang muda.
“Hihihi… Lihat saja kak! Tadi pria itu kayak ayam yang kehilangan arah! Langsung lari tanpa balik kepala!” teriak Devi sambil melompat-lompat masuk ke kamar bersama. Tangan kanannya masih erat menggenggam amplop berisi uang yang dia rampas tadi, dan dia mengibaskan nya ke udara seperti sebuah trofi kemenangan. Bibirnya membentuk senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan, bahkan tangannya yang kecil terus bergoyang-goyang sambil tertawa terbahak-bahak. “Dia pasti tidak menyangka aku akan berani teriak seperti itu! Semua orang langsung keluar begitu aku teriak, padahal sebenarnya dia cuma mengancam saja kan kak?”
Rohita yang baru saja memasuki kost setelah menutup pintu dengan lebih hati-hati, mendengar ucapan Devi itu dan wajahnya yang sudah awalnya merah karena geram makin memerah. Kedua tangannya menggenggam erat, kuku sudah menusuk ke dalam kulit telapak tangannya tanpa dia sadari. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Devi, dan napasnya mulai menjadi cepat serta berat. “Devi! Berhenti saja itu tertawamu yang menjengkelkan itu!” seru Rohita dengan suara keras yang membuat seluruh ruangan seketika sunyi. Dewi yang tadinya sudah khawatir, kini semakin menundukkan kepalanya, kedua tangannya menyusun di pangkuannya sambil meremas ujung bajunya.
“Kak Rohita kenapa marah ya? Kan aku sudah menyelamatkan kita dari orang yang tidak tahu malu itu! Dia datang dengan menawarkan uang seperti kalau kita butuh belas kasihan dari dia,” ujar Devi dengan nada sedikit mengecewakan, namun ekspresi wajahnya masih menunjukkan kegembiraan yang belum hilang sepenuhnya. Dia masih belum mengerti mengapa kakaknya yang selalu tegas itu begitu marah padanya padahal dia merasa telah melakukan hal yang benar. “Uang ini bisa kita pakai untuk membeli makanan dan kebutuhan kita yang sudah hampir habis kan kak? Kita tidak perlu lagi khawatir tentang biaya hidup beberapa hari ke depan.”
Tepat saat itu, Rohita melangkah cepat mendekati Devi, tangannya terangkat seolah-olah akan memukulnya, namun dia segera menghentikan gerakan itu dan malah menggenggam kedua bahu Devi dengan kuat. “Kau tidak mengerti apa-apa Devi!” seru Rohita dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. “Kau berpikir apa dengan yang kamu lakukan? Tadi kamu merampas uang dari orang itu dan kemudian mengeluarkan omongan bohong yang bisa membahayakan kita semua! Kalau pria itu kembali dan melaporkan kita ke polisi bagaimana? Atau kalau dia mencari cara untuk membalas dendam bagaimana? Kau hanya berpikir tentang uang dan kesenanganmu sendiri tanpa memikirkan dampaknya bagi kita berdua dan juga Dewi!”
Dewi yang melihat kedua kakaknya itu mulai bertengkar, akhirnya mengangkat kepalanya dan berusaha mendekati mereka dengan langkah yang sedikit gemetar. “Kak Rohita… Kak Devi… Jangan marah ya,” ucap Dewi dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar. “Kita semua tidak sengaja terlibat dalam hal ini. Mungkin kita bisa mencari cara untuk mengembalikan uang itu pada pria itu dan meminta maaf?” Kata-kata Dewi itu membuat Rohita sedikit menenangkan diri, dia melepaskan cengkeramannya pada bahu Devi dan kemudian duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang masih penuh kesedihan dan kemarahan.
“Kau tahu tidak Devi, aku sudah merasa sangat bersalah karena mencuri makanan di pasar tadi,” ujar Rohita dengan nada yang lebih lembut namun masih penuh emosi. “Aku terpaksa melakukan itu karena kita benar-benar tidak punya uang sama sekali untuk makan. Tapi kamu… kamu malah membuat situasi ini menjadi lebih buruk! Kita bukan orang yang suka mengambil hak orang lain dengan paksa, apalagi dengan bohong yang bisa merusak nama baik kita!” Rohita menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya sedikit bergoyang karena perasaan bersalah dan marah yang bercampur aduk.
Devi yang melihat ekspresi Rohita itu akhirnya mulai menyadari kesalahannya. Senyum di wajahnya menghilang digantikan oleh wajah yang penuh penyesalan. Dia menjatuhkan amplop uang ke atas kasur dan kemudian duduk di sisi Rohita. “Maaf kak… Aku tidak berpikir jauh ke depan. Aku hanya ingin membantu saja, karena aku melihat kakak kesusahan mencari uang dan kita sering kelaparan,” ujar Devi dengan suara yang mulai bergetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku tidak sengaja mau menyakitkan hati kakak atau membuat masalah bagi kita semua.”
Dewi yang sudah berada di dekat mereka, perlahan-lahan menjulurkan tangannya dan menyentuh bahu Rohita serta Devi secara bergantian. “Kita semua hanya ingin hidup dengan baik saja kan?” ucap Dewi dengan suara yang penuh kebaikan.