Sekuel dari Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki rasa lebih tapi mereka ragu untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.
Rian, papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu terbuka dengan perasaan mereka masing-masing. Namun karena sebuah kejadian Zafrina dan Zico dipaksa menikah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Simak selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Makan Siang Spesial
******* Part bukan untuk Zona bocil *******
"Zi-Zico... kamu mau apa?"
Zico tetap diam dan mengungkung tubuh sangat istri. Tatapan matanya begitu dalam, namun Zafrina tidak tahan berlama-lama menatap sorot mata itu.
"Katakan padaku, apa yang membuat suasana hatimu buruk?"
Zico bisa melihat sorot mata Zafrina yang tampak kesal dan marah. Zafrina seketika menoleh menatap suami sekaligus sahabatnya itu.
"Apa kamu yakin ingin tahu?" Zico mengangguk sambil merapikan anak rambut Zafrina yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu.
"Apa kamu tahu sudah berapa lama aku menunggumu di luar tadi, king?" Zico menggeleng, nyatanya dia memang tidak mengetahui kapan Zafrina tiba.
"Aku menunggumu di luar hampir 1 setengah jam. Sekertaris cantikmu mengusir ku keluar dari ruanganmu." Kembali mata yang bening itu berembun suaranya terdengar tercekat di ujung kalimat.
"Aku akan memecatnya nanti."
"Lalu apa lagi yang membuatmu kesal?"
"Kamu... "
"Aku... ?" Zico bahkan sampai menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu berjanji akan makan siang denganku, king. Tapi kamu seperti melupakannya."
"My queen, aku mengingatnya. Hanya saja rapat si*alan itu yang menahanku. Maafkan aku ya. Lain kali tidak akan terulang lagi, jangan menangis, ok."
"Aku tidak menangis," Zafrina membuang muka lalu menyeka pipinya yang basah karena air matanya yang menetes.
"Baiklah, sekarang bangun. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat."
Zafrina akhirnya bangkit, Zico menahan wajah Zafrina dengan menangkuk kedua pipi gadis itu. "Jangan pernah menangis lagi, aku tidak suka melihatmu bersedih. Aku mencintaimu, Queen."
Dengan satu tangan Zico menarik pinggang Zafrina sementara tangan yang lainnya menarik tengkuk Zafrina. Bibir keduanya saling memagut, Zafrina meletakkan kedua tangannya di bahu Zico, matanya terpejam.
Sementara itu di luar ruangan Zico, Margareth tampak resah menatap pintu ruangan Zico yang tertutup rapat.
"Si*alan.. sebenarnya siapa gadis itu? apa dia kekasih Zico? apa yang mereka lakukan di dalam sana?" gerutu Margareth. Margareth adalah sekertaris yang baru di rekrut oleh perusahaan Zico karena sekertaris lama Perusahaan itu mengundurkan diri untuk menikah. Mungkin di seluruh karyawan perusahaan itu hanya dirinya lah yang tidak tahu siapa itu Zafrina.
Tak lama pintu terbuka, Zico dan Zafrina keluar dengan bergandengan tangan. Margareth mengepalkan kedua tangannya. Namun dia bisa apa sekarang. Selain berharap Zafrina tidak mengatakan keburukannya tadi. Tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan saat Zico tiba-tiba memanggil namanya.
"Margareth, temui kepala HRD. Mulai hari ini kamu saya pecat."
"Pe-pecat Pak?"
"Ya... " Zico langsung menarik tangan Zafrina dan pergi begitu saja. Zafrina tampak melirik Margareth, sebenarnya dia tak sampai hati, tapi mengingat bagaimana kelakuan Margareth terhadapnya, membuat Zafrina urung menaruh iba terhadap sekertaris suaminya itu.
Zico mengajak Zafrina naik lift. Namun bukannya turun melainkan naik ke atas. Atap gedung itu begitu luas dengan dilengkapi fasilitas Helipad (landasan helikopter) dan tentunya sebuah helikopter telah bersiap lengkap dengan pilotnya. Zafrina dan Zico berjalan beriringan. Dominic menyambut keduanya dengan senyum yang mengembang.
"Enjoy your day... " Sambut Dominic sembari memberi jalan untuk kedua pasangan itu. Zico tersenyum miring sementara Zafrina masih belum paham maksud Zico.
"Bukankah kita hanya akan makan siang? kenapa harus memakai helikopter?"
"Karena ini makan siang spesial, Queen. Sudahlah jangan banyak bertanya. Kamu akan tahu nanti." Zico menarik tangan Zafrina lembut. Keduanya duduk setelah dipasangi pengaman oleh kru.
Baling-baling helikopter mulai berputar. Zico tersenyum saat melihat Zafrina tampak masih bingung. Hampir 1 jam mereka berada di atas helikopter, Zafrina melihat lautan luas berwarna kebiruan. Helikopter mulai terbang rendah di sebuah pulau. Pulau yang tampak sangat indah dimana di pulau itu ada beberapa bangunan seperti villa.
"King, apa kamu serius kita akan turun disini?"
"Ya, my Queen, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu."
Heli turun di sebuah landasan kecil Zico dan Zafrina turun setelah baling-baling berhenti berputar.
Zico mengeluarkan sebuah kain berwarna hitam dan menutup mata Zafrina. Awalnya gadis itu tampak ragu tapi Zico berhasil meyakinkannya.
"Mereka tiba di sebuah Villa paling ujung. Di sana sudah tersedia sebuah meja yang diatasnya sudah tertata rapi beberapa makanan dan tentunya sebotol wine.
Zafrina membuka matanya perlahan saat Zico melepas ikatan kain di matanya. Zico sudah berada di hadapan Zafrina seraya mengulurkan sebuket bunga.
" For my precious wife."
Zafrina menutup mulutnya, tak menyangka akan mendapat kejutan manis seperti ini. Sudut matanya kembali menitikkan air mata. Zico mengusapnya dengan lembut.
"Zi... i-ini?"
"Anggaplah ini sebuah lamaran. Karena kita melewatkan momen itu, queen."
Zafrina menerima buket bunga mawar itu lalu memeluk Zico dan pemuda itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Zafrina. Keduanya berpelukan untuk sesaat. Zafrina kemudian mengurai pelukannya dan menatap Zico.
"Aku lapar, king."
"Baiklah, ayo kita mengisi tenaga sebelum aku memakanmu." Ucapan terakhir Zico membuat langkah Zafrina berhenti, ia menelan salivanya kasar. Mungkin memang sudah saatnya dia menyerahkan semuanya pada Zico. Karena kini tidak ada keraguan lagi di hatinya.
Mereka berdua menikmati makan siang itu sambil bercengkrama. Sesekali Zico menyuapi Zafrina dan begitu juga sebaliknya. Dunia serasa hanya milik mereka berdua. Karena memang hanya ada mereka sementara pelayan dan bawahan Zico lainnya berada di tempat lain. Mereka hanya bertugas menyiapkan semua pesanan tuannya dan lalu menghilang agar tidak mengganggu momen honeymoon tuan mudanya.
"King, beberapa hari aku tidak melihat papa Leo. Kemana dia?"
"Dia ada urusan. Nanti jika dia sudah bosan pasti kembali."
Zico lalu membawa Zafrina masuk ke dalam Villa setelah acara makan mereka selesai. Zafrina tampak terkagum-kagum dengan design interior vila itu. Sampai tanpa sadar dirinya sudah di giring Zico ke dalam kamar. Zico menutup pintu lalu menguncinya. Zafrina yang mendengar bunyi klik langsung tersadar.
"King... "
"Sstt... " Zico menekan bibir Zafrina menggunakan telunjuknya.
"Aku sudah menahannya sejak 7 hari yang lalu. Jadi aku ingin sekarang, queen."
"Biarkan aku mandi dulu, King. Kita bahkan tidak membawa baju ganti," Zafrina mengalihkan pandangannya, tampak sekali jika dia sedang gugup. Zico tersenyum tipis melihat tingkah Zafrina itu.
"Kita tidak perlu baju, my queen," desis Zico seraya melangkah maju, sementara Zafrina terus mundur, semakin lama Zafrina jatuh di atas ranjang dengan posisi terlentang.
"Zico melepas beberapa kancing kemejanya kini tampaklah tubuh tegap atletis yang begitu menggoda untuk di sentuh. Zafrina menatap dada bidang Zico sambil menelan liurnya yang hampir menetes keluar.
Tanpa menunggu waktu lama Zico meni*ndih Zafrina dan mulai melu*mat bibir merah jambu itu. Ciuman yang lembut itu mulai terasa asing bagi Zafrina. Entah mengapa saat merasa bagian inti tubuh Zico mengeras tubuh Zafrina terasa kaku dan panas dingin. Zico menyusuri leher jenjang Zafrina dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya.
"Akh... King," Zafrina mendesah lirih saat Zico menghisap lehernya. Gadis itu mencengkeram Sprei dengan erat. Semua rasa asing itu mulai membuat Zafrina terbuai apa lagi Zico kini bermain di puncak dadanya. Zico tersenyum saat mendengar deru degup jantung Zafrina. Perlahan Zico menurunkan Dress Zafrina. Gadis itu awalnya menahannya, tapi melihat tatapan Zico perlahan tangannya terlepas. Kini Zafrina hanya berbalut pakaian dalam. Zico terus menatapnya dengan takjub.
"You're so sexy."
"Zi... please jangan menatapku seperti itu, aku malu." Zico tersenyum, dia kembali melancarkan aksinya, tangannya bergerak lincah. Ia merem*as kedua gundukan dada Zafrina. Sesekali jemarinya memilin ujungnya hingga tubuh Zafrina menggelinjang. Tangan Zico terus turun mencari sarang adik kecilnya. Zico memainkan biji buah yang tersembunyi di dalamnya. Suara desa*han Zafrina terdengar sangat mematikan untuk Zico. Adik kecil Zico semakin keras menantang.
Zico tak sabar lagi, dia melucuti semua pakaian dan juga celananya. Zafrina membuang muka saat melihat Zico yang telan*jang. Darahnya berdesir. Inti bawah tubuh nya pun mulai merespon dan terasa berdenyut.
"Aku akan memulainya, queen,"
Zafrina sudah pasrah, Saat Zico melepas dua kain terakhir yang menempel di tubuhnya. Tidak perlu berlama-lama Zico memulai menempelkan ujung adiknya di depan bibir bawah Zafrina. Berulang kali Zico mencobanya. Zafrina mendesis karena merasakan sakit yang teramat di bawah sana. Namun Zico sudah terlanjur memulainya. Zafrina menjerit saat Zico berhasil merusak mahkota Zafrina yang selama ini dia jaga.
"Aarggh... sakit Zi." Sudut mata Zafrina basah. Zico mengusapnya lembut.
"Apa jika aku diam begini masih sakit?" Zafrina menggeleng. Zico perlahan menggerakkan pantatnya. Keduanya kini larut dalam permainan dan tak lama keduanya mengerang bersamaan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dah ah... takut kalo banyak².
Yuk guys kepoin karya bestieku yang lainnya
Judul : Istri Kecil Dosen Muda
author : Susi similikity
Mampir ya, tunjukkan eksistensi kalian.
*saat suami tidak percaya istri, maka novel itu akan bawa2 asas kepercayaan dalam hubungan dan suami yang salah karena tidak percaya istrinya
*saat istri tidak percaya suami tetap saja suami yang salah, asas kepercayaan dalam hubungan langsung kalian buang, suami salah karena tidak bisa menjaga perasaan istri
coba author dan kalian cari di novel mana pun, jika konflik suami tidak percaya istri maka suami yang salah, dan ketika istri tidak percaya suami tetap saja suami yang salah
jadi author itu bukan hanya pantai buat cerita tapi harus netral buang sisi wanita dalam berkarya, jadi novelis netral, jadi berlaku adil pada sang suami dan sang istri, jika suami salah maka suami yang salah, jika istri salah maka istri yang salah, jangan suka memutar balikan fakta