NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Setelah Dikhianati

Menjadi Ibu Susu Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Ibu susu / Pengkhianatan
Popularitas:34.3k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!

Aulia beranjak masuk begitu saja setelah mendapatkan informasi yang cukup mengejutkan baginya. Tatapannya menyapu bagian dalam rumah dengan perasaan yang sulit ia jabarkan. Rumah itu adalah hadiah dari Papa Abian, di hadiahkan dengan penuh kasih, dan pernah menjadi tempat yang ia kira akan menyimpan banyak kebahagiaan.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa rumah ini justru akan lebih banyak menyisakan kenangan yang ingin ia hapus. Bukan semata karena perlakuan Adrian. Selama bersama, pria itu tidak pernah bersikap kasar. Namun kebohongan demi kebohongan, juga penolakan yang baru sebulan terakhir terjawab alasannya, membuat Aulia menyadari bahwa kelembutan yang dulu ia terima hanyalah bentuk manipulasi yang rapi.

Aulia tidak ingin tinggal di tempat yang setiap sudutnya menghadirkan bayang Adrian. Lebih dari itu, ada bayang Arumi, luka yang datang dari orang yang dia anggap adiknya sendiri. Menjual rumah ini terasa seperti satu-satunya cara untuk benar-benar menutup pintu masa lalu yang kelihatan, meski di dalam hatinya itu mungkin tidak akan benar-benar hilang.

Bagian dalam rumah tampak lengang. Tidak ada siapa pun di ruang depan. Aulia terus melangkah tanpa ragu, seolah kakinya sudah hafal arah yang harus dituju. Ia berhenti di depan kamar utama, lalu membuka pintu tanpa mengetuk.

Arumi yang tengah merapikan beberapa barang tersisa sontak terlonjak kaget.

"Kak Aulia..." ujar Arumi, menghentikan aktivitasnya seketika. Tatapannya tertuju pada wanita yang berdiri di ambang pintu. Tidak ada lagi sorot hangat yang dulu selalu ia temukan. Kali ini, mata Aulia datar, tenang, dan sulit ditebak.

Aulia tidak langsung menjawab. Ia berdiri dalam diam, membiarkan pandangannya menyusuri setiap sudut kamar. Ruangan itu nyaris tidak berubah. Tata letaknya masih sama, aromanya pun terasa familiar. Namun bagi Aulia, kamar ini kini seperti menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Barangkali di sinilah kebohongan demi kebohongan itu pernah dirajut. Di tempat yang dulu ia anggap paling aman, justru pengkhianatan tumbuh tanpa suara.

Perlahan, Aulia menarik napas, lalu mengembuskannya dengan tenang. Tatapannya kembali pada Arumi, tajam namun tetap terkendali.

.

.

"Kakak ngapain ke sini?"

Meski pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban, Arumi kembali bersuara. Kali ini justru membuat Aulia terkekeh pelan. Tawa yang tidak hangat, lebih terdengar seperti sindiran halus.

"Kamu tanya aku ngapain ke sini, Arumi?" ulang Aulia lirih namun tajam. Ia melangkah masuk. Ada jeda sepersekian detik saat kakinya melewati ambang kamar itu, tetapi keraguan itu lenyap secepat datangnya.

"Kamu lupa ini rumah siapa?"

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang hingga terasa mengintimidasi.

Arumi berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada. Senyum miring terukir di bibirnya, seolah tidak tersentuh oleh tekanan yang memenuhi ruangan. Dan satu hal yang Aulia tangkap dari adiknya itu, Arumi yang di depannya ini tidak lagi terlihat lugu dan polos seperti yang dia kenal.

"Jelas aku tidak lupa, Kak. Ini rumah Kak Aulia dan mantan suami kakak, Mas Adrian." Ia sengaja menekankan kata mantan. "Tapi siapa tahu kakak yang lupa. Sekarang Arumi adalah istri Mas Adrian."

Kalimat itu meluncur ringan, namun penuh maksud. Sebuah pengingat bahwa posisi telah bergeser, bahwa Aulia bukan lagi bagian dari pria itu.

Aulia terkekeh pelan. Tidak ada kehangatan dalam tawanya, hanya getir yang tersisa.

"Itu? Aku tidak akan pernah lupa," ujarnya pelan. Tatapannya lurus pada Arumi, tidak goyah sedikit pun.

"Aku tidak akan pernah lupa pengkhianatannya. Aku juga tidak akan pernah lupa siapa yang dia pilih." Ia menarik napas tipis, lalu melanjutkan dengan suara yang justru semakin tenang. "Seorang wanita yang tidak tahu diri. Wanita yang kusayang sepenuh hati, yang kupercaya tanpa ragu." Ada jeda singkat. Hening yang terasa menekan.

"Tapi balasannya?" bibir Aulia melengkung tipis, senyum yang lebih mirip luka. "Dia justru menjadi orang yang menghancurkanku."

Sorot matanya mengeras, bukan karena amarah yang meledak, melainkan karena luka yang telah berubah menjadi keteguhan.

"Itu tidak akan pernah aku lupakan, Arumi Mentari. Dan kamu wanita itu," lanjut Aulia pelan, "yang sekarang menyandang status sebagai istri Adrian."

Ia menatap Arumi dari ujung kepala hingga kaki, lalu kembali mengunci manik wanita itu dengan tatapan datar.

"Kamu bangga? Mendapatkan seorang suami dari menghancurkan hidup orang lain?" Aulia menghela napas ringan, seolah membuang sesuatu yang sudah terlalu lama mengendap di dadanya.

"Tapi tidak apa-apa. Aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi. Mungkin memang ini cara Tuhan menyelamatkanku. Melepaskanku dari laki-laki seperti dia."

Nada suaranya tetap stabil, namun berikutnya ada sesuatu yang berubah. Lebih dalam. Lebih berat.

"Hanya saja, ada satu hal yang tidak akan pernah benar-benar sembuh dari hatiku." Jemarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya. "Anakku... menjadi imbas dari kehancuran yang kalian ciptakan."

Sunyi sejenak memenuhi kamar itu.

Aulia tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya.

"Jadi aku harap pernikahan kalian benar-benar lebih baik daripada pernikahanku dulu. Aku juga berharap hidupmu jauh lebih bahagia daripada saat kamu masih menjadi bagian dari hidupku."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara hampir berbisik, namun jelas. "Karena jika tidak… maka semua yang kamu ambil dariku akan terasa semakin sia-sia."

...****************...

Dia membuang nafas kasar, sebelum melanjutkan, "Tapi lupakan semua itu. Kamu tadi bertanya apa maksud kedatanganku ke sini, kan?"

Aulia menatap sekeliling kamar sebentar sebelum kembali pada Arumi.

"Tentu saja aku datang ke rumahku, Arumi. Rumah ini." Ia berhenti sejenak. "Kalau kamu lupa, biar aku jelaskan. Rumah ini milikku. Jadi yang seharusnya bertanya itu aku. Kenapa kalian tidak pernah pergi? Apa sudah tidak ada lagi rasa malu itu?"

Suaranya datar, tidak meninggi, justru terasa lebih tajam karena diucapkan tanpa emosi berlebih.

Arumi membulatkan matanya, jelas tidak percaya. Ke mana perginya Aulia yang dulu selalu berbicara lembut dan penuh kehangatan? Wanita yang berdiri di depannya sekarang terasa jauh lebih dingin, lebih tegas, seolah membangun dinding yang tak bisa disentuh.

Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat.

Arumi segera merapikan ekspresinya. Dagunya terangkat sedikit, tubuhnya berdiri tegak. Ia tidak ingin terlihat kecil di hadapan kakaknya.

"Huh, hanya rumah kecil ini," ujarnya remeh.

Ia melirik koper yang terbuka berisi barang-barang.

"Tidakkah kakak lihat aku sedang apa? Aku sedang mengemasi pakaian. Dan kakak harus tahu, kami sudah pindah sejak seminggu yang lalu. Aku datang hari ini hanya untuk mengambil sisa barang. Itu saja."

Aulia mengangkat alisnya tipis. "Aku tidak melihat itu," ujar Aulia pelan. Tatapannya jatuh pada koper besar di atas ranjang. "Yang aku lihat, kamu sedang merapikan barang-barang milikku ke dalam koper."

Ia melangkah mendekat ke arah ranjang dimana koper besar itu di letakkan, jemarinya menyentuh salah satu gaun yang terlipat rapi di sana.

"Kamu tidak sedang berpikir untuk mengangkut milikku juga, kan?" lanjutnya santai. "Mana yang kamu sebut barang sisa? Ini semua bajuku."

Senyum tipis terbit di bibirnya. Bukan senyum hangat, melainkan senyum yang sulit ditebak artinya.

Arumi langsung gelagapan. Wajahnya memerah, antara malu dan tertangkap basah.

"Ini... aku hanya berpikir kakak tidak akan mengambilnya lagi. Jadi aku ingin membawanya sekalian," ujarnya terbata, berusaha terdengar wajar meski suaranya goyah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
hbd anak ganteng 🥰
Samsiah Yuliana
lanjut lagi cerita Thor 🙏🙏🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
seperti nya ini sebentar lagi tamat ya💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
Happy birthday Leon
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
lagi lagi lagi lagi
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
Enong mbak di rumah ku 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: 🤭 aku baca nya Ampe manggil mbak Enong... dia tanya ngapain Unni Panggil mbak orang didepan Unni lagi duduk
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ughhh pede sekali pak duda🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: tinggal itu aja ini mah... apasih namanya..
total 3 replies
Evi Lusiana
cari mati kau ratih dlu kau memperalat gracio bwt ngeretin arch skrg kau akn lgsg berhadapan arch
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: emang benar-benar wanita gila harta
total 1 replies
Evi Lusiana
wah ..wah mulut ember siap tuh nyari mati rupany mo cari mslh sm archio
Samsiah Yuliana
lanjut lanjut lanjut lanjut 💪💪💪🥰
sunaryati jarum
Tambang uang hilang nekat mau menghabisi Aulia dan memanfaatkan Leonel untuk memeras Archio.Archio sekarang tidak sebodoh dulu karena bucinnya pada Gracia,Ratih.
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
Ayo, tindak tegas tuh si Ratih... dasar gila memang, keluarga serakah/Angry//Angry/
♍≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥: polisi sekarang gmpng di suap😖... tadi kiranya bakal di bawa ke markasnya🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
itu si Ratih harusnya di hukum berat sih bahkan semoga aja gracia keluar dan memberikan kesaksian yg bisa memberatkan ratih di penjara /Scream//Scream//Scream//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: gk asik
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
hiakkk bagaimana iblis itu bisa masuk kedalam ruang ganti? /Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
si Ratih ini kudu di Cemplungin ke laut dan jangan lupa Iket kakinya pke batu biar kata Bu Susi mah tenggelamkan
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣Jangan, ngotorin lautnya nanti
total 1 replies
Ariany Sudjana
siap-siap mati kamu Ratih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Harus di hukum apa?
total 1 replies
Ariany Sudjana
bukannya Archio pergi sama Aulia kan? kemana Archio, sampai orang gila bisa masuk ke ruang ganti? bukannya butik itu banyak pelayan kan?
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Aulia di dalam ruang ganti kak, Suaminya... eh maksudnya Archio di luar
total 1 replies
Mey Abimanyu
plisss ya jangan takut apalagi nangis , jawab yg lebih bdas , misal setidaknya meskipun aku merangkak ke ranjang orng kaya, bukan laki orang'' wkwkwk
Sunaryati
Minta diajari merayu kok diomongi ke yang di rayu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: /Facepalm//Facepalm/emang Archio rada2
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan-jangan itu Gracia?
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: sepertinya iya bukan sih?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!