*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 - Yang Tertinggal di dalam Hutan
Kekacauan meledak.
Teriakan Urgon langsung menyulut api pertempuran. Faksi pengikutnya yang lebih brutal langsung menerjang maju dengan teriakan buas. Sebagian besar hanya mengandalkan kekuatan fisik dan baton usang, namun beberapa melepaskan Petrocraft atau Hydrocraft tingkat rendah.
Sang Gora mengamuk, meraung melepaskan Electrocraft miliknya.
Sebuah Kawat Kejut liar yang melompat-lompat tak terkendali, menghanguskan tanah dan menyetrum siapa saja yang bernasib sial, kawan maupun lawan. Daya-nya yang besar membuat setiap sengatan Electrocraft tingkat rendah itu terasa brutal dan mematikan.
Kelompok Ewan mencoba menahan dengan perisai tanah Petrocraft, tapi tameng mereka hancur berkeping-keping di bawah gempuran Electrocraft yang membabi buta itu.
Di tengah keributan itu, sebuah Lontaran Tanah berukuran besar yang jelas salah sasaran, melayang tak terkendali dan menghantam dinding sel kayu kami.
BRAKK!
Dinding lapuk itu hancur. Seorang bandit dari faksi Urgon ikut terlempar masuk, berguling di tanah sel.
Tanpa pikir panjang, aku menghantamkan lututku ke kepalanya. Ia pingsan seketika. Aku segera menyambar pisau belati yang tersemat di pinggangnya.
Fiora, tampak kaget karena tiba-tiba ikatan tali di tanganku sudah lepas. "Fiora, kemari!"
Dengan gerakan cepat, aku memotong ikatan Fiora dan tiga pedagang lainnya.
"TAHANAN LEPAS!" teriak salah satu bandit yang melihat kami dari balik reruntuhan dinding.
Sebuah proyektil Hydrocraft melesat ke arah kami.
Tepat sebelum mengenai Fiora, sesosok tubuh yang sedang bertarung tak jauh dari sana, melompat ke depannya. Itu Ewan, menangkis serangan itu dengan batonnya.
"PERGI FIORA!! LARI SEKARANG!!" teriaknya, sebelum ia kembali disibukkan oleh serangan dari dua bandit lain.
Kami tidak membuang waktu. Dua pedagang berhamburan dan membawa si pedagang wanita, mereka berlari dengan panik menjauhi sel tahanan dan terpisah dengan kami. Kami berlari menuju celah di pagar pembatas.
Namun, jalan kami dihadang. Bandit bertubuh pendek menutup jalur pelarian. Salah satunya menyeringai, dan mataku langsung tertuju pada tongkat besi di tangannya.
Itu batonku. Pantas saja aku tidak bisa merasakannya tadi; jaraknya terlalu jauh, dan sekarang ia membawanya tepat ke hadapanku.
"Mau lari kemana kau, Tikus Mien?"
Aku berhenti lari, mengambil kuda-kuda rendah. Jarak kami hanya lima meter. Cukup. Bandit itu bergerak maju menyerangku dengan percaya diri.
Aku mengulurkan tangan kanan terbuka, memfokuskan Daya-ku memanggil Sigil yang tertanam di logam itu.
"Aliran Abadi. Terdiam membisu. Kembali Sekarang!"
Baton itu terlepas paksa dari genggamannya seolah ditarik magnet kuat. Senjata itu melesat di udara dan mendarat dengan bunyi whap! yang memuaskan di telapak tanganku.
Bandit itu melongo kaget.
Aku menyapu kakinya, lalu menghantamkan ujung baton ke dadanya dengan Sengat Air jarak dekat. Ia terlempar ke udara. Fiora memanfaatkan momen itu dengan tendangan memutar setinggi kepala. Tumitnya menghantam kepala si bandit dengan telak. Ia terhempas dengan telak ke atas tanah.
Jalan terbuka.
Kami pun berlari menembus celah terakhir, menuju kegelapan Hutan Palenwood.
Namun, saat kami hampir menyentuh batas hutan, Fiora melakukan kesalahan fatal: ia menoleh ke belakang.
Di antara kilatan-kilatan Crafting yang menyilaukan, ia melihat tiga orang berhasil mengeroyok Ewan.
Satu orang berhasil menjerat kakinya, membuatnya berlutut. Satu lagi berhasil memukul batonnya hingga terlepas.
Dan Urgon, berdiri di depannya, menyeringai puas.
Ia mengangkat tangannya, dan beberapa bongkahan tanah keras yang besar seukuran kepala melayang di atas Ewan. Tanpa sepatah kata pun, bongkahan pertama menghantam bahu Ewan dengan suara retak tulang yang mengerikan. Ewan menjerit kesakitan, lengannya terkulai lemas.
Bongkahan kedua menghantam kakinya, membuatnya tersungkur ke satu sisi. Ewan masih mencoba merangkak, mengangkat satu tangannya yang bebas seolah ingin melawan.
Bongkahan yang ketiga menghantam punggungnya dengan kekuatan penuh, dan seluruh tubuhnya kejang sebelum akhirnya terjerembab tak berdaya di atas tanah yang basah, matanya menatap kosong ke langit malam.
"KAK EEEEWAAAAAAAAANN!!"
Jeritan Fiora merobek udara malam, menyayat hati dan penuh amarah.
Ia berbalik dan mencoba berlari kembali ke tengah pembantaian itu. Tapi aku lebih cepat. Aku mencengkeram lengannya dengan sangat keras, tenagaku yang tersisa kugunakan untuk menahannya.
Ia meronta liar, memukul-mukul dadaku dengan tangannya yang bebas, mata coklat madunya liar dipenuhi duka dan kebencian.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada penjelasan. Aku hanya menariknya dengan paksa, menyeretnya menjauh dari pemandangan mengerikan itu.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar hebat, perlawanannya perlahan melemah, digantikan oleh pilu isak tangis.
Kami berlari menembus Hutan Palenwood yang gelap dan dingin. Suara pertempuran di belakang kami perlahan-lahan lenyap, ditelan oleh keheningan hutan yang mencekam.
Kini, satu-satunya suara adalah derap langkah kami yang panik di atas daun-daun basah, napas kami yang terengah-engah, dan suara isak tangis Fiora yang tertahan.
Aku terus memegang lengannya, memastikan ia tidak jatuh atau berhenti. Setiap isakannya terasa seperti sebuah beban dingin yang menusuk punggungku.
Kami selamat. Tapi jujur, tak kusangka pengorbanan Ewan ternyata masih belum cukup untuk menyelamatkan kami...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu