Satu harapan sebelum nafas ini berakhir, hanya ingin bertemu kembali dengan cinta pertama ku.
Rasa ini masih tetap sama mencintaimu, tak pernah berubah sedikit pun atau melupakan mu.
Ijinkan aku sekali saja , untuk kamu tahu bahwa aku mencintaimu sebelum tubuh ini tak bisa bergerak lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Harus Pergi
Monica lebih memilih menjauh, hatinya sakit melihat Rio suaminya tetap berada di samping Chika. Dengan berjalan membawa luka di hati memasuki ruangan nya.
Dihempaskan nya pantatnya di kursi empuk milik nya, memperlihatkan photo pernikahan nya yang berdiri kokoh di sebuah figura.
" Apa cinta kamu hanya selingan, atau mencintai saya hanya terpicut pandangan pertama. Apa alasan kamu mengingat kembali cinta pertama kamu, karena rumah tangga kita tak sehat?"
Monica mengusap photo pernikahan nya bersama Rio yang hanya baru berusia 3 tahun, dan setelah menikah Rio tak pernah untuk kembali dan lebih memilih tugas yang jauh.
Flashback On
" Kamu tahu kan saya ini nggak mau keluar dari profesi saya, karena ini cita - cita saya sejak dulu." Ucap Rio lantang.
" Bang, apa salah nya sih mengikuti apa kata Papi demi rumah tangga kita, dan apa salah nya sih hanya di mata Papi kamu melupakan asal usul kamu, ini demi rumah tangga kita." Ucap Monica.
" Saya nggak mau, itu artinya kalau saya memilih , hidup saya akan di atur dan tak boleh lagi bertemu dengan orang tua saya." Ucap Rio sambil memasukan pakaian nya ke dalam koper.
" Kamu mau kemana Bang?" Tanya Monica.
" Saya pergi dari sini , saya nggak mau tinggal di sini. Kalau kamu ingin ikut dengan suami kamu, beresekan semua pakaian kamu, kita mandiri." Jawab Rio.
" Bang, saya tidak bisa membantah perintah Papi."
" Yaudah terserah kamu, terserah dengan rumah tangga ini. Saya nggak akan bilang duluan kata cerai sebelum kamu yang meminta, tapi saya masih berharap kamu pilih suami kamu ini." Ucap Rio menarik kopernya.
Dan saat itu Pak Budi sedang duduk di temani istri nya sambil membaca koran dan minum kopi melihat Rio ke luar dari kamar.
" Akhirnya kamu lebih memilih angkat kaki dari pada mempertahankan istri kamu." Ucap Pak Budi.
" Maaf Papi, saya lebih memilih harga diri saya dan kedua orang tua saya, dari pada saya pilih apa yang di inginkan Papi." Ucap Rio.
" Seharusnya kamu bersyukur, bisa jadi menantu saya, banyak yang ingin menikahi anak saya, tapi Monica selalu menolak dan tiba - tiba ingin menikah sama kamu, tadi nya Papi senang dengan kamu tak masalah dengan profesi kamu, dan berharap kamu juga bisa membantu menjalankan usaha kami, tapi saat itu saya cari tahu kamu, ternyata kamu anak seorang koruptor dan pernah menipu saya Ayah kamu itu, apalagi kamu terlahir dari rahim wanita malam, Ayah kamu saja nggak mengakui kamu anak siapa jangan - jangan kamu anak dari hasil rame - rame." Ucap Pak Budi meledek
Rio mengepalkan tangannya, sedangkan Monica hanya diam tak berani bicara. Rio pun tanpa pamit pergi meninggalkan rumah Pak Budi.
Monica hanya diam memandang punggung suaminya, yang kini pergi meninggalkan dirinya.
" Cih menantu nggak sopan." Ucap Ibu Meri.
Flashback Off
Monica berkaca - kaca saat mengingat kejadian itu,dirinya pun merasa sangat bersalah pada Rio.
*****
Chika masih diam dan hanya menatap Rio yang masih setia menyuapi dirinya.
" Kamu kenapa Dek, lihatin Om terus?" Tanya Rio sambil tersenyum.
" Makasih." Jawab Chika.
" Makasih untuk apa? " Tanya Rio kembali.
" Makasih sudah datang kembali." Jawab Chika.
" Kalau boleh jujur Om itu takut kehilangan kamu kemarin, tubuh kamu sudah terbaring berbalut selimut yang menutupi tubuh kamu. Om mohon jangan pergi lagi."
" Om, Chika bukan gadis kecil Om yang dulu lagi kini sudah dewasa tapi Chika bukan apa - apa nya Om lagi, bila suatu saat Chika akan pergi untuk selama nya Om harus bisa lepaskan Chika. Om tahu dalam tidur Chika yang panjang, Chika melihat Om terus memanggil Chika, Om menahan Chika untuk pergi. Bila nanti ajal itu tiba, ikhlaskan Chika Om."
" Kamu bicara apa, apakah saat kamu mati suri di alam lain kamu melihat saya seperti itu?"
" Ikatan bathin kita kuat Om, dan sekarang apa yang sedang Om lakukan disini, kalau bukan rasa terhadap Chika."
" Chika mungkin ini terlambat, jujur saat ini Om takut kehilangan kamu." Ucap Rio sambil memegang tangan Chika.
" Om apakah tidak ada rasa kasihan terhadap istri Om, Chika sekarang tak cantik lagi, sudah tak bisa apa - apa, buat apa Om berada bersama Chika, saya bukan apa - apa nya Om, saya sudah bahagia kemarin bisa melihat Om dan memeluk tubuh Om. Kita hanya masa lalu Om, kita memiliki jalan masing - masing. Terima kasih untuk semuanya, Chika sayang Om, Chika mencintai Om tapi Chika tak akan pernah bisa memiliki Om, tapi ini sudah sangat bahagia bisa seperti ini saja." Ucap Chika sambil memegang tangan Rio.
" Apa kita tak bisa lagi bertemu, setelah hari ini?"
Mata Chika berkaca - kaca, begitu pun juga Rio menatap Chika dengan segala kekuatan untuk menahan tangis.
" Lupakan Chika, tak pantas Om berada di sini."
Rio menengadahkan kepala nya ke atas, air matanya pun lolos begitu saja.
" Andai waktu bisa di putar, Om akan katakan jujur pada kamu saat itu, dan Om menyesal kenapa saat itu tak mempertahankan hati ini. Ternyata cinta kamu begitu sangat besar terhadap Om."
" Mungkin kita memang di takdir kan seperti ini, tapi saya akan selalu simpan kenangan indah itu di hati. Terima kasih untuk semuanya, saya akan belajar untuk berhenti mencintai Om."
Setetes air mata keluar dari kedua kelopak mata Chika, Rio menatap gadis kecil nya yang kini sudah dewasa. Dengan jari tangan nya Rio menghapus air mata Chika, namun Chika semakin terisak.
" Memang ini salah, memang ini akan menyakitkan untuk seseorang disana, tapi Om tidak bisa memendamnya lagi."
Rio mendekatkan bibir nya, mencium bibir Chika, terus mencium dan ******* bibir tipis nya. Chika hanya dia memejamkan mata, menikmati setiap ciuman Rio.
Kedua tangan mereka saling menggenggam, Chika pun membalas ciuman Rio, saling ******* dan semakin dalam terhanyut di setiap permainannya.
Setelah rasa kehabisan oksigen, Rio menempelkan kening nya ke kening Chika.
" Maaf kan Om." Ucap Rio.
Chika hanya diam dan masih memejamkan matanya, namun tangan mereka masih saling berpegangan.
Tiada kata terucap, selain kata ikhlas. Cukup sudah bahagia ku melihat nya bahagia. Tuhan.. aku rela, bila hari ini aku harus pergi agar lebih dekat dengan mu. Karena suatu saat pasti akan kembali padamu.
...( Chika) ...