Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Parfum?
Elia menguap beberapa kali sambil mengedarkan pandangannya ke halaman rumah. Namun hingga saat itu, belum juga tampak tanda-tanda Dave akan pulang.
"Dave pulang atau tidak malam ini ya?" gumamnya dalam hati. Ia mengurungkan niat untuk mengirim pesan. Percuma saja pria itu pasti akan marah dan kembali mengungkit perjanjian pernikahan mereka.
Beberapa saat kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman. Mendengarnya, Elia segera melangkah menuju pintu dan membukakannya.
Saat hendak masuk, Dave melihat Elia berdiri di ambang pintu dengan senyum manis, menunggu kepulangannya.
“Tumben kau baru pulang?” tanya Elia lembut.
Nick yang turut turun untuk membukakan pintu mobil sempat melihat Elia, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai salam sopan.
Dave mengerutkan kening. “Memangnya kenapa?” tanyanya singkat.
“Tidak apa-apa,” jawab Elia cepat. “Kau sudah makan?” tanyanya lagi.
Dave terdiam sesaat. Baru saat itu ia tersadar bahwa dirinya memang belum makan sejak dari apartemen Bianca. Bahkan segelas air pun tak sempat disentuhnya.
“Belum,” jawab Dave ketus sambil melepas sepatu dan kaus kakinya.
“Kalau begitu… kita makan bersama saja, bagaimana?” ujar Elia dengan nada penuh harap.
“Hm,” sahut Dave singkat.
“Ajak juga Nick makan malam bersama,” tambah Elia.
“Kau saja yang memanggilnya,” balas Dave tanpa menoleh.
Elia pun berjalan mendekat ke arah Nick yang masih sibuk dengan ponselnya sebelum bersiap meninggalkan kediaman Dave.
“Nick, kau sudah makan malam?” tanyanya ramah.
Nick spontan menurunkan ponselnya begitu mendengar suara Elia. “Sudah, Nyonya. Kebetulan tadi saat mengantar Tuan ke ap—” ucapannya terhenti mendadak.
Elia mengerutkan kening, menatap Nick dengan heran, menunggu kelanjutan kata-katanya.
“Eh… maksud saya, saya sudah makan malam sebelum mengantar Tuan pulang,” ujar Nick tergesa, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Hm, jadi kau tidak bisa makan malam bersama kami?” tanya Elia.
“Terima kasih sebelumnya, Nyonya, tapi sungguh perut saya masih kenyang,” jelas Nick sambil mengusap perutnya.
“Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu,” ucap Elia.
“Iya, Nyonya,” balas Nick sopan.
Elia pun masuk ke dalam rumah, melangkah cepat menuju ruang makan. Dave sudah duduk di sana, jasnya terbuka dan disampirkan ke kursi. Dengan ketulusan, Elia mulai menghidangkan makanan, lengkap dengan segelas air putih di hadapannya.
"Eh, Dave. Mom bilang katanya lusa nanti Mom akan pergi ke luar kota ya?" tanya Elia, memecahkan suasana yang beberapa saat sunyi.
Dave hanya merespon nya dengan anggukan kecil. Ia juga pernah mendengar jika Sarah akan pergi ke luar kota dalam beberapa hari ke depan. .
"Katanya, Mom sendiri yang akan meninjau proses pembangunan hotel terbaru nya itu ya?"
Lagi-lagi, Dave hanya mengangguk. Bertepatan dengan makanan yang telah tandas, ia meneguk air putih itu hingga habis, lalu bangkit dan melangkah naik ke lantai atas.
Tanpa menoleh sedikit pun, Dave melangkah naik ke lantai atas, meninggalkan Elia seorang diri di ruang makan. Ia bahkan melupakan jasnya yang masih tergantung di sandaran kursi.
Elia hanya mampu menghela napas panjang menatap punggung suaminya yang menjauh. Meski sudah terbiasa dengan sikap dingin Dave, tetap saja ia manusia—bukan robot yang kebal terhadap rasa sakit.
Selesai membereskan makanannya, Elia membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Setelah itu, saat hendak melangkah menuju tangga, pandangannya kembali tertuju pada jas milik Dave yang tertinggal di kursi makan.
Elia meraihnya. Namun begitu kain itu berada di tangannya, indra penciumannya menangkap aroma parfum yang samar namun asing, menyeruak dari serat baju.
Ia mengendusnya pelan lalu lebih dalam.“Parfum ini… bukan seperti punya Dave,” gumamnya lirih.
Elia tahu betul aroma parfum suaminya. Selama ini, dialah yang mencuci dan merapikan pakaian Dave. Aroma ini berbeda terkesan lebih feminim.
Rasa penasaran itu jelas ada. Elia ingin menanyakannya. Namun malam sudah larut dan Dave baru saja pulang kerja. Ia tahu, pria itu pasti lelah. Daripada memicu pertengkaran, Elia memilih menahan diri. Jas itu pun ia masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.
Karena belum ada perintah apa pun dari Dave, dan barang-barangnya pun belum dipindahkan, malam itu Elia kembali tidur di kamar suaminya. Saat ia melangkah masuk, Dave sudah terlelap.
“Ini kesempatanku,” gumam Elia pelan.
Dengan langkah hati-hati, ia menuju ruang walk-in closet milik Dave. Di sana, lemari-lemari kaca berisi pakaian rapi, jam tangan mahal, perhiasan, hingga deretan botol parfum tersusun sempurna.
Pandangan Elia berhenti pada satu lemari khusus parfum. Ia membuka pintunya perlahan, lalu mulai menelusuri botol-botol di dalamnya. Mencari aroma yang sama dengan yang menempel di jas kerja Dave tadi.
Di malam hari, suara sekecil apa pun terasa lebih peka tertangkap telinga. Bahkan detak jam dinding terdengar jelas di tengah sunyi. Seketika, Dave mendengar suara botol yang saling beradu pelan.
Ia membuka mata perlahan, lalu mengedarkan pandangan. Tatapannya berhenti pada pintu menuju walk-in closet. Dengan langkah hati-hati, Dave bangkit dan berjalan ke sana, lalu membuka pintunya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Prang!
Sebuah botol parfum terlepas dari genggaman Elia dan jatuh ke lantai. Ia terkejut saat menyadari kehadiran Dave yang muncul tiba-tiba di ambang pintu. Panik, Elia segera berjongkok dan memunguti serpihan kaca dengan gerakan tergesa.
“Ah!” Elia meringis kesakitan ketika jarinya tersayat salah satu pecahan kaca.
Melihat itu, Dave langsung berbalik keluar kamar. Ia menuju gudang dan kembali dengan kain lap, sapu, dan pengki.
“Bangun,” ucapnya dengan nada keras.
Elia menurut, berdiri dan menjauh ke tempat yang lebih aman. Dave membersihkan pecahan kaca itu dengan gerakan cepat namun teliti. Setelah selesai, ia menarik lengan Elia keluar dari ruangan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Elia. Tubuhnya membeku. Ia menatap Dave dengan mata membesar, tak menyangka pria itu akan bersikap kasar padanya.
“Lancang sekali kau!” bentak Dave.
“Sedang apa kau di sana, hah?!”
Satu tamparan mendarat di pipi Elia. Wanita itu kaget bukan main. Ia tidak menyangka Dave akan berbuat kasar padanya.
“A-aku hanya… sedang membereskan botol-botol parfummu saja, Dave,” ucap Elia terbata.
Dave mengusap wajahnya dengan kasar. “Kau ini hilang ingatan atau bagaimana, hah?! Kau lupa dengan perjanjian pernikahan kita?” bentaknya.
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada sayatan kaca di jarinya. Hati Elia perih. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga.
“Tadi, saat aku menyentuh jas kerjamu, aku tidak sengaja mencium aroma parfum,” ucapnya dengan suara bergetar. “Dan kurasa itu bukan parfum milikmu. Aku hanya ingin menepis prasangkaku sendiri.”
Dave menatapnya tajam. “Lalu kau mau apa kalau bau parfum di jas itu memang bukan punyaku?”
Elia terdiam. Dadanya terasa sesak. “Jadi… parfum siapa itu, Dave?” tanyanya lirih. “Aromanya seperti yang biasa dipakai wanita.”
“Parfum itu memang milik seorang wanita,” jawab Dave dingin. Ia berhenti sejenak, lalu menegaskan, “Dia kekasihku.”
Seolah dunia runtuh dalam sekejap. Elia menangis sejadi-jadinya sambil memegangi jarinya yang terluka, darah masih merembes perlahan. Isakannya pecah, tak lagi tertahan.
“Hikss… hikss… hikss…”
Entah berapa lama waktu berlalu.
Dave terbangun dengan mata yang masih terasa berat. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Ia melirik ke samping dan mendapati Elia terbaring dalam keadaan menangis, bahunya bergetar pelan.
“Elia?” panggilnya. “Elia, kau kenapa?”
Elia tersentak bangun. Napasnya terengah, matanya membesar seolah baru terlepas dari mimpi buruk. Ia menatap Dave lekat, lalu menarik lututnya ke dada, memeluk diri sendiri di balik selimut.
Dave turun dari tempat tidur dengan langkah malas. Ia menuangkan air ke dalam gelas, lalu kembali mendekat.
“Ini, minumlah,” katanya sambil menyerahkan gelas itu.
Elia menerimanya dengan tangan gemetar. Ia meneguk air itu hingga setengah, lalu merebahkan kembali tubuhnya, membelakangi Dave. Di susul dengan Dave yang juga melanjutkan tidurnya.
Pagi menjelang. Seperti biasa, Elia menyiapkan sarapan dan bekal untuk Dave. Tangannya bergerak otomatis, seolah mengikuti rutinitas yang sudah melekat. Namun pikirannya melayang jauh—kembali pada aroma parfum yang semalam menempel di jas Dave.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bahkan meneguk ludah pun terasa seperti menelan pil pahit.
Kalau aku menanyakan soal parfum itu, dia pasti akan marah, gumamnya dalam hati.
Bayangan mimpi semalam kembali menyelinap, terasa begitu nyata hingga membuat dadanya sesak. Seolah menjadi peringatan agar ia lebih berhati-hati. Karena bisa saja, Dave benar-benar akan bersikap kasar, seperti yang terjadi dalam mimpi itu.
Elia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia memilih diam, sekali lagi. Demi menjaga ketenangan yang rapuh, meski harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Terdengar Dave, keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Elia yang sudah menunggu nya di meja makan menyambut nya dengan senyum hangat.
"Selamat Pagi, Dave. Ayo kita sarapan bersama". Ucap nya sambil menarik kursi untuk Dave. Pria itu hanya memasang wajah dingin sambil menaruh jas nya di atas kursi.
Menu pagi ini adalah sandwich dengan isi daging iris, keju dan sayuran. Serta segelas susu hangat sebagai pelengkap.
"M-maaf semalam aku membuat mu terbangun dari tidur" ujar Elia.
"Tidak apa-apa, lagi pula semalam itu kau terakhir tidur di kamar ku".
Elia mengangguk paham, itu artinya ia harus kembali memindahkan barang-barang nya ke tempat semula.
Karena Dave sudah selesai menghabiskan sarapan nya. Elia segera bangkit untuk menyerahkan tas bekal. "Sini biar ku bantu pakaikan" ucap Elia yang kembali menaruh tas bekal tersebut dan membantu Dave memakai jas kerja.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukannya".
"Tidak perlu malu-malu Dave, aku melakukan nya dengan senang hati".
Dave melirik malas "Aku pergi dulu" ucap nya sambil menyambar tas bekal itu.
"Biar ku antar sampai ke depan" kata Elia yang mengekori Dave dari belakang.
"Terserah kau saja".
Bimbim segera membukakan pintu mobil penumpang saat melihat majikannya datang. Elia sempat melambaikan tangan, meski gesturnya sama sekali tak dihiraukan. Mobil itu pun melaju meninggalkan halaman, menyisakan Elia yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Elia kembali masuk ke dalam rumah, lalu melangkah menuju ruang cuci. Saat melihat jas Dave yang tersimpan di dalam keranjang pakaian kotor, Elia spontan mengambilnya.
Aroma parfum itu masih menempel. Wanginya feminin, lembut namun sedikit strong. Dari baunya saja, Elia bisa menebak bahwa ini bukan parfum murahan.
Sebelum memasukkan jas ke dalam mesin cuci, Elia selalu memeriksa bagian kantong. Ia ingin memastikan tidak ada lembaran uang atau barang lain yang tertinggal di dalamnya.
Saat merogoh saku bagian dalam, tangan Elia tak sengaja menyentuh sebuah kertas tebal berukuran cukup besar. Ia menariknya keluar dan memeriksa isinya. Ternyata, itu adalah kartu member dari sebuah toko perhiasan.
“Toko Perhiasan Fancy,” gumamnya pelan sambil membaca nama yang tercetak di kartu itu.
Elia menyimpannya ke dalam kantong bajunya, lalu melanjutkan kegiatan mencuci dengan hati yang sedikit penasaran.
Sambil menunggu mesin cuci bekerja, pikirannya mulai mencari tahu tentang toko perhiasan itu. Ia belum pernah mendengar nama toko tersebut, apalagi membeli perhiasan di sana. Rasa ingin tahunya perlahan tumbuh, bercampur dengan kegelisahan yang tak bisa ia abaikan.
“Hm, toko perhiasan ini letaknya tidak jauh dari perusahaan Dave,” gumam Elia sambil menatap layar ponselnya. Ia ingat betul bahwa Sarah pernah memberinya alamat perusahaan Dave.
“Tapi… perhiasan ini untuk siapa ya?” lanjutnya pelan.
Hati dan pikirannya seakan saling adu, menebak satu sama lain. Rasa penasaran bercampur gelisah, ingin sekali ia menanyakan hal itu langsung pada Dave. Namun lagi-lagi, sebuah perjanjian yang pernah dibuat suaminya menjadi penghalang.
Elia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Diam-diam, rasa penasaran itu tetap menyelinap, membekas di hatinya seperti duri yang tak terlihat.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita