NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga diri yang runtuh

Bugh!

Tanpa sepatah kata pun, Ares menendang Radit dari belakang hingga tubuh Radit terjungkal ke depan dan nyaris menghantam lantai.

Radit menoleh dengan wajah terkejut, belum sempat memahami apa yang terjadi ketika tinju Ares kembali mendarat ke arahnya.

Bugh!

Bugh!

"Pak, Ares apa yang Bapak lakukan? Kenapa Bapak tiba-tiba pukul saya?" ucap Radit dengan heran sambil memegang bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. Matanya berkedip-kedip, menahan perih yang menjalar ke seluruh wajahnya.

"Kamu nanya kenapa?" teriak Ares dengan emosi meluap, sengaja meninggikan suara agar terdengar oleh seluruh karyawan. "Ada hubungan apa kamu dengan istri saya?"

Beberapa karyawan yang sedang bekerja langsung menoleh, satu per satu berdiri dari kursinya. Dalam hitungan detik, kerumunan kecil terbentuk di sekitar mereka, disertai bisik-bisik yang semakin ramai.

"Ada apa ini? Kenapa Pak Ares memukul Pak Radit?" ucap salah satu karyawan dengan nada kaget.

"Yang aku dengar katanya Ibu Elina dan Pak Radit punya hubungan," jawab karyawan lain dengan suara lirih, namun cukup untuk didengar orang di sekitarnya.

"Aku sih nggak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Pak Ares. Aku rasa Pak Ares kesal, yang notabene Pak Radit karyawan baru tapi langsung dapat posisi manajer perusahaan, dan Ibu Elina langsung turun tangan," sambung karyawan lainnya.

"Aku juga dengarnya gitu sih. Tapi kan kita semua tahu bagaimana Pak Radit bekerja di perusahaan sebelum dia ke mari. Kinerja dia bagus, dia juga lulus tes langsung dari Ibu Elina. Pantesan dia lulus."

"Sssttt... jangan keras-keras kalian ngomongnya, nanti Pak Ares dengar," tegur salah satu karyawan dengan cemas.

"Ah, biarin aja. Lagian sebentar lagi dia juga malu."

Ares mendengar semua bisik-bisik itu. Tak satu pun suara membelanya. Tangannya mengepal makin keras, rahangnya mengatup, harga dirinya terasa diinjak-injak di depan banyak orang.

"Pak, saya nggak ada hubungan apa pun dengan Ibu Elina," ujar Radit dengan suara bergetar. Ia berusaha bangkit meski tubuhnya masih oleng dan bibirnya terus mengucurkan darah. "Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai manajer. Kalau Bapak punya masalah dengan saya, kita bisa bicarakan baik-baik, bukan dengan kekerasan."

"Jangan sok suci di depan saya!" bentak Ares, melangkah lebih dekat hingga jarak hanya sejengkal. Napasnya memburu, tatapannya penuh amarah. "Kamu pikir saya buta? Istri saya tiba-tiba memihak kamu, kasih kamu akses ini itu. Apa lagi kalau bukan karena ada apa-apa di antara kalian?"

Radit menggeleng kuat. "Bapak salah besar. Ibu Elina itu profesional. Dia menilai saya dari kinerja, bukan dari hal pribadi."

"Ada apa ini?"

Deg!

Ares terkejut mendengar suara yang begitu tegas dan asing di telinganya. Tubuhnya menegang, dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menoleh perlahan, dan seketika wajahnya memucat ketika sosok yang paling tidak ingin ia temui saat ini berdiri tepat di hadapannya.

"Ayah..." ucap Ares lirih, nadanya jauh berbeda dari teriakannya barusan, seolah seluruh keberanian lenyap begitu saja.

"Tuan Albert..." beberapa karyawan spontan menunduk hormat. Suasana kantor yang tadi riuh mendadak sunyi, sepi seperti disambar petir.

Albert melangkah mendekat, dengan raut wajah dingin tatapannya menyapu Radit yang masih berdarah di sudut bibir, lalu berhenti lama di wajah Ares. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan.

"Kau memukul manajer perusahaan di tengah kantor?" tanya Albert datar, namun nadanya menekan.

Ares menelan ludah. "Ayah, dia—"

"Diam." potong Albert tanpa meninggikan suara, tapi cukup membuat Ares terdiam seketika. "Saya tidak menanyakan alasan. Saya menyalahkan tindakanmu."

Albert lalu beralih menatap Radit. "Kamu baik-baik saja?"

Radit mengangguk pelan, menahan perih yang masih terasa di wajahnya. "Saya... saya masih bisa berdiri, Tuan."

Albert mengangguk tipis. “Pergi ke ruang medis. Setelah itu, laporkan kejadian ini ke HRD secara resmi.”

Radit melirik Ares sekilas, lalu membungkuk sopan sebelum berjalan menjauh dengan langkah pincang. Para karyawan otomatis memberi jalan, tak satu pun berani bersuara.

Albert kembali menatap Ares. “Kau mempermalukan dirimu sendiri, juga mempermalukan perusahaan ini.”

“Ayah, aku hanya—”

“Kau hanya mengikuti emosimu,” sela Albert, kali ini nadanya sedikit lebih tajam. “Dan karena itu, kau menciptakan keributan, menuduh tanpa bukti, dan memukul bawahanmu di depan umum.”

Ares mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras, namun ia tidak lagi berani membantah.

“Mulai hari ini,” lanjut Albert pelan namun menusuk, “saya yang akan mengawasi langsung setiap keputusanmu di perusahaan. Satu kesalahan lagi seperti ini, dan kau tidak akan duduk di posisi itu lebih lama."

Para karyawan menahan napas. Ares hanya bisa menunduk, merasa seluruh harga dirinya runtuh tepat di hadapan ayahnya sendiri.

♡♡

Tok! Tok!

Elina yang sedang fokus pada laptopnya langsung berkata, “Masuk.”

Krek. Suara pintu terbuka memecah keheningan ruang kerjanya.

“Ada apa, Lusi? Ada yang aku belum tanda tangan?” tanya Elina tanpa menoleh, masih begitu tenggelam pada layar laptopnya.

Tak ada jawaban. Hanya suara langkah kaki yang semakin mendekat. Hal itu membuat Elina menghentikan aktivitasnya dan menoleh.

Alangkah terkejutnya saat sosok yang berdiri di depannya adalah pria dengan senyum khas yang begitu ia kenal.

“Ayah…”

Elina langsung bangkit dari kursinya dan berlari kecil menghampiri Albert, memeluknya erat tanpa ragu. “Ya ampun, Ayah kenapa nggak bilang dulu datang ke sini?”

Albert tertawa kecil sambil membalas pelukan putrinya. “Kalau ayah bilang, nanti kamu malah repot nyiapin macam-macam.”

"Biarin, aku senang kok," balas Elina, senyum lebarnya tak bisa disembunyikan. Ia menarik tangan Albert dan mengajaknya duduk di sofa ruang kerjanya. "Ayah mau minum apa? Teh atau kopi?"

"Air putih saja sudah cukup."

Elina segera menuangkan air minum dengan gerakan cekatan, masih dengan wajah cerah yang penuh antusias.

"Bunda gak ikut pulang, yah?"

"Ikut sayang. Tapi tiba-tiba temannya meninggal, jadi Bunda melayat dulu," jawab Albert. Lalu sorot matanya berubah lebih serius. "Oh ya, kenapa sikap suami kamu berubah, El?"

Elina mengerutkan kening. "Berubah bagaimana maksud ayah?"

"Tadi di lobi, Ares memukul Radit di depan banyak karyawan."

Wajah Elina langsung menegang. Matanya membesar. "Apa?"

"Kamu lihat CCTV, ayah juga mau lihat kejadian sepenuhnya," ucap Albert.

Elina mengangguk dan segera membuka rekaman CCTV. Ayah dan anak itu memperhatikan layar, menyaksikan dengan jelas kejadian antara Ares dan Radit.

Elina mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Ares benar-benar sudah keterlaluan.

Ia menutup layar laptopnya dengan kasar hingga suara klik terdengar nyaring di ruangan itu.

“Keterlaluan…” gumamnya pelan, namun penuh tekanan.

Albert menatap putrinya dengan saksama. “Sejak kapan dia jadi seperti itu, El?”

Elina menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, campuran marah, kecewa, dan lelah.

“Sejak dia merasa perusahaan ini sudah ditangannya, Yah. Dia pikir semua orang harus tunduk sama dia.”

Albert bersandar di sofa, ekspresinya makin dingin. “Kau tahu, sikap seperti itu tidak hanya membahayakan orang lain, tapi juga dirinya sendiri.”

Elina berdiri. Tatapannya kini tidak lagi berkabut, justru berkilat penuh tekad.

“Aku akan mengatasi semua ini.”

“Ayah tidak mau perusahaan ayah tercoreng hanya karena masalah ini,” ucap Albert dengan tegas.

Elina hanya mengangguk patuh.

“Elina… apa yang kamu sembunyikan dari Ayah…”

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!