"Terimakasih sayang." Vano mencium singkat bibir Ella dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Kapan kau akan menikahiku?" Ella masih berada di bawah selimut tanpa memakai pakaian.
ELLA, seorang model cantik dan seksi. Putri tunggal seorang pengusaha terkenal di kota tempat tinggalnya. Yang membuat kaum adam rela melakukan apa saja asal bisa bersama dirinya.
Menjalin hubungan dengan pengusaha tampan dan sukses. Yang di gilai oleh kaum hawa. VANO. Yang juga merupakan putra tunggal pengusaha sukses di kota tersebut
Meski mereka masih berpacaran, hubungan mereka layaknya pasangan suami istri. Seluruh orangpun tahu jika mereka memiliki hubungan spesial.
Jangan lupa meninggalkan jejak setiap membaca. Terimakasih atas waktu dan dukungan untuk author.
Akan ada 226 eps untuk DUNIA MELLANIE.
Dan,,,, akan dilanjutkan kisah cinta antara HANA & DENIS untuk bab selanjutnya.
Terimakasih, semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM eps 25
Egi sengaja pergi ke butik mamanya karena Nyonya Tiwi meminta dia membawakan makanan untuk Ella. Nyonya Tiwi tahu jika putranya tertarik dengan Ella sejak Nyonya Tiwi mengenalkan Ella pada Egi di butiknya.
Tapi siapa yang menyangka, Egi malah mendengar semua percakapan mereka. Atau lebih tepatnya pertengkaran kecil antara sang model dengan asistennya.
"Kok kamu nggak masuk." Nyonya Tiwi yang sudah berada di belakang Egi.
"Cepat masuk, nanti Ella kelamaan menunggu." ujar Nyonya Tiwi.
"Mereka sudah pergi ma."
"Maksud kamu." Nyonya Tiwi segera masuk ke dalam ruangannya. Dan beliau tidak menemukan keberadaan Ella dan Hana.
"Mereka bilang ada urusan penting. Mereka minta maaf sama mama. Karena tidak bisa langsung pamit ke mama." ucap Egi berbohong.
"Ya gagal deh." Nyonya Tiwi duduk di kursi dengan lesu.
"Apanya yang gagal ma." Egi pura-pura tidak tahu maksud dari perkataan Nyonya Tiwi.
"Ini, mama makan dulu. Egi balik kerja." Nyonya Tiwi memandang ke arah putranya yang berjalan keluar dari ruangannya.
Di perusahaan Vano, Lena bekerja tanpa semangat. Orang yang di tunggunya sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
"Kemana sih Vano. Dari tadi pagi nggak kelihatan." batin Lena memandang ke arah pintu ruangan Vano.
Entah mendapat keberanian dari mana, Lena berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan Vano. Di amati setiap sudut ruangan Vano. Dia beralih dan melangkahkan kakinya ke arah meja kerja milik Vano.
Memainkan kursi yang biasanya dipakai oleh Vano. Dengan santai dia mendudukkan pantatnya ke kursi Vano. Dan menggoyang-goyangkan badannya di atas kursi.
Matanya tertuju pada sebuah pigura dengan foto seseorang di dalamnya. Tangannya mengambil pigura tersebut dan memandangi foto di dalamnya.
"Ella. Seandainya gue ada di posisi elo. Pasti sekarang gue juga hidup kayak elo. Kenapa elo bisa jadi model. Padahal gue lebih cantik dari pada elo. Elo terkenal karena menjadi kekasih Vano. Dan gue juga yakin. Vano nggak akan pernah mau sama elo, jika elo bukan anak dari Tuan Haris." Lena meletakkan kembali foto Ella pada posisinya.
Di dalam kamar Vera, Vano yang sudah bangun dari tidurnya menatap layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV perusahaan. Tepatnya CCTV di ruangan miliknya.
"Kamu sudah bangun." Vera memeluk tubuh Vano dari belakang. Menempelkan dua buah bukitnya di punggung Vano.
Vano meletakkan ponselnya dan melepas pelukan Vera. Dia memunguti pakaiannya di lantai dan pergi ke kamar mandi tanpa berkata sepatah katapun.
"Untung tampan dan kaya. Kalau nggak, gue juga ogah." Vera penasaran dengan apa yang di lihat oleh Vano di dalam ponselnya. Hingga Vano melihatnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Ella." gumam Vera melihat foto Ella di layar depan milik Vano.
"Gue akan buat foto elo tersingkir. Dan,,,, foto gue yang ada di sini." jari Vera menunjuk pada layar ponsel Vano.
"Nggak bisa." Vera tidak bisa membuka ponsel Vano karena ponsel tersebut memakai kata sandi.
Vera masukkan angka berkali-kali ke ponsel Vano. Dari hari ulang tahun Vano, ulang tahun Ella, bahkan hari jadian mereka. Tapi semuanya gagal. Pastinya Vera mengetahui semua hal tersebut dari berita yang selama ini tersebar tentang mereka.
Karena gagal terus, Vera meletakkan kembali ponsel Vano ke tempat Vano meletakkan ponsel semula. Dia tidak ingin Vano curiga dengan dirinya.
"Sayang." Vera tersenyum saat Vano keluar dari kamar mandi. Vano langsung menuju cermin dan merapikan penampilannya.
"Jangan menyentuhku." kata Vano saat Vera hendak memeluknya dengan memakai selimut di badannya.
"Oke." Vera tersenyum kaku.
"Bedebah. Jika bukan karena aku menginginkanmu. Tidak mungin aku akan sesabar ini." batin Vera dengan tetap menampakkan senyumnya.
Vano mengeluarkan kertas dari dalam jasnya dan meletakkan di atas meja rias.
"Ingat. Jaga mulutmu." Vano keluar dari kamar Vera dan meninggalkan rumah Vera.
"Lumayan." gumam Vera tersenyum melihat nominal cek yang di tinggalkan Vano untuknya.
Disaat Lena tengah merasakan nyamannya duduk di kursi milik Vano dengan berbagai khayalannya, Reza muncul dengan tiba-tiba.
"Lancang." seru Reza saat dirinya melihat Lena duduk di kursi milik Vano.
Lena yang terkejut langsung berdiri dan memandang ke arah Reza dengan takut. Lena mencoba untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang karena rasa takut dan gugup.
"Elo, asisten Vano. Kita sama. Jadi nggak usah banyak gaya." Lena berjalan mendekat ke arah Reza.
"Gue tahu, elo pasti cari perhatian kan sama gue. Nggak usah munafik." Lena melingkarkan tangannya ke leher Reza.
"Tangan elo terlalu kotor untuk menyentuh tubuh gue." Reza mencengkeram dagu Lena dan mendorong tubuh Lena dengan pelan ke belakang.
"Gue nggak tertarik dengan perempuan macam elo. Lebih baik elo keluar."
"Elo akan menyesal telah memperlakukan gue kayak gini."
Lena melangkahkan kakinya keluar ruangan Vano dengan menahan kesal pada Reza. Sementara Reza tersenyum remeh pada Lena.
Reza ingin sekali mendekati meja kerja Vano. Sekedar memandang foto Ella. Tapi dia sadar jika ruangan Vano memiliki CCTV yang terhubung dengan ponsel milik Vano.
"Meninggalkan tempat ini akan membuat oksigen yang masuk ke paru-paru akan jadi lebih lancar." batin Reza dengan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Vano.
"Akan aku beritahu tahu sesuatu. Jaga sikap dan tingkah mu jika ingin bertahan lama di sini. Jangan kau kira karena mengenal Nyonya Besar, kau akan menjadi spesial di mata Tuan Vano. Jika kau tidak percaya. Coba saja." Reza meninggalkan meja kerja Lena dengan tersenyum sinis pada Lena.
"Cihh. Sok-sokan nasehati gue. Gue akan buat elo tertarik sama gue. Lihat saja. Tapi Vano. Bukankah gue juga sudah setuju sama Oma, untuk mendekati Vano. Nggak apa-apa lah. Dekati saja dua-duanya. Siapa tahu dapat semua. Bukankah lebih baik."
"Bukankah wajah gue nggak kalah cantik sama Ella." Lena melihat wajahnya di depan cermin kecil yang menyatu dengan bedak.
Di depan butik, Hana terlihat kebingungan mencari Ella.
"Ella kemana sih." Hana celingukan di depan butik Nyonya Tiwi untuk mencari Ella.
Hana mencoba menghubungi ponsel milik Ella. Tapi tidak di jawab oleh pemiliknya.
"Pasti Ella belum jauh dari sini. Ella, elo bikin gue pusing. Elo pergi ke mana."
Hana hendak masuk ke dalam mobil dan mencari Ella. Karena kunci mobil berada di tangan Hana. Jadi bisa dipastikan Ella naik taksi. Atau jalan kaki. Tapi tidak mungkin jika Ella jalan kaki.
"Maaf." karena terburu-buru, Hana menabrak badan Egi.
"Bisa kita bicara sebentar."
"Maaf Tuan, tapi saya sedang sibuk."
"Kita bisa mencari Nona Ella bersama-sama. Setelah kita berbicara."
"Apa sih maunya ni orang. Ganggu saja. Nggak tahu apa orang lagi panik." batin Hana.
"Saya tidak akan mengganggu kamu. Saya akan bantu kamu untuk mencari Nona Ella. Tidak perlu panik."
"Hah. Kok tahu. Cenayang. Mungkin.." batin Hana dengan memandang pada Egi tanpa berkedip.
Tanpa menunggu jawaban dari Hana, Egi langsung memegang lengan Hana dan membawanya masuk ke mobilnya. Hana yang terkejut hanya bisa terbengong dan mengikuti langkah Egi.
Sampai di dalam mobil, Egi mengeluarkan ponselnya dan berbicara dengan seseorang di balik ponselnya.
"Cari di mana Nona Ella berada sekarang."
"Maaf, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Tapi telinga saya sudah mendengar semuanya." kata Egi setelah mengakhiri panggilan telepon dengan seseorang.
"Tolong Tuan, jangan berbicara dengan siapapun tentang masalah ini." Hana memohon pada Egi dengan memegang lengan Egi.
"Maaf." Hana segera menarik tangannya dari lengan Egi, saat Egi melihat lengannya.
"Ceritakan. Maka akan ku tutup mulut ini."
Egi menggerakkan jarinya di depan bibirnya dari kanan ke kiri. Seperti menutup resleting. Dan Hana seperti penderita sakit magh. Perut di isi makanan tetap terasa sakit. Tidak makan juga sakit.
"Hana." tegur Egi yang melihat Hana termenung memikirkan sesuatu.
"Baiklah." gumam Hana lirih dengan raut wajah terpaksa.
*****
Haduwww,, kemana perginya Ella. Bikin Hana terjepit dengan situasi yang bikin Hana sesak saja.
Awas saja jika ketemu. Author punya ide nih untuk Hana. Masukin aja Ella dalam karung. Biar nggak seenak jidatnya. Main pergi saja. 😅😅
Kalian juga ya teman-teman, jangan lupa masukin novel author ini ke novel favorit kalian. 😘
vano dan ella berakhir bgni ceritanya..
padahal berharap vano kembali