Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Yang Tidak Bisa Dikendalikan
Valerie Addrianne
adalah mahasiswi International Business di sebuah universitas ternama di Australia.
Valerie berasal dari keluarga pengusaha besar yang memiliki jaringan bisnis internasional. Ayahnya adalah pemilik perusahaan investasi yang telah lama bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar di Asia, termasuk perusahaan milik keluarga Arka.
Pertunangan antara Valerie dan Arka pada awalnya lebih dipandang sebagai hubungan yang menyatukan dua keluarga berpengaruh. Meski begitu, Valerie sendiri tidak pernah menolak keputusan tersebut. Baginya, dunia bisnis, relasi, dan status sosial adalah sesuatu yang sudah akrab sejak kecil.
Saat ini ia masih menyelesaikan pendidikannya di Australia, mengambil jurusan International Business dengan fokus pada manajemen dan strategi perusahaan global.
Valerie memiliki penampilan yang elegan dan terawat. Rambut panjang berwarna cokelat gelap sering ia biarkan terurai rapi di punggungnya. Wajahnya cantik dengan garis yang lembut, dipadukan dengan cara berbicara yang tenang dan percaya diri.
Gaya berpakaiannya selalu terlihat mahal namun tidak berlebihan—gaun sederhana, sepatu berkelas, serta aksesoris yang dipilih dengan selera tinggi.
Valerie dikenal sebagai sosok yang jarang menunjukkan emosi secara berlebihan. Dalam banyak situasi, Valerie lebih memilih mengamati terlebih dahulu sebelum berbicara.
Di mata banyak orang, hubungan Valerie dan Arka sering dianggap sebagai kesepakatan yang rapi antara dua keluarga besar. Sebuah pertunangan yang lahir dari kepentingan bisnis dan status sosial.
Namun bagi Valerie, semuanya tidak sesederhana itu.
Sejak lama ia mengagumi Arka—cara pria itu berbicara dengan tenang, bagaimana ia memimpin perusahaan di usia yang masih relatif muda, dan sikapnya yang selalu terlihat sulit ditebak.
Perasaan itu tumbuh perlahan, bahkan tanpa pernah ia sadari sejak kapan tepatnya.
Bagi Valerie, pertunangan itu mungkin memang disetujui oleh kedua keluarga. Tetapi di dalam hatinya sendiri, ia tidak pernah benar-benar merasa dipaksa.
Karena jauh sebelum semua orang menyebut mereka pasangan yang “pantas”, Valerie sudah lebih dulu menyukai Arka.
***
Valerie menyesap minumannya perlahan sambil memandang keramaian di sekitar area dinner. Tawa para karyawan, suara ombak yang pelan, dan cahaya lampu yang menggantung di antara pohon kelapa menciptakan suasana yang hangat.
Namun di tengah semua itu, pandangannya sempat berhenti pada satu sosok.
Aluna.
Tanpa sadar, ingatannya kembali pada kejadian sore itu, di lapangan pantai yang dipenuhi tawa para karyawan, ia berdiri di antara kerumunan dengan sebuah telur di tangannya—dan seorang wanita berdiri di tengah lingkaran permainan.
"Arka.." ucapnya lirih pada pria disampingnya.
Arka menoleh.
"Apa wanita disana, adalah seseorang yang penting?"
Valerie memberikan isyarat pandangannya ke arah Aluna.
Arka menoleh pada Aluna yang sedang tertawa bersama timnya.
"Dia karyawan. Di bidang kreatif."
"Hanya karyawan?" tanya Valerie sambil menenggak minuman ditangannya.
Arka terdiam.
"Lalu kenapa dia terlihat istimewa, bagimu?"
tanyanya tiba-tiba.
Arka terdiam sesaat.
"Aku hanya... Ingin terlihat baik di mata bawahan ku."
Valerie mengerucutkan bibir merahnya.
"Masuk akal."
***
Keramaian gala dinner masih berlangsung hangat.
Aluna berdiri di sisi area makan, memegang gelas minumannya tanpa benar-benar berniat meneguknya.
Pandangannya sesekali menyapu kerumunan orang di sekelilingnya.
Di kejauhan, Arka masih berbicara dengan beberapa tamu.
Dan di sampingnya… Valerie.
Wanita itu terlihat anggun dengan gaun yang jatuh rapi mengikuti langkahnya.
Tawa kecilnya terdengar samar di antara percakapan para tamu.
Entah sejak kapan, Valerie menoleh.
Tatapannya berhenti tepat pada Aluna.
Sejenak mereka saling memandang dari jarak beberapa meter.
Lalu Valerie berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, seolah ia sudah lama memutuskan untuk melakukan itu.
Aluna tidak bergerak.
Sampai akhirnya wanita itu berhenti tepat di depannya.
“Jadi kamu Aluna,” katanya lembut.
Aluna mengangguk pelan.
“Aku sering mendengar tentang tim kreatif Arka.”
Valerie melipat tangannya dengan santai.
“Kalian pasti sangat dekat dengannya, ya. Mengingat kalian bekerja bersama setiap hari.”
Aluna tidak menjawab.
Valerie menoleh sebentar ke arah Arka yang berdiri tidak jauh dari mereka, lalu kembali menatap Aluna.
“Berbeda denganku,” lanjutnya ringan.
“Aku jarang berada di sini.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi sebagai calon tunangannya… kurasa aku cukup mengenalnya.”
Kalimat itu diucapkan dengan tenang, namun jelas menegaskan sesuatu.
Valerie menatap Aluna sejenak sebelum berkata lagi,
“Arka orang yang sangat sibuk. Jadi aku selalu berusaha memastikan dia tidak terlalu dekat dengan orang yang… bisa membuatnya lupa diri.”
Sejenak suasana di antara mereka menjadi sunyi.
Aluna bisa merasakan maksud dari kalimat itu tanpa perlu dijelaskan lagi.
Aluna tersenyum tipis, pandangannya jatuh pada Arka yang sedang berbincang.
Valerie menghampiri Arka dan memegangi lengan calon tunangannya.
"Kasihan sekali."
Aluna menutup mulutnya, ada tawa tersembunyi.
"Dia hanya tidak tahu, jika calon suaminya adalah seseorang yang brengsek."
***
Tengah malam setelah gala dinner berakhir.
Arka membuka pintu kamarnya.
Tiba-tiba pundaknya disentuh oleh seseorang dari belakangnya.
Valerie.
"Hei.. kamu.. sedang apa? Kenapa belum tidur?"
Tanya Arka sedikit terkejut.
Tangan Valerie turun ke lengan Arka.
"Aku tidak bisa tidur.'
"Lalu?"
"Pilihannya ada dua."
Valerie tersenyum pada Arka.
Arka hanya diam memperhatikan.
"Kita berbincang di kamar kamu, atau... Kita berkeliling di pantai."
"Ini sudah tengah malam, Valerie," jelas Arka.
"Lagian besok siang kamu akan kembali ke Jakarta." Lanjutnya.
"Justru itu. Ini malam terakhir ku, bersama mu."
Valerie menyenderkan kepalanya di bahu Arka.
Arka menarik nafas panjang, sebelum dia membuat pilihan.
"Yasudah. Kita ke pantai."
Arka mengunci kembali pintu kamarnya, ia berjalan menuju koridor.
Valerie tidak menyangka jika Arka akan memilih jalan-jalan di pantai, daripada ia masuk ke kamarnya.
Valerie mensejajarkan langkahnya dengan Arka.
Angin malam berhembus pelan, mengibas rambut panjangnya yang terurai.
Tangannya memeluk erat lengan pria itu.
Suara ombak yang bergulung dari kejauhan menciptakan irama lembut yang menemani langkah santai mereka di sepanjang jalan setapak resort.
“Arka.”
“Iya?”
“Apakah kamu menyetujui perjodohan ini?”
Arka menoleh sekilas.
“Kenapa tanya begitu?”
“Entahlah. Aku merasa kamu tidak terlihat senang.”
Valerie menyandarkan kepalanya di lengan Arka.
“Apa kamu pernah melihatku berekspresi?”
Valerie mengangkat bahu kecil.
“Hmm… benar juga. Dari dulu ekspresimu selalu datar.”
Ia tertawa pelan.
“Aku masih ingat saat kamu lulus dengan peringkat terbaik. Tapi waktu itu reaksimu juga biasa saja.”
Langkah mereka melambat.
“Arka.”
“Hm?”
Valerie mengangkat wajahnya.
“Apa kamu… mencintaiku?”
Langkah Arka berhenti tiba-tiba.
Valerie ikut berhenti.
Kepalanya terangkat, menatap wajah Arka yang kini terlihat lebih dekat dari biasanya.
Hening mengisi ruang di antara mereka.
“Jika kamu mencintaiku,” lanjut Valerie pelan, “seharusnya kita pernah berciuman. Setidaknya… sekali.”
Arka menatapnya.
Ada keraguan yang singgah di matanya—keraguan yang bahkan sulit ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Namun saat ini, ia tidak mengatakan apa pun.
Kedua tangannya perlahan menyentuh pundak Valerie.
Ia menarik napas pelan.
Wajahnya mendekat, semakin dekat, hingga hembusan napas mereka saling bertemu di udara malam.
Kecupan singkat itu pun terjadi.
Tidak jauh dari tempat itu—
seseorang berdiri diam.
Aluna.
Kecupan itu hanya berlangsung singkat.
Namun saat Arka membuka matanya, pandangannya tiba-tiba terhenti pada sesuatu di kejauhan.
Seseorang berdiri di sana.
Di bawah bayangan lampu taman yang redup.
Aluna.
Tubuhnya kaku, seolah tidak siap melihat pemandangan yang baru saja terjadi di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu, hanya beberapa detik.
Namun rasanya cukup lama untuk membuat dada Arka terasa sesak.
Aluna menyadari bahwa Arka juga melihatnya.
Wajahnya berubah pucat.
Tanpa mengatakan apa pun, ia segera berbalik.
Langkahnya berubah menjadi lari kecil menjauh dari tempat itu.
“Aluna—”
Nama itu hampir saja keluar dari bibir Arka.
Namun suara ombak menelan kata yang tidak pernah benar-benar terucap.
Sementara dari kejauhan, sosok Aluna sudah semakin jauh, menghilang di antara jalan setapak yang gelap.
***
Langkah kaki itu terhenti disebuah kursi kayu yang berada dibawah pohon pinus.
Nafasnya terengah, ia memegangi lututnya.
Aluna duduk di kursi kayu, pandangannya tertunduk, sesekali mengusap eluh yang sedikit membasahi dahinya.
"Sial," ucapnya lirih. "Kenapa aku harus melihat adegan seperti itu." Lanjutnya.
Aluna merogoh ponsel yang ada di sakunya.
"Dari tadi ditelpon, tapi nggak diangkat-angkat."
Ia mengomel sambil menatap layar ponselnya.
"Memangnya dia tidak merindukan istrinya?"
Jarinya menekan tombol 'memanggil Gavin'.
Lagi-lagi hanya suara dering yang terdengar sampai tiba-tiba...
Ponsel itu diambil paksa oleh seseorang.
Sontak Aluna kaget dan menoleh ke belakang, reflek ia langsung berdiri.
"Pak Arka."
Ia menatap tak percaya.
Kepalanya miring mencari sesuatu dibelakang pria itu, matanya menyapu seluruh area.
"Mencari Valerie?"
tanya Arka kemudian.
Aluna terdiam.
"Dia sudah kembali ke Villa."
"Kalau begitu, saya juga akan kembali ke Villa."
Tangannya meraih ponselnya yang kini berada di tangan Arka.
Namun Arka malah menaikkan ponsel itu lebih tinggi, membuat tangan Aluna tidak sampai meraihnya.
Aluna terlihat kesal, "apa saya harus kembali menendang?"
Reflek Arka mundur beberapa inci, kedua tangannya menutup area sensitifnya.
"Jangan."
"Yasudah, kembalikan ponsel saya."
Arka melihat layar ponsel ditangannya, tiba-tiba dia tertawa kecil, "sepertinya memang tidak ada yang merindukanmu."
Aluna mengerutkan alisnya, "jangan sembarang melihat ponsel milik orang lain."
Arka melangkah lebih dekat, "memangnya ada lagi, sesuatu milik mu, yang belum ku lihat?"
Aluna mundur selangkah, "benar. Semua milikku sudah Bapak lihat." Lanjutnya, "jadi sepertinya saya tidak perlu lagi bersikap seolah masih terbungkus rapi."
Kedua mata Aluna berkaca-kaca.
Hening sejenak.
Sampai kemudian Aluna membuka suara lagi, "berbeda dengan Valerie, yang mungkin dijaga sampai waktunya tiba."
Air mata yang berusaha ditahan akhirnya jatuh.
"Karena dia... Berharga." Lanjutnya, "dan bukan seorang bawahan."
Aluna melangkah meningalkan Arka, namun langkah itu terhenti ketika tangannya diraih oleh Arka. Sontak membuat tubuh Aluna memeluk Arka.
Kini mata mereka saling menatap.
Suara riuh deburan ombak seolah tak lagi terdengar.
“Ada satu hal… milikmu, yang tidak bisa ku lihat,”
Suara Arka terdengar pelan, namun setiap kata menancap dengan tegas.
Tangannya perlahan mengangkat tangan Aluna, menaruhnya di dada perempuan itu.
“Isi hatimu,” bisiknya.
Aluna menelan ludah. Jantungnya berdebar, campuran antara takut dan bingung. Tatapan Arka tetap menempel padanya, menuntut kejujuran yang tak mudah ia ungkapkan.
Ia mendorong tubuh Arka, namun karena tubuh pria itu terlalu besar justru dirinya yang terdorong kebelakang.
Aluna berlari meninggalkan Arka.
Di tengah jalan, ia baru teringat ponselnya masih bersama bosnya.
Walau ragu, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju Villa.
Ponsel itu tiba-tiba berdering di tangannya, Arka melirik layar—Gavin memanggil.
Ujung bibirnya terangkat, jempolnya menekan tombol 'abaikan'.
***