NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pagi itu, sinar matahari Jakarta terasa lebih cerah, namun ketegangan baru justru muncul di ruangan kerja Ayah yang megah. Aku dan Arlan berdiri berdampingan, meletakkan dua amplop putih berisi surat pengunduran diri di atas meja jati besarnya.

Ayah melepas kacamata bacanya, menatap kedua amplop itu, lalu beralih menatap kami dengan rahang yang mengeras.

"Tidak. Ayah tidak setuju," ucap Ayah singkat dan dingin.

Aku dan Arlan saling berpandangan, bingung. "Tapi Yah, kami sudah sepakat. Kami ingin membangun Arania Group dari nol. Kami ingin mandiri dan mengelola distro Bapak di Jogja serta konsultan kreatif kami sendiri."

Ayah bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap gedung-gedung pencakar langit. "Mandiri bukan berarti harus pergi saat perusahaan ini sedang butuh pemimpin yang kuat, Rania. Setelah skandal Harva, posisi kita masih rawan. Kolega bisnis sedang melihat, siapa yang akan meneruskan tongkat estafet ini."

"Tapi Yah—"

"Dengarkan Ayah dulu," potong Ayah sambil berbalik. Tatapannya melunak saat menatap Arlan. "Arlan, kamu sudah membuktikan integritasmu. Kamu bertahan dalam fitnah dan bangkit dengan kepala tegak. Ayah tidak ingin kamu hanya mengelola distro kecil. Ayah ingin kamu menjadi CEO di anak perusahaan baru kita yang akan merger dengan aset-aset Harva yang kita ambil alih."

Aku tertegun. "Maksud Ayah?"

"Ayah ingin kalian berdua memimpin bersama di sini. Rania sebagai Direktur Utama, dan Arlan sebagai CEO operasional. Bangunlah 'Arania Group' kalian di bawah naungan perusahaan ini. Kalian punya modal, punya nama, dan punya kuasa. Kenapa harus mulai dari bawah lagi kalau kalian bisa langsung berlari di puncak?"

Arlan berdehem, suaranya tetap tenang namun tegas. "Pak, saya sangat menghargai tawaran Bapak. Tapi bagi saya dan Rania, perusahaan ini masih menyimpan terlalu banyak bayangan Harva. Kami ingin tempat yang bersih, tempat di mana kami dikenal karena karya kami, bukan karena drama masa lalu."

Ayah terdiam. Ia tampak menimbang-nimbang. Kesunyian di ruangan itu terasa begitu berat.

"Ayah tahu kalian trauma," suara Ayah memberat. "Tapi pikirkan staf-staf yang dulu loyal pada kalian. Jika kalian berdua pergi, mereka akan kehilangan arah. Ayah menolak surat ini bukan karena ingin mengekang kalian, tapi karena Ayah tahu, hanya kalian yang bisa membersihkan sisa-sisa 'racun' Harva di kantor ini."

Aku melirik Arlan. Ada keraguan di matanya, namun juga ada rasa tanggung jawab. Tawaran Ayah sangat menggiurkan secara profesional, tapi secara emosional, kami hanya ingin bebas.

"Beri kami waktu satu jam untuk bicara berdua, Yah," pintaku parau.

Ayah mengangguk pelan. "Satu jam. Dan ingat, Rania... Arlan... Ayah melakukan ini karena Ayah percaya, cinta kalian yang kuat adalah fondasi terbaik untuk bisnis yang hebat. Jangan sia-siakan kesempatan untuk membalas dendam pada Harva dengan cara menunjukkan bahwa kalian jauh lebih sukses di tempat yang pernah ia coba hancurkan."

Kami melangkah keluar menuju balkon kantor. Angin kencang menerpa wajahku, mencoba mencairkan kebingungan yang kembali datang.

Angin di balkon ini terasa menerpa wajahku, seolah ingin membawa pergi sisa-sisa keraguan yang masih tertinggal. Aku menoleh ke arah Arlan yang sedang menatap lurus ke depan, ke arah gedung-gedung yang dulu menjadi saksi bisu kehancuran hidupnya.

"Lan," panggilku lirih. "Apa yang kamu pikirkan?"

Arlan menarik napas panjang, lalu menggenggam tanganku. "Ayahmu benar tentang satu hal, Ran. Kita punya tanggung jawab pada staf yang tetap setia saat semua orang mencibir kita. Tapi, aku tidak mau kita membangun masa depan di atas puing-puing Harva jika baunya masih busuk."

Aku terdiam, meresapi setiap kata-katanya. "Bagaimana kalau kita beri syarat? Kita terima, tapi dengan kendali penuh. Kita ubah semuanya, dari nama sampai budaya kerjanya. Kita buat Arania Group bukan sebagai cabang, tapi sebagai identitas baru perusahaan ini."

Arlan menatapku, ada binar keberanian yang kembali muncul di matanya. "Setuju. Kita bersihkan tempat ini. Bukan sekadar bertahan, tapi kita buktikan bahwa kita bisa jauh lebih besar daripada bayang-bayang masa lalu."

Kami kembali masuk ke ruangan Ayah. Ayah masih berdiri di posisi yang sama, menanti jawaban kami.

"Kami akan tinggal, Yah," ucapku tegas.

Ayah tersenyum tipis, namun aku segera melanjutkan.

"Tapi dengan syarat. Kami ingin otoritas penuh untuk me-branding ulang seluruh perusahaan. Tidak ada lagi nama lama. Semua akan dilebur di bawah nama Arania Group. Kami ingin mengganti jajaran direksi yang dulu memihak Harva, dan kami ingin sistem kerja yang jauh lebih transparan."

Arlan menambahkan, "Dan satu lagi, Pak. Kami ingin sebagian profit dari Arania Group dialokasikan untuk mengembangkan UMKM di Jogja, termasuk distro Bapak. Kami ingin kesuksesan di sini juga dirasakan oleh tempat yang sudah menyelamatkan saya."

Ayah menatap kami bergantian, lalu tertawa kecil—tawa bangga yang tulus. "Itu persyaratan yang sangat mahal. Tapi, untuk kalian, Ayah setuju. Ambil alih semuanya. Bersihkan tempat ini sampai tidak ada satu pun jejak Harva yang tersisa."

Tiga Bulan Kemudian.

Papan nama besar di depan gedung itu telah berganti. Huruf-huruf perak bertuliskan ARANIA GROUP berkilau megah di bawah sinar matahari. Di lobi, foto Harva yang dulu terpampang angkuh kini telah digantikan dengan karya seni dari pengrajin lokal Jogja—simbol dari awal yang baru.

Aku duduk di kursi Direktur Utama, sementara Arlan baru saja selesai memimpin rapat umum pemegang saham sebagai CEO. Tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan. Yang ada hanyalah semangat baru dari staf yang kini merasa dihargai.

Arlan masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, ia membawa dua gelas kopi dan sekotak gudeg yang baru saja tiba dari Jogja—dikirim langsung oleh Bapak dan Ibu.

"Selamat siang, Bu Dirut," godanya sambil meletakkan kopi di mejaku.

Aku tertawa, tawa yang lepas dan penuh kebahagiaan. "Siang, Pak CEO. Bagaimana rapatnya?"

"Lancar. Semua setuju dengan konsep ekspansi kita ke Jogja bulan depan," Arlan duduk di hadapanku, ia menggenggam tanganku. "Kita berhasil, Ran. Kita tidak perlu lari untuk menemukan ketenangan. Kita hanya perlu menghadapi badai itu bersama-sama."

Aku menatap cincin di jariku, lalu menatap pria di depanku. Takdir mungkin pernah memisahkan kami dengan cara yang paling kejam di masa SMA dan kuliah. Namun, di bawah atap perusahaan yang sama, kami membuktikan bahwa pengkhianatan hanyalah batu loncatan menuju persatuan yang jauh lebih kokoh.

Kami bukan lagi sekadar "Kembali Bertemu". Kami adalah dua jiwa yang telah menaklukkan masa lalu, dan kini siap berjalan beriringan menuju masa depan yang abadi.

1
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!