seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Benang Merah yang Terurai
Keheningan di lantai 15 terasa mencekam setelah badai pernyataan Dave di lobi. Shafira duduk di depan layar komputernya, jemarinya menari di atas keyboard, mencoba memfokuskan pikiran pada baris-baris angka yang mulai mengabur. Ia bisa merasakan tatapan mata dari balik bilik-bilik kerja rekan sejawatnya. Ada yang menatap dengan simpati, namun lebih banyak yang mengirimkan pandangan penuh selidik—bahkan kebencian.
"Shaf, kamu oke?" bisik Riana, menggeser kursinya mendekat. "Wajahmu pucat sekali."
Shafira menghentikan gerakannya, menghela napas panjang yang terasa berat. "Aku tidak menyangka Pak Dave akan sejauh itu, Ri. Membawa Ayah ke lobi... itu seperti menabur garam di luka yang belum kering. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang."
"Tapi dia membelamu, Shaf! Belum pernah ada karyawan di sini yang dibela langsung oleh seorang Mahesa di depan ibunya sendiri. Kamu tahu artinya itu? Kamu punya 'perisai' terkuat di gedung ini," ujar Riana dengan nada antara kagum dan cemas.
"Perisai itu juga bisa menjadi sasaran panah, Ri. Dan aku takut panah itu bukan hanya mengenaku, tapi juga keluargaku," jawab Shafira pelan.
Di sisi lain gedung, di ruangan CEO yang luas dan dingin, Dave Mahesa sedang berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan cakrawala Jakarta. Pikirannya tidak pada proyek ekspansi ke Singapura atau laporan penjualan bulanan. Ia masih merasakan getaran di suaranya saat membentak ibunya tadi pagi. Seumur hidup, Dave selalu menjadi putra yang patuh—meski dengan cara yang pemberontak. Namun hari ini, ia merasa telah melewati garis yang tak bisa ditarik kembali.
Pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Sekretarisnya, seorang pria muda bernama Andre, masuk dengan wajah tegang.
"Pak, dewan komisaris meminta jadwal rapat mendadak besok pagi. Bu Sarah sudah menghubungi mereka secara pribadi," lapor Andre pelan.
Dave mengepalkan tangannya di dalam saku celana. "Mereka ingin menyerang posisiku karena masalah staf keuangan ini? Kekanakan sekali."
"Bukan hanya itu, Pak. Sepertinya ada isu mengenai laporan keuangan dari masa kepemimpinan Bapak di London yang ingin mereka pertanyakan kembali. Saya merasa ada yang sedang menggali lubang untuk Bapak."
Dave berbalik, matanya menyipit. "London? Semua sudah bersih di sana. Siapa yang berani mengutak-atik itu?"
"Saya belum tahu pasti, tapi Bu Sarah terlihat sangat yakin saat meninggalkan gedung tadi."
Dave terdiam. Ia tahu ibunya. Jika ia tidak bisa menjatuhkan Shafira dengan kata-kata, ia akan menjatuhkan Dave dengan kekuasaan agar Dave tidak punya lagi kekuatan untuk melindungi siapa pun. "Andre, panggil Shafira ke sini. Sekarang."
"Tapi Pak, orang-orang akan semakin bergosip jika—"
"Aku tidak peduli! Bawa dia ke sini melalui pintu belakang staf," perintah Dave tegas.
Beberapa menit kemudian, Shafira masuk ke ruangan Dave. Ia masih merasa canggung berada di ruangan yang begitu mewah ini. Dave duduk di kursinya, tampak lebih lelah daripada biasanya.
"Duduklah, Shafira," ujar Dave, suaranya kini melunak. "Aku butuh bantuanmu. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai seseorang yang tidak punya siapa pun lagi untuk dipercayai di gedung ini."
Shafira tertegun. Kata-kata "tidak punya siapa pun lagi" terdengar begitu menyedihkan keluar dari mulut seorang miliarder seperti Dave. "Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
Dave menyodorkan sebuah flashdisk hitam. "Di dalamnya ada enkripsi data keuangan Mahesa Group cabang London dari tiga tahun lalu—saat aku masih memimpin di sana. Aku ingin kau memeriksanya. Cari setiap celah, setiap transaksi sekecil apa pun yang terlihat... tidak wajar."
Shafira menerima flashdisk itu dengan ragu. "Maaf Pak, tapi bukankah ini wewenang manajer keuangan senior atau auditor eksternal?"
"Mereka semua adalah orang-orang ibuku, Shafira," potong Dave cepat. "Hanya kau yang tidak bisa dibeli di sini. Hanya kau yang berani menolak cek jutaan rupiah demi sebuah prinsip. Aku butuh mata yang jujur untuk melihat ini."
Shafira menatap flashdisk itu, lalu menatap Dave. Ia melihat ketakutan yang tersembunyi di balik mata elang pria itu. Ketakutan akan dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
"Saya akan melakukannya, Pak. Tapi saya butuh waktu dan ruangan yang tenang. Saya tidak ingin data ini bocor jika saya mengerjakannya di meja divisi," ujar Shafira mantap.
"Gunakan ruangan kecil di sebelah kantorku. Ruangan itu kedap suara dan punya akses komputer mandiri. Tidak ada yang akan mengganggumu di sana."
Sepanjang sore itu, Shafira tenggelam dalam ribuan baris data. Angka-angka itu menari di depannya, membentuk pola yang rumit. Sebagai lulusan terbaik, Shafira punya insting yang tajam. Ia mulai menemukan benang merah yang aneh. Beberapa aliran dana keluar menuju perusahaan cangkang yang tidak jelas identitasnya. Dan yang membuat jantungnya berdegup kencang adalah nama yang tertera sebagai penerima manfaat terakhir: sebuah yayasan yang berafiliasi dengan keluarga besar Clara.
Sore berganti malam. Gedung Mahesa Group mulai sepi. Dave masih setia menunggu di ruangannya, hanya ditemani segelas kopi hitam yang sudah dingin. Ia memperhatikan Shafira dari balik pintu kaca yang sedikit terbuka. Gadis itu tampak sangat fokus. Sesekali ia terlihat memejamkan mata, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang merapal doa atau zikir, lalu ia kembali bekerja dengan energi baru.
Dave merasa heran. Bagaimana seseorang bisa tetap tenang di bawah tekanan sebesar ini? Ia berjalan mendekat dan mengetuk pintu ruangan kecil itu.
"Sudah jam delapan malam, Shafira. Sebaiknya kau pulang. Ayahmu pasti khawatir," ujar Dave.
Shafira mendongak, matanya nampak lelah namun ada kilat kepuasan di sana. "Pak Dave, saya rasa saya menemukan sesuatu. Ini bukan tentang kesalahan Bapak di London. Seseorang telah memanipulasi tanda tangan Bapak untuk mengalirkan dana ke pihak ketiga. Dan ini terjadi tepat sebulan sebelum Bapak dipanggil kembali ke Indonesia."
Dave mengerutkan kening, ia mendekat ke layar komputer. "Siapa?"
"Tanda tangan digital ini... kodenya berasal dari komputer sekretaris Bapak di London saat itu. Dan saya menemukan jejak komunikasi yang menghubungkan sekretaris itu dengan... asisten pribadi Ibu Sarah."
Ruangan itu mendadak terasa dingin. Dave terhenyak ke kursi di samping Shafira. Ibunya sendiri? Ibunya telah menyiapkan jebakan ini sejak lama, bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di tanah air?
"Jadi, mereka ingin menggunakan ini untuk menjatuhkanku di rapat komisaris besok?" bisik Dave, suaranya terdengar pecah.
"Sepertinya begitu, Pak. Jika laporan ini muncul, Bapak akan dituduh melakukan penggelapan dana untuk kepentingan pribadi yang dialihkan melalui pihak ketiga," jelas Shafira dengan nada prihatin.
Dave menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penghianatan ini terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan jabatan. Shafira menatap pria di depannya dengan rasa empati yang mendalam. Ia teringat ayahnya yang selalu berkata bahwa kekayaan seringkali menjadi penjara bagi hati yang tidak mengenal Tuhan.
"Pak Dave," panggil Shafira lembut.
Dave menurunkan tangannya, menatap Shafira.
"Mungkin ini terdengar kolot bagi Bapak, tapi saat saya merasa dunia sedang memusuhi saya, saya selalu ingat satu hal: Allah tidak akan membiarkan kebenaran tertukar dengan kebatilan. Bapak sudah punya buktinya sekarang. Gunakan ini dengan bijak, tapi jangan gunakan untuk membalas dendam. Gunakan untuk meluruskan apa yang salah."
Dave menatap Shafira lama. Di tengah kegelapan dan pengkhianatan keluarganya, gadis di depannya ini adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. "Kenapa kau membantuku, Shafira? Padahal ibuku sudah sangat jahat padamu."
Shafira tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. "Karena Ayah saya mengajarkan, bahwa kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, atau dunia ini akan kehabisan orang baik. Lagipula, Bapak adalah atasan saya. Menjaga integritas Bapak adalah bagian dari amanah kerja saya."
Dave merasa tenggorokannya tercekat. Ia meraih flashdisk itu kembali, namun jari-jarinya sempat bersentuhan dengan jari Shafira. Shafira segera menarik tangannya dengan halus, sebuah pengingat tentang batasan yang selalu ia jaga.
"Pulanglah, Shafira. Biar sopir kantor mengantarmu. Dan... terima kasih. Untuk semuanya," ujar Dave dengan tulus.
Shafira mengangguk, membereskan tasnya, dan melangkah keluar. Saat ia berjalan menuju lift, ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong yang gelap, Clara sedang berdiri, menatapnya dengan pandangan penuh amarah. Clara telah mendengar semuanya dari balik pintu.
"Kau pikir kau sudah menang, gadis kampung?" desis Clara dalam kegelapan. "Besok bukan hanya Dave yang akan jatuh, tapi kau juga akan merangkak di kakiku memohon ampun."
Badai besar sedang bergerak menuju pagi. Dan di rapat dewan komisaris besok, nyawa karir Dave dan kehormatan Shafira akan dipertaruhkan di atas meja bundar yang penuh dengan serigala berjas mewah.
.