NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Apron Merah Jambu dan Sorot Lampu

Pagi itu, kediaman Adiguna tidak dimulai dengan denting sendok perak di atas porselen mahal, melainkan dengan suara musik riang yang menggelegar dari tablet milik Nika. Di tengah dapur yang luas, Nika sedang melakukan gerakan pemanasan—semacam senam aerobik namun dengan memegang spatula di tangan kanan dan kocokan telur di tangan kiri.

Devan, yang baru saja turun dengan kemeja kerja yang rapi dan tas kulit di tangan, terhenti di anak tangga terakhir. Ia menggosok matanya sejenak, memastikan bahwa pemandangan di depannya nyata.

"Ni? Kamu sedang latihan untuk jadi pemandu sorak di dapur?" tanya Devan, suaranya parau karena baru bangun.

Nika berhenti berputar, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar jenaka. "Mas! Cepat sarapan! Kita punya jadwal padat hari ini. Aku sudah mendaftarkan kita ke acara 'The Love Kitchen'. Itu kontes memasak pasangan di televisi nasional yang sedang hits!"

Devan hampir saja menjatuhkan tasnya. "Kontes memasak? Televisi? Nika, aku ini CEO perusahaan konstruksi, bukan koki selebriti. Dan ingat, saham kita baru saja stabil setelah insiden bebek karet kemarin. Apa kata investor kalau melihatku memotong bawang di TV?"

Nika mendekat, merapikan kerah baju Devan dengan gerakan lembut yang selalu berhasil meluluhkan hati suaminya. "Mas, justru ini strateginya. Publik perlu melihat kalau CEO Adiguna Group itu manusia biasa yang sayang istri. Ini branding yang sangat organik! Lagipula, hadiahnya adalah donasi untuk panti asuhan atas nama perusahaan kita. Kamu tidak mau beramal?"

Devan mendesah pasrah. Ia tahu, jika Nika sudah mengeluarkan kartu "beramal" dan tatapan mata anak kucingnya, ia sudah kalah sebelum berperang. "Baiklah. Tapi satu syarat: jangan buat aku terlihat konyol."

"Janji!" seru Nika sambil menyilangkan jari di belakang punggungnya.

Tiga jam kemudian, di studio televisi yang dingin dan penuh lampu panggung, Devan menyadari bahwa janji Nika adalah kebohongan paling manis yang pernah ia dengar.

"Ini... apa ini, Ni?" tanya Devan dengan wajah kaku, menatap sebuah benda kain di tangannya.

"Itu apron, Mas. Karena kita tim 'Bebek Cinta', maka apron kita warna merah jambu dengan gambar bebek kecil di tengahnya. Lucu, kan?" Nika sudah memakai miliknya, lengkap dengan bando telinga bebek yang bergerak-gerak setiap kali ia menoleh.

Devan menatap apron merah jambu itu dengan ngeri. Ia membayangkan para komisarisnya sedang menonton ini sambil memegang jantung mereka. Namun, melihat Nika yang begitu bersemangat membantu memakaikan apron itu ke pinggangnya, Devan hanya bisa berdiri tegak seperti patung.

"Oke, peserta! Dalam hitungan tiga, dua, satu... Action!" teriak sutradara.

Lampu sorot menyala terang. Pembawa acara yang energik mulai memperkenalkan para peserta. Saat kamera mengarah ke Devan, ia mencoba memberikan senyum profesionalnya yang biasanya ia gunakan saat memotong pita proyek, namun malah terlihat seperti orang yang sedang menahan bersin.

"Dan inilah tim kita yang paling fenomenal, CEO tampan kita, Bapak Devan dan istrinya yang cantik, Nika!" seru pembawa acara. "Apa menu kalian hari ini?"

Nika mengambil mikrofon dengan percaya diri. "Kami akan memasak 'Rendang Cinta Perjuangan' dengan teknik slow cooking yang melambangkan kesabaran Mas Devan menghadapi aku!"

Penonton di studio tertawa dan bertepuk tangan. Devan hanya bisa berdehem canggung. Tugas pertamanya adalah memotong daging. Devan memegang pisau daging besar itu dengan sangat serius, seolah-olah ia sedang membedah maket jembatan di Bali.

"Mas, jangan terlalu tegang! Itu daging sapi, bukan beton pracetak!" bisik Nika sambil menyenggol lengan Devan.

"Ini licin, Ni. Dan kenapa pisaunya harus sekecil ini?" keluh Devan, keringat mulai membasahi dahinya.

Kejadian lucu dimulai saat Nika bertugas mengulek bumbu. Karena terlalu semangat, ulekan itu terpeleset dan cabai merah meloncat tepat ke arah jas koki sang juri yang sedang melintas di belakang mereka.

"Aduh! Pak Juri, maaf! Cabainya mau kenalan!" seru Nika spontan.

Devan refleks menarik serbet dan mencoba membersihkan jas sang juri, namun karena panik, ia malah menggunakan serbet yang sebelumnya ia pakai untuk mengelap sisa santan. Hasilnya, jas hitam sang juri kini memiliki motif abstrak putih kemerahan.

"Mas! Kamu malah buat desain baju baru di jas Bapaknya!" Nika tertawa terbahak-bahak, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang dalam kompetisi.

Di tengah kekacauan itu, Devan justru mulai merasa rileks. Ia melihat Nika yang tertawa lepas, pipinya terkena noda kunyit, dan bando bebeknya miring ke kiri. Tiba-tiba, rasa malu itu hilang. Ia memungut sepotong daging yang tadi ia potong terlalu besar, lalu menyuapkannya ke mulut Nika yang masih tertawa.

"Diam dan masak, Nyonya CEO. Kita tidak boleh kalah dari tim sebelah yang sepertinya sedang membuat sup garam," goda Devan.

Nika tertegun, lalu tersenyum sangat lebar. Ia mengambil sisa bumbu dan dengan sengaja mencoret pipi Devan. "Perang bumbu dimulai, Mas Bos!"

Sepanjang sisa acara, studio itu bukan lagi tempat kompetisi, melainkan taman bermain bagi mereka berdua. Devan yang kaku mulai berani melontarkan lelucon kering khas bapak-bapak tentang teknik sipil yang ia hubungkan dengan cara mengaduk rendang agar tidak "retak pondasinya".

Saat penjurian tiba, rendang mereka memang tidak terlihat cantik—sedikit terlalu gelap dan bentuk dagingnya tidak beraturan—namun juri memberikan komentar yang tak terduga.

"Rasanya... penuh perjuangan," ucap sang juri sambil mengelap jasnya yang kotor. "Tapi saya bisa merasakan kehangatan di dalamnya. Kalian menang di kategori 'Pasangan Paling Menggemaskan Tahun Ini'."

Malam harinya, mereka pulang dengan membawa piala plastik kecil dan kelelahan yang menyenangkan. Di dalam mobil, Nika tertidur di bahu Devan, masih memakai bando bebeknya.

Devan melirik istrinya, lalu beralih ke layar ponselnya. Media sosial meledak. Potongan klip Devan memakai apron pink menjadi viral dengan tagar #CEOIdaman dan #BebekCinta. Citra Adiguna Group yang tadinya dianggap kaku dan dingin, kini dianggap sebagai perusahaan yang "ramah keluarga".

"Ni," panggil Devan pelan saat mereka sampai di depan rumah.

Nika menggeliat, membuka matanya perlahan. "Hmm? Sudah sampai, Mas?"

"Terima kasih untuk hari ini. Meskipun aku harus malu seumur hidup karena apron itu, aku rasa... ini pertama kalinya aku merasa benar-benar bersenang-senang di depan orang banyak," Devan mengecup kening Nika.

Nika tersenyum mengantuk, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah foto polaroid yang diambil kru TV tadi—foto Devan yang sedang tertawa sambil memegang ulekan yang belepotan bumbu.

"Simpan ini di lacimu, Mas. Biar kalau Rendy atau Papa buat masalah lagi, kamu ingat kalau kamu pernah menaklukkan seekor cabai di depan jutaan orang," bisik Nika sebelum kembali terlelap.

Devan menatap foto itu, lalu menatap rumah mereka yang kini terasa jauh lebih terang. Namun, saat ia hendak menggendong Nika masuk, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di ujung jalan. Mobil yang sangat ia kenal milik asisten ayahnya.

Momen hangat itu sedikit terusik. Devan tahu, kejayaan mereka di televisi hari ini adalah tamparan bagi mertuanya. Dan ia tahu, babak baru yang lebih serius dari sekadar lomba memasak akan segera dimulai esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!