NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Aroma disinfektan yang tajam selalu berhasil membuat perut Felysha terasa mulas, bahkan ketika ia hanya menghirupnya dari sisa memori yang tertinggal di indra penciumannya. Ia berdiri di depan jendela apartemennya, menatap lampu-lampu Paris yang berkelap-kelip seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam. Namun, yang ia lihat sebenarnya bukan menara besi di kejauhan atau jalanan yang ramai, melainkan sebuah lorong rumah sakit di Jakarta yang lampunya berpendar putih pucat, berkedip setiap beberapa detik sekali.

Felysha merapatkan kardigan wolnya, merasakan tekstur benang yang agak kasar di kulit lengannya. Ia teringat bagaimana suara deru mesin ventilator yang konstan menjadi satu-satunya musik latar di ruangan ICU malam itu. Ayahnya terbaring di sana, dikelilingi kabel-kabel yang tampak seperti akar pohon yang mencoba menahan nyawa pria itu agar tidak terbang. Wajah ayahnya yang biasanya selalu tampak tegas dan penuh wibawa, mendadak terlihat begitu rapuh dan kecil di bawah selimut putih rumah sakit.

"Fely, kamu harus kuat."

Suara ibunya saat itu terdengar seperti gesekan kertas kering. Ibunya duduk di kursi plastik ruang tunggu, matanya merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Felysha ingat bagaimana ia hanya bisa terdiam, tangannya memegang erat tas sekolahnya, tidak tahu harus berkata apa. Ia baru saja pulang dari tempat bimbingan belajar saat kabar itu datang. Ayahnya jatuh pingsan di kantornya setelah menerima setumpuk dokumen yang menyatakan bahwa perusahaan tekstil keluarga mereka tidak lagi memiliki apa-apa.

Kematian ayahnya terjadi dua hari kemudian, tepat saat matahari mulai terbit. Keheningan yang mengikuti setelah bunyi tit panjang dari monitor jantung itu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah Felysha alami. Namun, ketakutan itu baru benar-benar bermutasi menjadi kenyataan pahit seminggu setelah pemakaman.

Felysha mengingat dengan sangat jelas pagi itu di rumah mereka yang biasanya tenang. Ia sedang mencoba membuat teh untuk ibunya di dapur saat pintu depan digedor dengan kasar. Sekelompok pria berpakaian safari hitam berdiri di sana, membawa surat-surat resmi yang menyatakan bahwa rumah tersebut, mobil, hingga tabungan pendidikan Felysha, semuanya sudah disita sebagai jaminan utang perusahaan yang kolaps.

"Kita punya waktu tiga hari untuk mengosongkan rumah ini, Nona," ucap salah satu pria itu tanpa ekspresi, suaranya datar seperti mesin.

Felysha hanya bisa terpaku di ambang pintu, tangannya gemetar memegang cangkir teh yang isinya tumpah sedikit demi sedikit mengenai lantai marmer. Ia melihat ibunya jatuh bersimpuh di ruang tamu, meratapi setiap sudut rumah yang menyimpan kenangan mereka selama puluhan tahun. Saat itu, Felysha menyadari bahwa dunianya yang selama ini ia anggap aman, ternyata dibangun di atas fondasi yang sangat rapuh.

Lalu, Julian datang.

Pria itu muncul di sore kedua, tepat saat Felysha sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam kardus. Julian mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, sepatu kulitnya yang mengilap mengeluarkan bunyi ketukan yang sombong di atas lantai rumah yang kini terasa dingin. Julian adalah putra dari mitra bisnis ayahnya yang paling sukses. Felysha mengenalnya sebagai sosok yang pendiam dan selalu menatapnya dengan cara yang aneh di acara-acara perusahaan.

Julian tidak bicara banyak pada awalnya. Ia hanya duduk di sofa ruang tamu yang sudah diberi label sita, lalu meletakkan sebuah tas kerja kulit di atas meja. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan selembar cek dengan angka yang membuat Felysha nyaris berhenti bernapas.

"Aku bisa melunasi semuanya," ucap Julian, suaranya rendah dan penuh percaya diri. Matanya tidak menatap ibunya, melainkan tertuju lurus pada Felysha yang berdiri di pojok ruangan dengan pakaian yang sudah berdebu. "Rumah ini akan tetap menjadi milik kalian. Semua utang ayahmu akan dianggap lunas oleh bank. Ibu kamu tidak akan pernah kekurangan satu sen pun."

Ibunya mendongak, matanya penuh dengan harapan yang bercampur dengan rasa tidak percaya. "Apa... apa syaratnya, Julian?"

Julian menyandarkan punggungnya pada sofa, ia membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat tenang. "Aku ingin Felysha. Aku ingin dia melanjutkan pendidikannya di Paris, di sekolah desain terbaik yang dia inginkan. Aku yang akan membiayai semuanya. Tapi dia harus menjadi milikku. Secara resmi."

Kalimat "menjadi milikku" itu keluar dengan cara yang sangat santun, namun Felysha bisa merasakan beban ribuan ton yang mendadak menekan pundaknya. Ia menatap ibunya, yang kini menatapnya dengan pandangan yang penuh permohonan. Tidak ada kata-kata yang keluar, namun Felysha bisa membaca apa yang ada di pikiran ibunya: Tolong selamatkan kita, Fely.

Malam itu, Felysha berdiri di depan cermin kamarnya yang mulai kosong. Ia menatap dirinya sendiri, mencoba mencari keberanian yang tersisa. Ia memikirkan masa depan ibunya yang akan luntang-lantung jika ia menolak. Ia memikirkan nama baik ayahnya yang akan hancur sebagai pengusaha yang gagal total.

Akhirnya, dengan tangan yang masih bergetar, Felysha menandatangani dokumen pertunangan yang dibawa Julian keesokan harinya. Saat cincin berlian itu melingkar di jari manisnya, Felysha merasa seolah-olah sebuah borgol emas yang sangat berat baru saja dipasangkan di pergelangan tangannya.

"Kamu membuat keputusan yang benar, Fely," bisik Julian tepat di telinganya setelah acara penandatanganan itu selesai. Suaranya dingin, namun penuh dengan kepuasan. Julian mencium keningnya, sebuah sentuhan yang membuat Felysha merinding, namun ia hanya bisa terdiam kaku.

Felysha tersentak kembali ke masa kini saat ia merasakan udara dingin Paris menyelinap masuk dari celah jendela apartemennya yang tidak tertutup rapat. Ia menoleh ke arah meja makan, di mana sebuah buket bunga mawar merah raksasa dari Julian berdiri tegak di dalam vas kristal. Bunga-bunga itu tampak begitu indah, namun bagi Felysha, aroma harumnya terasa seperti pengingat akan bau disinfektan rumah sakit dan kertas-kertas utang yang mencekiknya.

Ia melangkah menuju meja kerjanya, menyalakan lampu meja yang mengeluarkan cahaya kuning pucat. Ia melihat tumpukan kain muslin dan jarum pentul yang baru saja ia bawa dari kampus. Ini adalah impiannya. Kuliah fashion di Paris. Julian memang memberikan impian itu kepadanya di atas nampan perak, namun di saat yang sama, Julian juga mengambil haknya untuk memiliki impian itu sebagai miliknya sendiri.

Felysha duduk di kursi kerjanya, jemarinya meraba tepian kain muslin. Ia teringat kata-kata Madame Claire tadi siang: Rapi bukan berarti mati.

Ia tertawa getir dalam kesunyian apartemennya. Bagaimana mungkin karyanya tidak terlihat mati, jika orang yang membuatnya pun merasa seperti hantu yang sedang menjalankan masa hukuman?

Ponselnya bergetar lagi di atas meja. Ia tidak perlu melihat layar untuk tahu itu adalah pesan dari Julian, menanyakan apakah ia sudah memotret bunga itu. Felysha meraih ponselnya, mengambil foto buket mawar itu dengan gerakan mekanis, lalu mengirimkannya tanpa menambahkan kata-kata apa pun.

Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya di atas meja kerja. Di luar sana, Paris mungkin sedang merayakan malam dengan segala kemegahannya, namun di dalam ruangan itu, Felysha Anindhita hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang terasa sangat lelah menanggung beban hutang nyawa yang tidak akan pernah bisa ia lunasi.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!