NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Di Markas Kepolisian Resor, suasana ruang unit Jatanras tampak sibuk seperti biasa. Tumpukan berkas perkara, suara mesin tik yang beradu dengan cetakan printer, serta hiruk-pikuk koordinasi antaranggota memenuhi udara yang berbau kopi pahit. Baskara duduk di meja kerjanya, baru saja menyelesaikan laporan interogasi kasus pencurian motor.

Namun, fokus sang Inspektur tidak sepenuhnya ada pada berkas di depannya. Sesekali, matanya melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di samping keyboard. Layarnya menyala, menampilkan sebuah foto yang ia ambil diam-diam tadi pagi saat Ziva sedang sibuk memakai sepatu di teras.

Gadis itu tampak sangat cerah hari ini. Ia mengenakan blazer berwarna kuning lemon yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang sedang cemberut karena tali sepatunya sulit diikat.

"Lucu banget," gumam Baskara sangat pelan. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tidak pernah terlihat di kantor.

"Waduh, waduh! Sejak kapan komandan kita senyum-senyum sendiri liatin HP? Ada buronan baru yang cantik ya, Bas?"

Baskara tersentak. Ia segera membalikkan ponselnya dengan gerakan taktis, kembali ke mode kaku andalannya. Di sampingnya, Rio berdiri sambil membawa dua gelas kopi plastik, menatap Baskara dengan tatapan menyelidik yang penuh godaan.

"Lagi liat berkas, Rio. Jangan sok tahu," jawab Baskara dingin.

Rio tidak percaya begitu saja. Ia sedikit membungkuk, mencoba mengintip meski layar ponsel itu sudah gelap. "Alah, gue tadi sempet liat sekilas warna kuning-kuning seger gitu. Itu bini lo kan? Si Zivanya Aurora yang kemaren ngamuk di parkiran?"

Baskara berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Rio justru tertawa lebar. Ia menepuk bahu Baskara dengan keras.

"Kecintaan lo, Bas! Baru ditinggal berangkat kerja beberapa jam aja udah dikangenin lewat foto. Bener-bener ya, polisi paling sangar di Polres ternyata budak cinta juga kalau di rumah," goda Rio yang langsung disambut sorakan kecil dari rekan-rekan setim lainnya yang mendengar.

Baskara hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengambil kopi dari tangan Rio dan menyesapnya kuat-kali ini ia tidak bisa mengelak. Memang benar, bayangan Ziva dengan blazer lemonnya itu seolah menjadi satu-satunya warna terang di tengah rutinitasnya yang kelabu.

Sementara itu, di lantai sepuluh sebuah gedung perkantoran di Sudirman, Zivanya Aurora sedang bergelut dengan dunianya sendiri. Di atas meja kerjanya, dua buah layar monitor menampilkan grafik keuangan yang rumit. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, matanya fokus meneliti setiap angka yang harus ia setor ke manajernya siang ini.

"Oke, tinggal bagian laba bersih... sedikit lagi..." bisik Ziva pada diri sendiri.

Blazer lemon yang ia kenakan sedikit ia sibakkan lengannya agar tidak mengganggu pergerakan tangannya. Tiba-tiba, seorang kurir dari layanan pesan antar makanan masuk ke area kubikelnya. Aroma teh hijau yang segar langsung menyerbu penciumannya.

"Misi, Mbak Ziva? Ada paket minuman lagi buat Mbak," ucap kurir itu sambil meletakkan sebuah gelas besar berisi Matcha Latte dengan topping krim lembut di atasnya.

Ziva menghentikan ketikannya. Ia menatap gelas hijau itu, lalu menatap kurir tersebut dengan pandangan yang sudah bisa menebak.

"Dari suami saya lagi, Pak?" tanya Ziva, kali ini suaranya tidak sekaget kemarin. Ada nada "pasrah yang senang" dalam pertanyaannya.

"Wah, kurang tahu namanya siapa Mbak, tapi pesannya: 'Minum ini biar kepalanya nggak panas pas ngerjain laporan. Jangan lupa makan siang'. Begitu Mbak tulisannya di aplikasi," jawab kurir itu sambil tersenyum ramah.

"Oh... oke. Makasih ya, Pak," Ziva menerima minuman itu.

Begitu kurir pergi, Maya—rekan kerja di kubikel sebelah—langsung memutar kursinya ke arah Ziva. "Gila ya, Ziv. Suami lo itu agen rahasia atau gimana? Kemarin Boba, sekarang Matcha. Dia tahu banget jadwal lo lagi pusing ya?"

Ziva hanya bisa tersenyum kecil sambil menyedot Matcha Latte-nya. Rasa manis dan sedikit pahit dari teh hijau itu seketika meredakan ketegangan di pundaknya. "Nggak tahu deh, May. Dia emang suka berlebihan kalau soal urusan perut."

Ziva merogoh ponselnya, berniat mengirim pesan "omelan" seperti kemarin, namun ia teringat kejadian semalam saat Baskara menemaninya tidur di lantai karena ia takut tikus. Ia teringat bagaimana pria itu dengan sigap melindunginya tanpa banyak tanya.

Ia menghapus ketikan "Lo ngapain lagi sih, Kak?" dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih singkat.

Zivanya: Matcha-nya enak. Makasih. Tapi besok-besok jangan setiap hari ya, gue bisa kena diabetes kalau begini terus.

Di seberang sana, di sela-sela interogasinya, ponsel Baskara bergetar. Ia membaca pesan itu dan tanpa sadar kembali tersenyum. Ia tidak membalas, namun ia menyimpan pesan itu sebagai "hadiah" kecil untuk semangatnya bekerja hingga sore nanti.

Ziva kembali fokus pada laporannya. Kali ini, ia merasa jauh lebih bertenaga. Blazer lemonnya terasa lebih nyaman, dan setiap tegukan matcha seolah memberinya amunisi untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Di tengah kesibukan Sudirman yang gila, Ziva baru menyadari bahwa memiliki seseorang yang diam-diam memantau kesejahteraannya dari balik seragam polisi ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.

***

Sinar matahari sore yang mulai meredup membiaskan warna oranye di langit Jakarta, memantul pada kaca-kaca gedung Markas Kepolisian Resor. Sebuah taksi online berhenti tepat di depan gerbang utama, dan seorang gadis turun dengan langkah yang jauh lebih mantap dibandingkan kunjungannya yang penuh emosi beberapa hari lalu.

Zivanya Aurora tampil menonjol di tengah lingkungan yang didominasi warna cokelat kaku. Blazer warna lemonnya masih tampak segar, meski ada sedikit kerutan di bagian siku akibat duduk seharian di depan laptop. Ia menjinjing tas kerjanya, berdiri dengan anggun sambil menunggu sosok yang ia cari muncul dari balik pintu lobi.

Tepat saat itu, Baskara keluar bersama rombongan unitnya. Ia sedang mendengarkan laporan dari seorang bintara ketika matanya menangkap sosok "kuning lemon" yang berdiri tak jauh dari mobil patroli. Baskara terhenti, membuat rombongan di belakangnya ikut berhenti mendadak.

"Ziva?" Baskara melangkah menghampiri, alisnya bertaut heran. "Kamu ngapain ke sini? Pulang naik taksi, kenapa nggak nunggu aku jemput?"

Ziva melipat tangan di depan dada, mencoba menahan senyum melihat wajah Baskara yang tampak sedikit panik—mungkin pria itu mengira ada tikus lagi yang meneror rumah mereka. "Gue sengaja ke sini. Laporan gue selesai lebih cepet dan manajer gue puas banget. Jadi... gue mau ngajak lo makan di luar. Itung-itung sebagai tanda terima kasih buat matcha yang bikin otak gue nggak meledak tadi siang."

Baskara terdiam sejenak, tampak terkejut dengan inisiatif Ziva. Belum sempat ia menjawab, Rio muncul dari belakang dengan cengiran khasnya yang menyebalkan.

"Waduh, Mbak Ziva! Dateng-dateng langsung ngajak kencan ya? Pantesan dari tadi temen gue ini nggak fokus," goda Rio sambil menyikut lengan Baskara.

Ziva tertawa kecil. "Enggak kencan, Kak Rio. Cuma makan sebagai ungkapan terima kasih aja kok."

"Halah, bilang aja kencan terselubung," Rio mengedipkan sebelah mata, lalu suaranya berubah menjadi bisikan yang sengaja dikeraskan agar Ziva bisa mendengar. "Eh, tadi tahu nggak Ziva, si Baskara ini pas jam istirahat kerjaannya bukan baca berkas, tapi ngeliat foto lo yang—"

BUGH!

Sebuah pukulan telak mendarat di perut Rio. Bukan pukulan yang menyakitkan seperti menghajar buronan, tapi cukup untuk membuat napas Rio tercekat sejenak. Baskara menarik kerah belakang seragam Rio dengan gerakan taktis sebelum sahabatnya itu membocorkan rahasia tentang foto "blazer lemon" di galeri ponselnya.

"Aduhh! Gila lo, Bas! Perut gue ini aset bangsa buat ngejar maling!" seru Rio sambil membungkuk, memegangi perutnya yang barusan terkena sikut Baskara.

Ziva mengerutkan kening, matanya menyipit penuh selidik. "Foto apa? Kak Rio mau bilang apa tadi?"

Baskara segera berdiri tegak, memasang wajah paling datar yang ia miliki—wajah "robot" andalannya. "Nggak ada. Rio cuma kebanyakan menghirup asap knalpot pas patroli tadi, jadi otaknya agak geser."

"Nggak mungkin! Kak Rio tadi bilang lo liat foto gue. Foto yang mana? Emang lo punya foto gue?" tuntut Ziva, ia melangkah maju satu langkah, menatap Baskara dengan tatapan interogasi yang biasanya justru dilakukan polisi pada tersangka.

"Enggak ada, Ziva. Ayo berangkat, sebelum tempat makannya penuh," Baskara mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menarik kunci mobil dari saku celananya.

"Eh, nggak bisa gitu! Gue mau liat HP lo!" Ziva merampas ponsel Baskara yang sempat mengintip dari saku seragamnya. Karena Baskara tidak menyangka Ziva akan seberani itu, ia terlambat untuk menangkis.

"Ziva, balikin. Itu ada data rahasia kantor," ucap Baskara dengan nada peringatan, namun telinganya mulai memerah—sebuah tanda yang Ziva tahu artinya adalah pria ini sedang malu berat.

"Data kantor atau data Zivanya Aurora?" Ziva membuka layar ponsel Baskara. Beruntung (atau sial bagi Baskara), layar itu belum terkunci sepenuhnya karena ia baru saja mengecek pesan terakhir dari Ziva.

Begitu galeri terbuka, hal pertama yang muncul adalah sebuah foto: Ziva yang sedang bersungut-sungut di depan rumah tadi pagi, dengan blazer lemonnya yang cerah, sedang berjuang menarik tali sepatu. Foto itu diambil dari sudut yang sangat pas, membuat Ziva terlihat jauh lebih mungil dan... menggemaskan.

Ziva terdiam. Ia menatap foto itu, lalu menatap Baskara yang sekarang sudah memalingkan wajah ke arah lain, pura-pura sangat tertarik melihat tiang bendera di tengah lapangan Polres.

"Lo... lo diem-diem foto gue pas gue lagi kucel mau berangkat?" tanya Ziva. Suaranya tidak lagi ketus, tapi ada nada geli yang tertahan.

Rio yang sudah sedikit pulih mulai bersuara lagi dari jarak aman. "Bukan cuma difoto, Ziva! Tadi dia bilang ke gue, katanya 'Lucu banget'. Sumpah, gue hampir muntah denger polisi sangar ngomong gitu!"

Baskara memberikan tatapan maut pada Rio yang membuat pria itu langsung menutup mulut rapat-rapat dan kabur menuju kantin.

Ziva kembali menatap ponsel di tangannya, lalu menyerahkannya kembali pada Baskara. Ia tidak marah, justru sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. "Ternyata lo bakat jadi fotografer ya, Kak. Tapi lain kali kalau mau foto, bilang dong. Gue kan bisa pose cantik, bukan pose narik tali sepatu kayak gitu."

Baskara menerima ponselnya dengan kikuk. "Tadi pagi cahayanya bagus. Dan... ya, memang terlihat lucu."

Ziva tersenyum lebar, lebih lebar dari biasanya. Perasaan hangat yang tadi pagi ia rasakan saat meminum matcha kini kembali hadir, tapi kali ini lebih kuat. Ia menyadari bahwa di balik segala kekakuan dan sifat posesifnya, Baskara benar-benar memperhatikan detail-detail terkecil tentang dirinya.

"Ya udah, dimaafin. Sebagai gantinya, lo yang harus bayar makan sore ini. Nggak jadi gue yang traktir!" canda Ziva sambil berjalan mendahului Baskara menuju mobil SUV hitam itu.

Baskara hanya bisa menggelengkan kepala, senyum tipis akhirnya kembali muncul di wajahnya. Ia mengikuti langkah Ziva dari belakang. Sore itu, di depan kantor polisi yang biasanya terasa kaku dan penuh tekanan, sebuah tawa pecah di antara mereka. Sebuah foto rahasia di galeri ponsel ternyata menjadi kunci yang membuka satu lagi lapisan dinding di hati Ziva, membuatnya sadar bahwa "om-om kaku" ini mungkin memang benar-benar sudah jatuh ke dalam pesonanya, blazer lemon dan segala kerumitannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!