ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV
Tok.. Tok.. Tok.. Gelombang suara yang berasal dari ketukan pintu utama terdengar nyaring, memecah keheningan juga atmosfer menegangkan.
“Villy! Ayaa! Kalian ada di dalam?!” Seseorang berseru lantang, menggedor sekali lagi. “Sudah berkemas, kan? Lekas keluarlah!”
Villy mendengarkan dengan cermat suara seruan itu, juga bayangan sekelompok orang yang tampak dari celah bawah pintu. “Itu Sherry dan yang lain. Mereka benar-benar datang pukul delapan.”
Ayaa balas berseru, “Ya, Sherry! Kami akan keluar sebentar lagi!”
Yang di luar membalas, “Kami harus pergi ke minimarket! Kalian turun dan periksa taksi online-nya, ya! Plat nomornya akan kukirim melalui grup obrolan!”
“Oke! Akan kami lakukan!”
“Baiklah, sampai bertemu di parkiran!” Bayangan segerombolan kaki di celah bawah pintu mulai bergerak, suara derapnya berangsur-angsur menghilang dalam beberapa saat.
“Oi, Vily,” Ayaa bangkit dari kursi, membawa piringnya ke wastafel setelah menepuk bahu si pemilik nama. “Kita akan pergi setelah kau mencuci piring. Lekas kerjakan.”
“Yang benar saja? Teman-teman kita sudah menunggu. Tidak akan sempat jika kukerjakan sekarang.” Villy menggaruk kepalanya, dilanda panik. Dia baru sadar belum mengerjakan pekerjaan asrama yang bersifat wajib sedari bangun dari tidur sampai memulai sarapan. Sebaliknya, ia malah sibuk mengurusi hal lain termasuk si sobatnya yang tak tahu cara mengganti tabung gas itu.
“Kak Villy,” Erica mencolek lengan si pemilik nama yang sedang bergegas merapikan piring-piring kotor. “Jangan memaksakan diri. Mari kita bertukar hari sementara. Hari ini aku cukup banyak memiliki waktu luang, jadi aku bisa lakukan untukmu.”
Tubuh Villy langsung memberi respons, gerakan tangannya terhenti sejenak dan atensinya menangkap sepasang mata si junior. “Kau sungguhan?”
Erica mengangguk sekali, juga memberikan acungan jempol—jawaban yang mantap tanpa keraguan.
“Oh, aku sangat menghargai bantuanmu. Terima kasih banyak..” Setelah membalas dengan tepukan pelan di lengannya, Villy lantas memacu kakinya ke dalam kamar, bersiap-siap. Beruntunglah setelah mandi ia sudah merias wajah dan menata gaya rambutnya, jadi waktu yang dibutuhkan untuk berpakaian tersisa cukup banyak.
“Apa-apaan itu tadi?” Ayaa melontarkan pertanyaan mendadak saat mereka sedang berbagi cermin. Dia berjongkok di bawah pada sisi kiri, sementara Villy berdiri di sisi kanan.
“Apa yang apa?” Villy balik bertanya, sibuk mengaitkan ikat pinggang di roknya.
Intuisi Ayaa merasakan getaran aneh. Ia pun mendongakkan kepalanya, menatap wajah Villy dari pantulan cermin.
Villy yang tahu sedang ditatap, terkekeh. “Aih, bukan apa-apa. Dia punya teman yang baik. Tentu aku harus membalasnya dengan baik juga.”
Ayaa mengernyitkan dahi, membatin bahwa ternyata benar dugaannya. Villy si manusia super kaku yang mendadak bertingkah lunak lagi-lagi muncul seperti petir saat hujan—menampakkan diri untuk membelah langit lalu menghilang setelah mendatangkan takut. “Adik-adik kita ada di sini. Perhatikan posisimu.” Tangan kanan Ayaa menelusup ke dalam tas, sementara matanya masih menatap lurus ke lawan bicara.
“Aku mengerti. Simpan kembali benda itu.”
Karinn yang kebetulan duduk di kursi yang menghadap langsung ke pintu balkon dan melihat secara jelas pemandangan itu, mengamati dalam diam. Setelah beberapa saat baru manik matanya melirik ke orang di seberangnya; Irene.
“Jangan lihat aku. Aku tahu isi kepalamu,” katanya tanpa melakukan kontak mata. Ia jelas tahu si maniak penasaran itu sedang menatap dirinya.
Selesai dengan urusan pakaian, kini sentuhan terakhirnya adalah sepatu sneaker dan topi dengan warna senada. Tentu tak lupa juga untuk memasukkan barang-barang penting seperti dompet, earphone, dan ponsel yang baru diisi daya. “Guys, kalian mau dibelikan sesuatu?” Ayaa membuka pintu balkon, memasang gaya bak seorang kakak yang sedang pamer kekayaan pada adiknya.
“Bakpao.” Erica yang sedang mencuci piring di dapur mengangkat tangannya, menjawab tanpa ragu.
“Oke. Yang lain?”
“Aku tidak menginginkan apa pun, kecualikan saja aku.” Irene menjawab dengan nada tak acuh, hanya kembali sibuk menghabiskan sarapannya.
“Oi, kau akan menyesal, lho, kalau mengabaikan niat baik kami.” Tiba-tiba Villy muncul dari belakang tubuh Ayaa, memasang senyum yang sebelumnya tak pernah ditunjukkan kepada para junior.
Ayaa berbalik badan, berbisik dengan nada sinis. “Sial, kau tidak mendengarkanku? Haruskah aku turun tangan, hu?”
Berbeda dengan Villy yang sebelumnya menyalak galak saat dirinya disuruh mencuci piring, kali ini ia dengan sabar menunjukkan senyum di bibirnya. Namun bagaimanapun, yang dilakukannya itu justru membuat Ayaa semakin geram sampai-sampai ingin segera mengeluarkan suntikan dari dalam tasnya. Sudah dikatakan di sini ada adik-adiknya, tapi gadis itu terus saja menguji dirinya.
“Kalau begitu samakan saja dengan Erica.” Irene buka suara lagi, mengubah jawabannya.
“Baiklah. Bagaimana denganmu, Karinn? Ada sesuatu yang kau inginkan?”
Karinn tak langsung menjawab, dia berpikir sejenak karena tak bisa fokus oleh situasi yang tidak dimengertinya ini. “...Aku tidak tahu. Samakan saja, deh, dengan yang lain.”
Pada akhirnya para junior yang masih canggung mengeluarkan jawaban serupa; bakpao. “Baiklah. Kalau begitu kami akan pergi sekarang. Selamat bersenang-senang!” Ayaa mengangkat telapak tangannya, isyarat salam sesama teman sebelum kemudian berlalu bersama Villy.
Sesaat setelahnya, kamar menjadi lenggang. Suara heboh para senior yang bersikap sok dekat langsung lenyap terbawa angin.
Kursi Karinn berderit, dia menggesernya ke sebelah kanan, mendekati si gadis garang. Dia membuat tumpuan di sikunya sementara telapak tangannya menopang kepalanya, menatap lawannya dengan lekat. “Oi, kau tahu, tidak, betapa anehnya kau itu?”
Irene tidak menggubris, hanya mendengarkan sambil terus menyantap sarapannya.
“Aku selalu penasaran. Sebenarnya ada berapa orang dalam dirimu?”
Manik mata Irene melirik.
“Jangan menatapku begitu. Aku hanya ... Yah, dalam beberapa kesempatan aku merasa kau seperti orang yang berbeda.”
Atensi Irene masih menatap lurus, berkontak mata cukup lama pada si lawan bicara.
“Kau mau mengatakan sesuatu?”
“Itu kau.”
“Hu?”
Sembari mengalihkan pandangannya dari kontak mata, dia membalas, “Kau sedang membicarakan dirimu. Jadi kupikir aku tidak perlu menyangkalnya.”
Karinn menegak ludah, bahunya tersentak sedikit.
“Berhentilah menatapku, selesaikan makanmu dan tidurlah lagi. Kau terjaga sepanjang malam.”
Sekali lagi, Karinn tersentak. Jantungnya berdetak kencang saking tak bisa membendung perasaan aneh yang mengukung dirinya.
“Terjaga? Karinn, bukankah kau tidur paling awal?” Erica kembali ke balkon, bergabung dalam obrolan teman sebayanya.
Yang ditanya masih tetap membisu. Dan bukannya menatap Erica untuk memberikan jawaban, dia malah menatap Irene seolah sedang mencoba menerka maksud perkataannya.
Irene tahu seseorang sedang menatapnya, maka ia pun dengan sukarela membalas tatapan itu. Dan tanpa butuh waktu lama bagi Karinn, ia langsung sadar bahwa respons gadis garang itu yang berkontak mata dengannya-lah jawaban dari pertanyaan di kepalanya.
Bagaimana aku tahu maksudmu?
“Uhukk..” Karinn tersedak. Buru-buru ia menegak habis sirupnya, lalu menyeret kembali kursinya ke tempat semula.
Irene tersenyum tipis, membatin bahwa si maniak penasaran itu cepat juga dalam memahami.
...• • • • •...
“Oi, Rina. Airnya sudah mendidih.” Fally membuka pintu balkon, kepalanya melongok keluar sembari memanggil seseorang yang tengah duduk bersantai di balkon. Panci air yang dimasaknya sudah bergejolak sejak semenit lalu, bisa-bisa hangus jika dibiarkan.
Karina mengacungkan jempol, cepat memberikan balasan agar teman sebayanya itu segera berlalu tanpa lagi mengoceh. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit, membiarkan sejenak wajahnya diterpa semilir angin.
“....Seseorang mengenalmu dengan sangat baik. Tapi dia mengira itu adalah aku karena kita punya nama yang mirip.”
Sejak semalam tidurnya tidak nyenyak. Padahal hari itu cukup melelahkan dengan segala hal yang terjadi secara berturut, tapi apalah daya kantuknya tak kunjung datang bahkan sampai fajar menyingsing. Ucapan Karinn memenuhi kepalanya, tidak peduli seberapa keras ia mencoba menyingkirkannya, pada akhirnya ia tetap tenggelam oleh rasa penasaran.
Siapakah orang yang dimaksudnya?
Pertanyaan itu masih menggantung di udara tanpa jawaban. Entah kapan dan bagaimana ia akan mengetahuinya, yang jelas untuk sekarang masalah itu tidak penting. Karina mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari belakang casing ponselnya, menatapnya lekat sembari menyelipkan senyum tipis. “Lagi pula bukan aku yang harus menyelesaikannya.”
“Oi, Rina!” Fally menggedor pintu kamar mandi, berteriak lantang. “Kubilang airnya sudah mendidih! Cepat matikan kompornya! Kau mau buat kamar ini terbakar, hu?!”
Karina mendecak sebal, kemudian tanpa membalas dia pun bangkit dari kursi dan pergi ke dapur untuk meracik teh.
“Alexa..” Karina menepuk pelan gulungan selimut si pemilik nama, suaranya lembut. “Bangunlah sebentar.”
Alexa, siswi kelas 10 menyingkap selimut yang menutupi wajahnya, mendapati seniornya sedang duduk di ranjangnya. “Terima kasih, kak.” Suaranya terdengar sedikit serak. Dia menerima pemberian teh hangat itu sambil membiarkan hawa panas membasuh wajahnya.
“Bagaimana dengan kondisimu? Apa membaik dari sebelumnya?”
“....Aku tidak yakin. Rasanya demamku ini ... agak aneh.”
Karina ikut menundukkan kepala, mengakui bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Pada hari pertama pertukaran kamar, Alexa secara mendadak terserang perubahan suhu yang cukup drastis. Tubuhnya menggigil kedinginan sampai-sampai membuat bulu kuduknya berdiri dan wajahnya pucat seperti mayat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya dia yang tampak ceria dan gembira karena sekamar dengan senior favoritnya—Fally—akan berakhir secara misterius begini.
Ketua kamar—Ariana—sudah beberapa kali menyarankan agar ia pulang untuk mendapatkan perawatan yang lebih layak, namun Alexa selalu menjawab dengan menggelengkan kepala tanpa memberikan alasan jelas. Senior-senior yang mengkhawatirkannya pun jadi dibuat bingung, namun mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa dengannya yang berkepala besar. Semuanya jadi semakin rumit begitu diketahui ternyata ia menyimpan sebuah jimat di bawah bantalnya.
“Saat aku pindah ke sekolah ini, aku sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa, kak. Sesuatu itu ... mirip seperti bahaya yang mencoba bersembunyi di antara gundukan pasir. Kita tidak bisa mengetahuinya karena itu terkubur cukup dalam. Tapi ada satu hal yang jelas, yakni kehadirannya mengganggu pasir di sekitarnya.”
Alexa dan ibunya adalah seorang dukun di desa tempat tinggalnya dulu. Mereka bermigrasi ke kota ini setahun lalu dan kembali membuka praktek perdukunan di sela-sela bisnis restoran ayamnya. Namun Alexa kecil yang banyak bicara salah mengira ia akan mendapat respons baik seperti yang dilakukan ibunya. Alhasil, tak sedikit teman sekelasnya bahkan seniornya bergunjing secara terang-terangan. Walau begitu banyak tekanan yang didapatnya, anehnya Alexa tak pernah mempedulikannya. Pikirnya ia akan baik-baik saja selama mempercayai dirinya sendiri. Begitulah kemudian ia tetap bertahan dalam kondisi ini walau hanya dengan secarik jimat yang selalu disimpannya.
“Kenapa kau bersikeras tidak mau pulang, sih? Kau tidak mau ibumu tahu kau sakit, ya?” Karina mengeluarkan termometer dari mulut Alexa, mengecek suhu tubuhnya. “Apa-apaan 29° celsius? Memangnya dia sedang berada di gunung?”
“Ini bukan sakit biasa, kak. Kalau sampai ibuku tahu aku merasakan energi yang tidak biasa dan jatuh sakit, dia akan langsung datang ke sini dan menemukan sendiri sumbernya. Itu jauh lebih mengerikan. Jadi kupikir aku harus menanganinya tanpa melibatkan siapa pun.”
Lagi-lagi dia dan omong kosongnya...
“Kak Rina,” panggilnya. Suaranya terdengar lirih. “Kalau kubilang sesuatu yang khusus padamu, apa kau mau mendengarnya?”
Jelas, tidak. Karina tersenyum palsu, membatin bahwa ia tidak mungkin merespons dengan jawaban julid seperti yang dilakukannya tempo hari—pada Erica di Fe-Mart. Kalau dilihat-lihat sebenarnya kasihan juga anak ini, bagaimanapun dia hanyalah anak malang yang sedang terkena musibah. “Baiklah, apa itu?”
Raut wajah Alexa berubah serius, seolah menekankan bahwa ucapannya pun juga demikian. “Setiap kali aku melihatmu, aku selalu ingin mengatakan ... berhati-hatilah.”
Karina tertegun. “Atas apa?”
“Mungkin kau sendiri lebih mengetahuinya. Aku hanya bisa melihat semburat ketakutan di wajahmu, kak. Dinding berduri di belakangmu ... menantikanmu untuk berjalan mundur menghampirinya.”
Berhati-hatilah..
Ceklek..! Bunyi kenop pintu yang berputar terdengar nyaring, memecah keheningan sesaat. Zira, gadis kelas 12 masuk dengan tergopoh-gopoh. Di tangannya dia memapah sebuah kotak yang kira-kira ukurannya mencapai 30 cm.
“Wah, apa itu, kak?” Fally yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampirinya. Dia berbasa basi sembari bergerak cepat memindahkan kotak tersebut ke tangannya.
“Dapur asrama ramai sekali. Banyak yang sedang berlatih memasak untuk Permainan Kelompok nanti.” Zira menyeka peluh di dahinya, lantas berbaring di lantai yang dingin. Ketiga juniornya bahkan Alexa bergegas mengambil posisi, duduk melingkar dan menikmati croissant gratis bersama. “Oh ya, di mana si ketua kamar? Aku tidak melihat batang hidungnya sejak aku keluar.”
“Dia pergi pagi-pagi sekali setelah mandi,” jawab Fally.
“Berarti dia belum sarapan, kan? Aih, dasar si kunyuk itu. Ke mana perginya dia dengan perut kosong?”
Baru juga dibicarakan, kenop pintu berputar menghasilkan bunyi yang khas. Ariana muncul dengan wajah bingung karena kehadirannya disambut oleh empat pasang mata yang tertuju pada dirinya.
“Ah, ya. Aku mengakuinya. Aku keluar tanpa memberitahu kalian.” Setelah meletakkan sepatu di rak, Ariana pergi menuju toilet. Dia berniat membersihkan diri terlebih dulu sebelum bergabung dengan anggota lain dan menyantap croissant.
“Apa dia pergi ke sasana kebugaran? Ataukah lari pagi mengitari gedung sekolah sebanyak sepuluh kali?” Sembari bermonolog, Zira menarik kaki Fally, meminjam pahanya sebagai alas untuk menumpu kepalanya. Sementara kakinya bebas menikmati dinginnya permukaan lantai, mulutnya masih tetap mengunyah.
“Kenapa kau berpikir begitu, kak?” tanya Karina.
“Yah, lihat saja wajahnya. Penuh dengan keringat.” Zira menarik kotak croissant, mengambil satu. “Tapi aku ragu dia pergi berolahraga dengan pakaian begitu.”
Setelan pakaian yang dimaksudnya adalah piyama tidur. Saat Zira terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh suara gaduh dari kamar mandi, ia melihat si ketua kamar Ariana itu sedang mencuci baju. Begitu pekerjaannya selesai setelah semua pakaiannya dijemur di balkon, Ariana pergi ke luar. Namun kali kedua itu cukup lama dibanding saat dia pergi ke laundry untuk meminjam pengering pakaian. Tahu-tahu saja dia muncul satu jam kemudian dengan kondisi penuh keringat begitu.
Pintu kamar mandi terbuka. “Oi, ini sepatu siapa?” Ariana melongokkan kepalanya, mengulurkan ember kecil berisikan sepasang sepatu yang masih basah.
“Ah, itu milikku.” Karina bergegas bangkit, buru-buru memindahkan ember tersebut ke tangannya.
“Ambil dan jemur di balkon. Hati-hati dengan talinya, bisa-bisa terbawa angin.”
Karina mengangguk, mengerti dan menerima atas saran yang diberikan. Lantas ia pun pergi membawa ember berisikan sepatunya ke balkon, mulai mencari tempat yang terkena cahaya matahari paling banyak. Sejenak, ia khawatir tentang potensi sepatunya yang dapat terjatuh jika tidak sengaja tersenggol atau karena alasan konyol lainnya, jadi akhirnya ia memutuskan untuk meletakkannya di kursi—tempat teraman karena di kamar ini sudah ditentukan siapa-siapa yang dapat menempati kelima kursi tersebut; mencegah para gadis saling berebut.
Selanjutnya, sepasang tali sepatunya. Ia menggantungkannya di tali jemuran yang kebetulan berisi cucian baju Ariana.
Atensinya mendadak teralih ke lantai, sadar akan sebuah benda yang jatuh melewati lengannya—sepertinya tersenggol saat ia mencoba menggeser pakaian si senior untuk mendapatkan tempat. Dia membungkukkan badan, mengambilnya. “Sebuah kalung?” Karina memperhatikan sebentar sembari mengambil kesempatan untuk mengagumi betapa indahnya warna yang terpantul dan mengkilap saat cahaya matahari menerpanya.
Dia tahu Ariana memang suka mengenakan kalung, namun baru kali ini ia melihatnya secara langsung karena biasanya liontin kelopak bunga nan cantik ini tersembunyi di balik kerah seragamnya.
“Lho, Alexa pergi ke mana?” Karina kembali ke lingkaran para gadis yang sedang menikmati croissant. Dia bertanya sesaat atensinya tak menangkap batang hidung si juniornya yang sedang sakit itu.
“Katanya dia mau cari udara segar.” Zira menyahut, jari telunjuknya diarahkan ke pintu utama.
“Aih, dasar si kepala besar.” Karina lantas memacu kakinya, pergi ke luar untuk menyusul Alexa.
Baru beberapa langkah yang diambilnya saat ia melewati kamarnya dengan tergesa-gesa, atensinya langsung menangkap seseorang sedang berdiri di pembatas koridor. Jaket tebal yang selalu dipakainya sepanjang malam tersampir di sebelahnya, membiarkan dirinya hanya terbalut oleh kaos tipis. Dia menundukkan kepalanya, rambut panjangnya melambai-lambai seolah menikmati udara yang bertiup dari atap gedung asrama.
“Oi, bocah.” panggil Karina, dia ikut berdiri di sebelahnya sembari memperhatikan para guru dan petugas asrama yang sedang sibuk bekerja di bawah. “Kau sudah sembuh? Secepat ini?”
Alexa tersenyum, mengangkat bahu. “Aku hanya merasa jauh lebih baik dengan berada di sini.”
“Yah, kau memang anak yang aneh.”
Dibantu dengan dua rekannya yang siap berjaga di sampingnya, Pak Sion dengan hati-hati memasukkan gulungan kertas yang telah dilumuri zat pembakar, kemudian menyalakan pemantik untuk menyulut api. Dalam hitungan detik, si jago merah mulai menampakkan diri, semakin besar dan semakin menjilat-jilat kerucut pembakaran sampai ke kayu teratas. Hawa panas pun mulai menyebar cepat bersamaan dengan serbuk kayu yang beterbangan. Para panitia penyelenggara baik guru maupun petugas asrama bertepuk tangan secara serempak sebagai bentuk keberhasilan dalam sekali uji coba. Jarang-jarang seperti ini karena biasanya selalu terjadi macam-macam kendala, seperti beberapa kayu yang lembab, cuaca tidak mendukung (berangin dan hujan tanpa tanda-tanda), dan pemicu api (gulungan kertas) yang tidak pernah bisa diajak kerja sama.
Cekrek.. Karina tersenyum, berhasil memotret momen manis tersebut menggunakan ponselnya. Dia membatin sepertinya ini adalah hari yang baik, firasatnya pun mengatakan Permainan Kelompok Asrama kali ini akan membawa getaran berbeda dari sebelumnya.
“Kak Rina,” panggil Alexa, dia menolehkan kepalanya pada si senior. “Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
“Tidak,”
“Apa kau sedang melarikan diri?”
Bahunya sedikit tersentak. Dia menoleh. “..Hu? Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”
“Aku merasakan energi asing mengikutimu. Seperti ... kau sedang dikejar olehnya.”
“Lagi-lagi kau beromong kosong.”
Alexa cemberut, lantas menarik kedua bahu Karina supaya menghadap dirinya. “Aku bicara serius. Lagi pula aku hanya memberitahu. Entah alasan apa yang membuatmu melarikan diri, itu bukan urusanku. Aku hanya khawatir.”
“Kenapa kau harus khawatir padaku?”
“Hanya ... kurasa kau cukup baik dan paling mengerti aku. Walau aku tahu kau memaksakan diri, tapi aku yakin kau tulus melakukannya. Kau bukan orang jahat.”
“Aih, kau pandai bicara sekarang.” Karina tertawa tipis, terbawa suasana betapa anehnya situasi saat ini. Si junior yang selama ini dibicarakan yang tidak-tidak baik di belakangnya maupun di depannya, kini berkata dengan percaya diri bahwa ia adalah sosok senior yang baik hati. Konyol sekali timbal balik yang tak disangka-sangka ini, dia jadi bingung bagaimana cara meresponsnya. “Oh ya, omong-omong, aku tidak melarikan diri. Justru aku di sini untuk mengejar seseorang yang melarikan diri.”
Pada dini hari yang sepi, suara derap kaki seseorang menuruni tangga terdengar jelas. Manik mata Karina segera tertuju pada ujung koridor yang kebetulan berjarak tiga kamar dari kamarnya, mendapati dua orang sedang berlalu dengan langkah tergesa; Villy dan Ayaa.
“Mungkin kau tidak menyadarinya,” kata Alexa lagi.
Seketika, jantung Karina terasa berhenti sejenak. Dia merasakan getaran aneh mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Benar juga ... Kalimat itu seperti berdengung di dekat telinganya, mengirimkan sinyal asing yang kemudian diterjemahkan oleh otaknya.
...• • • • •...