[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Berkemah
Mereka sudah menunggu. Sebagian besar sudah datang. Ada pos penjaga di bawah. Mobil Bagas terparkir di sana.
Papa Mayang membantu Bima mengeluarkan barang-barang. Ia merasa lebih lega, tempatnya terjangkau kendaraan. Ada lampu, ada pos jaga.
"Pak, titip anak-anak saya ya, Pak," Katanya beramah-tamah pada Bapak Penjaga.
"Siap, Pak. Saya pastikan aman."
Papa Mayang melambaikan tangan dari jendela kemudi. Mobil melaju pergi.
"Loh, Bima bawa tenda lagi?" Susi menatap heran. Dialah panitia utamanya. Ia yang mendata semua anak yang ikut.
"Iya. Soalnya Bima bawa kamera sama gitar. Takut nggak muat," ia beralasan sambil menunjukkan tentengannya.
Kemarin di kelas, Bima menyimak pengumuman yang dibacakan Susi. Ada 9 anak laki-laki yang ikut. Kalau satu tenda diisi 3 anak, ada kemungkinan Bagas satu tenda dengannya. Bagas pasti akan meminta Susi agar mereka tidak satu tenda. Tapi Bima tak mau kalah taktik, ia tak tahu apa rencana Bagas. Ia harus waspada.
Tenda-tenda sudah dibangun sebelumnya. Papa Bagas yang menyewanya khusus. Semua makanan yang diperlukan sudah disiapkan. Dimintanya satu orang lagi yang khusus bertugas untuk melayani dan membantu anak-anak selama camping.
Tak berapa lama kemudian semuanya sudah berkumpul. Susi mendata ulang meraka. Ada 8 anak laki-laki yang akan menempati tiga tenda. Kecuali Bima. Bima bawa tenda sendiri. Ada 15 anak perempuan. Berarti 5 tenda. Semuanya pas. Agar tak ada yang saling memilih teman setenda, Susi membuatnya adil. Ia menyiapkan gulungan kertas berisi nama-nama anak. Semua diacak menjadi 8 bagian. 3 kelompok laki-laki dan 5 kelompok perempuan.
Setelah sepakat, mereka naik ke bukit. Pak Yanto, karyawan kebun teh yang ditugaskan untuk membantu anak-anak, membimbing mereka ke atas. Penjaga di bawah yang satunya lagi juga ikut mengantar.
"Saya bantu bawakan, Mas," Pak Yanto menawarkan bantuan pada Bima. Tas kamera dan bajunya ia bawa sendiri. Gitar dan tas tenda berukuran sedang dibawakan Pak Yanto. Semuanya ringan saja. Bima tak menolak dibantu. Ia tahu Mayang akan kesulitan naik, Bima bisa lebih mudah membantunya kalau tangannya kosong.
Jalanan mudah dilalui. Jalanan dibuat sedemikian rupa agar mudah dijangkau, agar para pemetik teh dapat berjalan dengan leluasa. Namun semakin menuju atas, jalanan semakin sulit. Mayang dan Bima di barisan paling belakang. Mereka melewati batu cadas yang lumayang besar. Bima bergerak gesit lebih dulu, Mayang yang nampak kesulitan ia bantu. Tangannya ia ulurkan. Mayang menyambut dengan senang hati. Bagas mengawasi mereka berdua dari atas dengan tatapan tak suka.
Mereka akhirnya sampai di atas. Tanahnya rata, rerumputan terbentang bagaikan permadani. Tenda-tenda sudah terpasang. Tak jauh dari situ ada gudang berisi alat-alat pertanian. Di sampingnya ada bilik toilet.
Bima menurunkan ranselnya. Dengan gesit ia memasang tenda. Kemarin ia sudah memasangnya dengan Om Wira dengan mudah. Tentu ini lebih mudah. Mayang membantunya. Tenda terpasang tak jauh dari api unggun. Hanya di situ tempat yang memungkinkan dan tempat paling muat.
Bima akui pemilihan tempat ini cukup bagus. Walaupun sekali lagi ia tetap kurang suka karena ini tempat Papa Bagas. Pemandangannya cantik. Sore ini langit terlihat sempurna. Matahari masih terang benderang, tapi udara teramat sejuk.
Bima mengeluarkan kameranya, tripod, microphone serta alat-alat lain.
"Bim, bikin video tentang kita dong. Buat kenang-kenangan," Susi mengusulkan. Banyak yang menyetujuinya. Hampir semua. Hanya Bagas yang terdiam pura-pura tak tertarik. Lagi pula ia memang tak tertarik sama sekali.
"Bim, kita semua nonton loh youtube kamu sama Mayang. Bagus-bagus videonya. Nanti kamu unggah ke youtube boleh juga," Bani mengusulkan. Mereka setuju.
"Iya, bagus ya kalau tahun terakhir kita ada kenangannya. Seru pastinya nanti kalau kita udah nggak bareng-bareng lagi ada yang dikenang."
Awalnya Bima membawa kamera dan gitar untuk merekam video ia dan Mayang bernyanyi. Latar belakang kebun teh dan pegunungan dipikirnya akan bagus sekali nantinya. Tapi ide ini boleh juga. Semuanya setuju.
"Kayaknya mendingan diunggah ke youtube deh. Biar kita gampang nyarinya kalau kangen," Raline menambahkan. Matanya berkaca-kaca. Papanya Tentara, ia pindah tugas ke Jogja bulan lalu. Harusnya ia ikut pindah. Tapi Papanya memutuskan agar ia tinggal dengan Mamanya di sini dulu sampai lulus, baru pindah ke Jogja. Sekalian nanti dia bisa kuliah di Jogja setelah lulus.
"Ah, jangan nangis. Jangan sedih. Kita dia sini mau seneng-seneng kan?" Susi memeluk Raline yang mulai ingin menangis. Susi pencair dan penengah segala kondisi.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹