Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA IKHLAS DAN DENDAM
"Ini ya Mbak, sayurannya. Ada lagi gak yang mau dibeli?" tanya gadis penjual sayuran di pasar tempatku biasa berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sekantong kresek diberikannya padaku.
"Em... Udah Mbak, itu aja... Ini uangnya..." jawabku dengan memberikan senyuman padanya. Kuberikan uangnya, dan ia nampak membuka laci untuk mencari kembalian.
"Em, Mbak, Bude Uti sama Pakde Yono kemana? Kok gak jualan lagi sekarang?" tanyaku.
"Iya Mbak, Bude Uti masih sakit. Terus Pakde Yono juga lagi ada panggilan buat proyek kerja bangunan di kota. Baru aja kemarin dia berangkat. Jadi sekarang saya yang gantiin jaga lapak sayurannya." jawabnya sambil menghitung uang recehan sebagai kembalian.
"Lima ribu, tujuh ribu, sembilan ribu lima ratus. Ini Mbak kembaliannya..." ucapnya. Dan aku terima kembalian itu dengan sopan. Beberapa detik aku memandangi wajah gadis itu. Ada rasa sedikit enggan ingin bertanya.
"Ada apa Mbak?" tanyanya padaku.
"Eh, gak apa-apa Mbak. Kalo boleh tau, Mbak namanya siapa ya? Soalnya baru hari ini saya liat Mbak gantiin jaga lapak sayurnya."
"Owalah, kirain ada apa... Habisnya Mbak ngeliatin saya kayak serius gitu. Kenalin, nama saya Risa Mbak. Saya anak dari kakaknya Pakde Yono." jawabnya sambil menjulurkan tangan kanannya. Terlihat ceria sekali wajah gadis itu, senyumnya yang nampak manis dengan bibirnya yang tipis. Dan wajahnya nampak natural kecantikannya tanpa make up yang berlebihan.
"Oh... Mbak Risa ya... Kenalin juga Mbak, nama saya Nisa." jawabku sambil menyambut tangannya.
"Owalah, Mbak Nisa toh... Salam kenal ya Mbak. Jangan bosen belanja di sini. Hehehe..."
"Hehe... Iya Mbak, saya juga udah lumayan lama langganan sama Bude Uti kok. Tenang aja..." jawabku.
"Ya udah Mbak Risa, terima kasih ya." ucapku lagi.
"Iya Mbak Nisa, sama-sama..."
Dan langsung datang lagi orang lain yang berbelanja di lapak sayurnya. Terdengar juga orang lain itu menanyakan kabar Bude Uti yang ternyata masih sakit.
Beberapa langkah aku menjauh, entah kenapa, ada rasa ingin lagi kumenoleh ke belakang.
Aku terhenti langkahnya, menoleh, dan melihat kembali wajah Mbak Risa itu. Dan beberapa detik kemudian, dia pun melirik ke arahku. Dengan senyum manisnya, dan wajahnya yang cantik natural.
Tapi... Seperti ada sesuatu di balik tatapan matanya itu. Dan terasa sepersekian detik, senyumnya menyeringai memiliki aura yang agak berbeda. Aku acuhkan semua itu, dan berjalan meninggalkannya.
Di ujung area pasar, aku lihat ada pedagang ikan, dan aku berhenti karena tiba-tiba ada rasa ingin masak ikan goreng buat bapak di rumah.
"Pak, ikan lele berapa harganya?"
"Ikan lele satu kilo harganya tiga puluh lima ribu aja Dek." jawabnya.
"Oh... Kalo yang ini ikan apa namanya Pak?" tanyaku sambil menunjuk.
"Ini ikan salem Dek, enak dagingnya, empuk, lebih gurih dari ikan lele rasanya." jelasnya.
"Harganya berapa Pak?"
"Kalo ikan salem sekilo harganya empat puluh ribu."
"Oh... Em, boleh gak Pak saya beli ikan lele setengah kilo, sama ikan salemnya setengah kilo? Tapi harganya jadi empat puluh ribu aja... Boleh?" pintaku sambil menawar harga supaya agak lebih murah sedikit.
"Boleh aja kok Dek..." jawabnya tanpa pikir panjang. Mungkin karena dia juga sudah terbiasa menjual ikan dan sudah lihai menghitung keuntungan dari tawaran kaum ibu-ibu.
Ketika sudah dibungkus ikan pesananku, aku berikan uang sesuai harga yang aku tawar. Dan kuucapkan terima kasih. Aku langsung beranjak pergi meninggalkannya.
Ketika sampai di area parkir sepeda motor, aku berjalan menghampiri sepedaku. Meskipun bukan motor, tapi tetap saja aku harus memarkirkan sepeda di sini. Lalu datang seorang penjaga parkir. Aku langsung paham, dan kuberikan selembar uang dua ribu rupiah kepadanya. Aku langsung taruh semua belanjaanku dalam keranjang depan.
Saat hendak menaiki sepeda, tiba-tiba saja datang Haris, salah satu murid mengajiku.
"Doorrr!" dia mengagetkanku.
"Astaghfirulloh! Yaa Alloh, Haris! Bikin Ibu kaget aja sih?"
"Ahahaha... Maaf ya Bu... Habisnya kan jarang aku ketemu Ibu di pasar. Hehehehe..."
"Aduh... Iya sih... Tapi jangan ngagetin gini. Gak baik itu Haris. Kalo Ibu jantungan gimana?"
"Hahaha... Kan emang Ibu udah punya jantung..."
"Iya sih, bener... Tau ah..." jawabku sambil sedikit melengos.
"Eh, kamu sama siapa di sini? Kok sendirian Ris?"
"Itu... Sama Ibu saya..." jawabnya sambil menunjuk ibunya yang sedang menawar ikan di tempat aku beli ikan tadi.
"Oh... Sama Ibumu ya."
Saat ibunya Haris menoleh ke arahku, masih di depan penjual ikan, dia tersenyum sambil menyapaku sebentar. Dan aku jawab sapaannya.
"Eh, Bu, saya mau tau dong..." kata Haris.
"Mau tau apa?"
"Mau tau setan itu kayak gimana sih? Emang beneran serem ya Bu?"
"Eh... Gak boleh kalo pengen tau itu. Nanti kamu gak bisa tidur kalo malem!"
"Tapi Ibu bisa liat setan kata Ibuku." jawabnya sambil menunjuk ke arahku.
"Eh... Hehehe... Itu cuma bercanda aja Ibumu. Gak beneran kok Ris."
"Oh gitu ya Bu..." responnya yang masih polos itu memang masih mudah untuk kubohongi soal jawaban yang sebenarnya.
"Ya udah Ris, Ibu mau pulang dulu ya." aku usap kepalanya, dan aku melambaikan tangan ke ibunya Haris. Dan aku segera menaiki sepedaku. Meninggalkan pasar.
Selama diperjalanan, aku berpikir dan bergumam sendiri. Tentang diriku, tentang bapakku, dan tentang semua kejadian malam itu.
Setelah kejadian satu tahun yang lalu itu, di malam yang hampir membuatku mati, semua warga desa mengetahui apa yang terjadi. Kabar tentang itu segera menyebar luas dengan cepat dari mulut ke mulut. Dan beragam reaksi dari warga pun aku rasakan.
Ada yang tetap menerimaku, dan menguatkanku. Ada juga yang biasa saja. Ada juga yang mulai berubah sikapnya kepadaku dan kepada bapakku. Bahkan ada juga yang menganggap apa yang terjadi pada bapakku malam itu, karena ulang sesuatu yang jahat.
Tapi aku sendiri tak pernah berani mengatakan yang sejujurnya aku alami kepada siapapun. Bahkan kepada Ustadz Furqon sekalipun. Aku hanya mendengarnya percaya bahwa itu murni kerasukan semata.
Tapi... Aku mencoba menerima semua itu. Dengan ikhlas.
Namun sesekali, saat aku berada di sisi bapak, terlintas selalu ingatan tentang sosok itu yang hampir mengambil jiwa bapakku. Dan selalu terngiang-ngiang ucapannya padaku.
"AKU HANYA PESURUH..."
Ucapan itu selalu teringat. Selalu membawa perasaan takut. Selalu menghadirkan rasa ingin membalas.
Terlebih lagi, aku ingin tahu siapa orang yang berada di balik sosok itu. Seseorang yang hendak menumbalkan Pak Handoyo. Dan gagal, kemudian mengincar bapakku sebagai penggantinya.
"Yaa Alloh... Apakah boleh kalau hamba ini membalasnya?" gumamku dalam hati sambil mengayuh sepedaku. Melewati area perkebunan yang cukup ramai dengan para pekerja.
Beberapa meter berikutnya, aku berhenti. Sengaja aku hentikan sepedaku, karena ingin mengenang bagaimana bapakku bekerja keras di area perkebunan ini.
Terlintas jelas dalam ingatanku, saat aku sesekali menemani bapak di kebun. Walau diriku tak melakukan apapun, tapi bapak tampak senang ditemani olehku.
Tampak juga beberapa pekerja kebun yang menyapa saat aku berhenti. Beberapa di antaranya menanyakan kabar bapakku. Yang memang sejak satu tahun lalu, dirinya tak bisa lagi beraktifitas dengan normal.
Ada juga yang menyapa sambil menawari singkong goreng. Dan mengajakku mengobrol sebentar, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Semilir angin berhembus membelai wajahku, memberikan sebuah ketenangan yang terasa semu bagiku.
Meskipun angin berhembus dengan sejuk, tapi seolah ia berbisik padaku.
Membisikkan tentang kejadian setahun lalu...
Membisikkan semua ingatan itu...
Membisikkan agar hatiku menerima dengan ikhlas apa yang sudah menjadi ketentuan Alloh...
Dan juga...
Seperti membisikkan rasa ingin membalas yang kuat...