Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Saling memperebutkan Alea
Beberapa hari berlalu, dan Arinta menjalani kesehariannya dalam kesendirian tanpa kehadiran Alena dan Alea. Dia sudah mencoba melakukan berbagai cara seperti menghubungi teman-temannya Alena, tapi gak ada satupun yang tau kemana wanita itu pergi, bahkan Andini pun bungkam. Bertanya dengan para tetangga, mereka hanya memberi informasi yang tak lengkap. Mereka hanya mengaku memang melihat Alena pergi dengan sebuah mobil.
"Kamu ini sebenarnya kemana sih, Len!? Kenapa kamu sengaja menghindari aku tanpa alasan!?" Pria itu mengacak rambutnya dengan rasa frustasi dan amarah di pagi itu.
Lucunya Arinta seolah tidak merasa kalau ia pernah melakukan kesalahan, dan kepergian Alena dianggap sebagai suatu keanehan tak jelas.
Di tengah rasa frustasinya Arinta akhirnya mendapatkan ide. "Astaga, kenapa aku gak kepikiran buat pergi ke sekolahan Alea aja?" Senyumnya langsung mengembang licik. Kenapa gak sejak kemarin saja dia pergi ke sana. Dia yakin Alea pasti masih sekolah. Alena gak mungkin membiarkan gadis itu bolos atau ketinggalan pelajaran sekalipun si anak baru sembuh dari sakit. Dia tau kerasnya Alena soal pendidikan.
Akhirnya dengan hati mantap Arinta pun bergegas untuk pergi menyusul ke sekolahnya Alea.
.
.
Namun sayang saat tiba di sana sepertinya ia terlambat karena anak murid sekolah itu sudah masuk ke dalam kelas. Suasana sudah tampak sepi. Arinta pun tak bisa menemukan sosok Alena di sekitar jalan.
Apa dia sudah pergi...? Pikirnya saat tak berhasil menemukan keberadaan Alena. Ia hanya menemukan sosok seorang guru wanita yang masih berdiri di ambang gerbang dan hendak menutupnya.
Arinta bergegas turun dari dalam mobil. Langkahnya tergesa saat melihat pintu gerbang sekolah hendak di tutup.
"BU! TUNGGU DULU, BU!"
Dari kejauhan ia sudah berteriak dan berlari. Wanita yang sedang memegang pintu gerbang itu langsung berhenti dan menoleh ke belakang, menatap heran saat melihat seorang pria berlari ke arahnya dengan wajah yang agak panik dan berpikir lelaki itu pasti sedang ada masalah.
"Bu, maaf, apa anak kecil yang bernama Alea masuk sekolah?" Tanya pria itu setelah berhasil tiba di gerbang sekolah dengan napas yang sedikit tak beraturan.
Wanita itu tak langsung menjawab. Ia memandangi Arinta terlebih dahulu dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti sedang meneropong pria itu. Jujur ia tak mengenali sosok pria ini. Biasanya ia hapal dengan ara orang tua yang biasa datang mengantar dan menjemput anaknya. Keraguan pun muncul di wajah sang guru.
"Bapak siapa, ya? Alea baru saja masuk ke kelas," ucapnya dengan nada setengah curiga.
"Saya Ayahnya Alea, kalau boleh tau tadi yang mengantar Alea siapa ya, Bu?"
Kecurigaan sang guru semakin besar. Masa seorang suami bisa gak tau kalau anaknya sendiri selalu diantar oleh sang istri? Antara laki-laki ini bukan lah ayah Alea atau mungkin pria ini sedang ada masalah dengan istrinya sendiri.
"Ya seperti biasa, Pak. Alea 'kan selalu di antar sama Ibunya ke sekolah," jawab sang guru yang terdengar sedikit nyindir.
Ah syukurlah, Alena masih mengantar Alea..., ucapnya dalam hati yang berpikir kalau Alena masih beraktifitas seperti biasa, itu artinya dia gak apa-apa.
"Makasih, Bu atas informasinya." Lelaki itu tersenyum kemudian dan pergi lagi ke arah mobilnya.
Sang guru hanya melihat sekilas orang itu masuk ke dalam mobil, lalu langsung menutup pintu gerbang dan menggemboknya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam untuk mengajar.
Arinta yang merasa sedikit lega setelah mendapat penjelasan itu segera memarkirkan mobilnya ke tempat yang lebih aman di sebuah pinggir jalan, di bawah pohon kecil. Dia memutuskan untuk menunggu Alea keluar sekolah.
.
.
Arinta terbangun karena terkejut mendengar suara teriakan anak-anak dari arah luar mobil. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan menyadari suasana di luar sekolah sudah begitu ramai dengan kerumunan anak kecil dan para wanita juga banyaknya motor yang terparkir. Seketika ia langsung panik menyadari itu berarti ini adalah jam pulang sekolah, dan Alea pun harusnya juga keluar kelas.
Tanpa berpikir panjang pria itu buru-buru keluar mobil dan mencoba mencari-cari Alea yang mungkin berada di antara orang-orang ini.
Untungnya ia baru saja melihat sosok Alea yang baru keluar dari dalam. Gadis kecil itu sedang menyalami tangan sang guru. Arinta tersenyum lebar, ia merasa bahagia akhirnya bisa melihat wajah sang anak yang sejak tiga hari terakhir absen dalam hidupnya.
Arinta kemudian melangkah menuju ke arah sang buah hati, namun suara wanita yang begitu dikenalnya menghentikan gerak tubuh Arinta.
"Alea...!!"
Wanita itu tak lain adalah istrinya sendiri. Ia berlari menghampiri Alea sambil memeluk tubuh kecil itu. Keduanya tampak bahagia, meski tanpa kehadiran dirinya. Ada sesuatu yang Arinta sulit jelaskan, ia merasa seperti sudah kehilangan sesuatu yang berharga meski keduanya tampak ada di depannya nyata.
"Pulang yuk!!"
"Ayuk, Mamih!! Alea mau cepat-cepat pulang, mau liat ikaaaaaan!!"
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan dengan si kecil yang menggoyang-goyangkan tangan si ibu dengan antusias. Alena saat itu tak menyadari kehadiran Arinta. Tatapannya terlalu fokus ke arah sang anak.
"Len...." Arinta tak bisa menahan diri lagi. Ia pun segera berdiri menghampiri istri dan anaknya itu.
Langkah Alena seketika berhenti. Tubuhnya langsung kaku, matanya menatap tak percaya saat melihat Arinta sudah berdiri di depannya. Bibirnya pun membisu.
Reaksi Alena begitu kontras dengan Alea yang langsung berteriak senang.
"PAPIIIIHH!!"
Alea langsung melepaskan genggaman tangannya dari Alena dan berlari kecil ke arah Arinta.
"Alea, sini sayang!!" Arinta berjongkok dan melebarkan kedua tangannya saat melihat Alea dengan wajah senang menghampirinya.
"Yeaaaay, Papih sudah pulang!!!"
Alena merasa seperti membeku melihat pemandangan itu. Hati kecilnya merasa sedikit terkhianati oleh sang anak. Betapa kerasnya ia berusaha selama beberapa hari ini untuk membuat Alea tak mencari Arinta dan ingin membuat si kecil terbiasa tanpa kehadiran sang ayah. Pada akhirnya anak itu tetap saja membutuhkan ayahnya, bahkan terlihat sangat bahagia.
"Alea kok pergi enggak bilang Papih, sih? Papih nyariin 'kan," ucap Arinta yang sepertinya sedang sengaja memancing sang anak.
"Kata Mamih, Papih sibuk!!" Seperti dugaan, Alea menjawab dengan jujur.
"Kamu apaan sih, bertanya kayak gitu ke Alea?" Alena langsung merasa gusar. "Alea, sini sama Mamih!" Ia berusaha menarik tangan sang putri tapi anak itu menolak.
"Ih, Alea mau sama Papih!" Gadis kecilnya menarik kembali tangannya dari genggaman Alena barusan.
"Alea, jangan bandel! Ikut sama Mamih! Katanya kamu mau liat ikan 'kan?" Alena setengah membujuk setengah nya lagi mengomeli Alea agar mengerti.
"Ya udah, Alea mau lihat ikan sama Papih!" Ucapan Alena hanya memberikan ide baru di kepala sang buah hati.
"Oh, mau lihat ikan di mana?" Tanya Arinta memancing halus tanpa menghiraukan Alena yang sudah terlihat kesal.
"Ada, Pih! Di rumahnya Tante Nini!" jawab Alena membuat Arinta mengernyit.
Nini? Siapa itu Nini??? Setahuku Alena gak punya teman yang bernama Nini, kecuali....
"Bukan Nini, tapi Tante Dini ya?" Ujarnya yang langsung mendapat anggukan dari Alea. Ternyata benar Andini? Sialan dia, kenapa kemarin-kemarin dia belagak gak tau!!!
"Alea mau lihat ikan?" Tanya pria itu mencoba merebut hati putri kecilnya.
"Mau Papih!"Jawab Alena cepat dan antusias.
"Gak! Mamih gak kasih ijin Alea sama Papih!" Alena secara kasar menarik Alea begitu saja dari dekapan Arinta.
Kretek....
Arinta langsung menatap horror saat mendengar bunyi dari tangan anaknya itu, pun Alena yang sepertinya menyadari sesuatu.
"Sakit Mih!!!! Huwaaaaaa!!!"
Benar saja, hanya dalam hitungan detik tangisan Alea meledak di antara keramaian. Gadis itu menjerit kesakitan.
"Kamu gila ya!?" Arinta langsung menepis tangan Alena dan reflek memeluk Alea.
Alena tak bergeming. Dirinya terlalu shock untuk bereaksi bahkan ketika Arinta sudah membawa pergi sang putri.
Sesaat kemudian Alena tersadar dan melihat pria itu sudah masuk ke dalam mobil bersama Alea. Mau dibawa kemana putrinya?
Alena yang cemas langsung buru-buru mengikuti mobilnya Arinta dengan motor yang dipinjamnya dari Andini.
Maafkan Mamih, Alea..., Mamih gak sengaja....
Dia cemas dan memikirkan apakah Alea akan baik-baik saja?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang