NovelToon NovelToon
BIMA LOVERS

BIMA LOVERS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.

Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.

Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.

Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Help Me

Mohon maaf baru update

Selama dirumah mau nulis gak ada inspirasi, mood ilang

Ditambah harus bantu adek ngerjain tugas sekolah

Sorry bikin kalian menunggu, Cus aja.

Selamat membaca

Jangan lupa Vote, Komen dan Jempolnya (👍)

***

Bima duduk menyandar di sofa empuk mengangkat tangan memanggil waiter yang berlalu lalang membawa minuman dan mengambilnya. Sedangkan sahabat-sahabatnya masih bergoyang dengan pasangan mereka, maksudnya pasangan dadakan mengikuti musik. Bima hanya ditemani Arvind duduk disampingnya.

"Memikirkan sesuatu?" tanya Arvind. Karena sejak tadi Bima hanya terdiam gelisah. 

"Yah, begitulah." Jawab Bima sambil menyesap minumannya kembali menatap Arvind tidak puas akan jawabanya.

"Belum mau cerita? Aku pikir aku bisa bantu kamu, jangan pendam masalah sendiri. Kamu bisa berbagi dengan kami." 

Kali ini Arvind menyesap minumannya. Pandangan masih belum lepas dari wajah sahabatnya yang terlihat banyak pikiran. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Bima, entah tentang pekerjaan, keluarga atau cinta. Arvind tahu akan cinta masalalu Bima dengan wanita bernama Clara pacar pertama Bima. Mungkin orang akan berpikir kalau cinta masa SMP adalah cinta monyet, tapi pandangan orang itu berbeda. Apalagi Bima dan Clara pernah tumbuh dan besar bersama-sama.

Bukankah cinta tidak mengenal waktu dan kondisi? Cinta tidak mengenal muda atau tua? Cinta juga tidak mengenal lama atau tidak, artinya cinta tidak butuh alasan. Hanya resikonya tinggi yaitu harus siap disakiti atau menyakiti. 

Bima masih belum bisa menjawab pertanyaan Arvind yang masih menggantung.

Sesaat Bima menghela nafasnya. Menyandar badannya di tumpuan sofa dan kepalanya sedikit mendongak ke atas melihat langit atap yang berwarna-warni efek lampu yang sejak tadi masih terus berganti-ganti mengikuti musik DJ.

"Ada seseorang yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini." Bima bersuara masih dengan posisinya. 

Arvind menatap Bima penuh selidik. "Seseorang¿ siapa? Apa aku mengenalnya?" tanyanya penasaran. 

Bima menggelang. "Kamu gak mengenalnya. Dia一seseorang yang mirip dengan dia. Apa ada dua wanita yang memiliki kemiripan meskipun tidak memiliki ikatan keluarga?" cerita Bima membuat Arvind bingung. 

Mirip, tapi bukan ikatan keluarga? Apa maksudnya? Arvind melihat Bima sudah duduk dengan posisi menghadap ke depan matanya mengharapkan jawaban yang memuaskan darinya. 

"Bisa jadi, aku pernah baca beberapa artikel BBC Future, yang membicarakan soal tentang tujuh kembaran manusia di dunia. Ada yang membenarkan tentang itu ada juga yang menganggapnya sebuah mitos." Jelas Arvind, sedangkan Bima hanya memberikan respon anggukan, "Siapa wanita itu?" tambahnya bertanya. 

Sebelum menjawab Bima terdiam sesaat.

"Dia Hana!"

"Hana?" ucap ulangnya, secara Arvind tidak mengenal dan mendengar nama tersebut. "Siapa dia?" timpalnya. 

"My Secretary!" Jawab Bima lemas.

"Seriously?"

"Yeah…"

"Pasti kamu gelisah setiap hari harus berdekatan dengannya, kan. Maksudku kamu harus bertatap muka dengan wanita yang mirip di masa lalu." tebak Arvind. 

"Yah kamu benar, rasanya setiap menatap dan berdekatan dengannya, ada sesuatu yang membuatku selalu emosi dan rasanya ingin membuat wanita itu menderita. Meskipun dia tidak punya salah terhadapku. Yang salah itu karena Hana mirip dengan dia." tukas Bima mengusap wajahnya frustasi. Ia bukan pria yang tega apalagi pada wanita ada beberapa alasan ia melakukan hal tersebut.

Arvind menepuk pundak Bima. "Aku rasa kamu harus bisa membedakan hal pribadi dan hal kerjaan, jangan sampai membuat sekretarismu tidak nyaman apalagi berpikir kalau atasannya tidak profesional." Ungkap Arvind sebelum dia kembali bersuara. "Jangan ketara dalam memperlihatkan ketidaksukaanmu padanya. Mereka berdua berbeda, Bima." tambahnya.

Bima paham maksud Arvind. Mengobrol dengan sahabat yang satu ini selalu bisa memberikan jalan keluar. Tidak dengan kedua sahabatnya yang lain selalu saja menambah masalah dan pikirannya. 

Tidak lama Fando dan Arsen datang menghampiri dan duduk dengan nafas terengah-engah. Membuat obrolan keduanya terhenti. 

"Sumpah! Malam ini benar-benar menyenangkan, bro." Seru Arsen sembari memegang dadanya. Nafasnya masih belum teratur. "Setuju!" Sahut Fando meninju pelan bahu Arsen di samping. 

"Sen, Do, nafas!" kata Arvind kemudian menggelang pelan akan ke antusias keduanya dalam pesta malam ini. 

"Shit!" keduanya mengumpat. 

"Biasa aja tuh nafas, bikin kita salah paham, tau gak. Kayak habis main aja." Cetus Bima melihat keduanya begitu lelah apalagi nafasnya mereka masih terengah-engah.

"Kamvret."

Bima dan Arvind hanya terkekeh geli dan tertawa kepada kedua pria playboy, di hadapannya. Mereka berdua hampir satu jam bergoyang kegirangan mengikuti musik. Sehingga melupakan keberadaan Bima dan Arvind sejak tadi duduk di sofa memperhatikan mereka bersama beberapa wanita.

"Kalian berdua gak asyik, datang ke acara party tapi malah duduk manis doang. Kalau mau begini di rumah juga bisa, bro. Payah kalian berdua!" Lontar Arsen menyudutkan Bima dan Arvind yang tidak ikut bergabung. 

Bima bukan tidak mau, tapi, memang keduanya tidak begitu menyukai acara pesta yang bersikap bebas seperti ini. Bima tidak peduli akan lontaran yang mengatakan tidak mudah bergaul atau sebutannya kuper. 

"Kita gak akan datang kalau kalian yang terus-terus maksa." tukas Bima tidak mau kalah. 

Keduanya nyengir. "Kalau gak dipaksa kalian gak mau datang.  Tora udah undang kita masa gak datang." kekeuh Arsen dengan pembelaannya. 

"Terus gimana buat acara kondangan minggu depan, kita datang kan? Bawa partner masing-masing?" Fando buka suara akan acara pernikahan Elgar teman SMA mereka. 

"Aku datang," Kata Arsen. 

Bima menyerngit curiga. "Sama siapa?"

"Sama calon bini lah, ayang Nabil." balas Arsen kemudian mengambil minuman di atas meja dan meneguknya hingga tandas.

Bima sudah tahu akan otak Arsen. 

"No! Gak aku ijinkan, cari cewek lain sih. Jangan dia. Anak koas kamu kan banyak, suster di rumah sakit banyak juga yang bisa kamu ajakin kondangan." Tolak Bima tidak setuju kalau Adiknya dibawa-bawa playboy kadal satu ini. 

Fando dan Arvind menjadi siaga. Lalu memperhatikan obrolan keduanya, menyangkut soal Nabila. Bima dan Arsen selalu bertengkar karena masalah ini. Bima hanya seorang kakak yang ingin melindungi Adiknya bukan hal lain.

"Pelit banget sih, kakak ipar…" Arsen dengan wajah memelas membuat Bima ingin muntah. "Kakak ipar dari hongkong!"

"Terus kamu sendiri mau bawa siapa, Bi? Hana, maybe?" Goda Fando membuat Arsen senyum-senyum sedangkan Arvind mengerut kening akan kedua sahabatnya mengenal Hana dan Arvind sendiri tidak kenal. 

Hendak menjawab, Arvind lebih dulu bersuara membuat Bima bernafas lega. Setidaknya bisa mengulur waktu jeda jawabannya. 

"Wait… kalian kenal Hana?" tanya Arvind.

"Jelas kenal, kita kan pernah ke kantor Bima." Ujar Fando. 

"Waktu itu kamu gak bisa datang karena ngajar." kata Arsen mengingatkan Arvind.

Arvind mengangguk.

Bima masih diam matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di bar. Bentuk tubuhnya mengingatkan pada seseorang.

"Bima…" Ia tersadar saat Arvind menepuk pundaknya, "Kamu liatin siapa sih?"

"Gak apa-apa, aku hanya一lupakan, tadi kalian bicara apa?" Bima mengalihkan pembicaraan membuat ketiga sahabatnya penasaran dan melihat ke arah yang dilihat Bima, tidak ada yang aneh.

"Fokus Bima, fokus!" ledek Arsen, dokter mesum. 

Bima tidak lagi mendengarkan ocehan sahabat-sahabatnya yang masih meledeknya. Matanya masih fokus pada wanita yang sedang duduk sendiri.

Apa mungkin dia? 

***

Jam sudah menunjukan pukul 22:28 malam. Hana masih duduk di depan meja bar menunggu sahabatnya. Malam semakin panas apalagi musik semakin keras. Ia mencoba menikmati malam ini tanpa memikirkan apapun, tapi tidak bisa, otaknya masih dipenuhi oleh pria itu, siapa lagi kalau bukan Bosnya. Hana tidak menyangka kalau Bosnya punya sikap yang manis apalagi melihat sikapnya yang selalu saja berubah-ubah bagaikan Bunglon.

Samar-samar Hana mendengar gelak tawa sahabatnya dan bergabung kembali dengannya. 

"Sorry, Hana, kamu pasti merasa bosan." Felix merasa tidak enak meninggalkan Hana dan malah bersenang-senang.

"Aku gak merasa bosan," Sanggah Hana. Jujur saja awal iya tapi untung saja ada Adam yang menemaninya mengobrol.

"Tadi kita lihat kamu lagi ngobrol sama cowok, siapa? Ayo cerita?" tiba-tiba Audy malah bertanya tentang seseorang yang tadi bersamanya. 

"Oh! Dia... " Felix dan Audy masih setia menatap Hana. "Siapa, Dia?" keduanya bersamaan. 

"Kepo ya?" Hana malah membuat keduanya penasaran. 

"Kasih tahulah…" Felix dengan wajah memelasnya. Audy mendengus kesal.

"Dia Adam." balas Hana. 

"Adam?" beo keduanya. 

"Yup… "

"Teman kerja kamu?" Felix kembali bertanya. Audy hanya bisa mendengarkan. "Bukan. Aku baru kenalan hari ini."

"Dapet kenalan juga, Na. Cakep gak?" tanya Audy antusias.

"Ehm gak tahu, kalian tahu sendirikan ini pesta topeng mana aku tahu wajah Adam cakep atau gak. Tapi kalau dilihat-lihat kayaknya cakep sih. Apalagi Adam adalah seorang fotografer profesional." Kata Hana memberitahu perihal Adam kenalan barunya. Hana tidak memberitahu lebih spesifik pada sahabatnya tentang Adam yang mengundangnya ke acara pameran. Menurutnya tidak begitu penting juga toh mereka baru kenalan. Masalah pertemanan, Hana cukup terbuka pada setiap pria yang ingin mengenalnya. Bukankah dia butuh teman hidup dalam kehidupannya. Ingin melupakan masa lalu yang pernah membuat Hana kecewa pada pria yang pernah hadir dalam hatinya.

"Keren dong…" 

Hana hanya membalas dengan senyuman kemudian arah pandangan bertemu dengan seorang pria yang sedang duduk dengan beberapa temannya mengarah pandangan padanya. Seakan mata mereka berdua bertemu. Menyadari hal itu ia memutuskan arah pandangan pada sahabatnya. 

Orang aneh!

"Kenapa, Na?" tanya Audy merasa ada yang tidak beres dengan Hana yang tiba-tiba murung. 

"Gak apa-apa, hanya lelah." Jawab Hana bohong, sekilas melirik pada pria tadi, sudah tidak memandangnya lagi. Hana bernafas lega. 

"Mau pulang?" Felix bertanya tangannya masih memegang gelas berisi minuman soda yang dia pesan.

Hana menggeleng. "Tidak masih ada waktu satu jam setengah lagi."

Felix mangguk mengerti. 

Mereka menikmati minuman dan mengobrol  meski suasana masih sangat ramai. Hana sudah mulai sedikit bosan karena sejak tadi hanya duduk tanpa berbuat apa-apa. Han sudah hampir tiga gelas minum dan itu membuatnya ingin ke toilet karena tidak tahan. 

"Aku ke toilet dulu… "

Hana melenggang begitu saja tidak memberi kesempatan Audy maupun Felix bicara.

Kepergian Hana tidak luput mendapatkan pengawas dari seseorang yang sejak masih memperhatikan kepergiannya.

Hana menembus keramaian orang-orang yang sedang dansa maupun bergoyang mengikuti musik. Ia melewati lorong tak tahu mengarah kemana dan agak sepi. Berjalan melihat arah lorong akhirnya menemukan toilet yang sedang di carinya. 

Tidak butuh lama Hana memasuki toilet lumayan sepi hanya ada dua orang wanita dengan pakaian ketat sedang mengaca dengan memoleskan lipstik ke bibir merahnya. Hana hanya melihat sekilas kemudian masuk kedalam.

Selesai dengan ritualnya Hana mencuci kedua tangan tanpa membuka topengnya. Pakaian dan make-up masih rapi tidak berubah. 

Hana keluar. Tiba-tiba ada seorang menarik tangannya dan Hana kaget karena merasa cekalan lengannya begitu erat. Ia berontak dan memukul bahu pria itu.

"Lepaskan, lepaskan sialan!" teriak Hana keras, ketakutan.

"Diam, kita bersenang-senang, cantik." kata pria itu malah membuat Hana berbidik ngeri.

Pria itu malah semakin menarik lengan Hana. Ia tahu kalau pria itu sedang mabuk, tercium dari pakaiannya begitu bau alkohol. Hana tidak bisa berbuat apa-apa karena lorong di tempatnya sekarang sepi tidak ada orang. 

Help me!

***

Jangan bosan ya!

Terima kasih

1
Vy Maniez
saya sudah baca berulang x tapi belum ada jga lanjutannya.
Hardiana Rahim
othorrnya kmana ini?sdh brp tahun ini gk prnh up?mirisnya/Grimace//Smug/
ros
ceritanya gantung belum di selesaikan
adm dome
udah 1thn ga ad update an thor.
Desi Nofita Sari
ad yg tau thornya kemn
Desi Nofita Sari
kemna si author nya kok gak pernah up date n gak ad keterangan juga, padahal suka sm novel karya thor
Zulfha Barawas
halo thor .. apa kabar .. kangen cerita nya .. udab lama gak up 😭😭😭😭
Desi Nofita Sari
kok blm update juga kaj
Desi Nofita Sari
kemna kah gerangan author ini kok gak update2, msh ditunggu untuk selesai ni thor, kmu sehat kan
Desi Nofita Sari
kak thor kok gak up2 si kasih tau dong kenapa,,,, kamu sehatkan
Herlan Budiman
ini author'y kmna ya? ko ga pernah d lanjut
Khey Rachmat
kok ga update lg thor sudah mau setahun.. aku kangen bima
Hana Rohana
gantung ,bolak balik cek ga ada up terus
Lia ajalah 💋
otor ba'a kabanyo nih...kok gak pernah up lagi,gantung deh ceritanya tor ✌️😥
Anonymous
Lanjut thor penasaran dengan cerita selanjutnya
Anonymous
bima
Anonymous
Yang A thor
Anonymous
Visual siapa thor?
Desi Nofita Sari
thor knm ni da lm banget gak up date
➺ʸᵃᵏ𝓢𝔂𝓪𝓪𝓪
Othorrrrr dimanakah engkau beradaaaa📢📢📢📢📢🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!