Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana licik Siska
Dua wanita yang di hampiri oleh Siska adalah Mita dan Bu Elma, mereka sangat penasaran apakah Kamila benar-benar telah dinikahi oleh Tuan Chen, dan rencananya mereka ingin meminta uang kepada Kamila, karena keduanya lagi-lagi kalah berjudi.
"Mah, apa yang harus kita lakukan? Kenapa wanita angkuh itu menghampiri kita?" Tanya Mita kesal
"Sebaiknya kita kabur saja Mit, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak!"
Siska menyeringai lebar saat tangannya berhasil mencengkeram kuat pergelangan tangan Mita. Matanya yang tajam bak elang kini menatap dua wanita yang tampak berantakan itu dengan penuh selidik.
"Mau kemana kalian hah? Kalian seorang mata-mata kan? Siapa yang telah mengirim kalian kesini, ayo jawab?" Desak Siska dengan nada membentak.
"Lepaskan! Sakit, Nyonya!" rintih Mita mencoba berontak, sementara Bu Elma gemetar ketakutan di sampingnya.
"Mata-mata? Bukan, Nyonya! Kami bukan penjahat. Kami hanya mencari Kamila!" seru Bu Elma dengan suara parau.
Siska seketika menegang. Nama itu lagi. "Kamila? Jadi kalian mengenal wanita kampungan itu? Apa hubungan kalian dengannya?"
Mita, yang melihat peluang dari kemewahan mobil Siska, segera mengatur raut wajahnya. "Saya kakaknya, dan ini ibunya. Kami ke sini karena mendengar kabar kalau Kamila sudah enak hidupnya di sini. Katanya... katanya dia sudah dinikahi oleh Tuan besar pemilik rumah ini, ya?" tanya Mita dengan mata berbinar penuh ketamakan.
Siska tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Dinikahi? Mimpi kalian ketinggian! Dia di sini cuma jadi susu peras untuk bayi Evan. Tidak lebih!"
Bu Elma dan Mita saling pandang, tampak kecewa namun otak licik mereka tidak berhenti berputar. "Cuma jadi ibu susu? Tapi tetap saja, dia pasti pegang banyak uang dari keluarga kaya ini kan, Nyonya? Kami butuh bicara dengannya. Kami sedang... kesulitan," rengek Bu Elma, membayangkan tumpukan uang untuk membayar hutang judi mereka yang baru saja ludes semalam.
Siska menyadari sesuatu. Kedua wanita di depannya ini adalah 'sampah' yang bisa ia manfaatkan untuk menyingkirkan Kamila. Ia melepaskan tangan Mita, lalu bersedekap. "Kalau kalian butuh uang, kalian datang ke orang yang salah jika mencari Kamila. Tapi kalau kalian mau bekerja sama denganku untuk memberi pelajaran pada wanita sok suci itu, mungkin dompet kalian tidak akan sekosong sekarang."
Mita dan Bu Elma seketika menelan ludah, ketamakan mengalahkan rasa takut mereka.
Sementara itu, di dalam ketenangan kamar mansion, Kamila masih mendekap Baby Zevan dengan penuh kasih. Suasana sunyi itu membuatnya larut dalam kenangan pahit yang belum sepenuhnya sembuh.
"Baby Zevan, aku sangat menyayangimu. Kau adalah penawar sekaligus obat penghilang lukaku," bisik Kamila lembut. Air matanya nyaris jatuh saat ia teringat pada makam mungil yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi. "Andaikan kita tidak bertemu, mungkin aku masih meratapi kesediahanku karena kehilangan putraku. Maafkan Ibu, Nak... Ibu sangat merindukanmu," ucapnya pelan sambil mengusap kepala Zevan.
Zevan yang sedang menyusu seolah mengerti kesedihan itu. Ia melepaskan hisapannya sejenak, menatap Kamila dengan mata bulatnya yang jernih, lalu memberikan senyum kecil yang sangat tulus. Sentuhan kecil itu membuat hati Kamila menghangat, seolah putranya yang telah tiada hadir kembali melalui sosok Zevan.
Di sisi lain kota, di gedung pencakar langit Chendana Group, suasana tampak jauh lebih formal dan tegang. Evan fokus pada layar laptopnya sampai Kevin masuk membawa tumpukan berkas.
"Ini dokumen untuk proyek sumber energi baru di Kalimantan, Tuan. Kerjasama dengan BUMN ini sudah memasuki tahap finalisasi lahan," lapor Kevin profesional.
Evan memeriksa berkas itu dengan teliti. "Bagus. Aku puas dengan rincian ini. Siapkan jadwal, aku sendiri yang akan meninjau lokasi tersebut. Kita tidak boleh ada celah dalam proyek besar ini."
Setelah urusan pekerjaan selesai, raut wajah Evan berubah menjadi lebih gelap. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. "Kevin, ada satu hal lagi. Siska mengklaim bahwa mendiang istriku meninggalkan wasiat kepadanya. Ia terus menekan ayahku dengan alasan itu."
Kevin mengerutkan kening. "Wasiat? Selama ini saya yang mengurus hampir seluruh administrasi pribadi mendiang Nyonya, dan saya tidak pernah mendengar hal itu, Tuan. Itu terdengar sangat janggal."
"Aku juga tidak mempercayainya," sahut Evan dingin. "Siska terlalu terobsesi. Aku khawatir dia akan melakukan hal nekat."
Evan menatap Kevin dengan tatapan memerintah yang tajam. "Mulai hari ini, pantau setiap pergerakan Siska. Cari tahu dengan siapa dia bertemu dan apa yang dia rencanakan. Aku yakin dia memiliki niat terselubung yang bisa membahayakan ketenangan rumahku, terutama Kamila dan Zevan."
"Baik, Tuan. Saya laksanakan segera," jawab Kevin tegas sebelum undur diri dari ruangan. Evan kembali menatap keluar jendela, merasa bahwa badai besar akan segera datang menerpa ketenangan Mansion Chendana.
.
.
Lampu-lampu kristal di koridor Mansion Chendana sudah berpijar saat Evan melangkah masuk. Jas hitamnya tersampit di lengan, sementara dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Meski lelah setelah berkutat dengan dokumen soal proyek energi terbarunya seharian, ada satu magnet yang selalu menariknya untuk segera pulang, yakni Zevan.
Langkah kaki Evan terhenti di depan pintu kamar bayi. Ia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu dengan pelan.
"Kamila? Apa kau di dalam?" panggilnya lembut.
Hening. Tidak ada jawaban. Evan kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras. Bayangan kejadian kemarin saat ia tanpa sengaja melihat Kamila sedang menyusui, mulai melintas di benaknya, membuat telinganya sedikit memanas. Ia tidak ingin mengulangi kecerobohan itu. Namun, rasa khawatir mulai merayap saat tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Krek!
Evan memutar kenop pintu perlahan. Ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk memastikan keadaan. Matanya seketika melembut melihat pemandangan di depannya. Di atas ranjang besar, Kamila dan Zevan tampak tertidur pulas. Zevan meringkuk nyaman dalam dekapan Kamila, tangan mungilnya mencengkeram erat ujung baju wanita itu seolah takut ditinggalkan.
Evan melangkah masuk tanpa suara, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap putranya yang bernapas teratur, penuh kedamaian. Namun, perlahan pandangannya bergeser pada wajah wanita yang memeluk putranya itu.
Dalam keremangan lampu tidur, wajah Kamila terlihat sangat tenang. Bulu matanya yang lentik tampak kontras dengan kulitnya yang putih. Evan terdiam.
'Kenapa dia terlihat begitu cantik saat tidur?'
Batinnya. Ada aura keibuan dan ketulusan yang memancar dari wajah itu, sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada Siska.
Seolah tersihir, tangan Evan bergerak sendiri. Dengan sangat hati-hati, ia menggerakkan punggung tangannya, mengusap lembut pipi Kamila. Sentuhan itu sangat ringan, namun cukup untuk membuat Kamila terusik dari tidurnya.
Kelopak mata Kamila bergerak, lalu perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Evan yang berada sangat dekat dengannya, dengan tangan yang masih menempel di pipinya.
"Tuan Evan?" bisik Kamila lirih, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Evan tersentak seolah tersengat listrik. Ia segera menarik tangannya dan berdiri dengan gerakan kaku. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak memerah, ia berdehem berkali-kali untuk menutupi kegugupannya.
"Ehh... itu..." Evan membuang muka, mencari alasan secepat kilat. "Tadi aku melihat ada seekor nyamuk hinggap di wajahmu! Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Aku hanya tidak ingin tidurmu terganggu oleh gigitan nyamuk."
Kamila mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia meraba pipinya sendiri. "Oh, benarkah? Terima kasih, Tuan. Maaf saya ketiduran, Zevan tadi sangat tenang jadi saya ikut terlelap."
Kamila segera bangkit dari posisi tidurnya, merapikan hijab instannya yang sedikit berantakan. Ia teringat sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak tadi siang. "Tuan... jika diizinkan, besok saya ingin meminta izin keluar sebentar. Saya ingin mengunjungi makam putra saya. Sudah beberapa hari saya tidak ke sana."
Evan terdiam sejenak. Ia menatap Zevan yang mulai menggeliat di atas kasur. Bayangan tentang Siska dan ancamannya tadi siang melintas di kepala Evan. Ia tidak bisa membiarkan Kamila pergi sendirian tanpa pengawasan, apalagi jika Siska benar-benar merencanakan sesuatu.
"Baiklah," ujar Evan tegas. "Kebetulan besok pagi aku tidak ada jadwal sibuk di kantor. Biar nanti aku antar."
Mata Kamila membulat. "Apa? Tuan mau antar saya? Tapi saya tidak mau merepotkan Tuan! Saya bisa naik taksi sendiri."
"Zevan juga akan kita bawa," potong Evan tanpa mau dibantah. "Putraku tidak bisa jauh darimu, dan aku tidak mau dia menangis histeris karena kau pergi meskipun hanya sebentar. Aku tidak suka mendengar suara tangisannya yang memecah konsentrasiku."
Kamila menelan ludah, masih merasa sungkan. "Tapi Tuan, ini hanya makam kampung yang biasa saja, Tuan tidak perlu..."
"Sudahlah, tidak ada tapi-tapian," tegas Evan sambil berbalik menuju pintu, berusaha mengakhiri kecanggungannya sendiri. "Besok jam delapan pagi kita pergi ke makam putramu. Pastikan semua keperluan Zevan sudah siap."
Brak!
Pintu tertutup rapat. Kamila masih berdiri mematung di samping ranjang, menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena tawaran Evan, tapi karena tatapan mata tuannya tadi yang terasa... berbeda.
Bersambung...
kopi untuk mu👍