"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Detektif Cadar dan Rahasia Zamrud
Misteri di Balik Senyum
Buku yang jatuh kini tersusun kembali,
Namun debar di dada Mas tak kunjung mati.
Siapakah dia yang hadir tanpa permisi?
Membawa gamis hijau dan sejuta privasi.
Aku melihat kilat yang beda di matamu, Mas,
Setelah belasan tahun hatimu terasa keras.
Mungkin Kairo tak hanya memberimu gelar,
Tapi juga cinta yang kini mulai berpijar.
Sepanjang jalan menuju Masjid Husain, Mas Azam lebih banyak diam. Langkahnya yang biasanya mantap kini sesekali tersandung kerikil kecil. Bungah yang berjalan di sampingnya terus melirik dengan mata jenaka. Ia tahu persis, kakaknya sedang "terserang" virus yang sama dengan yang ia rasakan pada Gus Zidan dulu: cinta pada pandangan pertama.
"Mas," panggil Bungah memecah keheningan.
"Hmm?" jawab Azam singkat tanpa menoleh.
"Kitab yang Mas pungut tadi... judulnya Fathul Bari, kan? Tapi ada catatan kecil di pinggirannya pakai bahasa Indonesia. Berarti dia orang kita, Mas. Orang Indonesia juga," pancing Bungah.
Langkah Azam terhenti seketika. Ia menoleh ke arah adiknya dengan mata membelalak. "Kamu lihat catatannya, Dek? Kok Mas nggak sadar ya?"
Bungah tertawa renyah. "Ya gimana mau sadar, Mas Azam kan fokusnya ke wajah mbaknya, bukan ke bukunya. Lagipula, dia tadi masuk ke gedung kedokteran. Jarang lho ada mahasiswi Indonesia yang ambil kedokteran di sini sambil bawa-bawa kitab hadis tebal begitu. Pasti dia bukan gadis sembarangan."
Azam berdehem, mencoba menguasai diri. "Sudahlah, Dek. Mungkin itu cuma kebetulan. Sudah, kamu masuk sana ke masjid, Syeikh sudah mau mulai."
Bungah mengangguk, namun di dalam kepalanya, rencana "detektif" sudah tersusun rapi. Setelah halaqah selesai, Bungah tidak langsung pulang. Ia justru mengajak temannya, Fatimah, untuk mampir ke kantin dekat fakultas kedokteran.
"Fatim, kamu kenal tidak mahasiswi Indonesia di kedokteran yang sering pakai gamis hijau zamrud? Orangnya tenang, matanya teduh, dan bawa kitab hadis," tanya Bungah saat mereka menyesap teh maramiyyah.
Fatimah tampak berpikir sejenak. "Oh! Maksudmu Mbak Khadijah? Dia itu senior di sini. Ayahnya Kyai besar di Jawa Tengah. Dia sudah lulus dokter di Indonesia, tapi ke sini untuk ambil spesialisasi sekaligus mendalami sanad hadis. Kenapa? Kamu mau kenalan?"
Bungah hampir tersedak tehnya. Khadijah. Namanya saja sudah seindah orangnya, batin Bungah. "Bukan aku, Fatim. Tapi Mas Azam. Tadi pagi mereka tabrakan di pasar buku.".
"Wah! Mas Azam yang Doktor itu? Cocok sekali, Bungah! Mbak Khadijah itu kembangnya mahasiswi Indonesia di sini, tapi hatinya sekeras berlian, tidak ada yang berani mendekati karena dia sangat menjaga diri," seru Fatimah bersemangat.
Sore harinya, saat makan malam di apartemen, Bungah sengaja memasak makanan kesukaan Mas Azam: nasi kebuli dengan aroma rempah yang kuat.
"Mas," panggil Bungah saat mereka sedang makan.
"Ya, Adek?"
"Nama mbak yang tadi itu Khadijah. Dia dokter, lagi ambil spesialisasi, dan dia anak Kyai dari Jawa Tengah. Mas mau aku cari tahu jadwal dia di perpustakaan?" goda Bungah sambil mengedipkan satu mata.
Mas Azam tersedak nasi kebulinya. Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah. "Adek! Kamu ini... sejak kapan jadi intel begini? Siapa yang ajari?"
"Gus Zidan yang ajari," jawab Bungah asal. "Dia bilang, kalau mau sesuatu itu harus diperjuangkan dengan ilmu dan strategi."
Mas Azam terdiam. Ia menatap piringnya, lalu mendesah pelan. "Mas ini sudah tua, Dek. Belasan tahun di sini cuma tahu buku dan tesis. Apa mungkin gadis sehebat dia mau dengan laki-laki yang kerjanya cuma baca kitab seperti Mas?"
Bungah meraih tangan kakaknya, meremasnya lembut. "Mas Azam itu Doktor. Mas Azam itu hebat. Mas Azam sudah jagain Bungah di sini bertahun-tahun. Kalau Mas mau, Bungah akan bantu doa dan... sedikit informasi tambahan."
Mas Azam tersenyum tulus. Ia merasa haru melihat adiknya yang dulu manja kini malah menjadi penyemangatnya. "Terima kasih ya, Dek. Tapi biarkan Mas yang berusaha dengan cara yang benar. Doakan saja, kalau memang dia jodoh yang dikirim Allah di akhir masa studi Mas di sini."
Malam itu, di bawah langit Kairo yang bertabur bintang, ada dua doa yang terbang ke langit. Satu doa tentang rindu pada seorang Gus di Jawa Timur, dan satu doa tentang harapan baru pada seorang dokter bernama Khadijah.