Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Teguran dari Rumah
Kehangatan dari euforia dana bantuan bakti sosial masih menyelimuti atmosfer kampus hingga larut malam. Namun bagi Gavin Dewantara, malam itu ditutup dengan cara yang sangat kontras. Jam dinding di kamar nomor 2B telah melewati pukul sebelas ketika sebuah getaran konstan memecah keheningan ruangan. Ponsel pintar khusus yang biasanya ia sembunyikan di dalam kantong rahasia ransel kanvasnya menyala, menampilkan sebuah nomor dengan kode area Jakarta yang sangat ia hafal.
Gavin menatap layar tersebut cukup lama. Senyum slengean yang biasanya menghiasi wajahnya perlahan luruh, menyisakan gurat ketegangan yang dalam. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Pelarianmu sudah cukup lama, Gavin," sebuah suara bariton yang dingin, berat, dan penuh otoritas mutlak langsung menyambar dari seberang sana. Itu adalah suara Baskoro Dewantara, ayahnya sendiri. Pria yang kata-katanya setara dengan titah undang-undang di dalam gurita bisnis Dewantara Group.
Gavin mengembuskan napas panjang, bersandar pada dinding semen kamarnya yang dingin. "Saya tidak melarikan diri, Pa. Saya cuma kuliah. Belajar di tempat yang tidak diatur oleh jadwal protokol kantor Papa."
"Kuliah dengan memakai jaket jins robek dan mengendarai motor rongsokan dari tahun sembilan puluhan? Kuliah dengan cara berkelahi di gang sempit pelabuhan dan menyumbang dana anonim seratus juta menggunakan rekening perwalian hukum?" Baskoro mendengus dingin di seberang telepon. "Kamu pikir semua tindakan ugal-ugalanmu di kota itu luput dari pengawasanku? Jangan naif, Gavin. Darah yang mengalir di tubuhmu itu darah Dewantara. Kamu adalah pewaris tunggal. Kakekmu sudah mengagendakan namamu untuk menghadiri rapat umum pemegang saham kuartal depan di Jakarta."
Gavin mengepalkan tangan kanannya yang bebas. "Beri saya waktu, Pa. Setidaknya sampai semester ini selesai. Saya baru saja menemukan kehidupan yang nyata di sini. Teman-teman di sini menghargai saya karena diri saya sendiri, bukan karena nominal saham yang melekat di belakang nama saya."
"Dunia nyata yang kamu sebutkan itu adalah ilusi sementara, Gavin," sahut Baskoro tanpa ampun. "Orang-orang kelas bawah itu hanya akan memanfaatkannmu jika mereka tahu siapa kamu sebenarnya. Cukup main-mainnya. Bulan depan, Pak Handoko akan datang menjemputmu dengan tim hukum keluarga untuk mengurus perpindahan kuliahmu ke Jakarta. Jangan permalukan nama besar keluarga kita lebih lama lagi dengan bertingkah seperti berandalan jalanan. Ini perintah, bukan diskusi."
BIP.
Panggilan diputus secara sepihak. Gavin menurunkan ponselnya secara perlahan, lalu menatap layar yang kini telah menggelap. Realitas dunia old money yang penuh dengan intrik, tuntutan formalitas yang mencekik, dan perjodohan bisnis korporasi kini kembali mengetuk pintunya dengan paksa. Kebebasan berharga yang ia rasakan di Kos Bu Broto ternyata memiliki batas kedaluwarsa yang sangat kejam.
Keesokan paginya, suasana komedi segar kembali menyerang Gavin untuk menutupi beban pikiran yang menggelayut di kepalanya. Rian dan Dono mendadak masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membawa sebuah kotak kardus besar berbau harum.
"Gav! Bangun, Gav! Hari ini kita merayakan kemerdekaan finansial Teknik Kimia!" teriak Rian gila-gilaan sambil menendang kaki Gavin yang masih terbungkus selimut pandan.
Gavin membuka matanya dengan malas, langsung memasang cengiran konyol andalannya demi menyembunyikan awan mendung di pikirannya. "Aduh, Yan. Pagi-pagi udah berisik kayak kaleng rombeng. Lu bawa apaan itu? Kalau bukan ayam geprek level lima belas, mending lu keluar."
Dono meletakkan kardus itu di lantai semen, lalu membukanya dengan gaya teatrikal yang sangat norak. "Ini adalah... Nasi Tumpeng Mini Premium hasil patungan anak-anak kos sebagai ucapan terima kasih karena lu udah menyelamatkan harga diri gue dari geng Tyson kemarin! Plus, ada surat resmi dari Bu Broto!"
Gavin mengernyitkan dahi, duduk bersila di kasur busanya. "Surat dari Bu Broto? Beliau mau ngusir gue gara-gara knalpot Astrea gue bikin ayam petelurnya stress?"
"Bukan, bego!" Rian tertawa sambil menyerahkan selembar kertas memo berwarna merah muda dengan tulisan tangan yang besar-besar. "Bu Broto bilang, karena lu udah berjasa benerin pompa air kosan yang mampet kemarin pakai rumus kimia aneh lu, uang kosan lu bulan ini didiskon lima puluh ribu rupiah! Selamat, Gav! Lu resmi jadi mahasiswa termiskin yang paling disayang ibu kos!"
Gavin tertegun sejenak melihat memo merah muda tersebut, lalu meledak dalam tawa renyah yang sangat lepas. Komedi situasi ini begitu absurd: di satu sisi, ayahnya di Jakarta menuntutnya kembali untuk mengelola aset triliunan rupiah, sementara di sisi lain, di dunia nyatanya saat ini, ia merayakan kemenangan besar berupa diskon uang kos sebesar lima puluh ribu rupiah.
"Wah, gila! Ini adalah pencapaian finansial terbesar dalam sejarah hidup gue!" seru Gavin ugal-ugalan sambil merebut sepotong ayam goreng dari tumpukan nasi tumpeng tersebut. "Duit lima puluh ribu ini bakal gue simpan di bingkai kaca, Yan! Ini bukti kalau otak gue akhirnya menghasilkan nilai ekonomi di mata masyarakat sipil!"
Tepat saat mereka sedang asyik makan bersama di lantai kamar, Kirana muncul di ambang pintu yang terbuka. Gadis itu mengenakan kemeja kuliah berwarna biru muda, membawa beberapa berkas proposal bakti sosial yang sudah dicetak rapi berkat dana "Hamba Allah" kemarin.
Melihat Gavin yang sedang tertawa lepas dengan sudut bibir yang masih sedikit lebam, Kirana menghentikan langkahnya. Ia menatap Gavin dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kagum sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Sebagai satu-satunya orang yang tahu tentang identitas asli Gavin dan jam tangan miliaran rupiah di tasnya, Kirana bisa menangkap ada gurat kelelahan psikologis yang disembunyikan cowok itu di balik tawa slengeannya.
Rian yang menyadari kehadiran Kirana langsung melambaikan tangannya yang penuh minyak ayam. "Eh, Kak Kirana! Sini masuk, Kak! Ikut ngerayain diskon kas kosan Gavin nih!"
Kirana tersenyum tipis, melangkah masuk lalu duduk di kursi belajar kayu milik Gavin. "Kalian ini ada-ada saja. Uang baksos seratus juta kemarin aja belum kelar dilaporkan, kalian udah heboh gara-gara potongan lima puluh ribu."
"Beda konsep, Ran!" sahut Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kirana, memberikan isyarat rahasia yang hanya dipahami oleh mereka berdua. "Seratus juta itu duit gaib dari langit, gak ada seninya. Kalau lima puluh ribu dari Bu Broto ini murni hasil keringat jantan gue bersihin lumut di dalam pipa paralon. Level kebanggaannya beda!"
Kirana mendengus geli, memukul pundak Gavin pelan dengan gulungan proposal di tangannya. "Dasar berandalan aneh."
Namun, ketika Rian dan Dono pergi ke dapur untuk mengambil sendok tambahan, suasana di dalam kamar nomor 2B mendadak kembali sunyi. Kirana menatap Gavin yang kini terdiam, menatap sisa ayam goreng di tangannya dengan pandangan kosong.
"Ada masalah dari rumah, Gav?" tanya Kirana dengan nada suara yang sangat pelan dan lembut, penuh dengan empati murni tanpa ada kesan mendikte.
Gavin terdiam sejenak, lalu melempar tulang ayamnya ke dalam plastik sampah dengan akurasi presisi. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, melempar senyum miring yang kali ini terasa sangat rapuh di depan Kirana. "Bokap gue nelepon semalam, Ran. Libur semester depan... gue harus balik ke Jakarta. Pihak keluarga mau jemput gue buat masuk ke jajaran direksi korporasi."
Kirana merasakan dadanya berdesir perih mendengar kalimat tersebut. Meskipun di awal semester ia sangat membenci sikap ugal-ugalan Gavin, kini ia menyadari bahwa keberadaan cowok slengean ini telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya dan ekosistem kampus mereka. Kehilangan Gavin berarti kehilangan warna paling jujur di lingkungan perantauan ini.
"Terus... kamu bakal menyerah gitu aja dan balik jadi boneka pajangan?" tanya Kirana, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Gavin dengan pandangan menantang sekaligus menuntut jawaban dari prinsip hidup cowok itu.
Gavin terdiam, lalu kilatan es yang kokoh kembali muncul di balik matanya. Ia meraba kunci motor Astrea Grand-nya di atas meja. "Gue emang anak Dewantara, Ran. Tapi roda motor gue masih berputar di atas aspal kota ini. Gue gak bakal menyerah semudah itu. Sebelum mereka paksa gue pake setelan jas kaku itu, gue bakal pastiin semester awal ini ditutup dengan cara yang paling ugal-ugalan dan gak terlupakan bagi kita semua."
Kirana tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan dukungan penuh bagi perjuangan kebebasan cowok di depannya. Teguran keras dari rumah mewah di Menteng mungkin telah datang mengancam, namun di bawah atap sederhana Kos Bu Broto, prinsip kesetiaan kawannya dan nyali jalanan Gavin justru semakin membara, bersiap menghadapi badai apa pun yang akan dikirimkan oleh masa lalunya demi mempertahankan kebebasan yang berharga ini.
Jangan lupa di like y guys...update tiap hari jam 08.00-09.00