Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 4: SEMENJAK PONDOK AL-HIDAYAH, AKU BENCI SEMUA SORBAN PUTIH*
Tiga hari setelah aku lari dari Kafe Mawar dengan HP butut berisi 23 nyawa itu, aku tidak kembali ke kos Kak Wulan.
Aku pindah ke Hotel Melati. Bukan sebagai tamu. Sebagai LC.
Mami Asih yang memasukkan aku. "Kalau kamu mau bongkar semua orang munafik di Seruyan ini, La, jangan di kafe. Di kafe cuma dapat supir dan petani. Kalau di hotel, kamu dapat kepala dinas,
pengusaha,pejabat,ustadz ,semua jenis orang yang mau kamu targetkan dari yang emang orang nya bejat dari sananya,sampai orang yang munafik berkedok agama sekalipun.
Aku mengangguk.
Malam pertama aku ganti nama. Di KTP masih Laila Nuraini. Tapi di buku tamu hotel, aku tulis: ALIA.
Alia tidak pakai kerudung hijau. Alia pakai tanktop hitam ketat dan rok pendek hitam yang Mami belikan di pasar. Rambutku yang dulu selalu aku sembunyikan, sekarang aku cat sedikit coklat di ujungnya. Bibirku merah setiap malam.
Aku bercermin. Aku tidak mengenali diriku.
Laila si hafizah 15 juz yang hafal Al-Baqarah, sekarang jadi Alia yang hafal nomor kamar hotel.
Tapi benci itu membuatku tidak takut lagi.
Semenjak kejadian di Pondok Al-Hidayah malam itu, malam kerudung hijauku dirobek di ndalem sambil Kyai bilang "Ini berkah, La, jangan lawan", aku jadi benci. Bukan benci biasa.
Aku bukan benci agama,tapi aku benci dengan orang munafik yang selalu terlihat suci dan selalu membawa bawa agama.
Aku benci melihat sorban putih bersih. Aku benci melihat koko putih. Orang yang katanya suci itu sekarang membuatku mual karena mengingatkanku pada tawa Kyai Rahman di ruang VIP Kafe Mawar.
Ibu di Kuala Pembuang masih telepon setiap pagi jam 6.
"Laila, sudah setoran hafalan? Ibu kangen lihat Laila pakai gamis hijau."
Aku jawab sambil pakai tanktop hitam di kamar hotel 201, rambut masih basah habis mandi.
"Iya Bu, Laila baik di pondok. Doakan Laila ya Bu."
Aku bohong. Untuk pertama kalinya, aku bohongi ibu tanpa rasa berdosa.
Karena Alia tahu, kalau ibu tahu anaknya sekarang jadi LC hotel di Seruyan, ibu akan mati serangan jantung sebelum operasi kataraknya.
Target Alia cuma satu. Bukan uang 100 ribu per hari lagi. Bukan 2 juta untuk operasi ibu.
Target Alia adalah membuka aib setiap orang munafik berkedok agama yang masuk ke hotel itu.
Malam ini, tamu pertama Alia masuk.
Jam 10 malam. Bel kamar 203 diketuk.
Aku buka pintu. Di depan pintu berdiri seorang laki-laki umur 50-an, pakai koko putih, peci hitam, dan sorban putih bersih melingkar di leher. Persis seperti Kyai Rahman malam itu di Kafe Mawar.
Darahku berhenti. Tanganku yang memegang gagang pintu mengepal.
Laki-laki itu tersenyum. Senyum wali.
"Alia ya? Saya Ustadz Mahmud, teman Kyai Rahman. Mami bilang kamu baru, masih perawan desa?"
Aku ingin muntah. Tapi aku tersenyum. Senyum Alia. Senyum solehot yang sudah aku latih 3 hari di depan cermin kos.
"Silakan masuk, Ustadz," kataku pelan.
Ustadz itu masuk, duduk di sofa, langsung membuka sorbannya dan meletakkannya di atas meja. Di bawah sorban putih itu, ada HP iPhone yang sama persis seperti HP Kyai Rahman.
Aku melihat HP itu. Mataku panas.
Malam itu, Alia tidak butuh borgol atau polisi. Alia cuma butuh satu hal yang selalu dibawa orang munafik kemana-mana.
HP mereka.
Karena di dalam HP orang alim yang sok suci, biasanya tersimpan aib yang paling kotor.
Dan Alia, si LC dengan tanktop hitam itu, sudah tidak takut dosa lagi.
Alia melakukan hal yang tak terduga dihotel itu !