Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Jiang Yui perlahan bangkit dari singgasananya. Ia berjalan keluar melalui pintu utama, melangkah turun ke halaman istana dengan tenang tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun.
Di belakangnya, Bai Ling, Liu Tian, dan Tang Wan yang mendengar kekacauan itu langsung tiba bersamaan, masing-masing menghunuskan senjata mereka dengan tatapan membunuh.
"Jadi, pemimpin sekte pencabut nyawa akhirnya keluar dari sarangnya," kata Jiang Yui dengan nada datar namun penuh wibawa.
"Kukira kalian hanya berani bersembunyi di balik gua gelap."
"Bocah kurang ajar!" geram Mo Xion.
"Terimalah kemarahan dari Seni Pemusnah Emosi!"
Mo Xion melompat ke udara, mengayunkan tongkat tulangnya ke arah Jiang Yui.
Gelombang energi hitam bermuatan kutukan maut melesat tajam, membelah udara dan meretakkan ubin halaman istana dalam sekejap.
Namun, Jiang Yui bahkan tidak repot-repot menghunus pedang.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya, mengalirkan energi kultivasi tingkat puncaknya yang dipadukan dengan aura keharmonisan yang telah ia bangun selama memimpin biro jodoh.
Whosh!
Sebuah penghalang cahaya keemasan berbentuk naga melingkar memantul dari telapak tangan Jiang Yui, menepis gelombang hitam Mo Xion dengan mudah tanpa suara ledakan berarti.
Kekuatan absolut itu membuat Mo Xion terpelanting mundur tiga langkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya di balik topeng besi.
"Ba... bagaimana mungkin?! Kekuatan apa ini? Kau bukan sekadar kultivator biasa!" teriak Mo Xion histeris.
Jiang Yui tersenyum tipis.
"Kau benar, Mo Xion. Kau mengira cinta adalah kelemahan. Tapi kau salah besar... Cinta, ikatan, dan kebersamaan adalah sumber tenaga dalam yang paling murni dan tidak bisa dihancurkan oleh ilmu hitam mana pun."
Mendengar komando dari Jiang Yui, Bai Ling, Liu Tian, dan Tang Wan langsung bergerak bersamaan mengepung sang pemimpin sekte gelap, melancarkan kombinasi serangan maut yang membuat Mo Xion terpojok tanpa bisa melawan.
Dalam hitungan detik, pertahanan Mo Xion jebol. Ia berlutut tak berdaya di hadapan Jiang Yui, sementara bilah pedang es Bai Ling tepat berada di lehernya.
Jiang Yui menatap rendah ke arah musuh yang tak berdaya itu.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah. Suruh dia merenungi nasibnya selama setahun penuh... Atau lebih baik lagi, masukkan dia ke sesi pertama Paviliun Jodoh, biar dia belajar cara tersenyum."
Para pengawal istana langsung menyeret Mo Xion pergi, sementara sorak-sorai kemenangan kembali bergema di seluruh penjuru istana.
Kota Qing selamat, dan era baru perdamaian serta cinta di bawah pimpinan sang mantan perjaka tua kini benar-benar tak terkalahkan.
Kejadian di malam penyerangan Sekte Langit Kegelapan menyebar ke seluruh penjuru negeri bagaikan sambaran petir.
Tidak ada lagi satu pun faksi atau aliran sesat yang berani meragukan kekuatan maupun pengaruh dari Paviliun Jodoh Langit dan Bumi.
Mo Xion, sang pemimpin sekte gelap yang dulunya ditakuti, kini benar-benar dibina di dalam penjara khusus istana—bukan untuk disiksa dengan cambuk atau racun, melainkan dipaksa mengikuti kelas meditasi estetika dan pelatihan empati emosional setiap hari bawah bimbingan langsung para instruktur biro jodoh.
Pagi itu, suasana di Kota Qing terasa begitu damai dan megah. Matahari bersinar cerah, menyinari arsitektur istana yang berdiri kokoh dengan bendera lambang naga dan bunga persik berkibar beriringan di atas menara tertinggi.
Jiang Yui berdiri di anjungan utama singgasana, mengenakan jubah kebesaran kekaisaran berwarna emas mendarat yang disulam dengan benang spiritual terbaik.
Di usianya yang kini menginjak fase puncak kultivasi, auranya memancarkan ketenangan sekaligus ketegasan seorang penguasa sejati.
Di sampingnya, Tetua Lu berdiri dengan senyum sumringah, membawa sebuah gulungan peta wilayah baru.
"Yang Mulia..." lapor Tetua Lu dengan nada bangga.
"Cabang Paviliun Jodoh kita kini telah resmi dibuka di lima puluh kota besar di seluruh perbatasan daratan persilatan.
Angka kelahiran kultivator meningkat pesat, dan tingkat permusuhan antar sekte turun hingga sembilan puluh persen. Seluruh rakyat mengelu-elukan Anda sebagai Kaisar Takdir Sejati."
Jiang Yui tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap pemandangan rakyatnya yang hidup makmur, harmonis, dan jauh dari pertumpahan darah yang sia-sia.
Siapa yang menyangka, kutukan Yin-Yang Beku yang awalnya dikutuk sebagai malapetaka terbesar dalam hidupnya, justru menjadi jembatan yang membawanya menguasai dunia tanpa harus menumpahkan setetes darah pun.
Tiba-tiba, pintu aula utama terbuka lebar. Bai Ling, Liu Tian, dan Tang Wan melangkah masuk dengan senyum penuh hormat, membawa laporan perkembangan aliansi dari berbagai wilayah.
"Jiang Yui," panggil Bai Ling dengan nada akrab, mencerminkan persahabatan erat yang telah terjalin melalui berbagai ujian maut.
"Seluruh ketua sekte sepakat untuk mengadakan upacara penobatan resmi Anda sebagai penguasa tertinggi aliansi gabungan akhir bulan ini. Apakah Anda sudah menyiapkan pidato?"
Jiang Yui menoleh, menatap ketiga sahabat sekaligus sekutunya itu dengan sorot mata penuh percaya diri.
"Pidato?" jawab Jiang Yui, lalu tertawa kecil.
"Aku tidak butuh pidato panjang. Cukup katakan pada mereka satu hal: Di dunia persilatan ini, pedang bisa meretakkan gunung, tapi hanya cinta dan kebersamaan yang bisa menyatukan dunia."
Suasana aula mendadak dipenuhi gelak tawa dan tepuk tangan meriah.
Bagi Jiang Yui, perjalanan dari seorang Putra Mahkota yang nyaris menjadi perjaka tua abadi hingga menjadi penguasa takdir asmara adalah sebuah legenda yang tidak akan pernah terlupakan.
Di bawah langit Kota Qing yang membentang luas, babak baru kehidupan sang pangeran dan kedamaian dunia persilatan baru saja dimulai, abadi selamanya dalam sejarah peradaban kultivasi.
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧