Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Beberapa hari kemudian, kondisi Bu Farah akhirnya membaik. Setelah menjalani perawatan dan dinyatakan cukup stabil oleh dokter, ia diizinkan meninggalkan rumah sakit. Meski tubuhnya masih terasa lemah, kekecewaan terhadap Dira terus mengusik pikirannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, terutama tentang pengkhianatan perempuan yang selama ini telah dianggapnya sebagai bagian dari keluarga.
Setibanya di rumah, Bu Farah mendapati Dira sedang duduk santai di ruang tengah. Ia menarik napas panjang, menguatkan hati sebelum menghadapi perempuan itu. Kali ini, ia tidak ingin lagi membiarkan kebohongan dan pengkhianatan berlalu tanpa pertanggungjawaban.
Pintu utama terbuka ketika Dira sedang duduk santai di ruang tengah. Perempuan itu segera menoleh, lalu berdiri begitu melihat Bu Farah memasuki rumah dengan wajah yang sulit diartikan. Tidak ada sapaan hangat seperti biasanya. Bahkan, tatapan wanita paruh baya itu terasa begitu dingin hingga membuat senyum yang sempat terukir di bibir Dira perlahan menghilang.
“Ma, sudah pulang?” tanya Dira, berusaha terdengar biasa saja.
Bu Farah meletakkan tasnya di atas meja. “Kita perlu bicara.”
Dira menelan ludah. “Tentang apa, Ma?”
“Tentang kamu.”
Hanya dua kata, tetapi cukup membuat jantung Dira berdegup lebih cepat. Ia berusaha membaca ekspresi Bu Farah, mencari tahu seberapa banyak yang sudah diketahui wanita itu. Sejak hubungan terlarangnya dengan Rangga terbongkar, hidup Dira terasa seperti berdiri di atas lantai rapuh. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat semuanya runtuh.
“Ada masalah apa sebenarnya?” Dira kembali bertanya.
Bu Farah menatapnya lekat-lekat. “Kamu masih berani bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa?”
Dira membuka mulutnya, tapi pada akhirnya menutupnya kembali karena tak ada kata-kata yang keluar.
“Selama ini Mama menganggap kamu bagian dari keluarga ini, kamu istri Tara. Setelah Tara meninggal, Mama bahkan membiarkanmu tinggal di rumah ini karena tidak ingin kamu merasa sendirian.” Suara Bu Farah bergetar menahan kecewa. “Tapi ternyata, kepercayaan itu kamu balas dengan mengkhianati almarhum Tara dan menyakiti Jingga.”
“Ma, dengarkan penjelasanku dulu.”
“Penjelasan apa lagi yang ingin kamu berikan? Mama melihat sendiri bagaimana kamu dan Rangga melakukan hal tak bermoral! Padahal Tara... belum lama meninggal. Apa kamu masih mau menyangkal hubungan kalian?!”
Dira menggeleng cepat. “Aku tidak menyangkal, Ma. Tapi keadaanku sedang kacau. Aku kehilangan Mas Tara, kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempatku bersandar. Aku kesepian, Ma. Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidup setelah dia pergi.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Kali ini, Dira benar-benar merasa terdesak. Ia berharap rasa kasihan bisa melunakkan hati Bu Farah, seperti yang selama ini dilakukannya kepada Rangga.
“Aku juga manusia, Ma. Aku punya perasaan, dan aku nggak pernah merencanakan semuanya akan menjadi seperti ini.”
Bu Farah tertawa hambar, karena tidak percaya mendengar pembelaan tersebut. “Kesepian bukan alasan untuk melakukan hal tak bermoral, Dira. Apa kamu pikir hanya kamu yang kehilangan seseorang? Mama juga kehilangan anak. Rangga kehilangan kakaknya. Jingga kehilangan anaknya sendiri, bahkan harus menanggung penderitaan yang tidak pernah kamu rasakan.”
Dira menunduk, meremas jemarinya sendiri.
“Namun di tengah kesedihan itu, Jingga tetap berusaha bertahan. Sementara kamu? Kamu justru menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk mendekati suami orang.”
“Aku nggak bermaksud merebut Rangga dari Jingga,” bantah Dira.
“Lalu apa namanya kalau bukan itu?”
“Aku hanya membutuhkan seseorang untuk menemani, itu saja.”
“Dan kebetulan seseorang itu adalah Rangga, sahabatmu sejak SMA sekaligus adik iparmu sendiri?” Bu Farah melangkah mendekat. “Jangan membuat Mama semakin jijik mendengar alasanmu.”
Dira mengangkat wajahnya. “Ma, aku tahu aku salah. Tapi Rangga juga punya andil dalam semua ini. Dia yang mulai mendekatiku ketika rumah tangganya berantakan. Dia yang selalu mencariku. Sekarang, kenapa seolah-olah hanya aku yang bersalah?”
Bu Farah memandang Dira dengan kekecewaan yang semakin dalam.
“Kamu benar, Rangga juga bersalah. Mama tidak akan membenarkan perbuatannya hanya karena dia anak Mama. Tapi setidaknya, jangan berpura-pura menjadi korban ketika kamu juga sengaja mempermainkan perasaannya.”
Wajah Dira seketika berubah. "Apa maksud Mama?”
“Kamu tahu Rangga sedang rapuh setelah kematian kakaknya dan anaknya. Kamu tahu dia sedang marah kepada Jingga, dan kamu memanfaatkan keadaan itu untuk membuatnya semakin bergantung kepadamu.” Bu Farah menghela napas panjang. “Mama juga tahu kamu sengaja membuat dirimu terlihat tidak berdaya di hadapannya. Kamu tahu kapan harus menangis, kapan harus meminta pertolongan, dan kapan harus berpura-pura tidak sengaja menyentuhnya.”
“Itu tidak benar!”
“Jangan berteriak padaku!”
Dira langsung terdiam.
“Kalau kamu memang hanya membutuhkan teman, kenapa harus membuat Rangga melupakan batasannya sebagai seorang suami? Kenapa setiap kali dia mulai menjauh, kamu selalu punya cara untuk menariknya kembali?”
Bibir Dira terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Selama ini, ia selalu memiliki alasan untuk setiap perbuatannya. Ia bisa membuat Rangga merasa dibutuhkan, membuat laki-laki itu percaya bahwa hanya dirinya yang memahami penderitaannya. Bahkan, ketika Rangga sempat diliputi rasa bersalah terhadap Jingga, Dira tahu bagaimana membujuknya agar kembali berpihak kepadanya.
Namun di hadapan Bu Farah, semua alasan itu terdengar seperti kebohongan murahan.
“Jadi, sekarang Mama menganggapku perempuan jahat?” tanya Dira lirih.
“Mama tidak perlu menganggapmu apa-apa. Perbuatanmu... sudah menunjukkan siapa dirimu.”
Dira mengepalkan tangannya, air matanya yang semula mengalir perlahan berubah menjadi kemarahan yang sulit dibendung. “Lalu aku harus bagaimana? Pergi begitu saja? Setelah semua yang aku alami?”
“Ya.” Jawaban Bu Farah begitu cepat hingga Dira tertegun.
“Apa?!” Mata Dira terbelalak tak percaya.
“Kamu harus meninggalkan rumah ini.”
Dira menatapnya tidak percaya. “Mama mengusirku?”
“Anggap saja begitu. Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi tinggal di rumah ini.”
“Ma, rumah ini juga tempatku tinggal setelah Mas Tara meninggal. Aku nggak punya alasan untuk pergi sekarang.”
“Kamu masih punya keluargamu, pulanglah kepada mereka. Biarkan mereka membantumu menjalani hidup, bukan malah berlindung di rumah ini sambil menghancurkan rumah tangga orang lain.”
Dira menggeleng berkali-kali. “Tapi Rangga—”
“Jangan bawa-bawa nama Rangga!” Suara Bu Farah menggema di ruang tengah. “Justru karena Rangga, kamu harus pergi. Tidak pantas seorang perempuan yang sudah kehilangan suami tinggal satu rumah dengan adik iparnya, apalagi setelah hubungan kalian melampaui batas. Apa kamu tidak punya rasa malu?”
Dira merasa pipinya panas, ia tidak sanggup membalas ucapan Bu Farah dengan mudah.
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita