Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Transferan Jam Delapan Malam
Pabrik sore itu panasnya tidak main-main. Jam empat sore, tapi matahari Dharmasraya masih seperti di atas ubun-ubun.
Nadia baru selesai rekap biaya angkut. Matanya perih menatap laptop seharian. Ia jalan ke dispenser di ruang administrasi untuk ambil air putih.
Di meja Arif, ponsel Arif bergetar terus. Layarnya menyala. Nama yang muncul: Dr. Karin ❤️
Sudah tiga kali bergetar dalam sepuluh menit. Arif tidak angkat. Ia sedang di lantai bawah cek mesin press yang bocor.
Nadia melirik sekilas, lalu pura-pura tidak lihat. Tapi dadanya terasa tidak enak.
Jam lima sore, Arif naik ke ruang administrasi dengan kaos polo hitam yang basah oleh keringat. Ia lap wajahnya pakai handuk kecil.
Ponselnya masih bergetar. Kali ini panggilan keempat.
Arif hela napas panjang, lalu angkat.
"Halo, Sayang," jawab Arif, suaranya berubah jadi lebih lembut, tapi lelah.
Nadia pura-pura sibuk ketik laporan, tapi telinganya menangkap semua.
"Iya, aku di pabrik. Baru selesai cek mesin... Iya, nanti malam aku telepon... Apa? Transferan?" Arif mengernyit, menatap layar ponselnya.
"Iya, aku transfer ke staf administrasi untuk lemburan. Kenapa?"
Suara perempuan di seberang sana terdengar keras, meski tidak pakai loudspeaker. Nadia bisa dengar samar-samar.
"Kenapa kamu transfer keluar jam kerja? Kenapa namanya Nadia? Kamu tidak pernah cerita punya staf perempuan! Kamu selingkuh ya di sana!"
Arif pejamkan mata, tahan emosi.
"Karin, dia admin baru dari pusat. Dia butuh uang lemburan karena mamanya stop kirim uang. Sudah, jangan curiga terus. Aku capek," kata Arif.
"Admin baru? Perempuan? Cantik? Arif, kamu jangan macam-macam! Aku di Medan jaga diri, kamu di sana malah kasih-kasih uang ke perempuan lain!"
Arif langsung matikan telepon. Tut.
Ruangan hening.
Nadia pura-pura batuk kecil. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja dengar."
Arif menatap Nadia, wajahnya tegang.
"Tidak apa-apa, Nad. Urusan pribadi," kata Arif singkat. Ia masukkan ponsel ke saku, lalu duduk di kursinya dengan kasar.
Nadia kembali ke mejanya. Suasana jadi tidak enak.
Lima menit kemudian, ponsel Arif bergetar lagi. Kali ini bukan panggilan, tapi foto. Foto screenshot mutasi bank. Transferan Arif ke Nadia yang lima ratus ribu tadi pagi. Di bawahnya ada chat dari Karin: "JELASKAN INI. SIAPA NADIA? KENAPA KAMU KASIH UANG JAM 8 MALAM? KAMU DI MESS DIA?"
Arif banting ponselnya pelan ke meja. Tidak pecah, tapi suaranya keras.
Nadia kaget.
"Pak Arif?" panggil Nadia pelan.
Arif menatap Nadia, lalu menatap amplop lemburan yang tadi ia berikan.
"Nad, maaf. Saya libatkan kamu dalam masalah saya," kata Arif, suaranya pelan dan jujur. "Tunangan saya... dia memang pencemburu. Dia pegang semua akses mobile banking saya."
Nadia menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, Pak. Saya yang harus minta maaf. Gara-gara saya terima uang itu, jadi ribut."
"Bukan salah kamu," potong Arif. "Ini salah saya. Saya dari dulu memang tidak pernah cerita soal pabrik ke Karin. Karin pikir kerja saya rapi seperti di kantor Medan. Padahal di sini lumpur, oli, debu."
Malam harinya, teror berlanjut. Bukan ke Arif, tapi ke Nadia.
Ponsel Nadia bergetar. Nomor tidak dikenal.
Nadia angkat. "Halo?"
"Hai, Nadia. Ini Karin, tunangannya Arif," suara perempuan di seberang langsung to the point, dingin. "Maaf ya ganggu. Saya cuma mau tanya, kamu dapat uang lemburan lima ratus ribu dari Arif ya? Enak ya jadi admin baru, langsung dapat perhatian khusus."
Nadia membeku. Darahnya berhenti mengalir.
"Dok... Dokter Karin?" tanya Nadia terbata.
"Iya. Saya dokter. Saya tahu semua, Dek. Arif itu tunangan saya tiga tahun. Kami mau pre-wedding bulan depan di Danau Toba. Jadi saya cuma mau ingatkan, jangan terlalu dekat sama tunangan orang. Tidak baik untuk perempuan yang sudah punya tunangan juga, kan? Saya dengar tunangan kamu guru ya?"
Ancaman itu halus, tapi tajam.
Nadia tidak bisa jawab. Lidahnya kelu.
"Oh ya, Dek. Jaga diri baik-baik di pabrik ya. Pabrik itu licin, banyak oli. Takutnya jatuh," kata Karin, lalu mematikan telepon.
Nadia menatap ponselnya lama. Tangannya gemetar.
Ia menangis lagi. Untuk kedua kalinya minggu ini.
Ia bukan menangis karena dimarahi Karin. Ia menangis karena Karin benar. Ia sudah punya tunangan, tapi ia terima uang dari laki-laki lain. Ia sudah punya Rizki, tapi hatinya berdebar untuk Arif.
Ketukan pelan di pintu mess.
Arif lagi. Bawa dua gelas teh hangat.
"Saya dengar kamu ditelepon Karin," kata Arif pelan, tanpa basa-basi.
Nadia mengangguk, usap air mata.
"Maafkan saya, Nad. Karin memang begitu. Dia insecure karena LDR," kata Arif, letakkan teh di meja.
"Pak, sebaiknya Bapak jangan kasih saya uang lagi. Saya takut," kata Nadia pelan.
Arif menatap Nadia lama.
"Uang itu hak kamu, Nad. Lemburan kamu. Bukan uang saya pribadi. Uang pabrik. Karin tidak berhak larang. Kalau kamu tidak ambil, saya yang malah dimarahi keuangan pusat," kata Arif.
Arif duduk di kursi plastik, menatap Nadia yang masih sesenggukan.
"Nad, boleh saya jujur?" tanya Arif.
Nadia mengangguk.
"Saya juga capek, Nad. Capek pura-pura baik-baik saja sama Karin. Sama seperti kamu capek pura-pura bahagia sama Rizki. Kita sama," bisik Arif.
Malam itu mereka tidak bicara banyak. Hanya minum teh hangat berdua di dalam mess yang sempit, dengan pintu terbuka, biar tidak jadi fitnah.
Tapi dari luar, satpam yang lewat melihat mereka berdua duduk berhadapan di dalam mess putri jam sembilan malam. Satpam itu foto diam-diam dan kirim ke grup WA pabrik.
Foto itu yang akan jadi bom waktu di Bab 13 nanti, saat Karin datang beneran ke pabrik dengan bukti foto itu.
Bersambung