Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Saat kembali dari rumah sakit, Cakra tidak mendapati Risa ada di rumah. Cakra tahu ke mana Risa pergi, menemui sang mantan. Cakra juga tahu Andre adalah ayah biologisnya Zara. Kenapa ia bisa tahu? Sebab Cakra sudah menyadap ponsel Risa sejak ia mengetahui Risa memberi kalung untuk mantannya itu.
Berbulan-bulan lamanya Andre tidak menghubungi Risa, baru kemarin pria itu menghubungi Risa lagi untuk mengajak bertemu sebelum ia pergi ke luar negeri.
Risa masih beruntung, Cakra belum menyadap ponselnya di saat ia dan Andre mempunyai rencana untuk mencelakakan Disa dan si kembar. Kalau Cakra tahu rencana itu, mungkin sudah sedari awal Risa ditendang oleh Cakra.
Rasanya.... Ah sudah tidak bisa digambarkan lagi betapa marah dan luar biasa kecewanya seorang Cakra Aditama setelah mengetahui semua kelakuan istri yang ia pilih untuk menggantikan Disanya yang berharga.
Disa .... Betapa Cakra sekarang menyesal sudah melepasnya.
"Mas, jangan ceraikan aku. Jangan usir aku, tolong ... Aku janji akan berubah. Aku nggak akan pernah berhubungan sama Andre lagi, dia udah pergi. Aku cintanya sama kamu."
Sungguh tidak tahu malu, Risa masih saja merayu, memohon, mengiba belas kasihan Cakra.
"Jangan buat aku semakin marah sama kamu, Ris, aku bisa hilang kendali," geram Cakra yang berdiri membelakangi Risa. Bahkan ia sudah sudah tidak sudi menatap wajah perempuan itu.
"Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, aku sendirian Mas Cakra tolong...." mohon Risa.
"Itu bukan urusan aku!"
Tiga pekerja di rumah Cakra berbondong-bondong menuruni tangga. Yang dua membawa koper besar sementara yang satu—Santi—menggendong Zara.
Risa menatap nanar semuanya, koper-koper yang pastinya berisi barang-barangnya, dan Zara. Kepanikan langsung menyergap, bagaikan terjatuh dari tebing yang tinggi. Dalam sekejap, Risa akan kehilangan semua kemewahan ini.
"Kasihkan Zara ke ibunya," titah Cakra.
Yang disuruh, Santi, langsung mengangguk patuh. Wajahnya nampak tegang saat ia memindahkan Zara ke depan ibunya.
Risa menerima Zara dengan hati yang hancur. Lebih hancur lagi saat ia mendengar perkataan Cakra selanjutnya.
"Ayo! Aku antar kamu pulang sekarang. Aku nggak ada waktu banyak." dingin. Dingin sekali suara pria itu. Ia berbalik badan.
Risa bergeming, menggeleng kecil tanpa berpindah selangkah pun dari tempatnya berdiri. Ia dekap Zara erat-erat.
"Cepat Risa!"
"Nggak mau, Mas. Aku mau tetap di sini, sama kamu, tolong kasih aku kesempatan lagi. Aku janji akan berubah."
Cakra menggeram rendah, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. "Kamu pikir aku sudi ngerawat anak yang bukan dari keturunanku?"
"Aku bisa hamil lagi, Mas. Kamu nggak perlu ikut ngurus Zara, aku bisa urus dia sendiri."
"Terus, uangnya dari mana untuk urus Zara kalau bukan dari aku? Hm?"
Risa menunduk, tidak bisa menjawab.
"Aku udah lepasin Disa demi kamu, Ris. Berkali-kali aku lebih mementingkan kamu dibanding Disa dan si kembar. Tapi apa? Aku salah besar! Seharusnya dari awal kita nggak usah punya hubungan apa pun!"
"Aku minta maaf, Mas...."
"Aku nggak akan pernah iba sama kamu lagi! Ayo, sekarang aku antar kamu pulang!"
"Mas .... "
"Jangan mengikis kesabaran aku, Ris. Jalan sendiri atau aku seret kamu keluar dari rumahku!" tubuh Cakra sampai bergetar saking marahnya. Ia benar-benar inginkan Risa segera enyah dari rumahnya.
Nampaknya sudah tidak ada lagi yang bisa Risa lakukan untuk terus mempertahankan dirinya di rumah itu. Rayuan bentuk apa pun tidak akan mempan untuk Cakra. Ditambah lagi Yuni yang sebelumnya sangat menyayanginya, kini menatap jijik.
Tak ada pilihan lain, Risa melangkah pelan, mengikuti Cakra ke mobilnya. Dua pekerja tadi membantu membawakan kopernya dan memasukkan ke dalam mobil.
"Duduk di belakang! Jangan duduk di sampingku!"
Gerakan tangan Risa yang hendak membuka pintu depan, terhenti seketika mendengar nada ketus Cakra. Tak jadi menempatkan diri di samping pria itu, Risa membuka pintu mobil bagian belakang.
Sementara itu di dalam rumah, masih di ruang tamu, keadaan yang semula panas perlahan-lahan menjadi stabil. Yuni masih terisak pelan, dan Hadrian menemani di sisinya. Seorang pekerja datang membawakan teh untuk mereka.
"Minum dulu, Ma, biar tenang," suruh Hadrian, mengambilkan cangkir teh untuk istrinya.
Yuni hanya meminum sedikit.
"Kan papa udah bilang dari awal, hukum tabur tuai itu nyata adanya, Ma, kamu sih sama Cakra gak percaya. Cakra udah nyakitin Disa, dia gak bakal hidup bahagia setelah dengan sengaja menyakiti Disa yang saat itu masih jadi istrinya. Sekarang, terbukti kan? Kena batunya deh dia. Kamu juga sama. Gak pernah mau kalau diajak jenguk si kembar, katanya udah ada Zara, udah cukup, halah pret! Kenyataannya Zara yang kamu sayang-sayang sampai gak mau ketemu sama si kembar itu, bukan cucu kita, kan?"
Mendengar petuah dari suaminya, Yuni semakin terisak. Di hatinya mulai timbul rasa sesal. Menyesal sebab ia tidak pernah menjenguk si kembar dari sejak berada di dalam kandungan hingga mereka lahir.
"Sekarang gimana? Masih mau ketemu sama si kembar nggak?" tanya Hadrian.
Yuni tidak bisa menjawab, dadanya sangat sesak, hanya bisa terus terisak-isak.
"Semoga aja Disa mau ya, ngizinin mama ketemu sama si kembar."
Isakan itu terdengar semakin memilukan, teringat Cakra dan Disa sudah cerai dengan talak tiga. Mereka sudah tidak bisa rujuk, tidak ada kesempatan untuk Yuni bersama-sama dengan si kembar setiap harinya.
...****************...
.semoga Andre mengakui anak nya