NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Istri Kontrak CEO Dingin Yang Gaptek

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Sidak

Safa sudah sembuh dari demamnya 2 hari yang lalu.

Tapi semenjak sembuh, Arga jadi super protektif. Safa tidak diizinkan beberes,tidak boleh masak yang berat-berat, semua selalu di-cek.

Pagi itu jam 9, Nenek Ratna datang lagi tanpa berkabar,Kebiasaan Nenek memang suka sidak.

"Safa! Nenek kangen! Nenek bawakan sup ayam kampung biar sehat lagi!"

Nenek masuk dengan rantang besar.

Safa yang sedang duduk di sofa langsung berhamburan ke pelukan Nenek. "Nenek! Makasih Nek!"

Mendengar suara nenek Arga keluar dari ruang kerja. "Tumben pagi-pagi nenek sudah disini!

"Ya, Nenek khawatir sama cucu mantu Nenek yang demam. Sudah benar-benar sembuh atau belum.Ga apa kamu menjaga dia dengan baik?i

Nenek memang pulang setelah safa menolak makan buburnya tempo hari, bukan karna marah tapi karna nenek ingin melihat bagaimana cucunya bertanggungjawab merawat istrinya yang sakit.

"Sudah nek,sudah sembuh."

Nenek mengangguk puas, lalu matanya berkeliling melihat ke seluruh penthouse. Matanya tajam seperti detektif.

Nenek itu walaupun sudah 70 tahun, tapi instingnya kuat.

"Nenek mau ke kamar mandi dulu ya."

Nenek jalan ke arah kamar. Tapi bukan ke kamar mandi tamu, dia jalan ke arah kamar utama, kamar Arga.

Arga dan Safa langsung saling tatap merasa panik.

Kamar mereka memang beda. Sejak awal kontrak, mereka sepakat tidur beda kamar. Arga di kamar utama, Safa di kamar tamu yang kecil tapi nyaman.

Selama ini mereka pinter menutupi Kalau Nenek datang, Safa buru-buru pindahkan selimut dan bantalnya ke kamar Arga,agar terlihat seolah-olah tidur bersama.

Tapi hari ini mereka lupa. Karena Safa baru sembuh, dia tidur di kamarnya sendiri semalaman, dan selimutnya masih berantakan di kamarnya.

Nenek membuka pintu kamar utama.

Di dalam, rapi. Hanya ada satu bantal, satu selimut dan saat membuka lemari hanya ada pakaian Arga saja.

Nenek mengerutkan kening. Lalu dia membuka pintu kamar tamu di sebelahnya.

Dan...

Di situ ada mukena putih baru, sajadah pink, tumpukan gamis Safa, tas belanjaan yang masih belum dibereskan, dan tempat tidur yang berantakan bekas Safa tidur semalaman, masih ada bekas kerokan koin di atas kasur, plus mangkok bekas indomie buatan Arga kemarin.

Nenek terdiam. Lama.

Arga dan Safa berdiri di belakang Nenek dengan jantung berdegup kencang seperti mau copot.

"Nenek..." Safa mau ngomong.

Nenek berbalik pelan-pelan. Wajahnya yang biasanya senyum, kini tampak serius.

"Arga, Safa, sini duduk. Nenek mau bicara."

Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Suasana tegang seperti suasana di ruang sidang pengadilan.

Nenek meletakkan tongkatnya dengan keras. _Tuk!_

"Jelaskan sama Nenek. Kenapa kalian tidur beda kamar?"

Safa langsung menunduk, memainkan ujung hijabnya. Arga juga diam, tidak bisa berbohong lagi di depan Neneknya sendiri.

Nenek menatap Arga tajam. "Arga Mahendra, kamu membohongi Nenek ya? Kalian pura-pura mesra di depan Nenek, tapi aslinya tidur terpisah? Apa semua ini Kontrak? Pernikahan kontrak? Kalian menikah kontrak?"

Arga kaget karna Nenek bisa menebak. "Nek, kok Nenek tahu..."

"Nenek ini sudah makan asam garam, Ga! Dari cara kalian bicara, cara kamu pegang tangan Safa yang kaku kayak pegang gagang pintu, Nenek sudah curiga dari awal! Tapi Nenek diam, Nenek cuman mau kasih kalian waktu!"

Safa mulai menangis pelan. "Maaf Nek... ini salah Safa..."

"Bukan salah kamu, Nak," Nenek memegang tangan Safa. "Nenek tahu kamu anak baik. Pasti cucu Nenek yang brengsek ini yang maksa kamu nikah kontrak!"

Arga menghela napas panjang. Tidak ada gunanya bohong lagi.

"Iya Nek, kami nikah kontrak untuk waktu satu tahun. Karena Nenek maksa saya nikah terus, jadi saya..."

"Jadi kamu sewa Safa untuk bohongi Nenek?!" Nenek memukul paha Arga dengan tongkatnya. "Astaghfirullah! Arga! Kamu kira pernikahan itu sebuah permainan?"

"Maaf Nek..."

Safa yang melihat Arga dipukul pakai tongkat langsung melindungi. "Jangan Nek, jangan pukul Mas Arga, ini salah Safa juga, Safa butuh uang buat berobat ibu, jadi Safa setuju..."

Nenek melihat Safa yang membela Arga, dan Arga yang menunduk merasa bersalah, Nenek jadi bingung.

Nenek diam cukup lama, lalu menghela napas panjang.

"Nenek kecewa sama kalian berdua karena bohong. Tapi..."

Nenek menatap Safa dan Arga bergantian.

"Tapi Nenek lihat, selama 1 bulan ini, kalian sudah berubah. Arga yang dulu dingin, tidak pernah peduli orang lain, sekarang bahkan bisa masak indomie buat istri yang lagi demam, bisa jadi tukang ojek demi ngikutin istri ke pasar, bisa belikan mukena mahal. Nenek lihat dan nenek tau semua dari sopir dan dari Rina sekretaris kamu, Ga."

Arga melongo. "Nenek mata-matai saya?"

"Ya! Nenek suruh orang awasin kamu,da safa yang dulu Nenek lihat cuma gadis desa polos, yang butuh uang, sekarang Nenek lihat dia sudah sayang sama kamu, Ga. Dia masak, dia doain kamu tiap sholat, dia nangis kalau kamu marah."

Safa dan Arga saling tatap, karna kaget mengapa nenek bisa tau sedetail itu.

Nenek melanjutkan. "Jadi Nenek mau tanya jujur sama kalian berdua sekarang, tanpa kontrak-kontrakan. Arga, apa kamu sayang sama Safa?"

Pertanyaan itu seperti bom.

Arga terdiam. Wajahnya merah. Dia melihat Safa yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca namun juga menunggu jawaban yang sama.

"Saya... saya..."

"Safa, kamu sayang nggak sama Arga?" Nenek giliran bertanya ke Safa.

Safa langsung menjawab tanpa berfikir panjang "Sayang Nek, sayang banget. Mas Arga baik, walau sikapnya dingin dan kaku,mas Arga juga galak dan suka marah tapi hatinya baik dan lembut.

Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar jawaban polos Safa.

Arga menatap Safa, terkejut. Baru kali ini Safa mengatakan semua itu dengan jujur didepannya dan neneknya.

Nenek tersenyum kecil. "Nah, kalau saling sayang, buat apa ada kontrak? Buat apa tidur pisah? Kalian ini sudah seperti suami istri yang sesungguhnya cuma kalian sama-sama gengsi saja mengakui."

Nenek berdiri dengan tongkatnya.

"Nenek kasih kalian waktu 1 minggu. Dalam 1 minggu, Nenek mau lihat kalian tidur satu kamar, seperti suami istri normal. Kalau tidak, Nenek akan anggap pernikahan ini batal dan Nenek akan jodohkan Safa sama cucu teman Nenek yang punya kebun sawit di Kalimantan,orangnya ganteng, baik, dan tidak nenek pastikan dia akan menikah sungguhan tidak ada kontrak-kontrakan.

"Apa?!" Arga langsung berdiri. "Tidak bisa Nek!"

"Kenapa tidak bisa? Kan kalian menikah kontrak? Kalau kontrak, berarti Nenek boleh ambil Safa dong?"

Arga terdiam, tidak bisa mejawab. Rasa cemburu tiba-tiba muncul.

Safa juga panik. "Jangan Nek, aku... aku mau sama Mas Arga aja..."

Nenek tersenyum licik. Rencananya berhasil.

"Nah, kalau begitu buktikan. Mulai malam ini, tidur satu kamar. Nenek akan sidak tiap malam. Kalau ketahuan masih pisah, siap-siap Safa Nenek jodohkan."

Nenek lalu pergi dengan senyum kemenangan, meninggalkan rantang sup ayamnya.

Di ruang tamu, tinggal Arga dan Safa yang masih berdiri canggung.

Suasana hening.

Safa berbisik pelan. "Mas... gimana ini..."

Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya merah padam.

"Malam ini... kamu pindah ke kamar saya."

"Eh? Beneran Mas?"

"Ya, daripada kamu dijodohkan sama anak kebun sawit."

Safa mengangguk cepat, lalu lari ke kamarnya dengan jantung berdegup kencang.

Malam ini, untuk pertama kalinya setelah 1 bulan menikah, mereka harus tidur satu kamar.

Bukan karena kontrak, tapi karena ancaman Nenek yang ternyata... lebih ampuh dari kontrak mana pun.

Bersambung

1
falea sezi
uda q krim hadiah thor🤭 up banyak ya.. 👍 g sabar nunggu bocil saseettnya
Atha Diyuta: trimakasih ka, ditunggu kemasan sasettnya 🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah👍
Atha Diyuta: mksh kaa ditunggu ya
total 1 replies
falea sezi
Arga kenpa dlu pcrn sama lampir 5 tahun🤣
Dewi kunti
Iki kepiye kok dadi ngulang meneh🤦
Dewi kunti: oalaaaaahhh
total 2 replies
Dewi kunti
typo
Dewi kunti
kenapa sekarang gampang banget ya main tium2 manjaaaa😘😘😘😘😘
Atha Diyuta: udah kecanduan ditium tium
total 1 replies
Dewi kunti
jangan buru2 jetiknya thor, perhatikan tanda bacanya juga
Atha Diyuta: iyaa ka udah keyboard hpku typo tanganku juga typo makanya q lagi revisi dari bab 1 ☺️☺️
total 1 replies
Dewi kunti
emang desanya Arga dimana thor😄😄😄😄
Atha Diyuta: asale aja dia mah,biar Safa diem gak banyak tanya😄😄
total 1 replies
Dewi kunti
Weh kembali berhijab
Dewi kunti
udah gak jilbaban didepan suami,dah dikuncir rambutnya
Dewi kunti
otw belah duren 😄😄😄😄
Dewi kunti: Sprin aj,🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Dewi kunti
tp kmrn masak rendang,ngajarin ngidupin kompor,kata siapa gak pernah msk dapur, author nya blm ngopi ini
Atha Diyuta: 🙈🙈🙈belum sempet direvisi 😅😅😅
total 3 replies
Atha Diyuta
trimakasih siap revisi
Dewi kunti
pergi kepasar dong🤭🤭🤭ini keyboard nya ngeyel kynya
Atha Diyuta: astaghfirullah iya ka baru ngeh🙈🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
witing tresno jalaran Soko kulino
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
Dewi kunti
tangan sangat kalian cocok,maksude piye🤭🤭🤭🤭
Atha Diyuta: kadang" 😅😅
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!