Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Malam itu, pernikahan Bleiz dan Ophelia dilangsungkan di halaman belakang kastil.
Langit malam gelap yang terbentang luas dengan taburan bintang-bintang yang bersinar terang, seolah alam semesta menjadi saksi atas persatuan yang dipaksakan ini.
Ophelia berdiri di atas panggung kecil yang dihiasi bunga-bunga mawar merah, seperti nama kastil ini.
Gaun pengantin putih yang dikenakannya terasa begitu berat, karena pernikahan ini bukanlah keinginannya.
Ia menatap pria di hadapannya, Bleiz Russo, yang berdiri dengan setelan jas hitam sempurna, dan wajahnya tetap datar tanpa sedikitpun emosi yang terlihat.
‘Seperti patung,’ pikir Ophelia. ‘Patung yang dingin dan tak bernyawa.’
"Apakah kau bersedia menerima Bleiz Russo sebagai suamimu?" Suara itu membuat dada Ophelia berdebar keras.
Prosesi ini seharusnya sakral, tapi kini menjadi suatu ketakutan yang besar karena ini sesuatu yang dipaksakan.
Matanya jelas tidak nyaman dengan situasi ini, tetapi tidak berani menolak perintah sang mafia.
Ophelia membuka mulutnya. Ia menoleh ke samping, melihat Brigite berdiri dengan ekspresi formal, dan beberapa pelayan lain yang menunduk hormat.
Tidak ada keluarganya di sini. Tidak ada ibu, tidak ada saudara, tidak ada teman. Hanya dia dan pria yang mengancam akan menghancurkan seluruh hidupnya jika dia menolak.
"Aku ..." Ophelia berhenti. Dadanya semakin berdebar.
Bleiz menatapnya dengan matanya yang abu-abu gelap. Tidak ada ancaman di sana, tetapi juga tidak ada kehangatan.
"Aku bersedia," akhirnya Ophelia berbisik, suaranya hampir tak terdengar.
Petugas itu mengangguk, lalu menoleh ke Bleiz. "Dan kau, Bleiz Russo, bersediakah kau menerima Ophelia Martin sebagai istrimu?"
"Ya," jawab Bleiz, singkat dan tanpa ekspresi.
Mereka kemudian bertukar cincin. Cincin platinum berlapis berlian kecil sederhana yang terasa dingin di jari Ophelia.
Begitu cincin itu melingkar di jari manisnya, Ophelia merasakan beban yang tak terlihat membebani pundaknya. Ia terikat sekarang. Terikat pada pria yang bahkan tidak dia kenal.
"Aku menyatakan kalian sebagai suami dan istri. Kau boleh mencium pengantinmu."
Ophelia menahan napas. Bleiz melangkah mendekat, satu tanganny terulur untuk menyentuh dagunya dengan lembut.
Bahkan mungkin terkesan terlalu lembut untuk seorang monster. Ophelia memejamkan matanya ketika bibir Bleiz menyentuh keningnya, bukan bibirnya.
Itu bukan ciuman penuh gairah atau cinta. Itu adalah segel tanda kepemilikan.
"Selamat datang di keluarga Russo, Nyonya Bleiz," bisik Bleiz di telinganya, dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Ophelia berdiri.
*
*
Setelah acara pernikahan selesai, mereka kembali ke dalam kastil untuk jamuan makan malam sederhana.
Hanya beberapa rekan kepercayaan Bleiz yang hadir. Pria-pria berwajah tajam dengan setelan mahal yang memancarkan aura berbahaya.
Mereka semua menatap Ophelia dengan rasa ingin tahu, tetapi tidak ada yang berani bertanya atau berbicara kecuali atas izin Bleiz.
Ophelia duduk di samping Bleiz di meja panjang, mencoba menikmati hidangan yang disajikan meskipun dia tak selera makan sama sekali.
Di seberangnya, seorang pria berambut pirang dengan bekas luka di pipi kanannya tersenyum tipis.
"Selamat, Tuan," kata pria itu. "Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini."
Bleiz hanya mengedikkan bahunya. "Ini kebutuhan, Xandro. Bukan keinginan."
Kata-kata itu menusuk jantung Ophelia, meskipun dia tahu itu adalah kebenaran. Tapi mendengarnya diucapkan begitu terbuka di depan orang lain rasanya seperti penghinaan.
"Ah, tentu saja," Xandro tertawa pelan.
JANGAN LUPA KOMEN N LIKE YAAAAKK
😭😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁