NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Prajurit Datang

Seminggu kemudian, sebuah kendaraan dinas berhenti di depan rumah kami.

Lelaki yang turun mengenakan seragam berpangkat kolonel. Aku pernah melihatnya dari jauh saat pesta pernikahan. Arya menyambutnya dengan hormat, lalu memperkenalkan dia sebagai Kolonel Wibowo, salah satu rekan lama yang pernah bertugas bersamanya.

Seorang perwira muda mendampingi dan membawa map bersegel.

Wibowo tidak datang dengan iring-iringan besar. Hanya satu pengemudi menunggu di mobil. Meski begitu, beberapa warga berhenti di seberang pagar saat melihat seragam. Sejak akad, kehadiran orang militer di rumah kami selalu menjadi bahan omongan.

“Ini kunjungan pribadi,” kata Wibowo kepada Pak RT yang kebetulan lewat. “Tidak ada keadaan darurat.”

Penjelasan itu cukup membuat warga bergerak lagi, meski kepala mereka masih menoleh. Aku menghargai caranya menjaga rumah kami agar tidak berubah menjadi panggung kekuasaan.

Arya memintaku menyiapkan teh, lalu menanyakan apakah aku keberatan pembicaraan dilakukan di ruang kerja. Aku menjawab tidak. Dia tidak lagi menutup pintu atas nama perlindungan tanpa memberitahuku, tetapi isi tugas tertentu tetap bukan sesuatu yang boleh dibicarakan di depan anak-anak.

Raka serta Bayu sedang belajar di ruang tengah. Sasa bermain dekat kakiku. Setelah menyajikan air, aku membawa anak-anak ke halaman belakang agar pembicaraan tamu tidak terganggu.

Arya mengajak Wibowo ke ruang kerja.

“Kami belum membawa perintah pemanggilan,” kata Wibowo setelah pintu ditutup. “Ini masih permintaan konsultasi dan penilaian kesiapan.”

Dia membuka map. Sebuah satuan sedang menyusun tim pendukung untuk operasi di wilayah timur. Mereka membutuhkan orang yang memahami jalur, negosiasi lapangan, dan pola kerja lama Arya. Statusnya sebagai purnawirawan tidak otomatis membuatnya kembali aktif; setiap keterlibatan harus melalui surat resmi, pemeriksaan kesehatan, dan persetujuan struktur yang berwenang.

“Kami ingin namamu masuk kelompok inti cadangan,” kata Wibowo.

Arya menutup map tanpa membaca semua halaman. “Tidak.”

“Perannya bukan komandan lapangan,” lanjut Wibowo. “Analisis rute, pelatihan tim, dan konsultasi risiko. Tahap awal bisa dilakukan dari markas wilayah.”

“Konsultasi bisa diberikan tanpa namaku masuk kelompok inti.”

“Mereka membutuhkan orang yang keputusan lapangannya dipercaya.”

“Cari orang aktif.”

“Orang aktif belum pernah menghadapi pola lawan yang sama.”

Arya menyandarkan punggung. “Kalau situasinya sungguh mendesak, kirim surat resmi. Jangan datang membawa rasa bersalah dan menyebutnya permintaan.”

Perwira muda di samping Wibowo menunduk. Wibowo tidak tersinggung. Dia mengenal Arya cukup lama untuk memahami bahwa penolakan itu bukan kemalasan, melainkan luka kepercayaan yang belum pulih.

“Kamu belum melihat tugasnya.”

“Aku sudah bilang sejak pensiun.”

“Keadaan berubah.”

“Rumahku juga berubah.”

Wibowo bersandar. “Karena istri?”

“Karena istri dan tiga anak.”

“Negara tidak memintamu meninggalkan mereka selamanya.”

“Dulu juga tidak ada yang bilang Yudha akan pulang dalam peti.”

Nama itu membuat ruangan sunyi.

Wibowo menurunkan suara. “Kebocoran operasi terakhir bukan perintah seluruh institusi. Orang yang menjual informasi sudah dihukum.”

“Hukuman tidak membuat timku hidup kembali.”

Arya masih mengingat jalur sempit yang seharusnya aman, lampu tembakan dari tempat yang sudah mengetahui waktu kedatangan mereka, dan Yudha yang mendorongnya ke balik dinding beberapa detik sebelum ledakan.

Yudha menerima pecahan yang seharusnya mengenai dada Arya.

Dia masih sempat meminta satu hal sebelum kehilangan kesadaran: jangan biarkan adikku sendirian.

Sesudah operasi, Arya menjalani dua tindakan medis dan berbulan-bulan rehabilitasi. Pada masa itulah kabar tentang Almira dan Danendra datang. Tiga anak menunggu wali, sementara komando masih meminta dia kembali segera setelah dinyatakan pulih.

Arya memilih anak-anak.

Sebagian orang menyebutnya mengkhianati karier. Wibowo adalah salah satu dari sedikit orang yang menandatangani rekomendasi pensiun dan memastikan prosesnya tidak dipersulit. Karena itu Arya masih bersedia menerima kunjungannya meski hampir selalu menolak ajakan kembali.

Janji itulah yang membuat nama Yolanda selalu terasa seperti luka, bukan cinta.

“Kamu sudah menjaga adiknya,” kata Wibowo. “Membantu pendidikan, memastikan dia diterima di kesatuan, berdiri sebagai keluarga saat dibutuhkan. Yudha tidak meminta kamu mengorbankan seluruh hidup.”

“Yolanda tidak melihatnya begitu.”

“Dia kehilangan kakak. Kamu kehilangan sahabat. Kalian sama-sama terjebak dalam kalimat terakhir orang yang sudah tidak bisa menjelaskan maksudnya.”

Arya memandang jendela. “Aku sudah menikah.”

“Kami tahu. Yolanda juga tahu.”

“Lalu kenapa surat itu ditulis seperti itu?”

Wibowo menghela napas. “Karena dia menulis atas nama dirinya dan teman-teman lama sekaligus. Yang ditunggu adalah kamu kembali ke tim, bukan menjadi suaminya. Tapi Yolanda selalu buruk memilih kata saat menyangkut Yudha.”

“Laras membacanya.”

“Kamu menjelaskan?”

Arya diam.

Wibowo tertawa tanpa humor. “Kamu bisa mengatur penyergapan, tetapi tidak bisa menjelaskan satu surat kepada istri.”

“Tidak mudah.”

“Bukan mudah atau sulit. Kamu hanya takut mengucapkan bahwa Yudha mati menggantikanmu.”

Arya menggenggam ujung meja.

Wibowo menutup map. “Aku tidak akan memaksa hari ini. Pikirkan konsultasi terbatas. Tidak ada keberangkatan tanpa surat resmi dan persetujuanmu.”

“Jawabanku tetap sama.”

“Apa perangmu sekarang?”

Arya menoleh ke arah halaman belakang. Dari sana terdengar Bayu mengajari Sasa menghitung batu, sementara Raka membetulkan setiap angka.

“Menjaga tiga anak dan rumah ini,” katanya. “Itu cukup.”

Wibowo mengangguk perlahan. “Aku iri kamu akhirnya punya alasan pulang.”

Arya baru hendak menjawab ketika perwira muda di samping Wibowo menyebut bahwa Yolanda masih bertugas dan kadang bertanya apakah Arya akan kembali.

“Dia masih menunggu keputusanmu,” kata Wibowo. “Yolanda selalu menunggu kamu kembali ke kesatuan.”

Di saat yang sama, pintu terbuka.

Aku masuk membawa nampan teh.

Kalimat yang kudengar hanya bagian terakhir.

Sebelumnya aku berada di dapur bersama Sasa. Bayu datang meminta air, lalu mengatakan tamu Ayah sepertinya akan pulang. Aku menata cangkir dengan tenang. Selama satu minggu terakhir, aku hampir berhasil meyakinkan diri bahwa Yolanda hanyalah nama dari luka lama yang suatu hari akan dijelaskan.

Aku tidak tahu di balik pintu, Wibowo baru saja mengatakan bahwa yang ditunggu adalah kepulangan seorang rekan ke kesatuan. Aku juga tidak mendengar penjelasan tentang Yudha, janji terakhir, atau surat yang ditulis atas nama tim.

Aku hanya membuka pintu pada waktu yang paling buruk.

Yolanda selalu menunggu kamu.

Tanganku membeku. Dua cangkir di atas nampan saling beradu kecil.

Wibowo dan Arya menoleh bersamaan.

Wajah Arya berubah saat melihatku. Dia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Laras.”

Kali ini dia tahu persis kalimat mana yang jatuh ke telingaku.

Aku menaruh nampan di meja agar cangkir tidak jatuh. Tidak ada amarah yang meledak, hanya rasa lelah karena nama yang sama kembali berdiri di antara kami sebelum penjelasan lama selesai.

Dan dia tahu tidak ada lagi tempat aman untuk menyembunyikan penjelasan yang seharusnya sudah lama diberikan.

1
Mitha Artha Kencana Althea
inah kurang ajar dikasih kepercayaan mlh membuat snk snk kelaparan terus,,
Umi Maryam
lieur aah cwrita nya konplik terus fitnah terus ,masa istri paman nya di sebut ibu tiri gajelas .....
darwin
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
permisi.....kok sampe sini saya muak 🤧

author judul yg anda pakai menipu seharusnya judulnya "masalah bertubi-tubi"
Nurul Ghifari
raka umur 13 tahun tapi bahasanya mengalahkan logika orang dewasa. 🙏
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera kamu goblok bon tolol

gedek aku,, wes tak tampol kalo debat gitu sana aku
otakmu bocor ta , kasus,kasus dah 👊
mie_moet
pembantu setresss 🤬
Roamer Palsu
satu-satunya novel yang membuat saya membaca 90bab dalam sehari..

saya tidak pernah melakukan hal ini pada novel manapun sebelumnya..

novelnya tidak menjual romansa melankolis penuh air mata. tidak menjual kekejaman mertua, tidak mengeksploitasi kelemahan tokoh protagonis. setiap bab punya konflik yang tidak mungkin saya tinggalkan untuk tidak membaca bab selanjutnya..

authornya kerenn!!!
Ningsih Gedeona
aku bingungnya... si Ras nya uda selesai kuliah ya???? pindah- pindah terus... 🤭😁🤭😁🤭😁
Wulan Azka: saya malah lebih bingung sama si sasa ya yg kecil, pertama si Laras kesitu kan dia umur 2 THN ngga bisa ngomong pula. trus tau2 ada adegan si vera baru pindah dekat rumah Laras, paling si Sasa umur 3 tahun, belum sekolah juga kan. si Sasa di tes sama si Vera apa si farrel ya itu bisa ngomong lancar pakai bahasa inggris pula. dan kalimat yang dipakai baik bahasa inggris dan bahasa Indonesia pun itu kayak orang dewasa bahkan bukan kalimat santai yang biasa dipakai buat ngobrol sehari hari 🤔
total 1 replies
Ibu DelVan95
kak jujur novelmu bagus n rapi bgt bhsa ny kyk baku ya klo gk slah..ttep smngat buat kakak nya👍
H A P
plissss ngakakkkkk😭😭😭
Erna Masliana
emang kamunya yang bermasalah.. jangan nyalahin nasib .
Erna Masliana
lalu kenapa mau ditipu... udah sekali terjerumus.. ditolong..malah ngulang kesalahan
Erna Masliana
Vera Damar masih suami istri apa udah cerai sih ??
Erna Masliana
Damar kan suami Vera kok dia sepertinya membiarkan Vera terus meneror.. menganggu.. mengancam
fatmiatun sahono
cerita nya menarik.... mengajar kan ttg kehidupan keluarga. cuma gaya bahasanya kaku, seperti menggunakan AI baku banget dan formal walau sedang mengobrol dengan anak istri....🙏💪
Irianti
cerita nya bagus Thor, tapi ini seperti membaca cerita si laras aja. bukan seperti baca novel lebih bagus itu pov author aja jadi nyambung, maaf yaa Thor sekedar saran 🙏🙏🙏. tetap semangat💪💪💪
Jessica
jadi inget temenku pulang dari saudi pas goreng tempe anak e nungguin mau ambil satu nungguin ibunya pas gak tau...dia ambil satu adiknya d tarik ngumpet d makan bersama....Dia nangis kejer meluk anak2 nya minta maaf kalau mau makan apapun akan ibu masak kan,karena selama ibu nya merantau mereka serumah dng ibu tirinya makan nan d jatah😭😭😭😭😭😭
Jojo Ge
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera , wartawan kok goblok 😛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!