Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Lorenzo, bukankah kamu sudah berjanji akan menikahiku akhir tahun ini?”
Suara Bianca bergetar. Dia berusaha menahan tangis, tetapi air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya akhirnya jatuh juga.
Alina yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung mengangkat wajah. “Menikah? Akhir tahun?” Matanya berpindah kepada Bianca, lalu kepada Lorenzo.
Lorenzo justru diam mematung. Wajahnya mengeras. Dia tidak menyangka Bianca akan mengungkit rencana pernikahan itu di depan Alina.
“Bukankah kamu juga sudah mengurus surat gugatan perceraian kepada Alina?” lanjut Bianca di sela isak tangisnya. “Kamu bilang setelah kalian bercerai, kita akan menikah.”
Alina kembali membeku. Kali ini bukan karena terkejut mendengar Bianca menangis. Melainkan karena potongan-potongan informasi itu tiba-tiba tersusun di kepalanya. Lorenzo memang pernah mengatakan tentang perceraian mereka sebelum kecelakaan.
Bianca ternyata sudah mengetahui semuanya. Dan ternyata pria itu juga pernah menjanjikan pernikahan kepada Bianca.
Alina perlahan menoleh kepada suaminya.
“Pantas saja dia tiba-tiba ingin menceraikan aku. Rupanya akhir tahun ini mau menikah dengan Bianca.”
Lorenzo masih diam. Namun, pikirannya justru dipenuhi suara Alina.
Alina menunduk sedikit. Ada rasa nyeri yang sempat muncul di dadanya. Namun, rasa itu tidak bertahan lama.
“Semoga setelah mendengar ini, perceraian aku dengan Lorenzo segera terlaksana. Tidak perlu menunggu ingatannya pulih.”
Lorenzo tercengang. Dia menatap Alina dengan sorot mata tidak percaya. Bukankah seharusnya wanita itu marah atau menangis? Karena mendengar suaminya berencana menikah dengan wanita lain?
Tetapi Alian tidak begitu. Istrinya malah berharap perceraian mereka segera terlaksana.
Dada Lorenzo terasa sesak. Selama ini dia mengira Alina tidak peduli karena wanita itu terlalu pendiam dan penurut. Sekarang dia justru sadar bahwa mungkin Alina memang tidak pernah menginginkan dirinya sejak awal.
“Enak saja,” gerutu Lorenzo dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya. “Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah aku ceraikan.”
Bianca tidak menyadari pergolakan dalam diri Lorenzo. Dia justru melangkah mendekat.
“Lorenzo, kamu tidak boleh ingkar janji,” ujar Bianca dengan suara memelas. Tangannya meraih sebelah tangan Lorenzo dan menggenggamnya erat.
Lorenzo langsung menarik tangannya. Gerakannya begitu cepat sampai Bianca kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur beberapa langkah.
“Lorenzo ....”
Pria itu menatapnya dengan senyum miring yang sama sekali tidak menunjukkan kelembutan. “Kamu pikir aku masih mau menikah dengan wanita yang sudah jatuh ke dalam pelukan banyak laki-laki?”
Wajah Bianca seketika berubah.
Lorenzo melangkah mendekat. Suaranya tidak meninggi, tetapi justru itu yang membuat suasana terasa semakin menekan. “Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan di belakangku, Bianca.”
Bianca menelan ludah.
“Kamu sering berganti-ganti pria. Berkencan dengan mereka. Bahkan tidur bersama.”
Wajah Bianca langsung pucat. Dia menggeleng cepat. “Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Lorenzo tertawa pendek. “Tidak seperti yang kupikirkan?”
Bianca tidak mampu menjawab. Lorenzo sudah mengetahui semuanya. Rahasia yang selama ini dia sembunyikan ternyata sudah terbongkar.
Bianca menatap pria di hadapannya dengan mata penuh ketakutan. “Bagaimana dia bisa tahu?” batinnya.
Sementara itu, Lorenzo menatap Bianca dengan rasa jijik yang tidak lagi dia sembunyikan.
Alina pun masih terpaku. Dia tidak menyangka Lorenzo akhirnya mengetahui kelakuan Bianca. Setelah sekian lama, pria yang begitu memuja Bianca akhirnya melihat sendiri sisi wanita yang selama ini dia bela mati-matian.
Alina menghela napas dalam hati. “Rupanya sekarang dia sudah tahu.”
Kemudian dia mengerutkan kening. “Kenapa tidak dari dulu-dulu? Padahal dulu aku pernah bilang kepadanya, tapi dia tidak percaya.”
Lorenzo yang mendengar itu langsung mengerutkan kening. “Dia pernah bilang?”
Dia melirik Alina. Seingatnya, mereka belum pernah membicarakan perselingkuhan Bianca. Dia sendiri baru mengetahui Bianca berselingkuh setelah mendengar isi pikiran Alina.
Lorenzo memperhatikan istrinya beberapa detik dan tak sadar Bianca kembali mencoba mendekat.
“Lorenzo, dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya.”
“Sudahlah.” Lorenzo mengangkat tangannya, menghentikan langkah Bianca. “Jangan ganggu aku lagi!”
Pria itu menunjuk ke arah pintu. “Sana pergi.”
Bianca menggeleng dengan air mata semakin deras. “Lorenzo ...!” Dia kembali mengulurkan tangan, hendak meraih tangan pria itu.
“Pergi!” Bentakan Lorenzo membuat Bianca langsung menghentikan gerakannya. “Atau aku panggil polisi karena kamu sudah masuk sembarangan ke rumah orang lain!”
Bianca terdiam. Wajahnya pucat.
Alina hanya berdiri di tempat sambil memandangi keduanya bergantian.
“Lorenzo beneran marah.”
Biasanya pria itu memang tegas. Namun, kali ini kemarahannya terlihat berbeda. Tidak ada sedikit pun keraguan ketika dia menyuruh Bianca pergi.
Lorenzo kemudian menoleh kepada Alina. “Alina.”
“Ya?”
“Seret Bianca ke luar.”
Alina menunjuk dirinya sendiri. “Kok, aku?!”
Alis Lorenzo terangkat. Tatapannya tajam.
Alina langsung mengerti. Dia mengembuskan napas panjang. “Baik.”
Dalam hati dia menggerutu.
“Huh! Kenapa menyeret aku dalam pertikaian kalian?”
Alina kemudian menghampiri Bianca dan meraih lengannya. “Ayo.”
Bianca menatapnya dengan kesal. “Aku bisa jalan sendiri.”
“Bagus lah kalau begitu.” Alina melepaskan tangannya.
Bianca berjalan menuju pintu dengan langkah berat dan Alina mengikutinya sampai keluar. Begitu pintu tertutup, Alina menarik napas lega.
Beberapa saat kemudian, Alina sudah berganti pakaian dan bersiap pergi ke kantor. Dia mengambil tasnya, kemudian berjalan keluar rumah. Seperti biasanya, dia berniat menuju halte bus. Namun, baru beberapa langkah, suara Lorenzo menghentikannya.
“Alina!”
Alina berbalik. Dia melihat Lorenzo berdiri di dekat mobil.
“Naik.”
Alina menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
“Iya.”
“Aku mau naik bus.”
Lorenzo membuka pintu mobil. “Mulai sekarang kita pergi dan pulang bersama.”
Alina mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Tidak usah banyak tanya.”
Alina mendengus pelan. Karena tatapan Lorenzo tidak menunjukkan tanda-tanda akan berubah pikiran, Alina akhirnya masuk ke dalam mobil.
Selama ini Alina memang lebih sering menggunakan kendaraan umum ketika bepergian, termasuk pergi ke kantor. Dia menyukai suasana ramai. Dia suka melihat orang-orang berlalu-lalang, mendengar suara kendaraan, melihat pedagang menawarkan dagangan, atau sekadar mengobrol dengan orang yang duduk di sebelahnya. Mungkin karena rumah selalu terasa terlalu sepi baginya.
Setelah tinggal bertahun-tahun bersama Lorenzo, mereka tetap seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama. Di luar rumah, Alina justru menemukan sedikit kehangatan yang tidak dia dapatkan di dalam rumah.
Mobil mulai melaju, tidak ada percakapan diantara mereka. Lorenzo fokus menyetir dan Alina duduk di kursi penumpang, sibuk dengan pikirannya sambil menatap keluar jendela.
“Kenapa Bianca selingkuh, ya?”
Lorenzo meliriknya sekilas. Dia tak habis pikir, kenapa Alina suka sekali kepo.
Alina masih menatap jalanan.
“Apa kurangnya Lorenzo?”
Alina sendiri belum menyadari bahwa pertanyaan sederhana tentang perselingkuhan Bianca justru akan membuat pikirannya berkelana ke arah yang sama sekali tidak terduga.
***
Kira-kira kalian bisa menebak apa pikiran Alina? 😁
Alina di lawan
pasti membekas di hati
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏