Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Pagi itu, suasana di depan Gedung Pengadilan Agama terasa lebih tegang dari biasanya. Aslan keluar dari mobil dengan wajah datar, tapi sesekali jari-jarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Faris berdiri di sebelah kanan, sementara pengacara pribadinya ada di kiri.
“Tenang, tuan. Semua akan berjalan sesuai rencana,” ujar Faris berusaha menenangkan.
Aslan hanya mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan. Jas abu-abu tua yang dikenakannya rapi sempurna, dasi terpasang tanpa cela, tapi kegelisahan jelas tersimpan dalam diamnya. Mereka melewati pemeriksaan keamanan dan melangkah ke ruang sidang. Di koridor, bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa orang saling membisikkan sesuatu, tapi Aslan mengabaikan semuanya.
“Jangan dengar mereka, fokus saja,” bisik pengacara pribadinya.
Sesampainya di ruang sidang, suasana langsung berubah kaku dan formal. Meja hakim di depan, dua meja untuk kedua pihak di kiri dan kanan, serta bangku pengunjung di belakang.
Aslan dan timnya mengambil posisi di sisi tergugat. Di sisi seberang, hanya ada satu orang duduk, Adrian, pengacara Naya. Kursi di sampingnya tetap kosong, mempertegas ketidakhadiran Naya.
“Nyonya Naya sepertinya tidak datang lagi, tuan” ucap Faris.
Aslan menghela napas, suara serak keluar dari bibirnya, “Sudahlah, biarkan saja proses ini berjalan tanpa dia".
Aslan menatap kursi kosong di depan meja sidang, rahangnya mengeras tanpa sedikitpun ekspresi melembut. "Sudah tiga kali mediasi, kenapa dia masih saja absen?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan ruang sidang.
Di sampingnya, Samsul pengacaranya duduk rapi, membuka map di hadapannya. Sekali-sekali ia melirik ke arah Aslan lalu mengangguk sopan. "Nyonya Naya sengaja, agar proses perceraiannya berjalan dengan mudah" jelasnya.
Aslan membalas tatapannya dengan tatapan tajam. "Dia memang licik" kesal Aslan
"Tenang saja, nanti semuanya akan jelas," kata Samsul kembali, namun suasana tetap berat, dipenuhi rasa canggung.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang sidang terbuka. Majelis hakim masuk dengan langkah tegas. Semua orang serempak berdiri.
Ketua majelis membuka suara dengan lantang dan jelas, "Sidang perkara nomor 045/Pdt.G/2024/PN.JKT tentang perceraian antara Aslan dan [nama wanita] pada hari ini memasuki agenda pembacaan putusan."
Keheningan semakin menebal, hanya suara ketukan palu yang menanti untuk mengakhiri kisah yang sejak lama menjadi beban di hati Aslan.
Aslan duduk kembali dengan punggung tegak. Ia mendengarkan setiap kata yang diucapkan hakim, meski sebagian besar sudah ia duga. Ketika akhirnya putusan diucapkan, bahwa perkawinan antara Aslan dan Naya sah diputus cerai, ia hanya menunduk sedikit, menekan rasa panas di dada. Tidak ada ledakan emosi. Hanya keheningan yang panjang.
Sidang belum selesai, tapi suasana di ruang sidang mulai berubah tegang.
Adrian, pengacara Naya, berdiri dengan langkah mantap. Suaranya tenang, tapi penuh keyakinan saat mulai berbicara, "Yang mulia, selain gugatan utama, klien kami juga mengajukan tuntutan pembagian harta gono-gini."
Dia melangkah ke meja panitera, menyerahkan beberapa berkas tebal. "Ini daftar aset beserta bukti kepemilikan bersama, dokumen-dokumen yang sudah kami kumpulkan selama ini," jelas Adrian sambil menaruh berkas itu di depan hakim.
"Aspek pentingnya, rekening bersama yang sempat dipindahkan, sertifikat rumah yang digadaikan, dan beberapa aset lain yang tercatat atas nama mereka berdua," lanjutnya.
Aslan yang duduk di bangkunya langsung menoleh ke arah pengacaranya dengan tatapan tajam. Wajahnya berubah menegang, napasnya tiba-tiba terasa sesak. “Sudah ku duga, dia bakal menuntut harta gono gini" gumam Aslan pelan, darahnya berdesir panas.
Dia menatap ke arah Adrian dan Naya yang duduk dengan tenang di sisi lain ruang sidang, merasa semuanya mulai berpihak pada lawannya.
Faris yang duduk di belakang hanya bisa menghela napas pelan.
Pengacara Aslan segera merespons, meminta waktu untuk memeriksa berkas dan mengajukan sanggahan di persidangan berikutnya. Majelis hakim mengangguk, menetapkan jadwal lanjutan untuk membahas tuntutan harta gono-gini, lalu menutup sidang hari itu.
Ketika semua orang berdiri, Aslan masih duduk beberapa detik lebih lama. Ia menatap kursi kosong di sisi Naya sekali lagi. Wanita itu tidak hadir untuk mendengar putusan cerai, tapi melalui pengacaranya, ia tetap menuntut apa yang menurutnya menjadi haknya.
Aslan akhirnya bangkit. Langkahnya keluar ruang sidang terasa berat. Di koridor, ia berbicara pelan pada pengacaranya, “Periksa semua berkas itu. Saya tidak akan menyerahkan apa pun dengan mudah.”
Pengacara itu mengangguk. Faris berjalan di belakang mereka, membawa map dokumen. Di luar gedung, matahari sudah cukup tinggi.
Tanpa banyak bicara Aslan masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil, ia menatap ke depan dengan rahang yang masih mengeras. Perceraian sudah diputus. Tapi perang soal harta baru saja dimulai. Dan di benaknya, satu hal semakin jelas, Naya mungkin tidak hadir secara fisik, tapi ia sama sekali tidak menyerah.
Dari jauh, wanita itu tetap melawan.
*
*
Aslan tiba di rumahnya. Ia memarkir mobil dengan gerakan kasar, mematikan mesin, lalu duduk diam di dalam kabin beberapa saat sebelum akhirnya turun.
Wajahnya kusut, jasnya agak berantakan di bagian kerah, dan langkahnya berat ketika menaiki anak tangga depan. Sidang putusan tadi pagi masih terasa menekan dadanya. Cerai sudah resmi. Tapi tuntutan harta gono-gini yang diajukan Adrian membuat kepalanya semakin penat.
Ceklek....
Ia membuka pintu rumahnya. Liza sudah menunggu di ruang tamu, duduk di sofa dengan wajah yang berseri.
Begitu melihat suaminya masuk, ia langsung bangkit dan menghampirinya dengan senyum lebar.
“Sayang!” serunya ceria. “Kamu sudah pulang. Gimana sidangnya? Udah selesai, kan?” tanya Liza beruntun.
Aslan hanya mengangguk singkat, melepas jasnya, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya.
Liza tidak menangkap sinyal itu. Ia malah duduk di samping Aslan, meraih lengan suaminya, dan berbicara dengan nada penuh harap.“Sayang, kamu sudah resmi berpisah dengan Naya,” ucapnya, senyumnya semakin lebar. “Terus… kapan kamu akan meresmikan pernikahan kita? Aku sudah menunggu. Mama juga sudah menanyakan berkali-kali. Sekarang sudah tidak ada halangan lagi, kan?”
Aslan yang sejak tadi menunduk akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap tajam ke arah Liza. Tatapan itu dingin, lelah, dan penuh tekanan yang tidak bisa disembunyikan.
Senyum di wajah Liza langsung memudar sedikit.
“Kamu pikir hari ini aku pulang dengan perasaan lega?” tanya Aslan pelan, nada suaranya rendah tapi menusuk. “Perceraian memang sudah diputuskan. Tapi Naya menuntut harta gono-gini. Rumah ini, aset lain, semuanya masuk kedalam daftarnya. Pengacaranya bawa berkas tebal. Dan aku harus menghadapi itu semua.”
Liza terdiam. Ia menarik tangannya pelan dari lengan Aslan. “Tapi… kan sudah cerai. Urusan harta nanti saja. Yang penting kita bisa menikah resmi sekarang. Aku tidak mau terus jadi istri siri.”
Aslan tertawa pendek, tawa yang pahit. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Liza lagi dengan mata yang sama tajamnya. “Kamu hanya memikirkan pernikahan resmi? Sementara aku baru saja kehilangan kontrol atas banyak hal, perusahaan sedang goyah, tagihan bank menunggak, dan sekarang harus berbagi harta dengan wanita yang bahkan tidak mau hadir di sidang? Kamu pikir aku punya waktu untuk memikirkan resepsi sekarang?”
Liza menggigit bibir. Senyumnya sudah hilang total. Ia mencoba meraih tangan Aslan lagi, tapi pria itu berdiri lebih dulu, mengambil jasnya, dan berjalan menuju tangga.
“Aku ke atas,” ucapnya singkat tanpa menoleh.
“Jangan bicarakan pernikahan resmi dulu. Aku belum bisa memikirkan itu.”
Liza duduk sendirian di sofa, menatap punggung Aslan yang semakin menjauh. Di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sepi, rasa bahagia yang sempat ia rasakan ketika mendengar kabar perceraian… pelan-pelan berubah menjadi cemas.