Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Malam semakin larut, namun kediaman mewah berlantai tiga yang terletak di kawasan elite ibu kota itu masih tampak sunyi, seolah menelan setiap suara yang mencoba hadir. Rumah itu adalah mahakarya arsitektur modern didominasi oleh dinding kaca besar, marmer hitam mengilat yang memantulkan cahaya temaram, serta lampu gantung kristal yang menjuntai anggun di ruang tengah. Namun, di balik segala kemegahannya, rumah itu terasa dingin, tak ubahnya sebuah sangkar emas yang sunyi dan hampa.
Di ruang makan lantai satu, seorang wanita cantik bernama Kinara duduk termenung. Ia mengenakan baju tidur satin premium berwarna navy yang lembut, membingkai tubuh rampingnya dengan sangat anggun. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, sedikit bergoyang setiap kali ia menghela napas berat.
Di hadapannya, sebuah meja makan berbahan kayu mahoni mahal telah ditata dengan sangat rapi. Di atasnya, berdiri sebuah kue ulang tahun kecil berhiaskan krim putih dengan angka '6' yang terbuat dari lilin. Di sekeliling kue itu, tersaji beberapa menu makan malam mewah yang sengaja ia masak sendiri sejak sore tadi.
Lilin di atas kue itu sudah menyala sejak beberapa jam yang lalu, kini lelehannya mulai membanjiri permukaan krim, perlahan memadamkan apinya sendiri. Sama seperti harapan Kinara yang kian meredup seiring berjalannya waktu.
"Kamu di mana, Mas...?" bisik Kinara lirih. Matanya yang indah menatap nanar ke arah pintu utama yang tak kunjung terbuka.
Malam ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang keenam. Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan dalam sebuah pernikahan yang sepi. Suaminya adalah Zergan Airlangga, seorang CEO muda berdarah dingin yang memimpin perusahaan konglomerat ternama di negara ini. Di luar sana, Zergan dipuja sebagai pria sempurna yang memiliki segalanya. Namun di mata Kinara, Zergan adalah sosok pria misterius yang hatinya tak pernah bisa ia gapai.
Selama enam tahun ini, Kinara berjuang mencintai sendirian. Pria itu teramat dingin. Zergan lebih sering menghabiskan waktunya di kantor, tenggelam dalam tumpukan berkas dan rapat-rapat penting, ketimbang pulang ke rumah ini. Jika pun pulang, pria itu hanya menganggap rumah ini tak lebih dari tempat persinggahan untuk mandi dan berganti pakaian.
Jarum jam dinding terus berputar kejam.
Pukul 01.00 dini hari... tidak ada tanda-tanda mobil Zergan memasuki pekarangan rumah.
Pukul 02.00 dini hari... ponsel Zergan yang dihubungi Kinara berkali-kali tetap berada di luar jangkauan.
Pukul 03.00 dini hari... keheningan malam kian mencekam.
Kinara akhirnya menyerah. Air mata yang sejak tadi ia tahan, luruh satu demi satu membasahi pipinya. Dengan jemari yang bergetar, ia meniup sendiri lilin ulang tahun yang sudah hampir habis itu. Kegelapan seketika menyelimuti meja makan. Dengan langkah gulai dan hati yang patah, Kinara berjalan gontai menuju kamar utama di lantai dua, meninggalkan semua makanan yang kini telah mendingin dan membeku, persis seperti sikap suaminya.
Keesokan paginya, sinar matahari terbit menembus celah gorden kamar yang super luas. Kinara terbangun dengan mata yang terasa sedikit sembab. Saat ia menoleh ke sisi ranjang berukuran king size di sampingnya, tempat itu masih rapi dan dingin. Suaminya tidak pulang semalam.
Namun, sayup-sayup Kinara mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi di dalam kamar mereka. Jantungnya berdesir. Zergan sudah pulang?
Kinara segera beranjak dari tempat tidur. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Sosok pria bertubuh jangkung dan atletis keluar dari sana. Zergan Airlangga. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan dada bidangnya. Wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, serta tatapan matanya yang setajam elang selalu mampu membuat Kinara terpesona, sekaligus merasa terasing di saat yang bersamaan. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Kinara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengubur rasa kecewa dan sedihnya semalam. Ia melangkah mendekat dengan senyum lembut yang dipaksakan, berusaha menjadi istri yang berbakti.
"Mas... kamu sudah pulang?" tanya Kinara, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Zergan tidak menjawab. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arah Kinara. Jemari tangannya yang kokoh sibuk merapikan dasi sutra di lehernya di depan cermin besar.
Kinara melangkah lebih dekat, mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk membantu merapikan kerah kemeja sang suami. "Selamat ulang tahun pernikahan yang keenam, Mas," ucapnya lirih, menatap wajah suaminya dari jarak dekat, mencari sedikit saja binar kehangatan di sana. "Semalam aku menunggumu sampai jam tiga pagi..."
Gerakan tangan Zergan terhenti sejenak, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tripleks. "Aku sibuk. Banyak urusan di kantor yang tidak bisa ditinggal," jawabnya dingin, datar, dan tanpa beban.
Kinara menelan saliva, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Jawaban klasik yang selalu ia dengar selama enam tahun ini. Namun, ia tidak ingin berdebat di pagi hari. Ia kembali memasang senyum manisnya, meski hatinya terasa seperti diiris sembilu.
"Iya, Mas, aku mengerti," kata Kinara dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, seolah semuanya baik-baik saja. "Hari ini... jam berapa kamu pulang, Sayang? Aku bisa masakan makanan kesukaanmu lagi nanti malam."
Zergan memakai jas hitam mewahnya, lalu meraih tas kerja dan jam tangan Rolex-nya di atas meja nakas. Ia berbalik, menatap Kinara sekilas dengan tatapan mata yang kosong, tanpa ada kehangatan, apalagi rasa bersalah karena telah melewatkan hari penting mereka.
"Jangan menungguku. Aku tidak tahu pulang jam berapa. Mungkin aku akan menginap di kantor lagi," ucap Zergan singkat dan padat.
Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyayat hati itu, Zergan melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi, menyisakan aroma parfum maskulinnya yang mahal yang tertinggal di udara.
Brakk.
Pintu kamar tertutup rapat. Kinara terpaku di tempatnya berdiri. Kamar mewah yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekik. Bahunya merosot seketika. Air mata yang sejak tadi pagi ia tahan dengan sekuat tenaga, akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Suasana pagi yang seharusnya cerah dan penuh semangat, seketika berubah menjadi abu-abu dan penuh duka bagi Kinara. Rumah megah tiga lantai ini kembali terasa seperti kuburan yang sunyi bagi hatinya yang hancur.
Kinara menatap pintu kamar yang telah tertutup rapat dengan pandangan kosong. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya telah ditarik paksa dari dalam tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar ranjang yang dingin, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai marmer.
"Selalu seperti ini..." ucap Kinara lirih. Suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar yang luas itu.
Setiap hari, setiap minggu, dan setiap tahun, skenario yang sama terus berulang dalam hidupnya. Harapan yang membubung tinggi di malam hari, selalu dihancurkan oleh kenyataan pahit di pagi hari.
Setelah beberapa saat membiarkan air matanya mengalir, Kinara menghapus jejak basah di pipinya dengan kasar. Ada rasa sakit yang teramat akrab yang tiba-tiba mendesak dadanya—sebuah rasa penasaran bercampur luka yang selalu ia simpan sendiri. Dengan langkah gontai, ia bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari nakas kayu yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping meja kerja kecil milik Zergan.
Kinara berlutut di depan nakas tersebut. Jemarinya yang ramping membuka laci paling bawah, lalu meraba bagian paling dalam yang tersembunyi di balik tumpukan dokumen-dokumen penting milik suaminya. Di sana, di tempat yang paling privat, ada sebuah amplop cokelat tua yang sengaja disimpan Zergan jauh dari jangkauan siapa pun.
Dengan tangan yang gemetar, Kinara membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat tumpukan kertas memo lama dan sebuah foto berukuran sedang yang sudah sedikit usang di bagian ujungnya.
Kinara mengeluarkan foto itu. Di dalam selembar kertas foto tersebut, tampak sosok Zergan beberapa tahun lalu—sosok yang sama sekali berbeda dengan pria dingin yang baru saja keluar dari kamar ini. Dalam foto itu, Zergan sedang tersenyum lepas, matanya berbinar penuh kehangatan, dan lengannya merangkul erat seorang wanita cantik yang tertawa bahagia di sampingnya. Wanita itu adalah mantan kekasih Zergan, cinta sejati pria itu yang telah tiada.
Melihat senyuman Zergan di foto itu, dada Kinara terasa seperti dihantam godam yang sangat besar. Selama enam tahun pernikahan mereka, Zergan tidak pernah sekalipun memberikan senyuman sehangat itu kepadanya. Jangankan tersenyum, menatap matanya dengan lembut pun tidak pernah.
Kinara mendekap foto itu di dadanya, lalu menatapnya kembali dengan senyum getir yang penuh keputusasaan.
"Kalau dia masih hidup... pasti kamu akan menikah dan hidup bahagia dengannya sekarang, Mas," ucap Kinara sendiri, bicaranya teramat lirih menembus kesunyian malam yang tersisa di pagi hari.
Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas permukaan foto, mengenai wajah Zergan yang sedang tersenyum bahagia.
"Kamu nggak akan kesiksa seperti sekarang... Kamu nggak perlu memaksakan diri tinggal di rumah ini dengan wanita yang sama sekali tidak kamu inginkan," bisiknya lagi, meratapi nasibnya sendiri.
Kinara tahu betul, pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta, melainkan karena sebuah keharusan yang mengunci kebebasan Zergan. Di balik sikap dingin sang suami, Kinara sadar bahwa Zergan juga sedang tersiksa—pria itu terpenjara dalam komitmen pernikahan bersamanya, sementara seluruh jiwa dan hatinya telah mati dan terkubur bersama masa lalunya. Meratapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebuah bayang-bayang yang tak teranggap, Kinara hanya bisa menangis dalam diam, meremas foto yang menjadi bukti abadi bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita itu di hati Zergan.
kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍
dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
besok² crazy up dong kk thor💪