hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
Setelah ritual darah selesai dilaksanakan, cahaya yang menyelimuti Emma dan Damian perlahan menghilang. Suasana aula kembali tenang, meskipun para vampir bangsawan yang hadir masih menyaksikan pasangan itu dengan penuh perhatian.
Tetua yang memimpin ritual kemudian melangkah mendekati Emma. Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan ukiran perak di bagian tutupnya.
“Emma, kemarilah sebentar, Nak,” panggil tetua itu dengan suara yang lebih lembut daripada sebelumnya.
Emma yang masih berdiri di samping Damian segera menoleh. “Ada apa, Tetua?”
Tetua tersebut tersenyum tipis, lalu membuka kotak yang dibawanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bulan sabit. Permukaan liontin itu dihiasi ukiran kuno yang tampak berkilau ketika terkena cahaya bulan.
“Ini untukmu, Nak,” ujar tetua sambil menyerahkan kalung tersebut kepada Emma. “Kalung ini merupakan perlindungan khusus bagi manusia yang menikah dengan vampir. Setiap manusia yang menjadi pasangan resmi seorang vampir akan menerima kalung seperti ini.”
Emma menerima kalung itu dengan hati-hati. Ia memperhatikan liontinnya, lalu mengangkat wajah untuk menatap tetua.
“Jadi, kalung ini bisa melindungi saya dari vampir lain?” tanyanya penasaran.
“Benar. Kalung ini akan membantu melindungimu, meskipun bukan berarti kau boleh mengabaikan keselamatanmu sendiri. Ikatan darahmu dengan Damian juga memiliki peran penting dalam perlindunganmu.”
Emma mengangguk pelan, berusaha memahami penjelasan tersebut.
Tetua itu kemudian menatap Emma dan Damian secara bergantian. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
“Ada satu hal yang harus kalian ingat. Ikatan darah yang baru saja kalian bentuk bukanlah ikatan biasa. Karena itu, berhati-hatilah ketika mengucapkan sesuatu, terutama kata-kata yang berkaitan dengan perpisahan.”
Emma langsung mengerutkan kening.
“Maksud Tetua, kami tidak boleh sembarangan mengatakan ingin berpisah?” tanyanya untuk memastikan.
“Begitulah, Nak. Aku berharap kalian tidak sampai salah melontarkan kata pisah hanya karena pertengkaran atau emosi sesaat. Dalam hukum kuno vampir, permintaan untuk memutuskan ikatan ini memiliki konsekuensi yang tidak bisa dianggap remeh.”
Senyum Emma perlahan memudar. Ia teringat kembali pada penjelasan Raina mengenai risiko ikatan darah mereka.
Jadi, aku benar-benar harus berhati-hati kalau sedang marah sama suamiku ini, batinnya sambil melirik Damian sekilas.
Sementara itu, Damian hanya berdiri dengan ekspresi tenang, seolah peringatan tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan baginya.
“Jangan khawatir, Tetua. Aku memahami hukum itu,” jawab Damian dengan suara rendah.
Tetua mengangguk puas.
“Bagus. Kalau begitu, jagalah istrimu dengan baik, Pangeran Damian. Dan kau juga, Emma, belajarlah memahami dunia tempat kau sekarang menjadi bagian darinya.”
Emma tersenyum sopan sambil menggenggam kalung pemberian tetua.
“Terima kasih banyak, Tetua. Saya akan menjaganya baik-baik.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Emma mengenakan kalung tersebut. Liontin perak itu terasa dingin ketika menyentuh kulitnya, tetapi beberapa saat kemudian, sensasi hangat yang lembut menjalar di sekitar lehernya.
Ia sempat menyentuh liontin itu sekali lagi sebelum menoleh kepada Damian.
“Menurutmu cocok tidak?” tanyanya sambil sedikit mengangkat dagu.
Damian melirik kalung tersebut, kemudian menatap wajah istrinya.
“Cocok.”
Emma berkedip. Ia tidak menyangka Damian akan menjawab secepat itu.
“Cuma cocok? Tidak ada komentar lain?”
“Memangnya kau mengharapkan pidato?”
Emma langsung mendengus. “Ya, siapa tahu setelah ritual begini kau jadi lebih romantis sedikit.”
“Jangan berharap terlalu tinggi.”
“Dasar vampir menyebalkan!”
Damian hanya menghela napas kecil, sedangkan tetua yang mendengar percakapan mereka menggelengkan kepala dengan senyum tipis.
“Sepertinya kalian akan membuat aula ini lebih ramai daripada biasanya,” gumamnya sebelum berbalik.
Setelah memberikan penghormatan terakhir kepada pasangan itu, tetua menuruni altar. Para bangsawan vampir yang hadir mulai meninggalkan aula secara bergantian, sementara Raina dan Leonardo menghampiri Emma serta Damian.
Raina langsung memeluk Emma dengan penuh kasih sayang.
“Bagaimana, Sayang? Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil memeriksa wajah Emma.
Emma mengangguk. “Aku baik-baik saja, Mami. Cuma sedikit gugup tadi.”
Raina mengusap lembut rambut Emma. “Syukurlah. Mami sempat khawatir kau akan ketakutan.”
“Awalnya memang takut,” jawab Emma jujur. “Apalagi waktu melihat darahnya. Tapi ternyata tidak seseram yang kubayangkan.”
Leonardo terkekeh mendengar jawaban itu.
“Kalau begitu, sebaiknya kita pulang. Malam sudah semakin larut, dan kalian berdua pasti membutuhkan istirahat.”
Emma mengangguk setuju. Namun, sebelum mereka beranjak, ia teringat sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
“Papi, boleh aku bertanya?”
“Tentu saja, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?”
Emma melirik Damian sebentar, lalu kembali menatap Leonardo.
“Sebelum aku, apa pernah ada manusia lain yang menikah dengan vampir?”
Pertanyaan itu membuat Leonardo terdiam sesaat. Raina pun menatap Emma, seolah ingin mengetahui alasan di balik rasa penasarannya.
“Ada,” jawab Leonardo akhirnya. “Namun, pernikahan seperti ini sangat jarang terjadi. Tidak semua manusia mampu menerima kenyataan bahwa pasangan mereka adalah vampir, apalagi hidup di tengah aturan dan bahaya yang ada di dunia kami.”
Emma memainkan ujung kalungnya sambil mendengarkan.
“Lalu, bagaimana nasib mereka, Papi? Apa mereka bisa hidup bersama dengan baik?”
“Setiap pasangan memiliki kisahnya masing-masing,” jawab Leonardo hati-hati. “Ada yang berhasil membangun kehidupan bersama, tetapi ada pula yang harus menghadapi banyak kesulitan. Karena itulah, kami selalu berhati-hati ketika melibatkan manusia dalam kehidupan vampir.”
Emma mengangguk pelan. Ia tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tetapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh untuk sementara waktu.
“Kalau begitu, aku harus belajar banyak hal tentang dunia kalian,” gumamnya.
“Dan kami akan membantumu mempelajarinya,” sahut Raina sambil menggenggam tangan Emma. “Kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian, Sayang.”
Emma tersenyum hangat. “Terima kasih, Mami.”
---
Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya tiba di mansion.
Emma yang sejak tadi duduk di dalam mobil mulai memperhatikan bangunan megah yang tampak dari balik jendela. Lampu-lampu di sepanjang jalan masuk menyala terang, menerangi halaman luas yang dipenuhi pepohonan dan taman yang tertata rapi.
Begitu turun dari mobil, Emma langsung meregangkan tubuhnya.
“Akhirnya sampai juga. Kakiku pegal sekali duduk terus,” keluhnya sambil menggerakkan kedua kakinya.
Damian turun dari sisi lain mobil, lalu menatap Emma sekilas.
“Kau hanya duduk. Bagaimana bisa kakimu pegal?”
Emma langsung menoleh tajam.
“Memangnya duduk berjam-jam itu tidak melelahkan? Coba kau duduk diam tanpa melakukan apa-apa, baru tahu rasanya!”
“Aku melakukannya setiap hari di ruang kerjaku.”
Emma terdiam selama dua detik sebelum mendengus kesal.
“Ya, ampun. Aku lupa sedang bicara dengan manusia—eh, vampir yang tidak punya perasaan!”
Damian mengangkat sebelah alisnya. “Kau baru menyadarinya sekarang?”
“Damian!”
Leonardo dan Raina yang berjalan beberapa langkah di depan mereka tertawa kecil mendengar pertengkaran ringan itu.
“Sudahlah, kalian berdua. Jangan bertengkar terus,” tegur Raina dengan nada geli. “Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan.”
Emma segera menyusul Raina, sementara Damian berjalan di belakangnya dengan ekspresi datar.
Sesampainya di ruang utama mansion, Leonardo meminta mereka semua berkumpul sebentar.
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada kalian,” katanya.
Emma menoleh dengan rasa penasaran. “Apa itu, Papi?”
Leonardo tersenyum sebelum menjawab, “Kami sudah menyiapkan sebuah rumah khusus untukmu dan Damian. Mulai malam ini, kalian akan tinggal di sana.”
Emma membeku.
“Sebentar.” Ia mengangkat satu tangan, meminta Leonardo mengulangi perkataannya. “Maksud Papi, rumah sendiri? Aku dan Damian tinggal berdua?”
“Benar,” jawab Leonardo tenang.
Emma perlahan menoleh ke arah Damian. Pria itu sama sekali tidak tampak terkejut, seolah sudah mengetahui rencana tersebut sejak awal.
“Kau sudah tahu?” tanya Emma curiga.
“Ya.”
“Dan kau tidak memberitahuku?”
“Tidak ada yang bertanya.”
Emma membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak tahu harus menjawab apa.
Ya Tuhan, kesabaran macam apa yang harus kupakai untuk menghadapi laki-laki ini?
Raina segera menghampiri Emma dan menggenggam kedua tangannya.
“Jangan salah paham, Sayang. Kami bukan mengusirmu dari mansion ini. Rumah itu sudah disiapkan agar kau dan Damian bisa memiliki ruang pribadi untuk membangun kehidupan kalian sebagai suami istri.”
Emma menatap Raina dengan sedikit keraguan.
“Kalau aku ingin berkunjung ke sini, boleh, kan?”
“Tentu saja boleh!” jawab Raina cepat. “Kau tetap anak Mami. Rumah itu tidak akan mengubah apa pun.”
Wajah Emma langsung cerah.
“Kalau begitu, aku setuju!”
Leonardo tertawa kecil. “Bagus. Mobil yang akan membawa kalian sudah siap.”
Sebelum berangkat, Emma memeluk Raina erat-erat.
“Mami jangan sedih, ya. Aku tetap akan datang berkunjung. Apalagi kalau ada makanan enak.”
Raina terkekeh sambil membalas pelukannya.
“Dasar anak manis. Datanglah kapan saja, dan Mami akan menyiapkan makanan kesukaanmu.”
“Janji?”
“Janji.”
Setelah berpamitan dengan Raina dan Leonardo, Emma mengikuti Damian menuju mobil yang telah menunggu mereka. Sepanjang perjalanan, ia terus bertanya tentang rumah baru mereka, mulai dari ukuran rumah hingga fasilitas yang tersedia.
“Rumahnya besar tidak?”
“Cukup besar.”
“Ada kolam renang?”
“Ada.”
“Taman?”
“Ada.”
“Dapur yang bagus?”
Damian meliriknya. “Kau berencana memasak?”
Emma menggeleng mantap. “Tidak. Aku cuma ingin memastikan dapurnya bagus kalau suatu hari aku ingin membuat sesuatu.”
“Kalau begitu, dapurnya tidak perlu kau khawatirkan.”
Emma menyipitkan mata. “Kau sedang menyindirku?”
“Aku hanya menjawab pertanyaanmu.”
“Benar-benar tidak bisa diajak bicara dengan manis.”
Damian kembali memandang ke luar jendela, tetapi sudut bibirnya sempat terangkat tipis.
---
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah megah yang berdiri di kawasan tenang, jauh dari keramaian kota.
Emma turun lebih dulu. Begitu melihat bangunan di hadapannya, ia langsung terpaku.
Rumah itu memiliki desain klasik yang elegan dengan perpaduan warna putih dan hitam. Halamannya luas, dihiasi taman kecil dan pepohonan yang tertata rapi. Lampu-lampu di sepanjang jalan setapak memberikan kesan hangat, sementara jendela-jendela tinggi membuat bangunan itu terlihat semakin megah.
Emma menatap rumah tersebut dengan mulut sedikit terbuka.
“Ini rumah kita?”
“Menurutmu rumah siapa lagi?” jawab Damian sambil berjalan melewatinya.
Emma segera menyusul.
“Gila, besar banget! Ini rumah atau hotel?”
“Kalau kau ingin menganggapnya hotel, silakan.”
“Bukan begitu maksudku!” Emma memutar bola matanya. “Kau ini benar-benar tidak bisa membiarkan orang menikmati sesuatu tanpa komentar, ya?”
Damian tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu utama, lalu memberi isyarat agar Emma masuk lebih dahulu.
Begitu melangkah ke dalam, Emma kembali dibuat takjub. Ruang utama rumah itu luas dengan langit-langit tinggi, sofa berwarna krem, lampu gantung elegan, serta tangga besar yang mengarah ke lantai dua. Perabotannya terlihat mewah, tetapi penataannya tetap nyaman dan tidak berlebihan.
Emma berjalan berkeliling sambil mengamati setiap sudut ruangan.
“Ya ampun, semuanya bagus banget!” serunya. “Tapi, Damian, kenapa rumah sebesar ini hanya untuk kita berdua?”
“Karena kita akan tinggal di sini.”
“Jawabanmu selalu begitu, ya?”
“Karena pertanyaanmu selalu banyak.”
Emma mendelik ke arahnya, tetapi kemudian kembali sibuk melihat-lihat rumah tersebut.
Setelah puas mengamati ruang utama, Damian mengambil koper mereka yang telah dibawakan oleh seorang pelayan. Ia lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
“Kamar kita di atas. Ikut aku.”
Emma segera menyusul sambil membawa tas kecilnya.
Mereka melewati lorong yang cukup panjang sebelum Damian berhenti di depan sebuah pintu besar. Ia membukanya, lalu mempersilakan Emma masuk.
Emma melangkah ke dalam dan langsung terdiam.
Kamar itu luas, dengan ranjang besar yang terletak di tengah ruangan. Seprai berwarna putih bersih berpadu dengan selimut abu-abu gelap, sementara tirai panjang menghiasi jendela yang menghadap taman belakang. Di salah satu sisi terdapat lemari pakaian besar, meja rias, dan sofa kecil di dekat jendela.
Emma berputar perlahan, memperhatikan setiap sudut kamar.
“Ini kamar kita?” tanyanya memastikan.
“Ya,” jawab Damian singkat sambil meletakkan koper di dekat lemari.
Emma kemudian menatap ranjang besar di tengah kamar. Ia terdiam beberapa saat sebelum perlahan menoleh kepada Damian.
“Damian.”
“Apa lagi?”
Emma menunjuk ranjang tersebut.
“Jangan bilang kita tidur di ranjang yang sama.”
Damian menatapnya tanpa ekspresi.
“Memangnya kau ingin aku tidur di lantai?”
Emma langsung menggeleng. “Bukan begitu! Aku cuma bertanya!”
“Kalau begitu, berhenti bertanya dan bersiaplah untuk tidur. Kau pasti lelah.”
Emma masih berdiri di tempatnya, memandangi ranjang itu dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya.
Sementara Damian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti, Emma diam-diam menghela napas.
Malam itu, mereka bukan hanya telah menyelesaikan ritual darah yang mengikat kehidupan mereka, tetapi juga memulai kehidupan baru di bawah satu atap.
Dan bagi Emma, tinggal berdua dengan suami vampirnya yang menyebalkan itu sepertinya akan menjadi tantangan tersendiri.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭