NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Kehidupan Baru

Alya berdiri di depan lemari pakaian sambil melipat beberapa helai baju yang akan dibawanya ke Jakarta. Koper berukuran sedang sudah terbuka di atas ranjang. Sesekali, ia berhenti untuk memeriksa barang-barang yang perlu dibawa, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Sejak memutuskan menikah, Alya memang sudah membayangkan akan meninggalkan rumah orang tuanya dan memulai kehidupan baru bersama suaminya. Hanya saja, ia tidak pernah membayangkan bahwa awal pernikahannya akan diwarnai kenyataan seperti yang baru saja diketahuinya.

Arga sudah memiliki istri sebelum menikah dengannya, dan Alya masih merasa tidak nyaman setiap kali mengingat hal itu. Bukan karena ia kehilangan laki-laki yang dicintainya. Bagaimanapun, ia belum mencintai Arga. Mereka baru saja menikah dan belum memiliki cukup waktu untuk saling mengenal.

Yang membuatnya kecewa adalah kenyataan bahwa Arga tidak memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri. Padahal, sejak awal, Alya menerima pernikahan itu dengan keyakinan bahwa dirinya sedang memulai kehidupan bersama seorang laki-laki yang jujur.

Alya menghela napas, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak ingin terus memikirkan sesuatu yang belum sanggup diselesaikannya. Untuk saat ini, ia memilih menjalani pernikahan tersebut, menghargai keputusan kedua orang tuanya, dan memberi dirinya waktu untuk menata pikiran.

Ketukan terdengar dari pintu kamar.

“Masuk saja,” jawab Alya.

Arga membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada koper di atas ranjang.

“Kamu sedang berkemas?”

“Iya, Mas.” Alya memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. “Aku pikir, sebaiknya kita segera pindah ke tempat tinggal kita sendiri.”

Arga mendekat. “Kamu ingin pulang ke Jakarta besok?”

“Kalau tidak ada urusan lain di Bandung, aku ingin berangkat besok pagi.” Alya menutup tas kecil berisi perlengkapan pribadinya. “Aku tidak ingin terlalu lama merepotkan Ayah dan Ibu. Lagi pula, setelah menikah, kita memang sebaiknya mulai menjalani kehidupan sendiri.”

Arga mengangguk pelan. Ia sempat khawatir Alya ingin segera pergi karena tidak nyaman berada di dekatnya. Namun, dari cara istrinya berbicara, Alya terdengar seperti seseorang yang sedang menyusun rencana untuk menjalani kehidupan baru, bukan seseorang yang ingin melarikan diri.

“Aku sebenarnya sudah menyiapkan beberapa pilihan apartemen di Jakarta,” kata Arga. “Sebelum menikah, aku sempat mencari tempat yang cocok untuk kita tinggali.”

Alya menoleh. “Kita sudah punya apartemen?”

“Belum ada yang benar-benar kita putuskan. Aku punya satu pilihan yang menurutku cukup bagus. Lokasinya dekat dengan kantorku, fasilitasnya juga lengkap.” Arga berhenti sejenak. “Kalau kamu mau, nanti kita bisa melihatnya bersama. Kalau kamu tidak cocok, kita cari tempat lain.”

Alya mempertimbangkan tawaran itu sebentar sebelum mengangguk.

“Boleh, Mas. Aku ingin melihatnya juga. Bagaimanapun, kita berdua yang akan tinggal di sana.”

Jawaban sederhana itu membuat Arga sedikit lega. Setidaknya, Alya masih bersedia melibatkan dirinya dalam keputusan mengenai kehidupan mereka.

“Kalau begitu, setelah makan siang kita bisa membicarakannya lagi. Aku akan menghubungi pengelola apartemennya.”

Alya kembali merapikan isi koper. “Baik.”

Percakapan mereka berhenti di situ. Arga sempat menunggu, berharap Alya akan mengatakan sesuatu lagi. Namun, perempuan itu tampak sibuk memastikan semua barangnya sudah tersusun rapi.

Dulu, ketika mereka masih mempersiapkan pernikahan, Alya lebih sering bercerita. Ia bisa membicarakan hal-hal sederhana, mulai dari warna yang disukainya sampai tempat yang ingin dikunjunginya setelah menikah. Arga memang tidak selalu menanggapi dengan antusias, tetapi ia ingat bagaimana Alya biasanya tetap melanjutkan ceritanya dengan senyum kecil.

Sekarang, Alya tetap sopan, tetapi tidak banyak berbicara. Arga menyadari perubahan itu. Namun, ia tidak bisa memaksa istrinya kembali bersikap seperti sebelumnya setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapnya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

Alya menggeleng. “Tidak usah, Mas. Tinggal sedikit lagi.”

Arga akhirnya keluar dari kamar untuk mengurus rencana perjalanan mereka.

***

Setelah makan siang, Arga dan Alya duduk bersama di ruang keluarga. Adrian sedang beristirahat di ruang kerjanya, sementara Maya sibuk memeriksa beberapa keperluan rumah tangga.

Arga membuka ponselnya dan menunjukkan beberapa foto apartemen yang sudah disiapkannya.

“Ini yang paling aku pertimbangkan,” jelasnya sambil memperlihatkan foto ruang tamu. “Ukurannya cukup luas untuk kita berdua. Ada dua kamar tidur, dapur, dan balkon.”

Alya memperhatikan foto-foto tersebut dengan saksama. Ia tidak terlalu memikirkan kemewahan tempat itu. Baginya, yang terpenting adalah kebersihan, kenyamanan, dan ruang yang cukup untuk menjalani kegiatan sehari-hari.

“Kelihatannya bagus,” komentarnya. “Tapi aku ingin melihat langsung sebelum memutuskan.”

“Tentu. Kita tidak perlu langsung mengambil keputusan.”

Arga kemudian menunjukkan foto bagian dapur dan kamar tidur. Alya bertanya tentang fasilitas yang tersedia, termasuk tempat untuk menjemur pakaian dan akses menuju minimarket terdekat. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Arga sedikit terkejut.

Ia semula mengira Alya akan lebih tertarik pada tampilan apartemen atau perabotan yang tersedia. Ternyata, istrinya justru memikirkan hal-hal praktis yang akan mereka butuhkan setiap hari.

“Kalau dapurnya cukup nyaman, aku bisa memasak sendiri,” kata Alya sambil mengembalikan ponsel kepada Arga. “Aku lebih suka menyiapkan makanan di rumah daripada harus selalu membeli.”

“Kamu suka memasak?”

Alya mengangguk. “Lumayan. Aku tidak bisa membuat terlalu banyak hidangan, tapi masakan sehari-hari bisa.”

Arga tersenyum tipis. “Berarti nanti aku bisa mencicipi masakanmu.”

“Bisa saja, Mas.” Alya menjawab santai. “Asalkan Mas tidak berharap aku langsung bisa memasak semua makanan kesukaan Mas.”

Arga terkekeh kecil. “Aku tidak sepesimis itu.”

Untuk beberapa saat, percakapan mereka terasa lebih ringan. Alya bahkan sempat tersenyum ketika Arga bercerita bahwa dirinya tidak terlalu pandai memasak. Ia menanggapi cerita itu dengan wajar, tanpa menunjukkan kecanggungan seperti ketika mereka membicarakan masalah pernikahan.

Arga memperhatikan senyum tersebut sedikit lebih lama. Ia tidak tahu mengapa hal sederhana seperti itu terasa menyenangkan. Mungkin karena sejak malam sebelumnya, ia terus merasa bersalah setiap kali melihat Alya. Ia sampai lupa bahwa sebelum menjadi suami istri, mereka sebenarnya masih dua orang yang sedang belajar mengenal satu sama lain.

Namun, senyum Alya segera kembali biasa ketika percakapan mereka selesai. Perempuan itu tidak berusaha memperpanjang obrolan atau mencari alasan untuk terus berada di dekatnya. Ia justru bangkit setelah melihat Maya keluar dari ruang kerja.

“Aku mau menemui Ibu sebentar,” katanya.

Arga mengangguk. “Baiklah.” Ia memandangi Alya yang berjalan menghampiri ibunya. Beberapa saat kemudian, terdengar tawa kecil dari arah ruang makan ketika Maya menceritakan sesuatu kepada putrinya.

Arga duduk sendirian sambil memegang ponselnya. Ada perasaan aneh ketika melihat Alya tertawa bersama orang lain, tetapi bersikap lebih tenang saat berada dengannya. Ia tidak menyukai jarak itu, meskipun sadar bahwa dirinya sendiri yang menjadi penyebabnya.

Arga mengusap wajahnya pelan. Ia ingin memperbaiki keadaan, tetapi untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa keinginan tersebut tidak berarti Alya harus segera kembali merasa nyaman dengannya.

Alya berhak menentukan bagaimana ia ingin menjalani pernikahan ini. Dan Arga harus belajar menerima bahwa sikap baik istrinya bukan tanda bahwa semuanya sudah kembali seperti semula.

Sore harinya, Alya kembali ke kamar untuk memeriksa koper yang sudah selesai dikemas. Ia menyisihkan beberapa pakaian yang mungkin akan dipakainya selama perjalanan, kemudian menggantungnya di luar koper agar mudah diambil.

Arga masuk setelah mengetuk pintu.

“Aku sudah menghubungi pengelola apartemen,” katanya. “Besok kita bisa melihat unitnya. Kalau cocok, kita bisa mulai mengatur kepindahan.”

Alya mengangguk. “Baik, Mas. Terima kasih sudah mengurusnya.”

Arga berdiri beberapa langkah darinya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya akan berusaha menjadi suami yang lebih baik, tetapi kalimat itu terasa terlalu mudah diucapkan setelah semua yang terjadi.

Akhirnya, ia hanya bertanya, “Kamu sudah selesai berkemas?”

“Sudah hampir. Tinggal barang-barang kecil yang akan kupakai malam ini.”

“Kalau begitu, istirahatlah. Jangan sampai kamu terlalu lelah.”

Alya tersenyum sopan. “Iya, Mas.”

Arga kembali terdiam. Ia ingin mendekat, mungkin sekadar menyentuh bahu istrinya atau menggenggam tangannya. Namun, ia teringat pada permintaan Alya malam sebelumnya. Perempuan itu belum siap menerima kedekatan semacam itu.

Karena itu, Arga mengurungkan niatnya. “Aku keluar dulu,” katanya sebelum meninggalkan kamar.

Alya mengangguk dan kembali merapikan barang-barangnya.

Setelah pintu tertutup, ia duduk sebentar di tepi ranjang. Besok, ia akan meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung dan memulai kehidupan baru di Jakarta bersama Arga.

Ia belum mencintai suaminya. Ia juga belum tahu apakah suatu hari nanti perasaan itu akan tumbuh. Untuk saat ini, ia hanya ingin menjalani pernikahan dengan tenang, tanpa melibatkan kedua orang tuanya dalam persoalan yang menjadi tanggung jawab dirinya dan Arga.

Alya akan tetap menghormati suaminya, tetapi ia tidak akan memaksakan kedekatan yang belum siap ia berikan. Baginya, pernikahan bukan alasan untuk mengabaikan perasaan dan prinsip yang selama ini ia jaga.

Sementara itu, di luar kamar, Arga berdiri sejenak sebelum melangkah menuju ruangan lain. Ia telah menikahi Alya karena keputusan keluarga dan belum memiliki cinta untuk perempuan itu. Namun, kini ia mulai menyadari bahwa menjalani kehidupan bersama Alya tidak sesederhana yang ia bayangkan.

Alya tidak menuntutnya menjadi suami yang sempurna. Perempuan itu juga tidak berusaha merebut perhatian, dan mungkin hanya ingin menjalani kehidupan dengan caranya sendiri.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!