Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh di Luar Pintu dan Senyuman Sang Raja
Gedoran pada pintu kayu jati berukir naga emas itu semakin beruntun, menciptakan gema nyaring yang memantul kaku di seluruh penjuru kamar pribadi sang Alpha King. Setiap kali kepalan tangan Bianca Reinhardt atau para pengawalnya menghantam permukaan pintu, debu-debu tipis yang menempel di sela ukiran kayu tampak beterbangan, diterangi cahaya jingga hangat dari api perapian.
"Buka pintunya, Fenrir!" teriak Bianca lagi, suaranya kini melengking semakin tajam, bercampur antara amarah yang tertahan dan dorongan harga diri bangsawan tertinggi yang merasa diinjak-injak. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku ini tunangan sahmu dari Klan Reinhardt! Sungguh hina jika kau mengurung dirimu bersama pelayan busuk di dalam kamar utamamu!"
Di dalam kamar, udara terasa begitu pekat dan berat. Namun, keheningan di antara Fenrir Volkov dan Ceisya sama sekali tidak terganggu oleh teriakan panik di luar sana.
Jarak di antara wajah mereka masih teramat dekat—hanya menyisakan beberapa senti udara dingin yang berhembus perlahan. Ceisya bisa merasakan kehangatan yang menguar dari kulit Fenrir, begitu pekat hingga aroma kayu cendana dan salju abadi dari tubuh sang Alpha seolah membelenggu seluruh indra penciumannya.
"Kau mendengar itu, manis?" bisik Fenrir sangat pelan. Suara baritonnya rendah dan bergetar tepat di depan bibir Ceisya, seolah teriakan Bianca di luar sana hanyalah suara bising serangga yang tidak penting. "Wanita di luar sana sedang meratapi harga dirinya yang terluka."
Ceisya mengerjap pelan, berusaha menjaga detak jantungnya agar tetap stabil. Sebagai seorang mantan hacker yang terbiasa berpikir dingin di bawah tekanan, ia tahu betul bahwa panik di hadapan predator puncak seperti Fenrir hanya akan membuatnya menjadi mangsa yang mudah dikendalikan.
"Jika Lady Bianca merasa terluka, itu karena Anda yang memancingnya, Yang Mulia," balas Ceisya dengan nada suara pelan, hampir berupa bisikan tipis yang diatur sehalus mungkin. Jemari lentiknya masih bertengger di dada kemeja hitam Fenrir, merasakan kerasnya otot dada pria itu di balik kain tebal. "Seorang Raja yang bijak tidak akan membiarkan tunangannya menjerit seperti orang gila di depan pintu kamar pribadinya."
Mendengar ucapan itu, sudut bibir Fenrir terangkat sedikit. Sebuah senyuman dingin yang teramat berbahaya terkembang di wajah tampannya, memperlihatkan kilatan taring kecil di sela giginya yang menunjukkan sifat asli sang serigala.
"Tunangan?" Fenrir terkekeh rendah, suara kekehannya bagaikan gemuruh guntur dari kejauhan. Ibu jarinya yang kasar kembali mengusap garis rahang Ceisya dengan tekanan lambat yang protektif. "Pernikahan politik yang diatur oleh Dewan Tetua Klan bukan keinginanku, Ceisya. Bianca Reinhardt hanyalah bayangan kaku yang dipaksakan untuk berdiri di sampingku."
Tatapan mata merah Fenrir kian mendalam, seakan-akan ia sedang berusaha menguliti setiap rahasia yang tersimpan di dalam benak Ceisya. Ada kehangatan aneh yang tersembunyi di balik dinginnya iris mata itu—sebuah dorongan posesif yang liar, obsesi gelap yang perlahan-lahan mulai terbangun dari tidurnya.
Di dalam alur aslinya, Fenrir adalah sosok yang sangat tertutup dan dingin. Selama bertahun-tahun, satu-satunya wanita yang mendapatkan akses khusus dan perlindungan ekstra darinya adalah Belva Vespera—anak angkat yang ia bawa ke dalam istana setelah kedua orang tua Belva tewas mengorbankan nyawa demi menyelamatkan nyawa Raja Serigala terdahulu.
Ceisya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tebal itu, sepasang mata cokelatnya berkedip pelan sembari memperhatikan siluet dada bidang Fenrir. Di dalam benaknya yang sarat akan analisis logis dan sarkasme, Ceisya mendengus geli.
Tunggu dulu... kalau dipikir-pikir pakai otak sehat, keputusan klan Volkov mengangkat Belva jadi anak itu agak meleset deh, batin Ceisya menyeringai sinis. Nyawa dibayar nyawa. Orang tuanya Belva mati demi menyelamatkan penguasa serigala, tapi balas budinya cuma diangkat jadi anak angkat? Ya pantesan Belva gila obsesi! Mending dari awal Belva diincar buat dijadikan istri atau pendamping sekalian, biar trah dan posisinya absolut di Valeska.
Ceisya paham betul psikologi musuh bermuka duanya itu. Diangkat menjadi anak angkat hanyalah hadiah penghibur yang menyisakan celah hukum aristokrat di Valesia—Belva mendapat perlindungan, tapi tidak pernah mendapatkan mahkota murni. Hal itulah yang memicu obsesi gelap dan racun di dalam dada Belva. Belva merasa bertaruh segalanya untuk mendapatkan Fenrir utuh demi meng-upgrade statusnya dari anak angkat yang bergantung menjadi Permaisuri yang berkuasa.
Apesnya si Belva, lanjut Ceisya membatin sambil menatap tajam ke arah Fenrir yang masih menguncinya dalam jarak intim. Dia capek-capek menyusun rencana belasan tahun dari status anak angkat agar naik keranjang Sang Alpha, malah aku yang cuma figuran nyasar yang diseret si Alpha ke ranjang utamanya.
Sementara itu, beberapa puluh meter di lorong seberang sayap utara kastil, bayangan seseorang berdiri kaku di balik pilar batu yang dingin.
Belva Vespera meremas kedua tangannya yang gemetar hebat di balik kain gaun malamnya. Wajah cantiknya yang lembut dan pucat kian memutih bagaikan kertas. Dari tempatnya bersembunyi, ia bisa melihat Bianca Reinhardt yang sedang mengamuk bersama empat pengawal berzirah di depan pintu kamar Fenrir.
Namun, yang membuat dada Belva terasa dihantam godam berat bukanlah amukan Bianca, melainkan kenyataan bahwa pintu kamar itu tetap terkunci dari dalam.
Selama bertahun-tahun Belva hidup di Kastil Valesia sebagai anak angkat yang dilindungi, Fenrir tidak pernah sekali pun mengizinkan wanita mana pun masuk ke dalam kamar pribadinya saat malam hari—bahkan Belva sendiri hanya diizinkan berdiri di ambang pintu jika ada urusan penting mengenai wilayah istana. Fenrir selalu menjaganya dengan jarak yang teratur, melindunginya bagaikan barang berharga yang rapuh, tetapi tidak pernah membiarkan Belva menyentuh batas ruang pribadinya yang paling intim.
Kenapa?! jerit Belva di dalam hatinya, kuku-kukunya yang terawat rapi menancap dalam-dalam ke telapak tangannya sendiri hingga meneteskan titik darah hangat. Kenapa harus si gadis bodoh itu?! Ceisya cuma pelayan cupu yang kepakai untuk menggantikan ku mati! Dia seharusnya sudah membusuk di Hutan Salju! Kenapa Yang Mulia justru menggendong nya dan menguncinya di dalam sana?!
Rasa cemburu yang membakar dada Belva kini bercampur dengan teror murni. Obsesinya pada Fenrir bukan sekadar rasa cinta biasa; baginya, Fenrir adalah poros dari seluruh kehidupannya. Didepaknya Ceisya dari takdir semula membuat Belva merasa posisinya sebagai "satu-satunya wanita yang dilindungi" mulai goyah.
"Tidak..." bisik Belva dengan suara yang serak dan sarat akan niat jahat. "Yang Mulia Alpha hanya milikku. Dia melindungiku... dia berjanji menjaga keluargaku... Ceisya tidak boleh merebut perhatiannya sedikit pun!"
Belva menarik napas panjang, berusaha menata kembali raut wajahnya yang sempat berubah mengerikan. Topeng kepolosan dan kelembutannya yang seperti malaikat secara perlahan ia pasang kembali. Ia harus bergerak halus. Jika Bianca mengamuk secara terang-terangan di depan pintu, maka Belva akan menggunakan cara yang lebih mematikan: memanfaatkan pengaruhnya sebagai anak angkat kesayangan Fenrir untuk membalikkan keadaan.
Kembali ke dalam kamar utama sang Alpha King, ketukan pintu di luar sana mendadak terhenti sejenak, digantikan oleh suara langkah kaki zirah besi yang bergeser kasar.
"Yang Mulia!" suara Bianca terdengar lagi, kali ini dipenuhi ancaman politik yang nyata. "Jika Anda tidak membuka pintu ini dalam hitungan tiga, saya akan memerintahkan pengawal Klan Reinhardt untuk mendobraknya! Ini menyangkut kehormatan calon Permaisuri Valesia!"
Di atas tempat tidur tebal itu, Fenrir akhirnya menarik sedikit tubuhnya ke atas, namun tangannya yang kekar masih mengunci pinggang ramping Ceisya, tidak membiarkan gadis itu bergeser satu milimeter pun darinya.
Fenrir memiringkan kepalanya, menatap pintu jati itu dengan iris mata merah yang berkilat penuh rasa jijik.
"Mendobrak pintu kamarku?" Fenrir bergumam dingin, suaranya sangat tenang namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Sepertinya Bianca lupa di tanah siapa dia sedang berdiri."
Fenrir kemudian melirik kembali ke arah Ceisya. Wajah gadis di dalam dekapannya itu tampak tenang—bahkan sepasang mata cokelatnya memancarkan binar geli yang tersembunyi dengan sangat rapi. Ceisya jelas tidak merasa terancam oleh gertakan Bianca, gadis ini justru menikmati situasi yang kacau di sekitarnya.
"Kau sama sekali tidak takut, bukan?" tanya Fenrir rendah, jari-jemarinya meremas pelan pinggang Ceisya, menikmati sensasi kelembutan dan kehangatan tubuh gadis itu di balik kain jubahnya yang kasar.
Ceisya menghembuskan napas pelan, membiarkan tatapan matanya bertemu langsung dengan mata sang Raja.
"Mengapa saya harus takut, Yang Mulia?" jawab Ceisya halus dengan nada manis yang menyembunyikan sindiran tajam. "Bukankah Yang Mulia sendiri yang mengatakan bahwa saya adalah tawanan pribadi Anda? Jika tunangan Anda yang terhormat berhasil mendobrak pintu ini dan memenggal leher saya... itu artinya perlindungan dari sang Alpha King terkuat di Valesia sama sekali tidak ada harganya."
Kata-kata itu meluncur dengan begitu mulus dari bibir Ceisya, sebuah provokasi cerdas yang langsung menghantam harga diri dan sifat posesif Fenrir di titik terujung.
Seketika, aura dominasi di dalam kamar meledak hebat. Tawa rendah yang dipenuhi kegelapan meluncur dari tenggorokan Fenrir. Pria itu menundukkan kepalanya, menyapukan bibirnya di atas permukaan pipi Ceisya yang halus sebelum berbisik tepat di samping telinganya:
"Lidah yang sangat tajam, manis... Kau benar-benar tahu cara memancing serigala di dalam dadaku."
Fenrir perlahan berdiri dari tempat tidur, melepaskan cengkeramannya dari Ceisya namun matanya tidak pernah lepas dari gadis itu. Tanpa tergesa-gesa, sang Raja Serigala melangkah mendekati pintu jati utama.
Di luar, Bianca baru saja memberi aba-aba kepada empat pengawal berzirah perak untuk menghantamkan pasak besi ke pintu kamar sang Alpha. Namun, sebelum pasak besi itu sempat menyentuh permukaan kayu, pintu jati raksasa itu mendadak terbuka lebar dari dalam secara perlahan.
Aura membunuh yang pekat dan suhu dingin menusuk tulang langsung menyambar keluar dari dalam kamar, membuat keempat pengawal berzirah seketika jatuh berlutut memuntahkan darah segar akibat tekanan aura sang Alpha King. Bianca berdiri membeku dengan wajah pucat pasi saat menatap Fenrir yang berdiri tegap di ambang pintu dengan mata merah menyala.
Namun, yang membuat napas Bianca tertahan bukan hanya amukan Fenrir, melainkan tindakan gila sang Alpha King berikutnya.
Tanpa memedulikan Bianca yang bersimbah amarah, Fenrir berbalik badan kembali menatap Ceisya yang masih duduk di ranjang utamanya. Di depan mata Bianca, para pengawal, dan Belva yang mengintip dari balik kegelapan lorong, Fenrir berjalan mundur mendekati tempat tidur, mencondongkan tubuhnya ke atas Ceisya, lalu menggigit lembut leher bagian samping gadis itu—memberikan scent-mark tanda aroma kepemilikan mutlak khas werewolf yang meninggalkan warna kemerahan mencolok di kulit mulus Ceisya.
Aroma musk dan darah menyatu kental di udara. Fenrir mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Bianca dengan senyuman liar yang paling mematikan:
"Bahkan jika seluruh klanmu datang menyerang, gadis ini tetap milikku. Sekarang, berani kau melangkah satu senti saja mendekatinya, Bianca?"
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊