Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Air Merah Di Sumur
Malam itu Ara dan Mama Ino tidak tidur sama sekali. Mereka berdua duduk di bale-bale bambu yang sudah lapuk di samping sumur belakang, menatap sumur yang airnya masih bergejolak dengan warna merah darah. Bau amis yang sangat menyengat keluar dari dalam sumur itu, seperti bau darah yang sudah mengering bercampur lumpur. Kabut merah di luar rumah semakin tebal, sampai-sampai suara jangkrik pun tidak terdengar sama sekali. Langgur malam itu seperti desa mati.
Mama Ino menggenggam tangan Ara erat. Tangannya dingin dan gemetar.
"Mama takut, Ara," bisik Mama Ino pelan. "Dari dulu Mama sudah bilang jangan minum air sumur itu lagi, tapi Mama tidak berani cerita kenapa."
Ara menatap ibunya. Wajah Mama Ino terlihat sangat lelah di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Keriput di dahinya semakin dalam.
"Kenapa Mama tidak cerita dari dulu kalau Revan dibunuh di sini, Ma? Kenapa Mama diam selama lima tahun?"
Mama Ino menangis pelan. Air matanya jatuh ke kain sarungnya yang sudah pudar warnanya.
"Karena Mama diancam, Ara. Malam itu, setelah mereka seret Revan ke perahu, salah satu dari mereka datang lagi ke rumah. Dia bilang kalau Mama berani lapor polisi atau cerita ke orang lain, rumah kita akan dibakar dan kamu akan dijual ke kota. Kamu masih kecil waktu itu, Ara. Kamu baru kelas dua SMP. Mama tidak punya pilihan lain selain diam dan pura-pura Revan tenggelam."
Ara memeluk ibunya erat. Dadanya sesak mendengar cerita itu. Jadi selama lima tahun ini, ibunya memendam rahasia yang sangat besar sendirian. Menahan rasa takut dan rasa bersalah sendirian.
Jam dua dini hari, air di dalam sumur yang tadinya bergejolak keras tiba-tiba berhenti. Suasana menjadi sangat hening. Perlahan, air yang tadinya berputar-putar menjadi tenang, tapi warnanya tetap merah keruh seperti darah. Di permukaan air yang tenang itu, mengapung sesuatu yang berwarna putih pucat.
Mama Ino mengambil kayu panjang yang biasanya dipakai untuk mengambil mangga. Dengan tangan gemetar, dia mencoba mengait benda putih itu. Ketika benda itu terangkat ke permukaan, Ara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak berteriak keras.
Itu adalah kain kafan. Kain kafan kecil yang sudah sobek-sobek dan kotor penuh lumpur hitam. Kain kafan yang biasanya dipakai untuk membungkus jenazah bayi. Di ujung kain itu, masih ada bercak darah kering yang sudah menghitam.
"Ya Tuhan, Ya Tuhan," bisik Mama Ino berulang kali. Wajahnya pucat pasi seperti tidak ada darah sama sekali.
Ara langsung teringat cerita lama yang sempat heboh di Langgur lima tahun lalu, beberapa bulan setelah Revan dinyatakan hilang. Ada seorang bayi yang meninggal mendadak. Bayi tetangga mereka, anaknya Bu Ani yang baru berusia satu tahun. Bayi itu meninggal karena keracunan, tapi tidak ada yang tahu dia keracunan apa. Dokter puskesmas hanya bilang keracunan makanan.
Apakah kematian bayi itu ada hubungannya dengan air sumur belakang rumahnya? Apakah bayi itu juga minum air racun yang sama?
Pagi harinya, meski kabut merah masih sangat tebal dan jarak pandang hanya dua meter, Ara memutuskan untuk pergi ke rumah Bu Ani. Dia tidak peduli demamnya belum sembuh total. Dia memakai masker kain yang sudah dicuci tiga kali, memakai jaket tebal milik almarhum ayahnya, dan membawa senter kecil. Jalanan tanah di Langgur sangat licin karena embun merah.
Rumah Bu Ani hanya berjarak dua rumah dari rumah Ara, tapi karena kabut merah yang tebal, perjalanan singkat itu terasa seperti berjalan di dalam lautan darah yang tidak ada ujungnya. Bau asap dan bau besi berkarat semakin menyengat.
Bu Ani sedang duduk di depan rumah kayunya yang catnya sudah mengelupas. Dia menatap kosong ke arah kebun kecilnya yang semua tanamannya mati mengering. Cabe, tomat, dan bayam yang dulu tumbuh subur, sekarang hanya tinggal batang hitam. Wajah Bu Ani tirus dan matanya cekung ke dalam. Sejak anaknya meninggal, Bu Ani jarang keluar rumah dan jarang berbicara dengan tetangga.
"Bu Ani," panggil Ara pelan sambil mendekat.
Bu Ani menoleh perlahan. Matanya yang sayu berkaca-kaca melihat Ara berdiri di depannya dengan masker.
"Ara, kamu masih berani keluar pas kabut merah begini? Kamu kan masih sakit kemarin. Kata Mama Ino kamu demam tinggi," kata Bu Ani dengan suara serak.
"Bu, aku mau tanya sesuatu yang penting. Tentang sumur. Sumur Bu Ani, airnya masih diminum sama keluarga?"
Bu Ani menggeleng pelan dengan ekspresi sedih. "Sudah tiga bulan tidak diminum sama sekali, Ara. Airnya asin sekali dan bau besi berkarat. Kalau diminum, perut langsung mules dan muntah. Tanaman Ibu semua mati setelah disiram pakai air itu. Suamiku bilang, ada yang sengaja menaruh limbah kimia dari bangunan penginapan baru itu ke dalam tanah. Jadi air tanah kita semua jadi racun."
Penginapan baru. Kata itu lagi yang disebut.
"Penginapan yang punya orang kota itu, Bu? Yang di ujung desa dekat pantai? Yang bangunannya besar warna putih itu?"
Bu Ani mengangguk dengan wajah marah. "Iya, yang itu. Mereka bangunnya cepat sekali, padahal tanah di sana kan tanah kuburan tua milik keluarga Kei. Orang tua-tua adat sudah larang jangan dibangun, tapi mereka tidak peduli. Mereka kasih uang ke kepala desa. Mereka bilang mau bikin Langgur jadi Bali kedua, mau bikin turis datang banyak. Sejak mereka mulai bangun enam bulan lalu, sumur-sumur warga di sekitar sini jadi aneh semua. Airnya jadi merah kalau kabut datang."
Ara merinding mendengar penjelasan Bu Ani. Jadi bukan hanya sumur belakang rumahnya saja yang diracun. Semua sumur di sekitar tanah Revan, di sekitar tanah kuburan tua itu, sudah diracun oleh limbah bangunan mereka.
"Bu, waktu anak Bu Ani sakit dulu, apa dia sempat minum air sumur belakang rumahku?"
Mata Bu Ani langsung melotot kaget. Dia berdiri dengan cepat dari kursinya. "Bagaimana kamu tahu anakku minum air sumur belakang rumahmu, Ara? Hari itu dia main di kebun belakang rumahmu sama kamu. Dia haus dan kamu kasih minum dari ember yang ada di belakang. Besoknya dia demam sangat tinggi dan muntah-muntah darah hitam. Dua hari kemudian dia meninggal di puskesmas. Dokter bilang keracunan berat."
Ara terduduk lemas di tanah yang basah. Jadi benar. Bayi itu meninggal karena air sumur belakang rumahnya. Air yang sama yang Revan suruh jangan diminum. Air yang sudah diracun oleh orang kota itu.
"Maafkan aku, Bu. Aku benar-benar tidak tahu kalau airnya racun. Aku minta maaf," bisik Ara sambil menangis keras.
Bu Ani langsung memeluk Ara erat. "Bukan salahmu, Nak. Bukan salahmu sama sekali. Salah mereka. Orang-orang serakah dari kota itu yang salah. Mereka yang sudah bunuh anak Ibu dan mau bunuh kita semua pelan-pelan pakai air racun."
Saat itu juga, dari arah ujung desa, terdengar suara alat berat yang sangat keras. Suara beko dan truk yang sedang menggali tanah. Kabut merah sedikit menipis tertiup angin, dan dari kejauhan terlihat bangunan penginapan itu sudah hampir jadi. Bangunannya besar, tiga lantai, dicat putih bersih, sangat kontras dengan rumah-rumah kayu sederhana di Langgur yang sudah lapuk. Di depannya ada papan besar bertuliskan LANGUR PARADISE RESORT - COMING SOON.
Di depan papan itu, berdiri seorang laki-laki gemuk memakai kemeja putih dan kacamata hitam, sedang tertawa keras sambil menunjuk-nunjuk ke arah kebun warga. Di sampingnya ada dua orang berbadan besar dan bertato yang Ara ingat pernah melihat mereka malam Revan hilang. Dua orang yang mendorong dan menyeret Revan ke perahu.
Darah Ara mendidih melihat mereka. Jadi mereka masih di sini. Mereka belum pergi. Mereka masih ingin mengambil tanah warga yang lain.
Ara menggenggam tangan Bu Ani dengan sangat erat sampai kukunya hampir menancap.
"Bu, kita harus kasih tahu semua warga sekarang juga. Kita harus bongkar sumur belakang rumahku sore ini. Di bawah pohon mangga itu ada jasad Revan. Kalau kita bongkar sama-sama, kita punya bukti kuat kalau mereka pembunuh. Kita bisa lapor polisi di kota, bukan polisi di sini."
Bu Ani yang tadinya terlihat takut, sekarang wajahnya berubah menjadi berani. Dia mengangguk pelan tapi tegas. "Mama Ino sudah telepon Ibu semalam. Ibu sudah panggil Pak RT dan beberapa bapak-bapak yang tanahnya juga mau diambil. Mereka akan datang sore ini, jam empat, setelah kabut agak hilang. Kita gali sama-sama. Kita harus lawan mereka."
Ara menatap ke arah pohon mangga kecil di halaman belakangnya yang terlihat samar dari jauh. Pohon itu bergetar pelan, daunnya bergoyang, meski tidak ada angin sama sekali di sekitarnya. Seolah-olah Revan mendengar rencana mereka dan setuju dengan rencana itu.
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun hidup dalam ketakutan, Ara merasa tidak sendirian lagi. Kabut merah masih ada di langit Langgur, tapi di balik kabut itu, dia tahu Revan dan arwah-arwah penjaga tanah Langgur yang lain sedang berdiri di belakangnya, menjaga mereka.
Perang untuk merebut kembali tanah Langgur dari orang serakah baru saja dimulai. Dan Ara sudah siap.