NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Saudara Dari Bayangan

Langkah kaki di lorong semakin dekat.

Ruang rapat yang sebelumnya penuh diskusi kini berubah menjadi sunyi dan tegang. Semua mata tertuju ke pintu yang sebentar lagi akan terbuka.

Aluna berdiri di ujung meja.

Tangannya tidak gemetar, tapi pikirannya berputar cepat.

Alvino Pratama.

Nama yang tidak pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

Jika pria itu benar-benar saudara kandungnya, maka ada sesuatu yang jauh lebih besar disembunyikan oleh ayahnya… dan oleh Konsorsium.

Pintu akhirnya terbuka.

Dua petugas keamanan masuk lebih dulu.

Di belakang mereka, seorang pria berjalan perlahan.

Tingginya hampir sama dengan Arkan. Rambut hitamnya sedikit lebih panjang, jatuh rapi ke samping. Wajahnya tajam dengan rahang tegas—dan ada sesuatu pada matanya yang membuat Aluna merasa aneh.

Bukan karena asing.

Justru karena terlalu familiar.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari meja rapat.

Tatapannya langsung menemukan Aluna.

Seolah ia sudah mengenal wajah itu selama bertahun-tahun.

“Jadi…” katanya pelan, suaranya dalam dan tenang.

“Akhirnya kita bertemu.”

Aluna menatapnya tanpa ekspresi.

“Siapa kamu?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Pertanyaan yang adil.”

Ia mengeluarkan map tipis dari jaketnya lalu meletakkannya di meja.

Surya langsung mengambilnya.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

Akta kelahiran.

Catatan rumah sakit.

Hasil tes DNA.

Surya membaca cepat. Semakin lama wajahnya semakin serius.

“Ini…” gumamnya.

Arkan berdiri di samping Aluna.

“Palsu?” tanyanya.

Surya menggeleng pelan.

“Semua dokumen ini… asli.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Aluna menatap pria itu lagi.

“Jawab pertanyaanku.”

Pria itu menatapnya dengan mata yang nyaris identik dengannya.

“Namaku Alvino Pratama.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan jika dokumen itu benar… aku saudaramu.”

Keheningan berat memenuhi ruangan.

Aluna menyilangkan tangan.

“Aku dibesarkan sebagai anak tunggal.”

“Ya.”

“Tidak ada catatan tentang saudara.”

“Karena aku disembunyikan.”

Aluna menatapnya tajam.

“Kenapa?”

Pria itu tertawa kecil.

“Pertanyaan yang sama yang kuhabiskan dua puluh tahun untuk menjawab.”

Surya menutup map dokumen.

“Tes DNA menunjukkan kecocokan keluarga langsung,” katanya pelan.

Arkan menoleh cepat.

“Seberapa besar?”

“99,8%.”

Semua orang diam.

Aluna merasa sesuatu dalam dirinya bergeser.

Jika ini benar—

Maka seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.

“Ayah kita…” Alvino mulai berkata.

Aluna langsung memotong.

“Jangan panggil dia begitu.”

Alvino mengangkat alis.

“Masih sulit menerimanya?”

“Kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi di sini.”

“Oh, aku tahu,” jawabnya santai.

Ia melirik layar server yang masih berkedip.

“Rollback sistem.”

Surya langsung menegang.

“Kau tahu tentang itu?”

Alvino tersenyum tipis.

“Aku yang memulainya.”

Arkan langsung maju selangkah.

“Berani sekali.”

Petugas keamanan refleks bergerak.

Tapi Aluna mengangkat tangan.

“Biarkan dia bicara.”

Alvino menatapnya penuh minat.

“Kau cepat belajar.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Yang seharusnya menjadi milikku juga.”

Kalimat itu jatuh seperti batu di ruangan.

“Kekuasaan?” Surya bertanya.

Alvino menggeleng.

“Jawaban.”

Ia menatap Aluna lagi.

“Kau pikir kau baru mengetahui rahasia keluarga ini semalam?”

Aluna tidak menjawab.

“Aku sudah hidup dengan rahasia itu sejak aku berusia lima tahun,” lanjutnya.

Arkan menyipitkan mata.

“Jelaskan.”

Alvino berjalan perlahan mengelilingi meja.

Petugas keamanan tegang, tapi ia tampak santai.

“Ketika ayah memulai Konsorsium generasi kedua, dia menyadari satu hal.”

“Apa?” Aluna bertanya.

“Bahwa garis darah bisa menjadi kekuatan… atau kelemahan.”

Ia berhenti tepat di depan kursi Ketua.

“Kau adalah pewaris publik.”

“Kau dipersiapkan untuk menjadi wajah.”

“Sedangkan aku…”

Ia tersenyum miring.

“…adalah bayangan.”

Aluna merasakan dingin menjalar di punggungnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku dibesarkan jauh dari semua ini. Dilatih. Diajari sistem, jaringan, keamanan… bahkan cara menghancurkannya.”

Surya menatapnya tidak percaya.

“Untuk apa?”

“Untuk berjaga jika sesuatu terjadi pada pewaris utama.”

Aluna mengerti sekarang.

“Pewaris cadangan.”

“Persis.”

Arkan bersandar sedikit.

“Jika itu benar, kenapa kau muncul sekarang?”

Alvino menatapnya.

“Karena seseorang mengaktifkan protokol keluarga.”

Semua mata beralih ke Aluna.

Ia teringat malam sebelumnya.

Pintu rahasia.

Pemindaian darah.

Sistem yang mengenalinya.

“Aku tidak sengaja—” Aluna mulai berkata.

“Aku tahu,” potong Alvino.

“Begitu sistem aktif, semua jaringan keluarga menerima sinyal.”

Ia menunjuk layar.

“Itu sebabnya aku datang.”

Surya menggeleng.

“Kalau kau pewaris cadangan, kenapa mencoba rollback sistem?”

“Untuk memastikan tidak ada manipulasi.”

Arkan menyipitkan mata.

“Atau untuk merebut kursi itu.”

Alvino tersenyum.

“Kalau aku mau merebutnya, aku tidak akan datang sendiri.”

Keheningan lagi.

Aluna menatap pria itu lama.

Ada sesuatu yang membuatnya gelisah.

Bukan ancaman.

Lebih seperti… cermin.

Gerakan tangannya.

Cara ia berdiri.

Bahkan cara ia menatap.

Terlalu mirip.

“Kenapa ayah tidak pernah memberitahuku?” Aluna akhirnya bertanya.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Alvino berubah.

Lebih dingin.

“Karena kau yang dipilih.”

“Kau ingin aku merasa bersalah?”

“Aku ingin kau mengerti.”

Ia menatap lurus ke matanya.

“Ayah tidak menyembunyikan aku demi melindungi kita.”

“Dia menyembunyikan aku karena dia tidak percaya satu orang cukup kuat memegang semua ini.”

Arkan menggeleng.

“Atau dia tidak percaya siapa pun.”

“Termasuk kau,” kata Alvino tajam.

Suasana kembali memanas.

Surya berdeham.

“Ada masalah yang lebih mendesak.”

Ia menunjuk layar.

“Rollback masih berjalan.”

“Berapa lama?” Aluna bertanya.

“Sepuluh menit.”

Alvino melirik layar.

“Kalau rollback selesai, sistem akan membuka semua protokol keluarga.”

“Artinya?” Arkan bertanya.

“Semua orang yang memiliki DNA keluarga bisa mengakses inti sistem.”

Surya langsung pucat.

“Itu berarti seluruh jaringan bisa kacau.”

Aluna menatap Alvino.

“Kau bisa menghentikannya?”

“Tentu.”

“Lalu kenapa belum?”

Alvino menyandarkan tubuhnya ke meja.

“Karena aku ingin memastikan satu hal dulu.”

“Apa?”

Ia menatap Aluna dalam-dalam.

“Apakah kita musuh… atau saudara.”

Ruangan hening.

Arkan langsung berkata tegas.

“Ini bukan negosiasi keluarga.”

Alvino menoleh padanya.

“Kau siapa?”

“Orang yang menjaga dia tetap hidup.”

“Ah,” Alvino tersenyum tipis. “Jadi kau Arkan.”

Arkan sedikit terkejut.

“Kau tahu namaku?”

“Tentu.”

Ia menatap Aluna lagi.

“Ayah juga menyebut namamu dalam catatan.”

Aluna mengerutkan kening.

“Catatan apa?”

Alvino mengeluarkan sebuah flash drive kecil dari sakunya.

“Ayah meninggalkan banyak hal untukku.”

Ia meletakkannya di meja.

“Termasuk pesan terakhir.”

Surya langsung mengambilnya.

“Apa isinya?”

Alvino menatap Aluna tanpa berkedip.

“Jawaban tentang kenapa kita dilahirkan.”

Jantung Aluna berdegup lebih keras.

“Putar.”

Surya memasukkan flash drive ke sistem.

Layar besar di dinding berubah.

Video lama muncul.

Rekaman seorang pria.

Wajah yang sangat dikenal Aluna.

Ayahnya.

Ia duduk di ruang kerja yang sama yang pernah ia kunjungi semalam.

Video itu dimulai.

“Jika kalian menonton ini,” suara ayah mereka terdengar tenang.

“Berarti Konsorsium telah mencapai fase terakhir.”

Aluna menahan napas.

“Aluna… Alvino…”

Ia menyebut dua nama itu dengan jelas.

“Jika kalian berdua akhirnya bertemu…”

Video berhenti sejenak.

Lalu ayah mereka melanjutkan kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.

“…berarti salah satu dari kalian sudah mulai menghancurkan apa yang kubangun.”

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan.

Dan untuk pertama kalinya—

Aluna menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari Konsorsium.

Permainan ini tidak pernah dirancang untuk satu pewaris.

Tapi dua.

Dan hanya satu yang akan bertahan.

END BAB 24 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!