Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog : Takdir di bawah topi caping
Assalamu'alaikum semuanya, alhamdulillah aku bisa nulis novel baru lagi. Kali ini agak sedikit beda lagi, cerita tentang pertemanan. Semoga suka dengan apa yang aku tulis dan ambil makna dibalik setiap kalimat.
Happy reading...
Lapangan utama universitas siang itu tidak ubahnya seperti penggorengan raksasa. Ratusan mahasiswa baru dipaksa berdiri tegak, lengkap dengan atribut "ajaib" yang membuat martabat mereka merosot ke titik nadir: topi caping petani yang dicat warna-warni, kalung dari tutup botol yang berisik setiap kali bergerak, dan papan kardus di dada yang bertuliskan nama unik hasil kerjaan senior.
Dewi Laras merasa otaknya mulai mencair. Dia berdiri di barisan paling belakang, mencoba bersembunyi dari pandangan tajam para senior yang sedari tadi mondar-mandir mencari mangsa untuk disuruh push-up hanya karena lupa bawa atribut.
"Sst, lo masih hidup atau udah jadi patung?"
Laras menoleh sedikit. Di samping kanannya, seorang cowok jangkung bernama Bagas Putra sedang berusaha menyeimbangkan capingnya yang miring karena ukurannya kekecilan. Bagas tidak terlihat takut; dia justru terlihat santai banget, seolah lapangan panas ini adalah pantai Bali.
"Hampir mati," bisik Laras lemas. "Gue rasa bentar lagi gue bakal menguap."
Bagas terkekeh pelan, lalu dengan gerakan sangat rahasia, dia mengeluarkan botol air mineral dari balik tasnya yang ditaruh di antara kaki. "Nih, minum dikit. Jangan sampai ketahuan Kakak tingkat yang mukanya kayak kanebo kering di depan itu."
Laras menerima botol itu dengan binar mata penuh syukur. Namun, baru saja satu tegukan mengalir, di belakang mereka terdengar suara napas yang berat dan pendek-pendek. Itu Juna Pratama. Dia memandangi buku panduan kampus seolah itu adalah kitab suci yang bisa menyelamatkannya. Wajahnya sudah pucat pasi.
"Eh, temen lo kenapa?" tanya Laras khawatir, takut Juna tiba-tiba tumbuh bunga saking layunya.
"Dia bukan temen gue, baru kenal tadi di barisan," jawab Bagas pelan. "Jun, lo jangan pingsan sekarang ya. Gue nggak kuat gendong lo ke UKS, badan lo emang tulang semua, tapi kayaknya berat di beban pikiran."
Juna hanya bisa mengacungkan jempol lemah. "Gue... gue cuma butuh... AC," bisiknya parau.
Beberapa meter di depan mereka, sebuah keributan kecil pecah. Seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda, Gia Kirana, sedang berdiri tegak menatap lurus ke arah seorang senior yang sedang memarahinya karena tali sepatunya tidak berwarna sama.
"Kenapa kamu pakai tali sepatu beda warna?! Kamu mau gaya-gayaan?!" bentak si senior.
"Izin bertanya, Kak," sahut Gia dengan suara datar, tanpa nada takut sedikit pun. "Apakah warna tali sepatu berpengaruh pada kecepatan saya menyerap materi hari ini? Karena menurut perhitungan saya, secara aerodinamis dan akademis, ini tidak ada hubungannya sama sekali."
Satu barisan mendadak hening. Laras, Bagas, dan Juna saling lirik.
"Gila, itu cewek nyalinya gede banget atau emang udah bosen hidup?" bisik seorang cewek di depan Laras yang sedari tadi asyik mengunyah biskuit secara sembunyi-sembunyi. Dia adalah Rhea Amara. Mulutnya masih penuh dengan remah-remah cokelat saat dia menoleh. "Mau biskuit? Mumpung semua lagi fokus ke drama tali sepatu."
Laras baru saja mau meraih biskuit itu ketika sebuah bayangan melesat cepat melewati barisan mereka.
Bruk!
Seorang cowok dengan kacamata yang hampir melompat dari hidungnya tersungkur tepat di depan kaki Laras. Dia adalah Eno Surya. Dia rupanya baru saja mencoba kabur dari barisan untuk mencari toilet, tapi nasib berkata lain: dia tersandung kalung tutup botolnya sendiri.
"Siapa itu yang lari?!" teriak koordinator lapangan.
Eno dengan gesit langsung duduk bersila, pura-pura sedang melakukan meditasi khusyuk. "Izin Kak! Saya tadi melihat ada semut merah yang mau menyeberang jalan, sebagai calon sarjana yang humanis, saya merasa wajib melakukan gerakan penyelamatan darurat!"
Tawa yang sedari tadi ditahan oleh ratusan mahasiswa akhirnya pecah. Bahkan senior yang tadinya marah pada Gia pun tak sanggup menahan senyum tipis.
Di tengah kekacauan itu—di antara air mineral curian, biskuit rahasia, argumen logika yang kaku, dan aksi penyelamatan semut yang konyol—Laras menyadari sesuatu. Mereka berenam, yang dipertemukan secara acak oleh daftar absen, ternyata punya satu kesamaan: mereka sama-sama "cacat" dalam hal kewarasan.
Hari itu, di bawah topi caping yang miring, mereka belum tahu kalau empat tahun ke depan akan diisi oleh tangis saat skripsi, tawa saat nggak punya duit buat makan, dan rahasia-rahasia hati yang akan mengubah persahabatan mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Prolog ini berakhir saat mereka berenam dihukum bersama karena Eno ketahuan membawa ponsel, dan mereka berakhir duduk di pinggir lapangan sambil membagi satu botol air mineral yang sama.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...