NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa depan dan masa lalu

Hari kedua di rumah sakit terasa jauh lebih tenang.

Tubuhku masih terasa lemah, namun sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin.

Perawat beberapa kali datang untuk memeriksa kondisi kami.

Aluna lebih sering tidur.

Sesekali ia terbangun hanya untuk menangis pelan, lalu kembali tertidur setelah digendong atau disusui.

Ashar masih duduk di kursi yang sama sejak pagi.

Aku bahkan tidak yakin apakah ia benar-benar tidur semalam.

Ia lebih sering menatap boks bayi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Antara kagum.

Tak percaya.

Dan sedikit gugup.

“Ashar,” panggilku pelan.

“Iya?”

“Kamu belum pulang ke rumah.”

Ia menggeleng tanpa menoleh.

“Aku tidak ingin meninggalkan kalian.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu bahkan belum mandi.”

Ia menatapku sebentar.

“Aku mandi di kamar rumah sakit.”

Aku tertawa pelan.

“Kapan?”

“Tadi pagi.”

Aku mengangguk.

Setidaknya ia masih ingat melakukan hal-hal dasar.

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

Ashar langsung berdiri.

Ketika pintu terbuka, dua orang masuk dengan langkah hati-hati.

Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut.

Dan seorang pemuda yang tampak sedikit canggung berdiri di belakangnya.

Aku langsung tahu siapa mereka.

Ibu Ashar.

Dan adik laki-lakinya.

Wanita itu tersenyum hangat ketika melihatku.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawabku sambil tersenyum.

Ashar berdiri sedikit kaku di dekat pintu.

“Ibu.”

Wanita itu mengangguk.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

Nada suara Ashar terdengar sopan.

Namun terasa agak… formal.

Pemuda di belakangnya melangkah maju.

“Halo, Kak.”

Ashar menepuk bahunya pelan.

“Galih.”

Aku memperhatikan mereka dengan diam.

Ada sesuatu yang terasa berbeda dibandingkan ketika paman, bibi, dan kakek Ashar datang kemarin.

Ketika bersama mereka, Ashar terlihat jauh lebih santai.

Lebih terbuka.

Namun sekarang…

ia terlihat seperti seseorang yang sedang menjaga jarak.

Ibu Ashar mendekat ke tempat tidurku.

“Bagaimana kondisimu, Mala?”

“Sudah jauh lebih baik, Bu.”

Ia tersenyum lega.

“Syukurlah.”

Galih berdiri agak jauh sambil melihat ke arah boks bayi.

“Bolehkah aku melihatnya?”

“Tentu,” jawabku.

Ia mendekat dengan hati-hati.

Ketika melihat wajah kecil Aluna yang sedang tidur, ekspresinya langsung berubah.

“Dia sangat kecil.”

Aku tertawa kecil.

“Semua bayi memang kecil.”

Ia tersenyum malu.

“Aku belum pernah melihat bayi sedekat ini.”

Ibu Ashar kemudian membuka tas yang ia bawa.

“Kami membawa sedikit hadiah.”

Ia mengeluarkan beberapa benda kecil.

Pakaian bayi.

Selimut lembut.

Dan sebuah kotak kecil berwarna putih.

“Apa ini?” tanyaku.

“Kalung kecil,” jawabnya.

“Untuk Aluna.”

Aku benar-benar tersentuh.

“Terima kasih, Bu.”

Ia mengangguk pelan.

“Ini hanya sesuatu yang sederhana.”

Galih juga mengeluarkan sebuah kantong kecil dari tasnya.

“Aku juga membawa sesuatu.”

Ia mengeluarkan boneka kecil berbentuk kelinci.

“Aku membelinya kemarin.”

Ashar menatapnya.

“Kamu memilihnya sendiri?”

Galih mengangguk.

“Karena dia terlihat lucu.”

Aku tertawa kecil.

“Terima kasih, Galih.”

Beberapa menit kemudian kami semua duduk dalam suasana yang agak tenang.

Ibu Ashar duduk di kursi dekat tempat tidurku.

Galih berdiri di dekat jendela.

Ashar tetap berdiri di dekat boks bayi.

Aku memperhatikan mereka.

Dan semakin jelas bahwa hubungan di antara mereka terasa… sedikit kaku.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada ketegangan besar.

Namun juga tidak ada kehangatan yang biasa kulihat ketika Ashar bersama paman dan kakeknya.

Aku akhirnya berkata pelan,

“Bu, kemarin kakek dan paman datang.”

Ibu Ashar mengangguk.

“Mereka memberi tahu kami.”

Galih tersenyum.

“Kakek pasti sangat senang.”

Ashar hanya mengangguk kecil.

Beberapa saat kemudian Galih akhirnya duduk di kursi.

Ia menatap Ashar.

“Kak.”

“Iya?”

“Aku mendengar kamu menjadwal ulang semua pekerjaanmu minggu ini.”

Ashar mengangguk.

“Aku ingin menemani Mala.”

Galih tertawa kecil.

“Kamu benar-benar berubah.”

Ashar mengangkat alis.

“Berubah bagaimana?”

“Kamu terlihat seperti ayah yang sangat serius.”

Aku tertawa pelan.

“Itu benar.”

Ashar menghela napas kecil.

“Aku hanya ingin melakukan yang terbaik.”

Percakapan kembali menjadi tenang.

Namun rasa penasaran perlahan muncul di pikiranku.

Aku akhirnya bertanya pelan.

“Ashar.”

“Iya?”

“Aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

Aku menatapnya sebentar.

“Kenapa kamu terlihat lebih dekat dengan paman dan kakek dibandingkan ibu dan Galih?”

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi.

Galih menunduk sedikit.

Ibu Ashar tidak langsung menjawab.

Ashar terlihat ragu beberapa detik.

Kemudian ia menarik kursi dan duduk.

“Mungkin sudah waktunya Mala tahu.”

Aku menatapnya dengan serius.

Ia menatap bayi kecil di boks.

Lalu mulai berbicara pelan.

“Ayahku meninggal ketika aku masih kecil.”

Aku mengangguk pelan.

Itu sudah pernah ia ceritakan sebelumnya.

Namun ia melanjutkan.

“Beberapa tahun kemudian ibu menikah lagi.”

Aku menoleh ke arah Galih.

Ia tersenyum kecil.

“Ayah Galih.”

Ashar mengangguk.

“Ketika ibu hamil Galih… ayahnya pergi.”

Aku terdiam.

“Pergi?”

“Dia meninggalkan kami.”

Galih menambahkan dengan nada santai,

“Tanpa kabar.”

Aku menatap mereka berdua.

Perasaan aneh muncul di dadaku.

Ashar melanjutkan dengan suara pelan.

“Setelah itu aku lebih sering tinggal bersama paman dan kakek.”

“Kenapa?”

“Aku ingin membantu ibu.”

Ia menatap Galih sebentar.

“Dan menjaga adikku.”

Galih tersenyum kecil.

“Kak Ashar sebenarnya sangat protektif sejak dulu.”

Aku akhirnya mulai mengerti.

Kenapa Ashar begitu tertutup.

Kenapa ia sering merasa harus melindungi semua orang.

Dan kenapa ia terlihat jauh lebih nyaman bersama paman dan kakeknya.

Mereka yang membesarkannya.

Yang mengajarinya banyak hal.

Aku menggenggam tangan Ashar.

“Kamu pasti melalui banyak hal.”

Ia tersenyum kecil.

“Sekarang semuanya sudah baik.”

Galih menatap bayi kecil di boks.

“Dan sekarang keluarga kita bertambah satu.”

Aku melihat Aluna yang masih tertidur tenang.

Perjalanan keluarga ini memang tidak selalu mudah.

Namun perlahan…

semua orang mulai menemukan tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar memahami Ashar sedikit lebih dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!