Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Samping Dendam
Pagi masih jam dua, langit masih gelap dan ayam pun belum berkokok, tapi Mat Pelor sudah bangun dan berjingkat turun dari tempat tidurnya agar nggak membangunkan istrinya, dan dengan pelan dia keluar dari kamar tidur dan menyelimuti sarungnya sampai menutupi kepala dan wajah, hanya menyisakan bagian mata saja, seperti seorang ninja.
Tak lupa dia meraih kotak beras kuning pemberian Mbah Sembur Getih dan dimasukkan dalam kantung bajunya.
Tanpa bersuara dia membuka pintu dan melangkah ke arah rumah Bung Karta yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Suasana sekitar masih tampak gelap hanya diterangi oleh lampu jalan yang tak seberapa terang, dan tampak tikus got berlarian di jalan yang dia lalui, namun tak menghalangi Mat Pelor untuk berjalan dengan pelan tanpa sandal.
Setibanya di rumah Bung Karta, tampak rumah itu dan sekelilingnya masih sepi. Mat Pelor coba membuka pagar, namun terkunci. Akhirnya dia perlahan mengeluarkan kotak itu dari dalam sakunya dan kemudian membukanya, dan kelihatan isinya berupa butiran-butiran beras yang berwarna kuning, mungkin telah direndam kunyit.
Dengan mantap dia menyebar butiran beras berwarna kuning itu di halaman rumah Bung Karta.
“Selamat tinggal, Bung,” kata Mat Pelor dalam hati. “Dendam sepuluh tahunku akan berakhir segera.”
Kemudian Mat Pelor memasukkan kembali kotak yang sudah kosong itu ke dalam kantung bajunya, dan berjalan pelan pulang ke rumahnya. Dengan pelan dan berjingkat dia memasuki rumahnya, mengunci pintu, dan dengan berjingkat kembali ke kamarnya.
Esoknya, kehebohan kecil terjadi di rumah Bung Karta, karena istri Bung Karta menemukan butiran-butiran beras berwarna kuning yang jumlahnya lumayan banyak.
“Siapa sih yang iseng nyebarin ginian di rumah gue,” kata istri Bung Karta dengan sedikit takut. “Iseng amat.”
Bung Karta lalu tergopoh-gopoh keluar dan memungut beras warna kuning itu sebutir, dan mengamatinya dengan saksama. “Hum, ada yang coba bermain-main dengan aku.”
Hari semakin siang, Mat Pelor baru bangun dari tidurnya jam 9.00 pagi. Lalu dia cuci muka sebentar dan memakai topi warna hitamnya, lalu berjalan sebentar ke arah rumah Bung Karta.
“Mau ke mana, Bang?” tanya Mbak Ratih, istri Mat Pelor.
“Jalan sebentar, cari keringat,” jawabnya santai, lalu melanjutkan jalan. Di dekat rumah Bung Karta ada sebuah pos ronda, dia duduk di situ. Sambil merokok, dia mengamati aktivitas di rumah Bung Karta. Aktivitas di rumah itu berjalan normal. Istri Bung Karta keluar rumah bawa tas belanjaan, mungkin mau belanja ke pasar. Dan satu dua pasien mulai berdatangan ke rumah Bung Karta. Sepertinya nggak ada kejadian apa-apa.
“Pastinya efek santet itu tidak bisa instan,” kata Mat Pelor kepada dirinya sendiri. “Mungkin perlu beberapa hari.”
Siangnya, warung Mbok Siti ramai seperti biasa. Dan yang sering dilakukan, Mat Pelor duduk di bangku panjang paling ujung, sibuk scrolling HP sambil pesan kopi dan nyomot tahu isi kegemarannya. Topi hitamnya tetap dipakai, meski panas, dan Pak RT datang dan nimbrung nongkrong di warung Mpok Siti yang jadi tempat nongkrong yang asyik warga tempat tinggal Mat Pelor.
“Eh, lo denger nggak berita di rumah Bung Karta?” kata Pak RT sambil nawarin rokok ke beberapa orang di warung itu. “Istri Bung Karta nemu beras kuning yang lumayan banyak di halaman rumahnya. Kemungkinan disebar waktu malam waktu suasana sepi.”
Mpok Siti langsung ikut nimbrung, suaranya keras. “Wah, itu mah pasti santet! Nggak salah lagi. Beras kuning kan ciri khas dukun santet. Siapa sih yang tega sama Bung Karta? Orangnya baik, tiap malam praktek nyembuhin sampai larut, dan nggak nentuin tarif pula.”
Mat Pelor diam saja, sambil terus pura-pura nerusin scrolling HP dan niup kopinya, padahal dia nguping.
Seorang ibu-ibu yang baru datang langsung ikut nimbrung juga, “Anak saya kan teman anak Bung Karta, dia bilang itu kerjaan orang iseng. Harusnya ada CCTV di RT ini.”
“Yah kalau semua mau iuran sih bisa aja kita pasangin CCTV di RT ini,” jawab Pak RT sambil mengepulkan asap rokoknya. “Cuma masalahnya pada mau nggak?”
Mendengar obrolan itu napas Mat Pelor serasa berat dan jantungnya berdegup cepat nggak beraturan. Dia lalu menunduk lebih dalam, pura-pura scrolling TikTok, tapi dalam hati dia mengumpat, “sial bener, kenapa cepat banget nyebarnya?”
Pak RT lalu melirik ke arahnya. “Mat, lo kan rumahnya nggak jauh dari rumah Bung Karta. Dengar ada sesuatu yang mencurigakan nggak semalam?”
Mat Pelor hanya mengangkat bahu dan menggeleng, pura-pura nggak tahu apa-apa dan terus scrolling ke HP-nya.
“Kagak, Be, aye tidur nyenyak semalam. Emang kedengeran ada yang aneh-aneh?”
“Nggak sih, kayaknya semalam biasa-biasa aja, cuma aneh aja,” kata Pak RT. “Bini Bung Karta sampai ketakutan, dan Bung Karta sampai panggil dukun kenalannya buat antisipasi hal yang jelek-jelek.”
Mat Pelor cuma mengangguk pelan, lalu meneguk kopinya.
“Dengar-dengar sih ini dukun ampuh banget,” kata Mpok Siti nimbrung lagi. “Istri Bung Karta tadi cerita si dukun bilang kalau santet itu nggak mempan, dia bisa berbalik sama yang coba ngerjain Bung Karta.”
Tangan yang sedang memegang HP tiba-tiba berasa agak bergetar, lalu dia buru-buru menghabiskan kopinya dan membayar ke Mpok Siti dan pamit pulang dengan alasan “mau nganter anak les”.
“Sejak kapan preman kayak Mat Pelor perhatian sama anak segala?” tanya ibu-ibu tadi setelah Mat Pelor pergi.
Lampu kamar sudah dimatikan. Mat Pelor berbaring memunggungi istrinya, tapi matanya masih terbuka lebar, dan otaknya terngiang-ngiang perkataan ibu-ibu tadi di warung Mpok Siti.
“Bang, sudah tidur?” tanya Mbak Ratih pelan.
“Belum, ada apa?” jawab Mat Pelor.
“Lagi ada masalah apa sih, Bang?” kata Mbak Ratih. “Dari tadi abang kelihatan gelisah terus. Kalau ada masalah atau apa, bilang aja, mari kita cari jalan bareng.”
Mat Pelor diam saja dan hanya menelan ludah. Hatinya serasa mau meledak. Dia sebenarnya ingin cerita, tapi mulutnya seperti terkunci. Kalau istrinya sampai tahu dia nyebar beras kuning itu karena dendam lama yang sudah 10 tahun, pasti dia nyap-nyap terus dan bakal berantakan rumah tangganya.
“Biasa aja, Bu. Namanya hidup di dunia hitam. Yuk, kita tidur yuk.”
Tapi istrinya nggak langsung segera tidur, dan dia masih merasakan ada yang aneh dengan sikap Mat Pelor. Dan Mat Pelor juga bisa merasakan mata istrinya belum terpejam dan masih menatap punggungnya dalam gelap. Percakapan kecil di kasur itu terasa lebih rumit daripada beras kuning yang dia sebar semalam di halaman rumah Bung Karta.
Esoknya, dia memutuskan menemui Mbah Sembur Getih kembali. Kebetulan pagi itu belum banyak tamu yang berkunjung, jadi dia langsung bisa menemui Mbah Sembur Getih di kamar prakteknya.
“Mbah, saya sudah sebar beras kuning yang Mbah kasih,” kata Mat Pelor. “Tapi kok nggak ada efek apa-apa?”
Mbah tertawa terbahak-bahak dengan suara serak sambil mengelus brewoknya. “Semua ilmu itu butuh waktu. Mie instan yang namanya instan saja perlu proses untuk memasak.”
“Tapi, Mbah…” Mat Pelor belum sempat menyelesaikan perkataannya namun sudah dipotong oleh Mbah Sembur Getih.
“Tapi, kemarin saya dapat mimpi, jadi semacam wangsit gitu dari para leluhur Mbah. Mereka bilang ritual beras kuning itu kurang lengkap, perlu tambahan.”
Mat Pelor mengerutkan kening. “Maksudnya tambahan apa, Mbah?”
“Selain beras kuning, Mbah harus mengadakan ritual tambahan,” jawab Mbah Sembur Getih. “Dan masalahnya untuk ritual tambahan ini Mbah harus bikin selametan dan kasih sesajen buat para leluhur Mbah.”
Mat Pelor meneguk ludah, mendengar kata Mbah Sembur Getih.
“Masalahnya untuk selametan dan sesajen itu butuh sepuluh juta. Kalau nggak mau ya sudah, nggak apa-apa,” cetus Mbah Sembur Getih. “Cuma, kata leluhur Mbah, kalau ketemu dukun yang lebih kuat, santet itu nggak akan berakibat apa-apa, malah bisa balik ke yang nyebar beras kuning itu.”
Mat Pelor merasa darahnya mendidih, dirinya sadar dia sudah kena tipu. “Mbah, pada pertemuan pertama kita Mbah nggak ngasih tarif waktu ngasih beras kuning itu agar disebar. Kenapa sekarang harus menyiapkan sepuluh juta?”
“Ini bukan keharusan,” jawab Mbah Sembur Getih. “Tapi kalau tidak dilaksanakan, Mbah takut risikonya. Tapi ya terserah, Mbah nggak maksa.”
Mat Pelor hanya bisa terdiam, kepalanya semakin panas. Ingin rasanya langsung menjotos dukun penipu ini. Mat Pelor lalu mengepalkan tangan sekeras-kerasnya di dalam saku celananya. Dia sangat emosi saat sadar bahwa rasa dendamnya yang berlarut-larut sudah menjadi mangsa korban tipu daya Mbah Sembur Getih.
Dalam keheningan tiba-tiba ponsel di sakunya berdering, ada telepon masuk dari Bento, tangan kanan Mat Pelor.
“Halo, Ben, gua lagi nggak bisa ngomong sekarang, lagi ada urusan. Kalau ada yang penting kita obrolin aja di rumah, kira-kira setengah jam lagi gua nyampe rumah. “Sekalian ada yang perlu gua omongin sama elu di rumah. Penting.”