Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi
Pagi itu terasa sejuk dan tenang, seolah belum ada satupun masalah yang berani menyentuh rumah besar itu.
Di dapur, Alexa sudah lebih dulu duduk di kursinya. Di hadapannya, Nicholas tengah menikmati secangkir kopi hangat, uap tipisnya naik perlahan, menciptakan suasana yang damai.
Dari arah kompor, Bik Ida sibuk menyiapkan sarapan. Seperti biasa, ia memasak untuk seluruh penghuni rumah. Tuan dan nyonya, serta keenam anak mereka dengan cekatan dan penuh ketelatenan.
Alexa menatap suaminya sejenak, seolah menimbang sesuatu, sebelum akhirnya membuka suara.
“Nich, semalam sepertinya terjadi sesuatu pada Deva.”
Presdir Astro Tech itupun melirik istrinya, sedikit mengangkat alis. “Apa yang terjadi, Sayang?”
Alexa tersenyum tipis, matanya berbinar. “Kau tak sadar? Deva terlihat jauh lebih baik dari kemarin. Sepertinya… dia sudah berbaikan dengan Rayna.”
Nada lega terdengar jelas dalam suaranya. Ia masih teringat bagaimana putra mereka pulang dengan wajah yang berbeda, lebih hidup, lebih ringan.
Nicholas mengangguk pelan. “Baguslah… tapi kenapa Rayna tak ikut pulang dengannya?” gumamnya heran.
“Mungkin dia belum siap kembali ke rumah ini,” jawab Alexa, mencoba memahami dari sudut pandang gadis itu.
Nicholas menghela napas pelan. “Seharusnya tak ada yang perlu ia takutkan. Rumah ini tempat paling aman. Kalau ia tinggal di sini, kita bisa melindunginya setiap saat.”
“Mungkin… dia butuh waktu bersama Deva,” tebak Alexa lagi, kali ini lebih lembut.
“Kalau dia masih canggung sekamar dengan Deva, kita bisa siapkan kamar lain,” lanjut Nicholas tegas. “Lagipula mereka masih SMA. Aku tidak akan membiarkan mereka tidur bersama sampai lulus.”
Alexa mengangguk setuju, meski di balik itu, ada keinginan kecil yang tak bisa ia sembunyikan, yaitu kehadiran seorang cucu di rumah ini suatu hari nanti.
Suasana kembali tenang… hingga tiba-tiba—
Nicholas tersedak.
“Kh—khuk!”
Kopinya hampir menyembur keluar saat matanya terpaku pada layar ponsel. Alexa langsung menoleh, kaget melihat reaksi suaminya.
“Nich? Kamu kenapa?”
Nicholas menelan ludah, mencoba menenangkan diri sebelum mengangkat pandangan.
“Kalendra, Sayang,” ucapnya pelan.
Alexa mengernyit. “Ayahnya Rayna?”
Nicholas mengangguk. “Dia akan datang ke Jakarta. Katanya ingin bertemu… membicarakan pernikahan Rayna.”
Ada jeda sesaat.
Ketegangan tipis mulai merayap di antara mereka.
“Sepertinya dia sudah tahu semuanya,” lanjut Nicholas, suaranya lebih rendah. “Aku hanya berharap… ini tidak berujung ke masalah hukum.”
Alexa terdiam sebentar, lalu tersenyum lembut. Ia menyentuh tangan suaminya, mencoba menenangkan.
“Jangan terlalu khawatir,” ujarnya pelan. “Mereka pasti tak akan keberatan jika Rayna menikah dengan salah satu putramu.”
Namun jauh di dalam hati, baik Alexa maupun Nicholas tahu... pertemuan itu tidak akan sesederhana yang mereka harapkan.
Belum sempat suasana kembali benar-benar tenang, suara langkah kaki riuh terdengar dari arah tangga, diiringi tawa dan saling sahut yang khas anak-anak remaja.
“Pagi, Ma! Pa!”
Lima anak kembar itu muncul hampir bersamaan, disusul si bungsu Xavier yang berjalan santai di belakang mereka. Seragam sekolah sudah rapi terpasang, tas menggantung di bahu, namun energi mereka seperti tak ada habisnya.
Kursi-kursi langsung terisi. Dapur yang tadinya tenang berubah hidup dalam sekejap.
Deva duduk agak di ujung, terlihat lebih diam dari biasanya, tapi ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya tidak lagi muram. Tatapannya lebih ringan, bahkan sesekali tampak melamun kecil.
Dan itu… tidak luput dari perhatian satu orang.
Cecilia.
Satu-satunya anak perempuan di antara kembar lima itu menyipitkan mata, menatap Deva dengan ekspresi curiga bercampur jahil.
Ia menyikut pelan lengan kakaknya di sebelah, lalu bersandar ke meja sambil menyeringai.
“Wah, wah… ini siapa ya?” gumamnya sengaja cukup keras. “Abang aku yang dingin dan galak… kok sekarang mukanya kayak orang habis menang undian?”
Beberapa saudaranya langsung menoleh.
Deva mengangkat alis, kesal. “Apa sih?”
Cecilia tidak berhenti. Ia malah mendekat, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Deva lekat-lekat.
“Semalam ketemu Rayna, ya?”
Deva tersedak minumannya sendiri.
“Batuk—khuk! Nggak.”
“Oh?” Cecilia mengangkat alis tinggi. “Kalau nggak ketemu, kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?”
Salah satu saudara kembarnya ikut menyahut.
“Iya juga sih… dari tadi bengongnya beda,” ucap Cloe.
Deva langsung mengusap wajahnya kasar. “Kalian ini nggak ada kerjaan apa?”
Cecilia terkekeh pelan, jelas belum puas.
“Ngaku aja deh, Bang. Kalian sudah baikan, kan? Jangan-jangan…” ia mendekat sedikit lagi, berbisik dramatis, “udah pegangan tangan lagi?”
“CECILIA!”
Deva hampir berdiri dari kursinya, wajahnya memerah, antara kesal dan salah tingkah.
Alexa yang melihat itu hanya tersenyum, sementara Nicholas menggeleng pelan, menikmati pemandangan langka tersebut.
Cecilia mundur sedikit, mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.
“Oke, oke… aku diem,” katanya, meski senyum jahilnya masih jelas terlihat. “Tapi serius, Bang… kalau sampai Abang bikin Rayna nangis lagi…”
Tatapannya berubah sedikit tajam, meski masih dibalut nada santai.
“Aku sendiri yang akan menghajarmu.”
Deva terdiam sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, ia tersenyum kecil.
“Tenang aja, aku justru akan melindunginya,” jawabnya pasti.
Namun, tidak semua orang menikmati suasana hangat pagi itu. Di antara tawa dan godaan yang bersahutan, Asha hanya duduk diam. Tatapannya tertuju pada Deva yang tampak begitu berbeda hari ini. Hal itu justru membuat dada Asha terasa sesak.
“Ehem—”
Suara Cecilia memecah suasana. Ia melirik Asha dengan tatapan penuh selidik.
“Kak Asha… kok mukanya gitu?” katanya santai, tapi jelas menggoda. “Kayak orang lagi nahan pipis. Ada masalah sama klub seni, ya?”
Asha hanya diam sesaat… lalu tiba-tiba berdiri. Kursinya bergeser pelan, menciptakan suara yang cukup membuat semua orang menoleh.
“Aku berangkat duluan, Mom, Dad,” ucapnya singkat.
Ia berjalan mendekat, mencium tangan kedua orang tuanya dengan sopan, seperti biasa. Tapi langkahnya setelah itu… terlalu cepat.
Tanpa menoleh lagi, ia langsung meninggalkan dapur..
“Dih… dia kenapa?” gumam Cecilia, mengernyit heran. “Dari kemarin kayak kesal terus.” Ia kemudian melirik ke arah saudara-saudaranya, mencari jawaban.
Namun yang lain hanya saling pandang sekilas seolah tahu sesuatu, tapi memilih diam.
Cecilia mendecak pelan. “Aneh banget.”
Sementara itu Deva yang tadinya salah tingkah, kini terdiam. Tatapannya sempat mengarah ke pintu yang baru saja ditinggalkan Asha. Alisnya sedikit berkerut. Ada yang terasa tak beres. Tapi ia belum benar-benar mengerti apa. Di balik sikap dingin Asha tersimpan perasaan yang jauh lebih rumit. Perasaan yang melibatkan satu nama yang sama.
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗