"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"abi dan ummi hati-hati yah"
Mahiya berdiri di apit mertua dan suaminya, melepas kepergian rombongan keluarga mahiya.
Kael sempat salim dengan takzimnya, mencium punggung tangan kedua orangtua mahiya, setelah gadis itu salim duluan.
"kalian langsung pulang ke apartemen atau ke rumah?"
Mata adrian menatap lekat putra bungsu dan menantunya bergantian, mahiya menoleh, melirik kael yang berdiri di sampingnya.
"keknya langsung ke apartemen deh dad!, koper mahi juga sudah di dalam mobilku"
Mommynya kael yang memeluk pundak mahiya terlihat tersenyum simpul, dia paham mengapa putranya itu pengen langsung ke kediamannya sendiri.
"jangan kasar yah kael, ingat istrimu masih bocah, main halus" celetuk nyonya sandrina, mahiya lagi-lagi ngeblush nggak karuan, gadis itu sampai memalingkan wajahnya yang memerah jengah.
Walau tawa oma dan mommynya terdengar lucu, tapi para pria di keluarga itu tetap diam. Saat mahiya memalingkan wajahnya tadi, nggak sengaja pandangan matanya menubruk tatapan mata gerard.
Mahiya hampir mengangguk sopan, tapi tatapan abangnya kael itu, membuat sekujur tubuh mahiya meremang.
Mata gerard terlihat tak berkedip, menatap sangat dalam, mahiya jengah, dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya kembali.
"ayo sayang.."
Kael mengulurkan tangannya, mahiya sudah mengganti gaun pernikahannya tadi dengan pakaian yang lebih santai, sebuah gaun berwarna putih juga, dengan panjang sebetis dan lengan 3/4, hadiah dari designer baju pengantinnya.
Mahiya terlihat sangat cantik, dengan gaun itu mahiya malah kelihatan sangat fresh dan muda.
Mahiya menerima uluran tangan kael, setelah salim dengan oma dan kedua mertuanya. Tak lupa mahiya memeluk irene, dan mengangguk sopan ke arah gerard yang hanya mengangguk tipis.
Tatapan keluarga kael, mengiringi mereka sampai masuk dalam mobil.
"huffft..."
Kael menoleh, mendengar hembusan lega mahiya. Mata coklatnya memicing heran.
"selega itu kah?"
Mahiya mengangguk, dengan santainya dia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran.
"lega banget kak, berasa kek ratusan kilogram beban di angkat dari pundakku"
Kael menoleh, tapi tak berkomentar apapun. Gadis yang duduk di sampingnya itu memejamkan mata, kelihatan banget kalau mahiya memang kelelahan.
Kael fokus menatap jalanan malam, mahiya juga sepertinya jatuh tertidur. Terdengar dengkuran halus, kael tersenyum tipis. Dengan pose tidur seperti itu, mahiya terlihat sangat bocah.
"mahi...!"
Kael menggoyangkan lengan mahiya yang menggeliat, tapi gadis itu tak terbangun, tak tega rasanya kael membangunkan gadis itu, mana mahiya terlihat sangat imut dan indah dengan pose tidurnya saat ini.
"mahi.."
Kali ini kael menggoyangkan sedikit lebih keras, mahiya membuka matanya, sembari menguap. Matanya celingukan, menatap keluar.
Gadis itu tersentak bangun dan tegak,menyadari mobil sudah berhenti.
"udah nyampai kak?"
Kael mengganguk, sambil membuka pintu mobilnya.
"turunlah, lanjutkan tidurmu di dalam"
Mahiya ikut turun, mengikuti kael yang membuka bagasi belakang mobilnya dan mengeluarkan koper noraknya itu.
Sambil menyeret kopernya, mahiya mengikuti kael melangkah menuju lift. Pria itu berjalan lambat, sekalian menunggu langkah mahiya yang juga melambat.
Sesekali kael melirik, mahiya kelihatan sangat lelah, menyeret kopernya tanpa semangat.
Kael menyambar koper itu, mahiya sampai kaget, tapi nggak lama dia langsung tersenyum manis.
"terima kasih kak"
Kael cuman ngangguk doang, padahal rasa senang hampir membuat hidungnya mengembang. Ucapan manis mahiya barusan menerobos kehatinya secara aneh dan tiba-tiba.
Kael membuka pintu apartemennya dengan sebelah tangan, matanya masih mengamati mahiya yang melangkah lesu.
"passwordnya ulangtahunku yah, ingat!"
Mahiya hanya menunjukkan jempolnya, matanya terpana, apartemen kael terlihat sangat mewah.
Dia melangkah dengan tatapan takjub, ruang tamunya yang luas, dengan ruang keluarga berdinding kaca, menangkap pemandangan luar.
Mahiya berdecak kagum, apartemen kael lebih seperti penthouse, ternyata keluarga kael sekaya itu.
"ayo aku antar ke kamarmu!" suara kael menyadarkan mahiya, gadis itu berjalan mengikuti kael.
"ada 2 kamar di sini, yang ini kamarmu"
Kael menunjuk sebuah kamar di sebelah pintu yang lebih lebar, tangannya mendorong pintu.
"di kamar itu nggak ada kamar mandi, jadi kamu bisa pakai kamar mandi yang diluar.."
Mahiya menjengukkan kepalanya, kepalanya manggut-manggut paham, mata besarnya terlihat terpukau, kamar yang di tunjuk kael untuknya jauh lebih besar dari kamarnya dirumah.
"yang di sebelah sini kamarku!, kalau nggak ada keperluan, aku harap kita tidak saling masuk ke kamar, masing-masing"
Mahiya kembali manggut-manggut, tiba-tiba wajahnya berubah, seperti teringat sesuatu.
"buku-buku kuliahku, bagaimana kak?"
"kemaren aku sudah meminta rifki menyusunnya di kamarmu, nanti kamu periksa"
Zahra tersenyum senang, kepalanya mengangguk dengan penuh semangat, sesaat kael terpana, pendar mata gadis itu selalu berhasil membuat jantung kael berdetak kencang sesaat.
"di sini tidak ada pembantu mahi, aku hanya meminta agensi yang biasa membersihkan untuk datang setiap pagi, sehari sekali, tapi untuk makan biasanya aku selalu makan di luar.."
"aku akan masak kak, bolehkan?"
Kael mengangguk,
"itu yang aku mau katakan tadi, kalau kamu masak, urusan beberes rumah, biarkan tetap tugas agensi."
Mahiya menggeleng cepat, matanya protes tak setuju.
"walau kita cuman suami istri bohongan, biar tugas istri aku yang lakukan kak kael, urusan rumah biarkan jadi urusanku"
kael menghela nafasnya, matanya menatap lekat bola mata besar yang selalu membuat kael kagum itu.
"kamu kuliah mahi, jangan repotkan dirimu, aku tidak sedang mencari pembantu."
Mahiya terdiam, benar juga kata kael. Jika dia mengerjakan semuanya bagaimana kuliahnya.
"mahi.."
Mahiya menoleh, gadis itu menaikkan alisnya sebelah.
"mari kita perjelas hubungan kita, di rumah ini kita berdua bisa menjadi diri kita sendiri. Kamu dan aku adalah partner, aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadimu dan begitu sebaliknya, aku masih memegang janjiku, jika kamu suatu saat jatuh cinta pada orang lain, aku akan menceraikanmu, dan akan menjelaskan pada pria itu bahwa kamu suci dan tidak pernah kusentuh"
Mahiya diam, tapi entah mengapa ada yang perih mengiris hatinya. Sepertinya memang tidak akan pernah ada cinta diantara dia dan kael.
"tapi..mahi, jika di depan orang lain aku mohon kerja samamu, kita harus tampil seperti suami istri yang saling mencintai"
Mahiya mengangguk, kael mengamati wajah gadis itu. Keningnya berkerut heran, mengapa wajah mahiya mendadak sendu, kael menggeleng-gelengkan kepalanya, dia nggak mau menduga apapun
"dan ini..."
Kael meletakkan kartu di depan mahiya, sebuah blackcard.
"pakailah untuk segala keperluanmu, selama kamu jadi istriku, kartu itu milikmu, itu kartu unlimited"
Mahiya meraih kartu itu, tatapannya yang biasanya eksited terlihat biasa saja.
"kamu jangan menolak, karena semua kebutuhanmu itu akan menjadi tanggung jawabku. Mahi" ujar kael cepat, ketika melihat mahiya hendak meletakkan kartu itu ke atas meja.
Kael, sejujurnya merasa kagum pada gadis di depannya ini. Benar prediksinya, ternyata mahiya bukan perempuan materialistis.
"kamu nggak ingin bertanya apapun?"
Mahiya mendongak, kepalanya hampir menggeleng, tiba-tiba wajah cantiknya seperti terpikir sesuatu.
"kak kael bilang, untuk tidak saling mencampuri kehidupan pribadi masing-masing, apakah termasuk aku tidak boleh tahu siapa clarissa itu?"
Kael mengangguk cepat,
"ya.." jawabnya singkat dan mantap.
"hhhhhhhh" terdengar hembusan nafas mahiya yang berat, tapi gadis itu tak lagi bertanya.
"kalau begitu, apakah aku sudah boleh istirahat kak?"
Kael mengangguk, mahiya langsung berdiri, kakinya hampir melangkah, tetiba kael berbicara lagi.
"satu lagi mahi!,"
Mahiya menoleh, menatap wajah tampan kael yang terlihat serius itu.
"jangan sampai kamu jatuh cinta padaku,"
Mahiya mengernyitkan keningnya, pede amat nih cowok, seyakin itu kalau dia bakalan jatuh cinta. Mata mahiya bergerak protes, alisnya naik turun.
"dan jangan takut, aku bisa pastikan aku tidak akan jatuh cinta padamu" tukas kael cepat, karena melihat sorot mata mahiya.
"kamu bukan tipeku"
Bersambung..