Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Dokter Rahmat menghela nafas panjang, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa yang tidak bisa disembunyikan.
"Jadi tidak ada cara sama sekali untuk mengobatinya?" tanyanya lagi, masih berharap ada jalan keluar yang belum mereka temukan.
"Hm... biarkan aku berpikir sejenak," kata Abram berharap ada jalan keluarnya.
Ia memejamkan mata kembali, memusatkan seluruh perhatiannya pada energi kuning yang ada di dalam tubuh Sinta.
Ia berusaha menghubungkan diri dengan Giok kuning itu, mencari pengetahuan yang mungkin tersimpan dalam benak bawah sadarnya atau dalam giok kuning di dadanya.
Beberapa menit berlalu. Hanya suara jam dinding yang berdetak dan nafas lemah Sinta yang terdengar.
Tiba-tiba, giok kuning di dada Abram mulai bersinar sedikit, seolah ada sumber cahaya di dalamnya. Energi hangat mengalir dari batu itu ke seluruh tubuh Abram, membuat kulitnya terasa hangat.
Saat matanya terbuka, matanya terpancar cahaya kuning samar seperti mata tembus pandang.
"Aku menemukan caranya. Energi itu terkunci di dalam tubuhnya karena tersumbat, energi di bagian perut bawahnya. Kita tidak bisa memaksanya keluar dengan paksa, itu bisa menyebabkan kerusakan energi tubuhnya. Yang harus kita lakukan adalah menyelaraskan energi saya dengan miliknya, lalu membimbingnya untuk menyebar ke seluruh tubuh dan keluar secara alami melalui titik-titik energi tubuh manusia," ujar Abram dengan suara yang lebih mantap.
Dokter Rahmat berdiri dengan tergesa-gesa, matanya bersinar dengan harapan. "Bagaimana caranya? Bantu saja apa yang bisa saya lakukan."
Abram berdiri dan mendekat ke arah brankar melihat wajah cantik wanita itu seperti putri tidur.
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan, Dokter. Hanya perlu menjaga agar tidak ada gangguan apa pun selama proses ini berlangsung. Bahkan suara keras sekalipun bisa mengganggu keseimbangan energi yang aku buat," kata Abram.
Setelah Dokter Rahmat mengangguk dan berdiri di sudut ruangan, Abram mengeluarkan napas dalam dan mulai mengatur nafasnya.
Abram menyentuh bagian perut Sinta dengan kedua tangannya, menempatkan telapak tangannya di atas perut Sinta. Setelah kulitnya bersentuhan dengan tubuh perempuan itu, energi dari giok kuning mulai mengalir dengan pelan, membentuk sebuah saluran antara tubuh Abram dan Sinta.
Energi kuning dari tubuh Abram dan energi yang terperangkap di dalam tubuh Siti Nurbaya mulai bercampur perlahan.
Abram bisa merasakan getaran yang semakin kuat, seperti ombak yang datang dan pergi di dalam tubuhnya.
Ia fokus membimbing energi itu untuk menyebar ke seluruh tubuh, dari perut ke dada, lalu ke lengan dan kaki, hingga akhirnya mencapai ujung jari dan ujung rambutnya.
Setelah beberapa menit, terdengar suara seperti gelembung udara yang pecah dengan lembut.
Energi kuning yang tadinya tersumbat menjadi satu mulai menyebar ke seluruh tubuh Sinta. Wajahnya yang tadinya sangat pucat perlahan-lahan mulai mendapatkan warna kemerahan Membuat kulitnya tampak bersinar, dan nafasnya menjadi lebih stabil.
Abram mengangkat tangannya perlahan dari tubuh Sinta. Ketika ujung jarinya sudah tidak menyentuh kulit perempuan itu lagi, seketika tubuhnya terdorong mundur ke belakang dan tubuhnya sedikit goyah seperti akan jatuh.
Kakinya hampir tidak mampu menopang berat badan dan berusaha untuk menjaga keseimbangan.
Setelah menyalurkan energi, entah kenapa Ia merasa lelah.
di tunggu kelanjutannya